-- 
j.gedearka <[email protected]>

https://www.antaranews.com/berita/1462497/kemenristek-uji-klinis-jahe-merah-jambu-biji-dan-minyak-kelapa



Kemenristek uji klinis jahe merah, jambu biji dan minyak kelapa

Minggu, 3 Mei 2020 18:18 WIB

Dokumentasi - Pedagang menunjukan jahe merah kering sebagai bahan minuman 
tradisional di Rembun, Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah, Sabtu (7/3/2020). 
ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/foc.
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Riset dan Teknologi (Menristek)/Badan Riset dan 
Inovasi Nasional (BRIN) mengemukakan mereka sedang melakukan uji klinis 
terhadap jahe merah, jambu biji dan minyak kelapa murni yang diharapkan dapat 
meningkatkan ketahanan tubuh dari paparan COVID-19.

"Kita sudah melakukan, baik sistematic review, kemudian studi bioinformatika 
dan saat ini sedang melakukan uji klinis, terutama di Rumah Sakit Wisma Atlet, 
khususnya untuk bahan-bahan, seperti jahe merah, jambu biji dan juga virgin 
coconut oil," kata Menristek Bambang P. S. Brodjonegoro dalam konferensi pers 
di Kantor Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta, Minggu.

Baca juga: Menristek: Ventilator produksi Indonesia, sebagian masih uji 
ketahanan

Baca juga: Kemristek berupaya pemanfaatan ozon chamber sterilkan APD habis pakai

Ia mengatakan kementeriannya berharap mereka dapat mendayagunakan suplemen yang 
sudah ada, yang mengandung bahan-bahan tersebut dan diharapkan cocok untuk 
mengatasi penyakit COVID-19.

"Paling tidak (dapat) meningkatkan daya tahan terhadap COVID-19 atau 
menghasilkan suplemen baru yang diharapkan bisa menumbuhkan daya tahan tubuh 
terhadap COVID-19," katanya.

Sementara itu, untuk obat yang diharapkan dapat mengatasi penyakit COVID-19, 
Menristek mengatakan kementeriannya sedang melakukan uji klinis terhadap 
berbagai macam obat yang direkomendasikan dari luar negeri, baik avigan, 
chloroquine dan tamiflu, selain obat pil kina yang sedang dikembangkan di 
Indonesia.

"Pil kina (ini) sedang kita uji sebagai salah satu alternatif obat yang 
barangkali bisa meringankan beban penderita COVID-19," ujarnya.

Selain itu, Kemenristek juga sedang melakukan riset terhadap convalescent 
plasma sebagai terapi untuk pasien COVID-19.

"Plasma dari pasien yang sudah sembuh itu kemudian dicoba diberikan sebagai 
terapi untuk pasien COVID-19 yang sedang dalam kondisi berat," katanya.

Baca juga: Menristek: Akhir April RI miliki 200 ventilator produksi lokal

Baca juga: Menristek: Pengembangan vaksin corona minimal satu tahun

Penelitian yang mulai dilakukan di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) 
Gatot Subroto terhadap convalescent plasma tersebut, kata Bambang, menunjukkan 
hasil yang cukup melegakan, meski masih memerlukan riset dalam skala besar.

Oleh karena itu, Kemenristek/BRIN bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) akan 
melakukan riset yang lebih besar dan akan melibatkan banyak rumah sakit di 
berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya di Jakarta, untuk mengembangkan 
convalescent plasma.

"Misalkan di Malang, di Yogyakarta, Surabaya, Solo maupun tempat-tempat 
lainnya," kata Menristek.

Ia berharap convalescent plasma tersebut dapat menjadi alternatif untuk 
meningkatkan kesembuhan penderita COVID-19.

Selain convalescent plasma, Kemenristek juga sedang mengembangkan serum 
anti-COVID-19.

"Kita mencoba membuat serum anti-COVID-19 yang merupakan kerja sama antara 
Biofarma, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan IPB (Institut Pertanian 
Bogor), yang kita harapkan nantinya juga bisa menjadi alternatif untuk 
meningkatkan kesembuhan dari COVID-19," kata dia.

Baca juga: Menristek bentuk konsorsium riset teknologi penanganan COVID-19

Pewarta: Katriana
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2020






Kirim email ke