Berat Beban Luhut Pandjaitan Menghadapi Said Didu

17 Mei 2020
(Penulis wartawan senior)



By Asyari Usman

Jakarta, FNN – Menyusul laporan Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) ke
polisi, mantan sekretaris Menteri BUMN Muhammad Said Didu (MSD) sudah
diperiksa Bareskrim Polri, Jumat (15/5/2020). Pemeriksaan berlangsung
12 jam.

Pak Luhut memberikan teladan yang baik. Dia menempuh jalur hukum untuk
mencari keadilan. Dia merasa MSD mencemarkan nama baiknya.

Pantas diapresiasi. Pak Luhut memang perlu membela namanya yang selalu
baik itu. Mungkin baru kali ini beliau merasa ada orang yang merusak
nama baiknya.

Pak Luhut mulanya menyampaikan somasi. Menuntut permintaan maaf dari
Pak Said. Supaya tidak dibawa ke polisi.

Tetapi, Pak Said tidak meminta maaf. Dia merasa tidak mencemarkan nama
baik LBP. Ketika dia dalam obrolan dengan Hersubeno Arief mengatakan:
“…di dalam kepala Luhut itu hanya ada uang, uang dan uang…”, Pak Said
mengatakan bahwa yang dia persoalkan adalah perilaku seorang pejabat
negara yang hanya memikirkan soal ekonomi di tengah kondisi yang sedang
sulit. Bukan mengatakan bahwa Luhut hanya memikirkan keuntungan pribadi.

Tetapi, bagi Pak Luhut, ucapan MSD itu dianggap sebagai serangan
pribadi. Karena MSD tidak mau meminta maaf, Pak Menko pun
melanjutkannya ke Bareskrim.

Sekarang, akan berlangsung pertarungan hukum. Sesuatu yang tentunya
sangat menarik untuk disaksikan.

Pak Luhut diwakili oleh empat advokat hebat. Sedangkan Said Didu dibela
oleh puluhan pengacara. Mungkin ratusan. Semuanya pengacara relawan.

Siapakah yang ‘kuat’ diantara kedua pihak yang berperkara ini? LBP atau
MSD?

Luhut tentu sangat kuat. Karena beliau memang ‘orang kuat’. Pertama,
dia adalah tangan kanan Presiden. Kekuasaannya di pemerintahan sangat
besar dan luas. Kedua, dia memiliki jaringan solid yang menjangkau ke
seluruh penjuru. Ketiga, LBP memiliki ‘unlimited resources’ yang mampu
mengirimkan pesan kepada semua orang bahwa dia adalah ‘orang kuat’.

Bagaimana dengan Said Sidu? Dia mantan pejabat. Tidak punya kekuasaan.
Apalagi sekarang dia beroposisi. Tetapi, opini publik ada di belakang
Said. Sentimen kekinian juga berkubu ke tokoh Sembilan Oposisi harapan
rakyat ini.

Selain itu, paket semangat terbesar dikirimkan oleh 800-an pensiunan
tentara dan polisi. Dari yang berpangkat rendah sampai yang tertinggi.
Ada sersan, ada peltu, ada kapten, mayor, letkol, kolonel, AKBP, dlsb.
Diantara yang mendukung itu ada 34 brigjen dan 14 mayjen. Ada satu
jenderal berbintang tiga, dan satu bintang empat AL yaitu Laksamana
Slamet Subianto (mantan KSAL). Semuanya pensiunan.

Jurubicara Luhut, Jodi Mahardi, mengatakan nama para jenderal itu
dicatut. Tetapi, sejauh ini para jenderal tidak mengatakan nama mereka
dicatut.

Paket semangat juang dari para jenderal ini sangat penting bagi Pak
Said. Dukungan mereka membuat Pak Luhut seperti mantan jenderal yang
tak berteman. Terkucil sendirian.

Siapakah yang paling berat bebannya dalam perkara ini? LBP atau MSD?

Yang jelas, Said Didu dipersepsikan memiliki pijakan moral yang kuat.
Dilihat sebagai pejuang rakyat. Yang menyuarakan aspirasi masyarakat.
Dan tidak memiliki kepentingan pribadi apa pun. MSD tak punya beban
apa-apa.

Sebaliknya, Pak Luhut dianggap memperkarakan Said tanpa landasan moral.
Dia dipandang sebagai penguasa yang sewenang-wenang. Yang arogan. Tidak
membela rakyat.

Siapakah yang akan menang? Bagi masyarakat, Said Didu sudah menang
sejak awal. Masuk penjara pun dia, Said tetap dianggap menang. Bahkan
dianggap sebagai pahlawan rakyat.

Sebaliknya, Luhut akan dilihat sebagai orang yang kalah sejak awal.
Meskipun dia nanti berhasil memenjarakan Said.

Yang menjadi masalah, bagaimana kalau MSD tak terbukti mencemarkan nama
baik LBP? Siapkah Luhut kalah dalam kasus ini?

Tampaknya, dilematis bagi Pak Menko. Sebab, kalau tak terbukti
bersalah, publik akan menafsirkannya dengan sederhana bahwa Said benar.

Jadi, berat beban Pak Luhut menghadapi Said Didu.[]

17 Mei 2020
(Penulis wartawan senior)

Kirim email ke