-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1822-menahan-guncangan




Jumat 08 Mei 2020, 05:30 WIB

Menahan Guncangan

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Editorial
 
Menahan Guncangan

MI/Ebet
Ilustrasi.

MESKI baru Maret kita menetapkan adanya ancaman covid-19, perekonomian kuartal 
I sudah langsung terpapar. Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan 
ekonomi kuartal I mengalami perlambatan yang cukup dalam, yakni hanya tumbuh 
2,97%.

Penurunan ekspor menjadi penyebab utama kontraksi sebesar 2% jika dibandingkan 
dengan kuartal IV 2019. Terganggunya arus transportasi ke Tiongkok dan kemudian 
juga AS memengaruhi ekspor ke kedua negara partner dagang utama kita tersebut.

Satu yang pantas kita syukuri, pertumbuhan kuartal I ini masih bisa positif. 
Banyak negara mengalami pertumbuhan negatif, termasuk Tiongkok dan AS. 
Kontraksi yang mereka hadapi sangat dalam dan kalau kuartal II ini tidak segera 
pulih, bayang-bayang resesi ada di depan mata.

Kita pun tidak bisa menghindar dari ancaman itu. Kuartal II yang sedang kita 
jalani sekarang ini guncangannya akan lebih berat dari guncangan yang kita 
alami tiga bulan pertama 2020. Penetapan pembatasan sosial berskala besar 
membuat denyut ekonomi terasa lemah. Keharusan untuk bekerja di rumah membuat 
banyak kegiatan harus berhenti.

Apalagi PSBB pertama diterapkan di Jakarta dan kemudian kota penyangganya. 
Jakarta ialah jantung utama perekonomian Indonesia. Begitu jantungnya memompa 
lemah, otomatis seluruh kota lainnya ikut merasakan dampaknya.

Lembaga riset Moody’s memperkirakan pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal II 
mengambil pertumbuhan negatif dari -2,5% hingga -5,9%. Baru pada kuartal III 
perekonomian kita akan tumbuh positif kembali dan kalau kita bisa 
mempertahankan pada kuartal IV, kita akan melewati tahun ini dengan pertumbuhan 
2,1%.

Kuartal II ini akan menjadi sangat krusial karena sejak krisis 1997 kita belum 
pernah mengalami pertumbuhan negatif. Kita harus bisa mengelolanya dengan 
sangat hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan kedua.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo selalu 
mengingatkan, kita harus berusaha keras agar masyarakat tidak terpapar 
covid-19, tetapi juga jangan sampai terkapar oleh pemutusan hubungan kerja.

Untuk itu, kita tidak boleh bosan-bosannya mengingatkan masyarakat untuk 
menjaga disiplin, baik itu disiplin diri maupun disiplin kolektif. Kita harus 
menjalankan pola hidup bersih dan juga hidup sehat. Selalu menjaga jarak dan 
tidak lupa menggunakan masker apabila berada di luar rumah.

Pada saat yang bersamaan kita harus memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. 
Terutama sekitar 3 juta orang yang terkena PHK tidak boleh sampai kehilangan 
harapan. Program bantuan sosial harus sampai kepada kelompok ini untuk mencegah 
jangan sampai a hungry man become an angry man.

Dalam turbulensi hebat yang kita akan lalui ini, kita harus mencegah jangan 
sampai krisis kesehatan berubah menjadi krisis sosial. Satu lagi yang harus 
kita jaga, jangan sampai sektor dunia usaha terhenti karena ini berpengaruh 
pada sektor keuangan. Kalau sampai terjadi krisis keuangan, itu akan 
mempercepat timbulnya krisis sosial.

Kemampuan kita untuk menjaga pesawat besar ini bisa tetap terbang di tengah 
turbulensi hebat menjadi penentu bagi kita menyongsong langit yang lebih cerah 
di kuartal III nanti. Kita harus berupaya menjaga agar mesin di sayap tetap 
menyala karena itulah satu-satunya yang bisa membawa pesawat keluar dari 
jebakan awan pekat.

Di sinilah dibutuhkan seni mengelola yang baik. Wabah covid-19, suka tidak 
suka, memang mengubah kebiasaan lama kita. The new normal harus kita temukan 
modelnya dan kemudian kita terapkan. Sepanjang belum ditemukan vaksin untuk 
covid-19, kita harus mau hidup bersama dengan virus korona.

Sekarang semua harus berpikir tentang the new normal yang akan kita jalani itu. 
Beberapa negara bahkan sudah membuat simulasi untuk berbagai bidang kehidupan, 
dari penataan tempat kerja di kantor, kerja di pabrik, sekolah, antre angkutan 
umum, makan di restoran, pergi ke pasar rakyat, belanja di supermarket, bahkan 
bagaimana berolahraga di pusat kebugaran.

Tantangan selanjutnya ialah bagaimana kemudian semua itu disosialisasikan 
kepada masyarakat. Semua orang harus diberi pemahaman tentang apa yang boleh 
dan tidak boleh dilakukan. Kemudian semua harus menjalankan lagi disiplin diri 
dan disiplin kolektif. Tidak boleh ada yang melanggar disiplin karena dampaknya 
akan dirasakan oleh semua orang.

Kita tidak bisa mendikotomikan kesehatan dan ekonomi karena itu dua sisi dari 
satu mata uang. Kita membutuhkan kesehatan yang prima untuk bisa melawan 
covid-19. Namun, untuk mempunyai kesehatan yang kuat harus ditopang ekonomi 
yang baik. Sebaliknya, untuk mendapatkan ekonomi yang kuat kita harus memiliki 
kesehatan yang baik.

 
 








Kirim email ke