-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://news.detik.com/kolom/d-5017086/pemerintah-segera-insyaf-dan-prioritaskan-ekonomi-rakyat?tag_from=wp_cb_kolom_list



Pemerintah Segera Insyaf dan Prioritaskan Ekonomi Rakyat

Ferry Juliantono - detikNews
Sabtu, 16 Mei 2020 10:31 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Ferry Jualiantono
Foto: Inkoppas
Jakarta -

Salah satu unsur terpenting dalam membangun perekonomian nasional, selain dari 
membangun kekuatan produksi adalah juga seharusnya membangun kekuatan 
distribusi.

Namun anehnya, dua kekuatan yang harusnya dibangun siang malam oleh pejabat 
pemerintah itu malah cenderung "dimatikan." Bagaimana tidak mati? Kekuatan 
produksi dihancurkan lewat impor barang industri, bahkan kekuatan produksi 
pertanian pun dihancurkan lewat impor komoditas pertanian. Sialnya lagi, di 
sektor distribusi berbasis tenaga rakyat pun turut dibonsai. Padahal ada lebih 
dari 10 ribu pasar dengan sekitar 12 juta pedagang pasar di Indonesia. Karena 
tidak diurus secara serius, tidak sedikit pasar-pasar pun tergerus oleh usaha 
retail modern.
Baca juga:
Jokowi Kini Berkuasa Penuh Mengangkat hingga Pecat PNS

Kita tahu bahwa retail modern itu memiliki akses kepada pabrikan-pabrikan 
karena bermodal besar sehingga bisa mendapat harga-harga khusus dari pabrikan. 
Sementara pasar-pasar tradisional baru bisa mendapat barang katakanlah 
komoditas gula setelah melewati 4 atau 5 rantai distribusi.

Ya jelas, pastilah mereka tidak bisa bersaing harga dengan peretail modern. 
Akhirnya perlahan pasar-pasar itu pun gulung tikar dan menimbulkan kemiskinan 
baru. Dengan melihat fenomena itu, maka omong kosong lah dengan yang katanya 
ingin menjalankan ajaran Trisakti Bung Karno dalam bidang ekonomi yang harus 
bisa berdiri di atas kaki sendiri atau berdikari.

Dengan kata lain, rakyat ini seperti tidak memiliki negara, melainkan 
membiarkan berlakunya homo homini lupus yaitu manusia adalah serigala bagi 
manusia lainnya. Yang kuat dan kaya tambah kuat dan kaya sementara yang lemah 
dan miskin semakin lemah dan miskin, termasuk pedagang pasar yang lebih dari 12 
juta orang itu.
Baca juga:
Pesan Terbaru Jokowi Ingin Masyarakat Produktif-Berdamai dengan Corona

Yang disayangkan, saat kekuatan rakyat dalam distribusi itu sebenarnya sudah 
memberdayakan dirinya dengan mendirikan Koperasi atau juga organisasi yaitu 
Koperasi Pasar dan Asosiasi Pedagang Pasar, namun faktanya pemerintah seperti 
"alergi" untuk memberdayakan mereka semua, tapi sebaliknya menganakemaskan 
kekuatan retail modern.

Harusnya, dalam menghadapi wabah COVID-19 ini justru para pedagang pasarlah 
yang mendapat perhatian dan pemberdayaan, karena seperti kita tahu dalam wabah 
kali ini yang paling banyak terpukul justru sektor usaha kecil dan memengah.

Saya berharap pemerintah segera insyaf dan mencari jalan keluar dengan 
mengelontorkan permodalan kepada usaha kecil, menengah, dan koperasi. Berikan 
juga kepada induk-induk koperasi agar bisa mendapat akses komoditas kepada 
pabrikan.

Jadi persoalannya bukan mampu atau tidak mampu tapi mau atau tidak mau. Kalau 
pemerintah tidak mau, maka kita akan perlahan menyaksikan rakyat pedagang pasar 
semakin miskin dan produsen dalam negeri terus berguguran. Sementara itu para 
pemuja rente akan semakin kaya raya dengan margin keuntungan yang besar. Bila 
ini terus dibiarkan maka inilah sejatinya yang disebut pengkhianatan terhadap 
rakyatnya sendiri.

Ferry Juliantono, Ketua Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas) dan Ketua 
Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (Appsi), Wakil Ketua Umum Dewan 
Koperasi Indonesia (Dekopin)

(mul/ega)
ferry juliantono
inkoppas


0 komentar








Kirim email ke