-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5003323/didi-kempot-dan-manajemen-ingatan-sejarah-kehidupan?tag_from=wp_cb_kolom_list


Obituari

Didi Kempot dan Manajemen Ingatan Sejarah Kehidupan

Purnawan Andra - detikNews
Selasa, 05 Mei 2020 16:25 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Quotes Didi Kempot
Ilustrasi: Instagram @didikempot.quotes
Jakarta -

Maestro campursari Didi Kempot meninggal dunia pada Selasa (5/5) pukul 07.25 
WIB karena penyakit jantung di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Banyak orang merasa 
kehilangan, tak hanya SadBoys dan SadGirls yang merasa sad (sedih) 
berkepanjangan kehilangan pujaan.

Didi Kempot memang sudah masuk-merasuk dalam kehidupan masyarakat. Tidak hanya 
di Jawa, Jakarta, dan Indonesia, namun hingga ke mancanegara. Di Belanda, 
Suriname bahkan Amerika, Didi Kempot tak hanya mendendangkan liris nada dalam 
langgam campursarinya, tapi lebih dari itu, ia menyuarakan "rasa" (sesuatu yang 
lebih dari perasaan): tentang campursari sebagai musik dan ekspresi artistik, 
tentang (budaya) Jawa dan Indonesia, tentang peristiwa personal dan sosial, 
bahkan lebih jauh tentang pertarungan identitas, problem-problem komunal hingga 
toponimi, geografi, bahkan tata kota.

Tengok saja kisah hidupnya sebagai bekas musisi jalanan yang memperjuangkan 
nasib di jalanan ibu kota serta refleksinya atas cinta, kehilangan, dan harapan 
dalam lagu-lagu Layang Kangen, Ambyar, Banyu Langit, hingga representasi 
kondisi sosial masyarakatnya lewat Sewu Kutha, Stasiun Balapan, Tanjung Mas 
Ninggal Janji. Melalui campursari, lagu berbahasa Jawa yang dibawakannya, ia 
mengajak orang menerjemahkan ulang terminologi identitas budaya di dalam hingga 
luar negeri.

Dan, kehadirannya pula yang mengingatkan kita pada kontekstualitas permasalahan 
pandemi global lewat lagu terakhir dan juga konser amal yang diadakannya untuk 
memberi semangat dan pemahaman yang lebih bijak kepada para perantau yang tidak 
bisa kembali ke kampung halamannya.

Semuanya itu dirayakan oleh penggemarnya dengan buncahan emosi yang menggelora, 
ungkapan rasa yang tak berkesudahan, bagai sebuah ekstase yang berkepanjangan. 
Lagu-lagunya disuarakan dengan keras dan berulang, tak peduli tentang kesedihan 
maupun perpisahan. Ia bagai doa-doa yang terus digumamkan untuk mencapai 
pelepasan rasa yang begitu ekspresif: ambyar! Hal ini yang menahbiskannya 
sebagai Lord of Broken Heart.

Didi Kempot dianggap mengerti seluk-beluk masalah hati yang tercermin lewat 
lirik lagunya. Maka bisa kita lihat bagaimana para penggemarnya yang berteriak 
histeris sambil menyanyikan lagu Layang Kangen dan pada saat yang sama bergerak 
bersama dengan motion keras ala "cendol dawet". Semuanya karena kekuatan 
musiknya.

Melalui campursari, Didi Kempot bernyanyi. Di tangannya, campursari tak semata 
urusan bunyi gamelan yang berpadu dengan unsur musikalitas lainnya. Campursari 
tak semata Jawa dan juga bukan representasi general sebuah identitas kultural 
tertentu dengan berbagai stereotipnya.

Seturut Fauzanafi (2020), campursari tidak hanya campuran antara sentuhan 
serupa gamelan, musik diatonis barat dari keyboard dan gitar, juga instrumen 
'nasional' seperti gendang dangdut dan ukulele keroncong. Dan karena pengaruh 
langgam keroncong ini, ia membawa sentimen inderawi yang disebut sebagai 
'sensibilia'.

Sensibilia adalah sentimen inderawi yang dibangkitkan oleh totalitas suara dan 
imaji yang melingkupi sebuah lagu, dan juga dipicu oleh aktivitas dalam 
pembuatan musik yang bertujuan untuk membuat orang 'bergerak'. Sementara 
perasaan ambyar; sedih karena merasa kehilangan, dibangkitkan oleh bunyi 
bernuansa keroncong, 'gerak' dalam arti 'bergoyang bersama' dipicu oleh ketukan 
gendang dangdut.

Sensibilia seperti ini menjelma emosi yang ironis dari perasaan cinta dan 
kerinduan akan cinta yang hilang dan ditemukan. Ini adalah perasaan khas 
manusia dalam sejarah urban; sebuah nostalgia akan masa lalu dan kehidupan 
pedesaan yang sudah hilang. Nostalgia akan desa atau kampung halaman juga 
dipicu oleh suara bernuansa gamelan dalam musik campursari Didi Kempot.

Campursari menjadi kendaraan imajinasi dalam usaha merayakan kesedihan. Lebih 
lanjut dikatakan Fauzanafi bahwa sensibilia ambyar di sini bukan semata-mata 
dipicu oleh syair lagu-lagu Didi Kempot yang memang menceritakan mengenai 
seorang lelaki yang kehilangan kekasih, lelaki yang rindu karena sang terkasih 
berada di tempat yang jauh, atau lelaki yang terluka hatinya karena ditinggal 
sang kekasih.

Lebih jauh dari itu, dipicu oleh suara, bunyi, atau musik yang tertangkap 
indera pendengaran lalu memicu koneksi dengan indera lain (tubuh) dan memori. 
Sebab tidak semua penikmat lagu Didi Kempot sebenarnya benar-benar kehilangan 
atau rindu pada sang kekasih; sebagian hanya "merasa kehilangan sesuatu" tanpa 
ada yang benar-benar hilang. Perasaan kehilangan ini yang kemudian menyatukan 
para penggemar Didi Kempot untuk berjoget dan bernyanyi bersama melaras 
kesedihan.

Dalam hal ini, aksi strategis dan taktis dari aksi mencipta suara dan sentimen 
berusaha mencari rekognisi sebuah "komunitas estetis", dan relasi sosial yang 
terbentuk sekitar dan atau oleh rasa sedih karena kehilangan yang dicintai.

Maka campursari di tangan Didi Kempot menjadi bunyi yang bukan semata urusan 
asmara, namun juga untaian doa, kenangan tentang ikon-ikon penanda kota 
(terminal, stasiun, pelabuhan, taman dan lainnya), penghormatan dan 
pengorbanan, serta dinamika sosial (tentang kebiasaan menulis surat atau 
pengetahuan geologis tentang lanskap alam Merapi purba).

Dalam lirik-liriknya, Didi Kempot banyak berkisah tentang jejak sejarah 
peradaban sebuah bangsa bernama Indonesia. Tak ada panggung musik negeri ini 
yang tak menyanyikan lagu-lagunya.

Momentum yang Pas

Kehadirannya di panggung musik Indonesia memang terjadi dalam momentum yang 
pas. Didi Kempot muncul dengan lagunya di kala masyarakat mulai bosan dan 
merindukan nuansa ekspresi artistik yang jauh dari impian-impian modernisme 
yang gebyar, hedonis, dan jauh tak terjangkau ke impian-impian masa lalu yang 
memang kadang getir, menyakitkan, tapi realistis.

Didi Kempot mampu mengakomodasi citra lagu yang menggambarkan harapan dan 
cita-cita masyarakat dengan lebih realis dan tak muluk-muluk. Lewat campursari 
Didi Kempot, masyarakat seolah menemukan oase yang menyegarkan dalam 
mengisahkan dinamika kehidupan. Gambaran ini semakin lengkap dengan kematangan 
hidupnya sebagai bekas musisi jalanan.

Kisah Didi Kempot adalah kisah campursari. Lewat kuasa dalam memainkan tema dan 
kata-kata, Didi Kempot mampu merepresentasikan kekuatan kultural dalam ramuan 
modernitas, kontekstualitas, dan selera zaman yang mengkini: bersama merayakan 
kesedihan.

Pilihan artistik ini menjadi langkah jitu, jika tidak disebut frontal, dan 
tidak terjadi dalam musik-musik sealiran dan sezamannya. Campursari ala Didi 
Kempot juga mengisahkan kontekstualitas. Pada saat pandemi melanda, hatinya 
tergerak untuk ikut berpartisipasi memutus penyebaran virus. Dengan lirik 
lagunya, dia mengajak semua untuk sadar tinggal di rumah, tidak pulang kampung. 
Semuanya dalam kesadaran demi kepentingan bersama, tidak semata bersandar pada 
popularitas yang dimilikinya.

Hal ini yang menjadikannya meneguhkan eksistensinya sebagai seorang seniman 
yang manusiawi. Didi Kempot mengingatkan kita ketika absurditas kenyataan hidup 
begitu deras menerjang, kita sebagai manusia harus dapat menciptakan makna yang 
berbeda, lebih bermanfaat, dan kontekstual. Patah hati, kehilangan, kesedihan 
adalah bumbu yang akan menegaskan kekuatan batin dan jiwa kita dalam memaknai, 
mengalahkan, dan membalikkannya menjadi sebuah energi untuk melanjutkan hidup.

Didi Kempot mengingatkan kita untuk mampu merawat dan meruwat manajemen ingatan 
sejarah dalam mengatasi banyak problem kehidupan. Sugeng kondur, my Lord of 
Broken Heart!

Purnawan Andra peminat kajian sosial budaya, bekerja di Direktorat Pengembangan 
& Pemanfaatan Ditjen Kebudayaan Kemendikbud

(mmu/mmu)
didi kempot
didi kempot meninggal
didi kempot meninggal dunia






Kirim email ke