Yang menarik ialah banyak jenderal mempunyai kekayaan bermilyaran-milyaran
rupiah. Jadi kalau rahasia  menapat rejeki sekian hebat itu bisa mereka
bagikan, atau mengajarkan seperti guru memberikan penjelasan kepada murid,
maka pasti banyak orang akan akan mengikuti jejak mereka menjadi kaya raya.
Jadi ceritanya seperti nabi-nabi zaman bahula mengajarkan atau memberitakan
kepada umum bagaimana bisa mempunyai kekayaan bermilyaran-milyaran rupiah
seperti mereka.  Masalahnya seperti nabi-nabi di zaman dunia gelap, yaitu
para nabi memberitahukan jalan selamat dalam hidup di dunia maupun di
aheirat. Bukankah dengan begitu NKRI hebat.

On Sun, May 17, 2020 at 11:01 PM 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
>
> Berat Beban Luhut Pandjaitan Menghadapi Said Didu
>
> 17 Mei 2020
> (Penulis wartawan senior)
>
> By Asyari Usman
>
> Jakarta, FNN – Menyusul laporan Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) ke
> polisi, mantan sekretaris Menteri BUMN Muhammad Said Didu (MSD) sudah
> diperiksa Bareskrim Polri, Jumat (15/5/2020). Pemeriksaan berlangsung
> 12 jam.
>
> Pak Luhut memberikan teladan yang baik. Dia menempuh jalur hukum untuk
> mencari keadilan. Dia merasa MSD mencemarkan nama baiknya.
>
> Pantas diapresiasi. Pak Luhut memang perlu membela namanya yang selalu
> baik itu. Mungkin baru kali ini beliau merasa ada orang yang merusak
> nama baiknya.
>
> Pak Luhut mulanya menyampaikan somasi. Menuntut permintaan maaf dari
> Pak Said. Supaya tidak dibawa ke polisi.
>
> Tetapi, Pak Said tidak meminta maaf. Dia merasa tidak mencemarkan nama
> baik LBP. Ketika dia dalam obrolan dengan Hersubeno Arief mengatakan:
> “…di dalam kepala Luhut itu hanya ada uang, uang dan uang…”, Pak Said
> mengatakan bahwa yang dia persoalkan adalah perilaku seorang pejabat
> negara yang hanya memikirkan soal ekonomi di tengah kondisi yang sedang
> sulit. Bukan mengatakan bahwa Luhut hanya memikirkan keuntungan pribadi.
>
> Tetapi, bagi Pak Luhut, ucapan MSD itu dianggap sebagai serangan
> pribadi. Karena MSD tidak mau meminta maaf, Pak Menko pun
> melanjutkannya ke Bareskrim.
>
> Sekarang, akan berlangsung pertarungan hukum. Sesuatu yang tentunya
> sangat menarik untuk disaksikan.
>
> Pak Luhut diwakili oleh empat advokat hebat. Sedangkan Said Didu dibela
> oleh puluhan pengacara. Mungkin ratusan. Semuanya pengacara relawan.
>
> Siapakah yang ‘kuat’ diantara kedua pihak yang berperkara ini? LBP atau
> MSD?
>
> Luhut tentu sangat kuat. Karena beliau memang ‘orang kuat’. Pertama,
> dia adalah tangan kanan Presiden. Kekuasaannya di pemerintahan sangat
> besar dan luas. Kedua, dia memiliki jaringan solid yang menjangkau ke
> seluruh penjuru. Ketiga, LBP memiliki ‘unlimited resources’ yang mampu
> mengirimkan pesan kepada semua orang bahwa dia adalah ‘orang kuat’.
>
> Bagaimana dengan Said Sidu? Dia mantan pejabat. Tidak punya kekuasaan.
> Apalagi sekarang dia beroposisi. Tetapi, opini publik ada di belakang
> Said. Sentimen kekinian juga berkubu ke tokoh Sembilan Oposisi harapan
> rakyat ini.
>
> Selain itu, paket semangat terbesar dikirimkan oleh 800-an pensiunan
> tentara dan polisi. Dari yang berpangkat rendah sampai yang tertinggi.
> Ada sersan, ada peltu, ada kapten, mayor, letkol, kolonel, AKBP, dlsb.
> Diantara yang mendukung itu ada 34 brigjen dan 14 mayjen. Ada satu
> jenderal berbintang tiga, dan satu bintang empat AL yaitu Laksamana
> Slamet Subianto (mantan KSAL). Semuanya pensiunan.
>
> Jurubicara Luhut, Jodi Mahardi, mengatakan nama para jenderal itu
> dicatut. Tetapi, sejauh ini para jenderal tidak mengatakan nama mereka
> dicatut.
>
> Paket semangat juang dari para jenderal ini sangat penting bagi Pak
> Said. Dukungan mereka membuat Pak Luhut seperti mantan jenderal yang
> tak berteman. Terkucil sendirian.
>
> Siapakah yang paling berat bebannya dalam perkara ini? LBP atau MSD?
>
> Yang jelas, Said Didu dipersepsikan memiliki pijakan moral yang kuat.
> Dilihat sebagai pejuang rakyat. Yang menyuarakan aspirasi masyarakat.
> Dan tidak memiliki kepentingan pribadi apa pun. MSD tak punya beban
> apa-apa.
>
> Sebaliknya, Pak Luhut dianggap memperkarakan Said tanpa landasan moral.
> Dia dipandang sebagai penguasa yang sewenang-wenang. Yang arogan. Tidak
> membela rakyat.
>
> Siapakah yang akan menang? Bagi masyarakat, Said Didu sudah menang
> sejak awal. Masuk penjara pun dia, Said tetap dianggap menang. Bahkan
> dianggap sebagai pahlawan rakyat.
>
> Sebaliknya, Luhut akan dilihat sebagai orang yang kalah sejak awal.
> Meskipun dia nanti berhasil memenjarakan Said.
>
> Yang menjadi masalah, bagaimana kalau MSD tak terbukti mencemarkan nama
> baik LBP? Siapkah Luhut kalah dalam kasus ini?
>
> Tampaknya, dilematis bagi Pak Menko. Sebab, kalau tak terbukti
> bersalah, publik akan menafsirkannya dengan sederhana bahwa Said benar.
>
> Jadi, berat beban Pak Luhut menghadapi Said Didu.[]
>
> 17 Mei 2020
> (Penulis wartawan senior)
> 
>

Kirim email ke