-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5024652/islam-china-dan-muslimah?tag_from=wp_cb_kolom_list#



Islam, China, dan Muslimah

Hilyatu Millati Rusdiyah - detikNews
Jumat, 22 Mei 2020 16:06 WIB
0 komentar
SHARE URL telah disalin
Hilyatu Millati Rusdiyah
Foto: Hilyatu Millati Rusdiyah
Jakarta -

Islam di China adalah topik menarik untuk diperbincangkan. Pasalnya banyak 
orang yang beranggapan bahwa ideologi yang dianut oleh China menafikan agama 
bagi rakyatnya, sedangkan Islam sebagai agama minoritas di China bisa dikatakan 
cukup berkembang cukup pesat dan menyebar di seluruh daratan China.

Menjelang berdirinya Republik Rakyat China, Komite Konsultasi Politik Rakyat 
Tiongkok dalam Garis Besar Tatanan Negara menyatakan bahwa berbagai etnis 
minoritas dapat mempertahankan bahasa, adat istiadat, dan kebebasan beragama 
mereka (Gong, 2010: 130). Selain itu, Kementerian Keuangan Dewan Negara 
mengumumkan pada 26 Januari 1951, bahwa bangunan yang terkait dengan masjid dan 
makam pemimpin Sufi serta kuil-kuil Buddha Tibet akan dibebaskan dari pajak dan 
reformasi tanah.

Setelah mengalami periodisasi kelam saat revolusi kebudayaan pada era Mao 
Zedong tahun 1960-an, Islam di China telah mengalami kebangkitan sejak Deng 
Xiaoping mengadopsi kebijakan reformasi dan keterbukaan pada akhir 1970-an. 
Pada masa tersebut, umat Muslim umumnya menikmati kebebasan untuk mempraktikkan 
agama setelah masjid-masjid difungsikan kembali dan diuntungkan dengan 
kebijakan Preferensial, yaitu sebuah kebijakan yang memberikan hak istimewa 
kepada Muslim minoritas.
Baca juga:
Bisnis Hotel di Asia Pasifik Merugi Gegara Corona, Lebih Parah dari SARS

Kebijakan semacam itu telah dilakukan oleh Pemerintah China sejak program 
identifikasi etnis minoritas dipromosikan pada tahap pertama tahun 1950-an. 
Berdasarkan kebijakan tersebut, etnis minoritas Muslim dapat membentuk unit 
otonom mereka sendiri seperti daerah, prefektur, kabupaten, dan kota, di mana 
kader minoritas terpilih akan diberi peran kepemimpinan.

Hak Istimewa Etnis Minoritas

Muslim di China adalah salah satu bagian populasi minoritas yang terdiri dari 
berbagai etnis. Tercatat ada 10 etnis populasi Muslim di China. yaitu Hui, 
Uighur, Kazakh, Dongxiang, Kyrgyz, Salar, Tajik, Uzbek, Bonan, and finally 
Tatar. Hui dan Uighur adalah populasi Muslim terbesar di China yang 
masing-masing memiliki jumlah populasi lebih dari 10 juta jiwa.

Sebagai etnis minoritas, Muslim China mendapatkan hak istimewa yang tidak 
dimiliki oleh etnis Han sebagai mayoritas. Sebelum kebijakan One Child Policy 
direvisi pada 2016, Muslim China sebagai etnis minoritas mendapat pengecualian 
dan diperbolehkan memiliki lebih dari satu anak. Hak istimewa tersebut tentunya 
juga berlaku untuk semua etnis minoritas di China lainnya.
Baca juga:
Tiongkok dan Beleid Terhadap Islam

Selain itu, Muslim China juga memiliki hak istimewa untuk mendapat fasilitas 
pemakaman bila meninggal. Kebijakan tersebut berbeda dengan rakyat China yang 
pada umumnya dikremasi ketika meninggal. Di sebagian masjid di China seperti di 
Guangzhou dan Quanzhou, terdapat area pemakaman Muslim yang dirawat dan 
dilestarikan hingga sekarang.

Dalam hal makanan, Muslim China mendapat prioritas untuk mendapatkan supply 
makanan halal. Bahkan di Shanghai, sebuah kota metropolitan internasional di 
China, telah menetapkan regulasi untuk menjamin pasokan makanan halal bagi 
Muslim. Pabrik, sekolah, dan kantor pemerintah yang memiliki anggota Muslim 
diharuskan memiliki kantin Muslim.

Tidak hanya di Shanghai, hampir semua kampus di China menyediakan kantin Muslim 
yang lokasinya terpisah dengan kantin non-Muslim. Kantin-kantin tersebut 
mayoritas dikelola oleh Muslim China dari etnis Hui dan Uighur yang menjajakan 
menu makanan halal khas daerah mereka.

Hak istimewa lainnya bagi etnis minoritas di China adalah memiliki daerah 
otonomi khusus yang mulai dibentuk pada tahun 1958. Untuk minoritas etnis 
Muslim, Pemerintah China menjadikan dua provinsi sebagai daerah otonomi khusus 
bagi etnis Muslim, yaitu Ningxia Hui Autonomous Region dan Xinjiang Uighur 
Autonomous Region. Kedua wilayah tersebut berlokasi di China bagian barat laut.
Baca juga:
Kisah Steven, Mualaf yang Kuras Habis Hartanya Rp 14 M untuk Lawan Corona

Di kedua daerah otonomi khusus Muslim tersebut, Pemerintah China meliburkan 
kantor pemerintahan selama tiga hari pada perayaan hari Raya Idul Fitri dan 
Idul Adha serta memberikan libur cuti kerja bagi pekerja Muslim, baik yang 
dipekerjakan oleh negara atau komunitas desa untuk merayakan hari Raya.

Sedangkan Muslim China lainnya yang tersebar di selain kedua daerah tersebut, 
mayoritas adalah pengusaha restoran halal yang diberikan kebebasan untuk 
merayakan hari Raya.

Masjid di China

Masjid adalah fasilitas ibadah umat Muslim yang relatif mudah ditemukan di 
hampir semua kota di China. Bahkan di beberapa kota besar di China, masjid 
terletak di jantung kota yang berdampingan dengan gedung-gedung pencakar 
langit. Seperti masjid di kota Chengdu yang berlokasi tepat di sisi Tianfu 
Square atau alun-alun kota dan masjid di kota Chongqing yang berlokasi tidak 
jauh dari Jiefangbei, yang merupakan pusat bisnis terbesar di China bagian 
barat.

Menurut data statistik China 2014, terdapat sekitar 39,135 masjid di China dan 
sekitar 24 ribu di antaranya berlokasi di Xinjiang. Pembangunan masjid-masjid 
tersebut dibiayai oleh komunitas umat Muslim China, dan Pemerintahan China 
memberikan subsidi serta fasilitas berupa tanah.

Saat perekonomian China tumbuh dengan pesat di era Deng Xiaoping, Pemerintah 
China mulai meningkatkan pembangunan ekonomi di provinsi-provinsi bagian barat 
China yang merupakan tempat mayoritas penduduk Muslim tinggal. Sejak saat itu, 
masjid-masjid mulai menjamur di berbagai kota-kota di China, tidak terbatas di 
bagian barat China saja dan jumlahnya bisa mencapai puluhan di setiap kotanya.
Baca juga:
Habis Kontrak Kerja di RI, 190 TKA China Dipulangkan ke Negaranya

Selain itu, Pemerintah China juga mendorong warga Muslim yang tinggal di bagian 
barat China untuk merantau ke provinsi-provinsi yang pertumbuhan ekonominya 
lebih tinggi di bagian timur China. Kemudahan untuk bekerja atau membuka usaha 
dan restoran diberikan oleh Pemerintah China, sehingga restoran-restoran halal 
mulai menjamur dan mudah ditemukan di semua kota di China.

Muslimah di China

Pada 2011, saat penulis pertama kali menginjakkan kaki di China, jarang 
menemukan Muslimah lokal yang mengenakan jilbab. Jikapun ada mereka adalah 
Muslimah lanjut usia yang rutin mendatangi masjid setiap hari Jumat dan di 
bulan Ramadhan.

Karena jumlah yang memakainya tidak banyak, seringkali warga lokal merasa aneh 
dengan jilbab. Sebagai pendatang baru di China, saat itu saya sempat merasa 
risih karena terlalu banyak mata memandang dan selalu mendapat banyak 
pertanyaan dari warga sekitar karena rasa ingin tahu mereka.

Namun seiring berjalannya waktu, semakin banyak Muslimah lokal berjilbab di 
China. Tidak hanya didominasi oleh mereka yang lanjut usia, tapi semakin banyak 
Muslimah muda yang mulai mengenakan jilbab. Para Muslimah muda China sering 
terlihat mendatangi masjid di hari Jumat, dan konsisten menggunakannya dalam 
keseharian.

Restoran-restoran Muslim di seluruh China yang mayoritas dimiliki etnis Muslim 
Hui dan Uighur rata-rata memiliki Muslimah berjilbab yang bertugas sebagai juru 
masak. Dan jilbab kini telah menjadi identitas Muslimah di China yang tidak 
lagi perlu dipertanyakan.

Di Yiwu, sebuah kota pusat grosir dunia di China, banyak ditemui Muslimah muda 
berjilbab yang merupakan pedagang di pusat grosir tersebut. Begitu pula di kota 
Xian yang pernah menjadi ibu kota China di masa lampau. Muslimah berjilbab 
terlihat banyak hilir mudik di sepanjang tempat wisata yang terletak di pusat 
kota. Muslim Quarter adalah salah satu destinasi wisata populer di China, 
terletak di samping Masjid Besar Xian yang telah berdiri sejak abad ke-7.
Baca juga:
Dua Makam Islam Ini Bukti Umat Antar Agama Hidup Harmonis di Zaman Majapahit

Muslimah berjilbab kini tidak lagi asing di China. Keberadaannya mudah dijumpai 
seiring dengan menjamurnya restoran-restoran halal di setiap pelosok kota 
China. Kini, tidak lagi banyak pertanyaan yang muncul terkait jilbab dari warga 
lokal dan tidak lagi ada diskriminasi terhadap mereka dalam keseharian.

Penulis: Hilyatu Millati Rusdiyah adalah Mahasiswa program Doktoral Jurusan 
Business Administration Chongqing University, Chongqing dan Pengurus PCINU 
Tiongkok

(ads/ads)
muslim china
china
islam di china
sino fintech






Kirim email ke