-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-4999745/menyambut-metode-belajar-normal-yang-baru?tag_from=wp_cb_kolom_list



Refleksi Hari Pendidikan Nasional 2020
Menyambut Metode Belajar Normal yang Baru

Dinda Lisna Amilia - detikNews
Sabtu, 02 Mei 2020 15:43 WIB
2 komentar
SHARE URL telah disalin
Upacara peringatan Hardiknas di UGM digelar virtual
Upacara peringatan Hardiknas di UGM digelar virtual (Foto: dok. Humas UGM)
Jakarta -

Di tengah kondisi pandemi, hampir semua institusi pendidikan mengubah metode 
pembelajaran. Umumnya dari metode konvensional menjadi pembelajaran secara 
daring. Harasim (1989) dan Talebain et al (2014) menyatakan bahwa kelas 
tradisional bergantung pada waktu dan tempat, sementara kelas daring 
menghadirkan lingkungan alternatif yang memungkinkan pelajarnya melakukan 
kontrol terhadap waktu, kecepatan, tempat, dan interaksi dengan pengajarnya 
serta peserta lainnya.

Dengan kata lain, metode daring membuat pengawasan belajar sepenuhnya ada pada 
pelajar sendiri. Kontrol dari pengajar menjadi berkurang. Bukan karena 
kehadiran pengajar yang tidak berwujud seperti di sekolah atau kampus, namun 
karena daya nalar belajar setiap murid yang berbeda.

Tidak semua murid mempunyai kemampuan literasi yang mencukupi dalam menelaah 
suatu cerita. Ada yang lebih mudah menangkap petunjuk yang diberikan secara 
verbal, bisa jadi ini karena cara belajar mereka yang cenderung auditori alias 
tipe belajar yang efektif dengan mendengar daripada melihat (visual) atau 
gerakan (kinestetik).

Mengacu dari tipe belajar yang berbeda, kita perlu mengingat kembali kecerdasan 
majemuk yang mengafirmasi gagasan bahwa perbedaan individu itu penting. 
Terdapat sembilan kecerdasan menurut Gardner (2011), yaitu kecerdasan 
linguistik, kecerdasan logika atau matematis, kecerdasan intrapersonal, 
kecerdasan interpersonal, kecerdasan musikal, kecerdasan spasial, kecerdasan 
kinetik, kecerdasan naturalis, dan kecerdasan spiritual.

Dengan demikian, anak cerdas tidak hanya dimaknai karena mendapat nilai 
sempurna dalam mata pelajaran tertentu. Pemahaman bahwa setiap anak punya 
kecenderungan pada tipe kecerdasan tertentu menjadi hal yang mendasar bagi 
dimulainya metode belajar daring yang mulai banyak diterapkan di Indonesia. 
Terlepas dari kondisi pandemi sekarang, perubahan dalam metode belajar adalah 
keniscayaan. Tidak hanya guru dan murid, para orangtua pun juga menjadi objek 
dari perubahan ini.

Mau Membedakan

Pengajar yang ideal bukan yang bisa mengubah anak bodoh menjadi pintar, 
melainkan yang mau membedakan proses belajar mengajar siswa berdasarkan 
kesiapan, minat, dan gaya belajar para siswa. Selain karena tidak ada anak yang 
terlahir bodoh, pengajar juga diharapkan tidak melihat murid dari sudut pandang 
seragam.

Banyak orangtua berpersepsi bahwa anak yang cerdas adalah yang mendapatkan 
nilai yang tinggi dalam pelajaran di sekolah terutama mata pelajaran matematika 
(Chatib, 2014). Menyoal fakta ini, para orangtua dan tentunya pengajar menjadi 
pihak penting dalam menggugurkan persepsi "bias" tersebut.

Teknik diferensiasi bisa menjadi salah satu solusi dalam proses belajar daring. 
Diferensiasi menghindari bentuk penyeragaman pada murid. Pengajar dituntut bisa 
memodifikasi strategi mengajarnya pada konten, proses, dan produk. Diferensiasi 
di kelas daring lebih diperlukan, mengingat kondisi siswa dalam menerima proses 
pembelajar tidak bisa diprediksi.

Ada yang secara teratur diawasi oleh orangtua, ada yang lebih nyaman belajar 
tanpa pengawasan orangtua, ada yang tempat tinggalnya punya koneksi internet 
yang kurang stabil, ada hambatan-hambatan lainnya. Dengan demikian, 
diferensiasi berpotensi memberikan lingkungan belajar yang fleksibel di mana 
semua siswa dapat berkembang dengan kecepatannya sendiri.

Sebenarnya, secara implisit regulasi pendidikan dan kurikulum sudah memberi 
sinyal yang membebaskan sekolah dan pengajar melakukan teknik diferensiasi. 
Namun warisan pengajaran yang berorientasi pada guru masih mengakar dalam 
menuntut pelajar untuk tumbuh dalam keseragaman standar yang memprihatinkan.

Akan Selalu Berkembang

Terlepas dari metode daring akan bertahan atau tidak setelah pandemi, metode 
belajar normal yang baru akan selalu berkembang. Dan, tidak hanya melibatkan 
pelajar dan pengajar, orangtua akan selalu mengambil peran besar dalam 
perubahan ini. Orangtua, sebagai pendamping di rumah, diharapkan juga 
beradaptasi dalam proses perubahan secara "tiba-tiba" maupun berkala.

Demi tercapainya tujuan pembelajaran pun, komunikasi yang dibangun antara 
orangtua dan pengajar tidak lagi instruktif, melainkan bersifat koordinatif. 
Orangtua diharapkan percaya pada pilihan setiap institusi pendidikan dalam 
memberikan metode pembelajaran untuk sang murid. Bisa jadi sekolah A lebih 
nyaman menggunakan kelas daring berbasis video, bisa jadi kampus B lebih cocok 
menggunakan podcast.

Semua institusi pendidikan punya pertimbangan sendiri dalam memilih bentuk 
pembelajarannya. Para pengajar pun diharapkan mampu memberikan metode belajar 
di rumah yang secara teknis, tidak harus selalu melibatkan orangtua, mengingat 
tanggung jawab pekerjaan yang juga diemban. Dan yang pasti, pengajar juga 
diharapkan terus belajar mencari format metode daring terbaik yang mudah 
dicerna oleh pelajar.

Perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah normal. Ilmu 
pengetahuan dan kehidupan manusia terus berubah. Jadi, terdengar masuk akal 
bila kita dituntut untuk terus belajar.

Dinda Lisna Amilia mengajar di Satuan Pendidikan Kerjasama (SPK) dan Perguruan 
Tinggi Swasta (PTS) di Surabaya

(mmu/mmu)






Kirim email ke