Satu hal sangat menarik untuk diperhatikan dan dijawab dengan penyelesaian konkrit, BUKAN dengan mengunyah-ngunya dari teori keteori saja! Itukan kerja nenek pemakan sirih, makin dikunyah sirih itu lalu melepehkan ludah lebih MERAH saja! Untuk apa begitu? TIDAK GUNA! Hehehee, ...

Sebelum kita masuk kejaman masyarakat sosialisme, di Tiongkok sekarang ini juga barulah LANGKAH pertama dari perjalanan panjang Jalan Sosialisme Berkarakter Tiongkok, jadi BELUM masuk dan menjadi masyarakat sosialisme. Dimana dan kapanpun akan dihadapi masalah kontradiksi kapitalis dan Buruh begini. Prinispnya saja dipegang, perkembangan masyarakat harus terus MAJUUU, tidak boleh berhenti apalagi jadi buyaar rusak berantakan! Harus ada keseimbangan, menemukan jalan tengah yang bisa diterima segi-segi yang berkontradiksi itu! TIDAK BISA mau menang sendiri dan akhirnya berakibat kedua belah pihak dirugikan! Harus dibuat keseimbangan, kapitalis diuntungkan, kesejahteraan buruh juga ditingkatkan! Jangan sampai terjadi ketimpangan, kapitalis secara sepihak diuntungkan sebesar-besarnya, buruh diperas habis dengan penderitaan kemiskinan! Juga jangan terjadi sebaliknya, buruh diuntungkan berlebih sebaliknya kapitalis dirugikan perusahaan akan TUTUP, pindah ketempat lain, buruh setempat akhirnya juga jatuh penganggur! Disinilah pemerintah yang berkuasa harus pandai-pandai bermain, secara bijaksana mengeluarkan ketentuan sesuai kondisi perkembangan ekonomi saat itu, ... bisa dan berani turun tangan ikut mengatur PASAR! BUKAN membiarkan pasar secara liberal, ...

Perhatikan saja bagaimana SERUAN disaat 30 tahun pertama (1949-1978) di Tiongkok pada BURUH/PEKERJA, "Banyak, Cepat, Baik dan Hemat!" (多, 快, 好, 省) untuk mengejar dan mencapai seruan "Sosialisme adalah Baik!" (社會主義好!) Ketika itu RAKYAT Tiongkok bagaikan dicambuk untuk BEKERJA KERAS membangun masyarakatnya majuuuu, ...! Bahkan kerja lembur dilakukan BESAR-BESARAN dalam jangka waktu panjang, TANPA DIBAYAR! Ingat, ketika itu orang didorong untuk mencapai KESADARAN klas BURUH! Yang menentang ideologi borjuasi dengan rangsang materiil, upah-lembur agar buruh mau bekerja lembur, ... Ketika itu rakyat Tiongkok harus mengencangkan ikat tali-pinggang untuk bekerja keras membangun dasar-ekonomi dan PERTAHANAN Negara! Lalu, bagaimana 40 tahun terakhir ini?

SEMANGAT Kerja KERAS harus dipertahankan untuk mengejar ketertinggalan dengan negara-maju kapitalis didunia! Caranya? Setelah kapitalis kembali diberi hak hidup, tumbuh dan berkembang untuk mendorong maju ekonomi nasional, dijalankanlah prinsip keseimbangan itu, disatu pihak memberi kesempatan kapitalis beruntung tapi dipihak lain juga harus meningkatkan kesejahteraan buruh/karyawan nya! Kerja lembur harus dibayar, sesuai ketentuan pasar lokal! Dan, ... kenyataan yang terjadi, kemajuan ekonomi nasional Tiongkok jauh lebih cepat ketimbang 30 tahun pertama, ... bahkan berhasil mengejar kemajuan banyak negara-maju didunia!

TANPA ada semangat KERJA KERAS rakyat Tiongkok yang dipertahankan sejak RRT tegak berdiri itu, bagaimana bisa mengejar ketertinggalan lebih 100 tahun??? Kalau belum-belum semangat kerja buruh masih bersantai-santai, bermalas-malas bagaimana mungkin Tiongkok menjadi pabrik-dunia dan mencapai kemajuan dahsyat???

Lalu, ... bagaimana kesejahteraan rakyat banyak di Tiongkok? Kenyataan dalam lebih 70 tahun juga mencapai KEBERHASILAN yang menakjubkan, bukan saja berhasil mencapai lebih 400 juga rakyatnya hidup diklas-meneengah, tapi tahun ini akan menyelesaikan target membebaskan lebih 800 juta rakyat Tiongkok dari kemiskinan, ...


Komentgar Denny Siregar, "Belajar dari Film American Factory" dibawah patut menjadi perhatian, ... bagaimana mendorong ekonomi Indonesia maju???


         Denny Siregar
         
<https://www.facebook.com/dennyzsiregar/?hc_ref=ARTfQf6gc8pSCnLJfUPbwkfeBBIPx3v86e0QLqfpt5ZBJNxWNOfo-B-R-xF7NMHvCJQ&fref=nf&__xts__%5B0%5D=68.ARBjwKsD44OkiC-HXEudFHITwTECcmTcVE3eft5jVM5eMaECmYnzmDvQ5a8DeOYhBgnDOM3JSrYdwL7BsH-7Eo0L4H8A0U3FBnaTl1eMCGpj9Qk4z9sqaFX13t-j0BnOxUY6c14jQ15g1kpAOnGCNCLfmMLxGy1Ed1dmcuv4-VEScpQtc0wI3gSGIWs5CqBWhKgy2VN8nbrTVgzmHq7dfAa6RhQS46XZiajCwiWL6A9IURlbTwwQ7UysS72QsfJiyh09URMEZSpa5GHeOnI9PPhUihdRi-cWSvi4SiNn6fYMxC-PF-1UvNufb9JI0g929nd_P21-r59BooH-zWT0QKGqcA&__tn__=kC-R><https://www.facebook.com/dennyzsiregar/?hc_ref=ARTfQf6gc8pSCnLJfUPbwkfeBBIPx3v86e0QLqfpt5ZBJNxWNOfo-B-R-xF7NMHvCJQ&fref=nf&__xts__%5B0%5D=68.ARBjwKsD44OkiC-HXEudFHITwTECcmTcVE3eft5jVM5eMaECmYnzmDvQ5a8DeOYhBgnDOM3JSrYdwL7BsH-7Eo0L4H8A0U3FBnaTl1eMCGpj9Qk4z9sqaFX13t-j0BnOxUY6c14jQ15g1kpAOnGCNCLfmMLxGy1Ed1dmcuv4-VEScpQtc0wI3gSGIWs5CqBWhKgy2VN8nbrTVgzmHq7dfAa6RhQS46XZiajCwiWL6A9IURlbTwwQ7UysS72QsfJiyh09URMEZSpa5GHeOnI9PPhUihdRi-cWSvi4SiNn6fYMxC-PF-1UvNufb9JI0g929nd_P21-r59BooH-zWT0QKGqcA&__tn__=kC-R>

2月16日 <https://zh-cn.facebook.com/dennyzsiregar/photos/a.961385537257648/2960730057323176/?type=3&__xts__%5B0%5D=68.ARBjwKsD44OkiC-HXEudFHITwTECcmTcVE3eft5jVM5eMaECmYnzmDvQ5a8DeOYhBgnDOM3JSrYdwL7BsH-7Eo0L4H8A0U3FBnaTl1eMCGpj9Qk4z9sqaFX13t-j0BnOxUY6c14jQ15g1kpAOnGCNCLfmMLxGy1Ed1dmcuv4-VEScpQtc0wI3gSGIWs5CqBWhKgy2VN8nbrTVgzmHq7dfAa6RhQS46XZiajCwiWL6A9IURlbTwwQ7UysS72QsfJiyh09URMEZSpa5GHeOnI9PPhUihdRi-cWSvi4SiNn6fYMxC-PF-1UvNufb9JI0g929nd_P21-r59BooH-zWT0QKGqcA&__tn__=-R
https://zh-cn.facebook.com/dennyzsiregar/posts/belajar-dari-film-american-factorybaru-saja-saya-menonton-film-dokumenter-berjud/2960730100656505/

*BELAJAR DARI FILM AMERICAN FACTORY*

Baru saja saya menonton film dokumenter berjudul "American Factory".

Film ini berkisah tentang nasib para pegawai General Motors yang nganggur karena pabriknya tutup. Puluhan ribu jumlahnya. GM tutup karena merugi.

Pabrik kemudian dibeli oleh perusahaan pembuat kaca mobil dari China, bernama Fuyao inc. Harapan baru muncul karena ada investasi asing masuk dgn nilai 500 juta dollar. Tenaga kerja di Amerika pun kembali terserap.

Tapi disinilah masalahnya. Ternyata kultur kerja org Amerika dan China sangat berbeda..

China menganggap org Amerika terlalu santai bekerja, tidak memenuhi standar, banyak libur, penuntut dan pengeluh. Dan satu yang membuat China kesal adalah serikat pekerja yang merecoki perusahaan.

CEO Fuyao lalu mengajak beberapa orang eksekutif dari Amerika ke China. Disana dia diperlihatkan bagaimana orang China bekerja.

Disana, satu pekerja China bisa menghandle pekerjaan yang dilakukan dua orang Amerika. *Mereka bekerja seperti tentara sedang perang.*

Pekerja China sengaja didatangkan dari jauh, tidak dari sekitar pabrik. Itu supaya mereka tidak terganggu masalah keluarga sakit, ada yang nikah, atau orangtua pengen ketemu yang menyebabkan pekerja China harus ambil cuti.

Pekerja China hanya libur seminggu sekali dan pulang kampung setahun sekali. Selebihnya mereka kerja, menjaga perusahaan tidak rugi karena kalau perusahaan bangkrut, mereka dan keluarga mereka tidak makan.

Pekerja Amerika ternyata mirip dengan pekerja Indonesia. Cuti dan liburnya banyak, pengeluh, penuntut, kualitasnya rendah, dan lebih sibuk gabung dgn serikat pekerja yang mempolitisasi mereka.

Inilah yang membuat China agak malas investasi di Indonesia. Belum UMR yang tinggi, yang tidak sesuai dengan tingginya kinerja. Mau tidak mau China harus jadi rujukan investasi, karena mereka sekarang sedang punya uang. Mau masukin pekerja dari China, entar dituduh Chinaisasi.

Karena itulah, untuk menarik investasi asing - khususnya China - disini, pemerintah sedang menyiapkan RUU Omnibus Law khusus lapangan kerja. Dalam RUU itu, pemerintah akan menghapuskan "cuti khusus" yang biasanya mengganggu investor.

Cuti khusus ini biasanya dinikmati pekerja Indonesia, mulai dr izin tak masuk haid hari pertama, menikah, menikahkan anak membaptis anak, istri keguguran, sampe cuti kalo ada keluarga yang meninggal dunia.

Belum kalau ada kegiatan keagamaan..

Kebanyakan cuti khusus, pekerjaan jadi lamban. Dan yang namanya investor tidak mau rugi. Daripada investasi di Indonesia yang sibuk dengan serikat pekerja yang selalu menuntut ini itu, mendingan mereka buka di Vietnam atau Thailand.

Bagaimana seandainya serikat pekerja menolak RUU Omnibus Law khusus pekerja itu ?

Film American Factory yang baru saja menang Oscar dan dikerjakan oleh Barrack Obama itu, punya jawaban. China akhirnya mau investasi asal mereka boleh mengganti pekerja dengan robot, yang menurut mereka lebih punya standarisasi lebih jelas dan tidak ribut.

Yang rugi akhirnya para pekerja yang sering nuntut itu. Mereka kembali menganggur dan bertahan hidup dari musim dingin yang ganas. Ya gimana bisa kerja, ga ada perusahaan yang mau rugi karena sibuk memikirkan keinginan pegawainya.

Film American Factory meski lokasinya terjadi di Amerika, bisa jadi adalah wajah Indonesia ke depan kalau kita tidak segera memperbaiki apa yang sudah terjadi.

Seruput kopinya..

Denny Siregar <https://www.facebook.com/dennyzsiregar/?fref=mentions&__xts__%5B0%5D=68.ARBjwKsD44OkiC-HXEudFHITwTECcmTcVE3eft5jVM5eMaECmYnzmDvQ5a8DeOYhBgnDOM3JSrYdwL7BsH-7Eo0L4H8A0U3FBnaTl1eMCGpj9Qk4z9sqaFX13t-j0BnOxUY6c14jQ15g1kpAOnGCNCLfmMLxGy1Ed1dmcuv4-VEScpQtc0wI3gSGIWs5CqBWhKgy2VN8nbrTVgzmHq7dfAa6RhQS46XZiajCwiWL6A9IURlbTwwQ7UysS72QsfJiyh09URMEZSpa5GHeOnI9PPhUihdRi-cWSvi4SiNn6fYMxC-PF-1UvNufb9JI0g929nd_P21-r59BooH-zWT0QKGqcA&__tn__=K-R>

图片中可能有:一人或多人、帽子、文本和户外
<https://zh-cn.facebook.com/dennyzsiregar/photos/a.961385537257648/2960730057323176/?type=3&eid=ARBaI_eQl8-j5EaEqSz9m87inaRidEpAMQaK9OIg5jja-JYYBQHYeZmw496GeAMXaB8izp3xt-AR-IYu&__xts__%5B0%5D=68.ARBjwKsD44OkiC-HXEudFHITwTECcmTcVE3eft5jVM5eMaECmYnzmDvQ5a8DeOYhBgnDOM3JSrYdwL7BsH-7Eo0L4H8A0U3FBnaTl1eMCGpj9Qk4z9sqaFX13t-j0BnOxUY6c14jQ15g1kpAOnGCNCLfmMLxGy1Ed1dmcuv4-VEScpQtc0wI3gSGIWs5CqBWhKgy2VN8nbrTVgzmHq7dfAa6RhQS46XZiajCwiWL6A9IURlbTwwQ7UysS72QsfJiyh09URMEZSpa5GHeOnI9PPhUihdRi-cWSvi4SiNn6fYMxC-PF-1UvNufb9JI0g929nd_P21-r59BooH-zWT0QKGqcA&__tn__=EHH-R>

Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] 於 2020/5/12 上午 12:56 寫道:

Saya membodohkan diri??? Buat memperingati 150 tahun Lenin dan menulis artikel, saya baca kembali tiga karya Lenin... Ha...ha.. sudah tentu antek remo tidak akan mau buka-buka bukunya Lenin.... Sudah usaaaang!!!

Antek remo menyebut kapitalis yang NAKAL!!! Bayangkan, begitu akrabnya si antek remo ini dengan kaum kapitalis besar, maka tindakan menghisap brutal dinilai sebagai tidnakan kapitalis yang HANYA NAKAL doang!!! Dijewer saja kupingnya... sudah cukup!! Wong Cuma NAKAL KOK!!

Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

*From: *Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>
*Sent: *Monday, 11 May 2020 18:42
*To: *[email protected] <mailto:[email protected]>; ChanCT <mailto:[email protected]>
*Subject: *RE: [GELORA45] Buruh China juga kerja 18 jam sehari!

Ya jelas BUKAN FITNAH, MENUNJUK PEMERINTAH CHINA SEKARANG SEBAGAI IMPERIALISME!!!! Itu adalah kenyataan yang diakui banyak partai-partai dan organisasi progresif di dunia ini. Mana bias antek remo tahu, kalau dunianya Cuma China kapitalis !!!!Soalnya antek remo tidak pakai M-L, karena menganggapnya sudah kuno, maka dia merevisinya. Buat dia teori yanghebat adalah teori revisionisnya Deng Xiaoping. Ya , sudah tentu prinsip2 M_L tidak digubris... Jadi justru antek remo ini yang hidup dalam bayangannya sendiri, negeri yang sudah memperaktekkan penghisapan brutal masih tetap dianggap sosialis, partai yang sudah penuh dengan milyuner dan bilyuner tetap partai komunis, negara yang sudah punya basis militer, punya koloni di Afrika dan negeri tetangga seperti Laos, export capital, menjarah kekayaan alam rakyat negeri lain, pinjamkan modal dengan bunga tinggi seperti chino mindring, SEMUA INI NORMAAAAL....SYAH....PENGHISAPAN DIPERLUKAN....BELUM A=PERNAH ADA SOSIALISME...SEMUA PEPESAN KOSONG INILAH YANG TAK JEMU-JEMUNYA DIJAJAKAN... HANYA ORANG YANG IGNORANT DAN PEMABUK YANG MEMPERCAYAINYA!!!

Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

*From: *ChanCT [email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]>
*Sent: *Monday, 11 May 2020 02:31
*To: *Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>; [email protected] <mailto:[email protected]>
*Subject: *Re: [GELORA45] Buruh China juga kerja 18 jam sehari!

Ini nenek masih juga MEMBODOHKAN diri??? Kalau sudah menuduh PEMERINTAH Tiongkok sekarang ini sudah menjadi kekuasaan kapitalisme/imperialisme, BUKANKAH itu FITNAH disiang hari bolong!!! Lalu, menggunakan kutu-rambut yg bisa ditemukan sebagai fakta. Apa bedanya dengan sibuta melihat GAJAH, yang kepegang kuping nya, dibilang itulah gajah, ... TIDAK BERHASIL melihat GAJAH seutuhnya!

TIDAK ADA yang menyangkal, dimana dan kapanpun PASTI ada saja kapitalis-kapitalis nakal, dan akan terjadi terus sepanjang sejarah kehidupan manusia! Sebagaimana manusia setiap saat bisa berbuat KESALAHAN! Sedang setiap pemerintah berkuasa senantiasa diuji bisa dan mampu tidak menggunakan PENTUNG nya untuk gebuk dan jatuhi HUKUMAN sesuai HUKUM yang berlaku! Jadi, tidak lalu mengangkat kutu-kutu yang ditemukan itulah kapitalis-Tiongkok, ... karena kenyataan TIDAK SEMUA kapitalis di Tiongkok begitu KEJAM dan SERAKAH menghisap dan menindas pekerja dan buruh nya! Sebaliknya, yang ditahun 2018, lebih 30 ribu kapitalis-kapitalis di Tiongkok justru BERHASIL digerakkan ikut serta dalam Gerakan Membebaskan Kemiskinan didesa-desa terbelakang yang tersisa, ...! Dan, membuktikan KEBERHASILAN mereka, kapitalis-kapitalis itu ikut membebaskan kemiskinan di desa-desa terbelakang di Tiongkok! Kenapa kenyataan yang lain ini TIDAK berani dilihat dan diakui nenek yang satu ini???

Tatiana Lukman 於2020/5/11 上午04:54 寫道:

    Ha...ha.. FITNAH??? Siapa di sini yang lagi ngomongin covid 19??
    NGACOOO! Jangan mengalihkan soal dan sasaran!! Trup-Pompeo adalah
    SAMPAH, tidak ada yang mendebatkan itu!!! Dari dulu kita menghujat
    imperialisme tua yang sdh sempoyongan!! Itu sudah pengetahuan
    umum... Yang harus diblejeti adalah imperialisme China...dan rezim
    penghisapan kejam kaum kapitalis China...Bukan hanya WNnya sendiri
    yang menderita penghisapan kejam, warga asing juga!! Kapital tidak
    pilih-pilih bangsa untuk menghisap!! Yang dilihat hanya
    KEUNTUNGAN!!! Maunya lihat kenyataan kehidupan para milyuner,
    bilyuner... tapi menutup mata pada kenyataan penghisapan terrhadap
    buruh!!!

    Sent from Mail <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986>
    for Windows 10

    *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
    <mailto:[email protected]>
    *Sent: *Sunday, 10 May 2020 02:23
    *To: *Tatiana Lukman <mailto:[email protected]>; GELORA_In
    <mailto:[email protected]>
    *Subject: *Re: [GELORA45] Buruh China juga kerja 18 jam sehari!

    Tak usah apriori dengan main FITNAH begitu! Apa bedanya dengan
    cara Trump-Pompeo yang gunakan intrik, bohong dan fitnah hendak
    melemparkan KESALAHAN dan Tanggungjawabnya pada Tiongkok?! Dan
    akhirnya TERPAKSA merubah tuduhan, ... setelah makin banyak fakta
    gejala pasien Covid-19 diberbagai negara termasuk di Amerika
    sendiri yang muncul justru SEBELUM merebak di Wuhan!

    Kita lihat sajalah bagaimana KENYATAAN yang terjadi,
    ...bagaimanapun juga TIDAK akan mampu merubah yang putih menjadi
    hitam! Yang PUTIH tetap Putih, yang HITAM tetap hitam, ...! Yang
    mana kutu-busuk yang mana GAJAH sesungguhnya!!!

    Tatiana Lukman 於2020/5/10 上午05:02 寫道:

        P.,.... pepesan kosong!! Justru karena masih ada perjuangan
        kelas maka Negara juga berwatak kelas....Mengharapkan negara
        borjuis/kapitalis China menerapkan hokum yang dia bikin
        sendiri dalam hubungannya dengan buruh, itulah mimpi di tengah
        hari bolong!!!! Wong keputusan pengadilan internasional
        tentang pulau di Lautan Tiongkok Selatan saja dia kentutin,
        masih mengharapkan sang Kaisar adil dengan buruh!!! Dasar REMO!!!

        Sent from Mail
        <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for Windows 10

        *From: *ChanCT [email protected] [GELORA45]
        <mailto:[email protected]>
        *Sent: *Saturday, 9 May 2020 01:59
        *To: *[email protected]
        <mailto:[email protected]>; Tatiana Lukman
        <mailto:[email protected]>
        *Subject: *Re: [GELORA45] Buruh China juga kerja 18 jam sehari!

        Hehehee, ... ini nenek pencari kutu lagi-lagi membuktikan
        dirinya hanya hidup dalam MIMPI! SUDAH TIDAK SADAR dirinya
        masih HIDUP didunia nyata sudah sudah ratusan tahun memasuki
        jaman KAPITALISME yang harus dilewati dan entah berapa ratus
        tahun kedepan lagi baru bisa memasuki jaman Sosialisme, jaman
        dimana seperti dalam mimpinya itu yang TIDAK ADA lagi klas dan
        perjuangan klas!

        KERJA 8 jam/hari adalah juga ketetapan HUKUM di Tiongkok,
        kerja lembur dengan upah lembur yang harus diberikan majikan,
        adalah KELEBIHAN kerja 8 jam itu! Kelebihan juam kerja,
        apalagi TIDAK dibayar adalah PELANGGARAN yang mutlak akan
        dijatuhi sanksi HUKUM yang berlaku, ...! Dari sekian buaanyak
        kapitalis di Tiongkok, tentu tidak terhindarkan ada yang nakal
        dan melanggar ketentuan HUKUM, ... itulah sebab diperlukan
        adanya SERIKAT BURUH, adanya KESADARAN masyarakat yang lebih
        tinggi untuk membela dan perjuangkan kepentingan hidupnya
        sendiri lebih BAIK dan majuu lebih baik lagi,...! PENTUNG
        NEGARA untuk mendisiplin kapitalis2 nakal itu TETAP berjalan
        dengan cukup baik bisa dibuktikan makin sejahteranya kehidupan
        masyarakat Tiongkok, kalau saja tidak hendak melihat ratusan
        juta warga Tiongkok yang bertamasya di setiap hari-libur, baik
        didalam maupun keluar negeri! Juga boleh melihat kemampuan
        masyarakat mentaati disiplin NGEREM dirumah selama lebih 2
        bulan dalam melancarkan Perang Rakyat Melawan epidemi Covid-19
        itu! Di Tiongkok BISA jalan dengan baik dan penuh disiplin,
        yang sulit bisa ditemukan bahkan tidak mungkin bisa terjadi di
        negara lain didunia ini! Itukan membuktikan rakyat banyak di
        Tiongkok sudah cukup makmur, ngerem dirumah lebih 2 bulan juga
        tidak membuat kelaparan dan kebingungan memberi makan keluarga
        dirumah!

        Kalau saja kapal Liongxin itu betul milik kapitalis Tiongkok
        dan harus bertanggungjawab atas pelanggaran HUKUM yg terjadi,
        pihak pemerintah Tiongkok PASTI akan gunakan PENTUNG nya untuk
        menindak kapitalis nakal itu, ... PASTI dan tak perlu
        diragukan lagi!

        Sedang bagi pemerintah RI, saya pun berpendapat, hendaknya
        bisa mendisiplin dan menindak perusahaan2 yg harus
        bertanggungjawab mempekerjakan NELAYAN Ind. keperusahaan asing
        itu! Disinilah SB-SB yang ada dan kesadaran masyarakat diuji ,
        ... sudah mampu memperjuangkan kepeentingan BURUH atau belum?

        Tatiana Lukman [email protected]
        <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於2020/5/9 上午04:22
        寫道:

            Di bawah ini pengalaman kongkrit seorang buruh di China
            kapitalis. Bangun jam 7:20 AM, sarapan semangkok bubur dan
            semacam ‘ pancake’ setipis kertas. Seperti juga di
            pabrik-pabrik di Indonesia, pengusaha selalu meningkatkan
            target. Sama, di China juga. Buruh China ini  , pagi hari,
            kerja 11 jam tanpa istirahat, bahkan ke WC pun tidak,
            karena takut tidak memenuhi target yang harus dibayar
            dengan kerja lembur gratis! Oleh karena itu ketika selesai
            11 jam kerja dan mau ke WC, orang antri panjang!! Kalau
            antriannya buyar, kenalah merreka makian dari pengawas
            atau mandor!! Kemudian untuk makan siang, sama...
            berdesak-desak untuk dapat duluan, kalua belakangan
            datangnya sudah tidak kebagian, karena jumlah makanannya
            tidak sesuai dengan jumlah buruhnya...Walaupun makanannya
            buruk, tapi harus juga mereka menelannya, kalau tidak,
            bagaimana bias dapat sedikit energi untuk meneruskan kerja
            sore hari!!! Sore hari mereka kerja 5 jam. Berarti 11 + 5
            = 16 jam! Setelah makan malam, masih ada 2 jam lagi kerja
            lembur... Artinya 16 + 2 = 18 jam!!!

            Apa yang dialami ABK di kapal China, kerja 18 jam dengan
            bayaran seperti tertulis dalam berita itu sama sekali
            bukan fantasi!! Coba  antek remo dan konco-konco pendukung
            China kapitalis itu disuruh  kerja 18 jam tiap hari,
            seperti robot!!!

            Gampang sekali ngomong, kapitalis yang nakal, hukum
            saja....Selesai perkara, bukan?? Ha...ha... Sudah lupa
            ajaran Marx dan Lenin tentang Negara dan mesin Negara
            serta fungsinya??? Berapa kasus pelanggaran HAM yang sudah
            diselesaikan dengan adil di Indonesia???Ratusan konflik
            tanah, bahkan konflik yang dimenangkan di MA pun, tidak
            dijalankan. Di AS, segregasi atas dasar ras sudah
            dinyatakan ilegal di konstitusi, tapi sampai hari ini,
            2020, masih banyak sekali orang kulit hitam yang
            didiskriminasi... Di China kapitalis, buruh yang nuntut
            diterapkannya hukum yang berlakupun akhirnya di phk,
            dipenjara, diculik!! Apa nanti kata antek remo...Ah,ajaran
            Marx dan Lenin bukan dogma, kenapa tidak bisa dikritik dan
            „ „ ‘”dikembangkan“??? Ya itulah orang remo, kerjanya
            merevisi ajaran Marx, lenin dan Mao!!!

            *One Day*

            by “I Love Cilantro” (/Wo Ai Xiangcai/)

            Working in the factory has turned me into a robot. I live
            a mechanical existence. Almost every day I repeat my role
            in the same scenes.

            The alarm clock wakes me up at exactly 7:20 in the
            morning. I go to the toilet, wash my face, change my
            clothes, no time to brush my teeth, I take my key and run
            straight to the factory. I get to the canteen a bit before
            7:40, find a bowl, and rush to the window where they serve
            food. The aunty on the other side of the window serves me
            a bowl of porridge and a pancake about as thin as paper.
            This is my breakfast. Because I can’t fill my stomach, and
            the canteen won’t give me an extra pancake, I often buy a
            couple of steamed buns on the street. It’s the only way I
            can make it until noon.

            Our workshop is on the fourth floor. We make facemasks.
            Each work post has a production quota, determined by
            specialized employees who stand behind our backs, timing
            us with a stopwatch. They always try to raise the quota by
            counting more than we actually produce. Moreover, they do
            this in the morning when we have the most energy, forcing
            us to repeat that speed for 11 hours. Otherwise we don’t
            reach the quota and have to do unpaid overtime. Most
            workers can’t meet the monthly quota. Although the
            management in this workshop isn’t particularly strict, and
            you need no special permission for a leave of absence,
            everyone is self-conscious. Some don’t even go to the
            toilet—not because they don’t need to go, but because
            they’re afraid they won’t meet the production quota if
            they do. Most people wait until they finish their work, so
            the toilets are always packed at the end of a shift.

            When it’s time for our break, the line leader gives the
            order to stop the line, then we queue up and wait for him
            to tell us when it’s OK to leave. We’re supposed to punch
            out one by one in an orderly fashion, but the queue tends
            to break up when we’re all eager to get to the canteen as
            quickly as possible, so the line instructors usually stand
            by the queue—supposedly to enforce discipline, but
            generally they just yell at us. By the time I finally
            punch out, change my overalls and shoes, and run down from
            the fourth floor to the canteen, it’s already packed with
            200 people queued up in front of four windows. I grab a
            bowl, walk to the end of a queue, and then wait and wait,
            peeking into other people’s bowls to see what’s being
            served. When my turn finally comes up, I realize the dish
            I wanted is long gone, and all that’s left is the stuff
            that not only I but everyone dislikes. But I have no
            choice, so I take a few scoops of pickled vegetables to
            fill my stomach (and complain later). I often complain
            about the lack of decent food to my coworkers, but they
            blame me for running late, saying if only I hurried up
            there would be plenty to eat. Although I don’t argue, I’m
            always thinking that with a certain amount of people and a
            certain amount of food, it shouldn’t matter who arrives
            first or last; even if I came earlier, that would just
            mean someone else wouldn’t get to eat.

            Although the food is bad, I have to eat something—I’m
            thinking about the five hours of work I have to do in the
            afternoon, so I manage to gulp it down somehow. The
            afternoon shift is the same as the morning one, an endless
            stamping of facemasks (that means welding together the
            mouth cover and ear straps). Eating dinner feels like
            eating a cloned version of lunch: everything is exactly
            the same. Sometimes I think my canteen fee is spent
            entirely on pickled vegetables—it’s not worth it, but
            there’s nothing I can do. Going outside to eat takes too
            much time, and I’m sure the street stalls are even less
            sanitary than the canteen. Although my coworkers sneer at
            hearing this, I keep hoping the canteen will improve.

            After dinner, there are two more hours of overtime. This
            is the easiest part of the day, since we know it’s almost
            over, at least. As we get close to the end, everyone grows
            excited, as if we’re about to be “liberated.” That’s why
            we work really fast in the evenings and seem incredibly
            energetic. We’re finally done, freed, and after walking
            out of the factory gate, the fatigue weighing down my body
            unconsciously melts away into the noise of the commercial
            district. I also forget the repression of the shop floor,
            as if all that’s left is the unbearable physical
            exhaustion. Only then do I realize that I really spent
            myself in the workshop.

            I repeat this kind of existence day after day, on the shop
            floor, unable to see the sun, seldom going to the toilet
            even once. It goes so far that I’m afraid the sunlight
            will hurt my eyes! Although this is just one day, perhaps
            this will be my entire life as long as I’m “affirming” my
            labor-power in the factory.

            Sent from Mail
            <https://go.microsoft.com/fwlink/?LinkId=550986> for
            Windows 10


Kirim email ke