Kebohongan Politikus Merupakan Akar Tragedi Wabah AS

2020-05-18 13:16:36 *CRI*

“Pada tanggal11 Januari, ketika mayoritas orang belum mengetahui apa yang terjadi, kami sudah mulai mencoba mengembangkan vaksin.” Demikian kata pemimpin AS dalam pidatonya di Gedung Putih pada hari Jumat lalu (15/5). Ini bagaikan sebuah bom air yang menggemparkan kalangan opini seluruh dunia.

Opini umum internasional beramai-ramai menunjukkan kesangsiannya. Pemimpin AS mengatakan, dimulainya penelitian dan pengembangan vaksin jauh pada tanggal 11 Januari, dan sebelumnya ia mengatakan bahwa dirinya baru tahu tentang virus Corona pada akhir bulan Januari. Jadi manakah yang benar? Ada warganet yang menyindir bahwa pemerintah AS baru mengambil aksi perlindungan terhadap publik pada tanggal 13 Maret, jadi sebenarnya para politikus AS sedang benar-benar menanggulangi wabah atau hanya main sandiwara?

Direktur CDC AS Robert Redfield dalam kesaksiannya di Kongres baru-baru ini menyatakan, CDC AS jauh pada tanggal 12 Januari mengadakan kontak dengan CDC Tiongkok dan mengadakan penjajakan. Pada tanggal 12 Januari waktu Beijing,Tiongkok berbagi informasi tentang susunan gen virus corona tipe baru bersama dengan WHO dan ini telah meletakkan dasar penting bagi diadakannya litbang vaksin, penelitian obat-obatan dan pengontrolan wabah di seluruh dunia. Mempertimbangkan perbedaan waktu, pemimpin AS pada tanggal 11 Januari sudah mulai meneliti vaksin dan ini setidaknya menunjukkan bahwa pihak AS pada waktu pertama sudah memperoleh informasi susunan gen virus corona tipe baru dari pihak Tiongkok, jadi kenapa mereka tetap ingin menutupi keadaan wabah yang sebenarnya bahkan menfitnah Tiongkok kurang transparan informasi?

Padahal, Direktur CDC AS Redfield pada pertengahan bulan Maret lalu mengakui bahwa sejumlah kasus meninggal flu adalah pnuemonia Covid-19, sampai Walikota Belleville Negara Bagian New Jersey Michael Melham pada akhir bulan April mengungkapkan bahwa dirinya sendiri terinfeksi virus Corona pada bulan November tahun lalu, hingga laporan lembaga kesehatan umum Kabupaten Santa Clara Negara Bagian California menunjukkan bahwa kasus meninggal Covid-19 pertama muncul pada tanggal 6 Februari, dan tiada riwayat wisata yang diketahui, lebih awal 3 bulan daripada kasus meninggal pertama yang diumumkan pihak resmi AS. Dengan demikian, muncul pertanyaan yang bertubi-tubi mengenai titik tolak wabah Covid-19 AS.

Sementara itu, politikus AS kini telah menyobek tampang munafiknya dan dengan terang-terangan mengancam bahkan memecat orang yang menyatakan kesangsian di dalam pemerintah. Menurut CNN, Gedung Putih baru-baru ini meningkatkan pengontrolan terhadap penyebaran informasi dan pakar kedokteran top AS tidak akan muncul dalam wawancara stasiun televisi tingkat nasional.

Majalah ilmu kedokteran top dunia The Lancet dalam editorialnya yang berjudul “Kembalikan Kekuasaan kepada CDC AS”  mengeluh, pemerintah federal AS kini telah memperkecil kekuasaan CDC AS, menutupi informasi, menekan ilmu pengetahuan, membela kepentingannya sendiri, mengelakkan kesangsian dan membuat tuduhan palsu yang kini merupakan siasat politikus AS untuk menanggulangi wabah dan memungkinkan publik menyadari akar tragedi wabah AS.

Menghadapi tragedi 88 ribu warga AS yang meninggal akibat wabah, para politikus AS masih mengeluarkan omongan besarnya dan asyik membuat satu per satu kebohongan untuk menciptakan kebohongan yang lebih besar.



 Alasan Pangkalan Penelitian Biologis Militer AS Ditutup

2020-05-18 10:37:59

Institut Penelitian Medis untuk Penyakit Menular Angkatan Darat Amerika Serikat (USA MRIID) yang terletak di Fort Detrick, Negara Bagian Maryland adalah lembaga penelitian teknologi pertahanan biologis terpenting dalam tentara AS dengan memiliki simpanan virus Ebola, bakteri Bacillus Anthracis, bakteri Brucella dan “preparat biologis dan toksin spesifik” mematikan lainnya. Pada Juli 2019, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS meminta institut tersebut untuk sementara menghentikan penelitiannya terhadap patogen yang sangat patogenik. CDC AS telah menemukan 6 tindakan lembaga tersebut yang melanggar peraturan keamanan federasi, termasuk kebocoran akibat gangguan sistem pemurnian air limbah. Akan tetapi, pihaknya menolak untuk mengungkapkan detailnya dengan alasan “keamanan negara”. Dilaporkan, di institut tersebut pernah berkali-kali terjadi insiden keamanan, termasuk hilangnya strain bakteri dan stain virus mematikan seperti antraks.

Kirim email ke