-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://www.antaranews.com/berita/1509215/vaksin-covid-19-akan-diuji-coba-ke-10-ribu-orang-di-inggris


Vaksin COVID-19 akan diuji coba ke 10 ribu orang di Inggris

Jumat, 22 Mei 2020 22:11 WIB

Ilustrasi. Vaksin virus corona baru
Kecepatan menguji coba vaksin hingga memasuki tahap akhir uji klinis merupakan 
terobosan penelitian dari Oxford
Bangalore (ANTARA) - Oxford University dan AstraZeneca mengumpulkan kurang 
lebih 10.000 orang dewasa dan anak-anak di Inggris untuk uji coba vaksin 
COVID-19, satu hari setelah dua lembaga itu menerima bantuan dana sampai lebih 
dari 1,2 miliar dolar AS (Rp17,9 triliun) dari Amerika Serikat.

Sejumlah lembaga di Inggris telah menerima lembar pendaftaran dari 10.260 orang 
dewasa dan anak-anak untuk memeriksa seberapa baik sistem kekebalan manusia 
merespon vaksin yang diuji coba. Uji coba ke manusia atau uji klinis itu juga 
akan mengetahui seberapa aman penggunaan vaksin, kata pihak universitas.

Para peneliti mengutamakan tenaga kesehatan dan pekerja sektor publik untuk 
mendaftar pada uji coba vaksin itu guna mengetahui keampuhannya. Setidaknya, 
mereka berisiko tertular virus corona jenis baru (SARS-CoV-2), penyebab 
COVID-19, saat menjalani kegiatan sehari-hari.

Uji coba tahap pertama telah dimulai sejak 23 April, melibatkan lebih dari 
1.000 relawan berusia 18 tahun sampai 55 tahun. Oxford University mengatakan 
uji coba tahap II dan III akan melibatkan warga berusia 56 tahun dan mereka 
yang lebih tua serta anak-anak berusia 5-12 tahun.

"Kecepatan menguji coba vaksin hingga memasuki tahap akhir uji klinis merupakan 
terobosan penelitian dari Oxford," kata pimpinan eksekutif AstraZeneca, Mene 
Pangalos.

AstraZeneca merupakan perusahaan multinasional bidang farmasi dan bio-farmasi 
yang berkedudukan di Cambridge, Inggris, serta memiliki tiga pusat riset di 
Cambridge; Gaithersburg, Maryland, Amerika Serikat; dan Mölndal di Swedia.

Walaupun demikian, hasil uji coba vaksin kemungkinan baru dapat dipublikasikan 
pada dua sampai enam bulan, kata Oxford University, Jumat.

AstraZeneca telah menjadikan Inggris dan AS sebagai mitra untuk memproduksi 
vaksin secara massal. Perusahaan itu akan langsung mengirim vaksin ke dua 
negara itu apabila vaksin itu disebut layak pakai dan aman digunakan.

Direktur Eksekutif AstraZeneca, Pascal Soriot, bulan lalu mengatakan hasil 
sementara tentang kemungkinan kemanjuran vaksin kemungkinan akan keluar sekitar 
Juni atau Juli.

Sejumlah relawan dalam kondisi sehat akan dipilih secara acak untuk disuntik 
vaksin jenis
ChAdOx1, juga dikenal sebagai AZD1222, vaksin yang biasanya dipakai untuk 
menangkal meningitis/radang selaput otak.

Para relawan tidak diberi tahu informasi terkait pengelompokkan uji vaksin agar 
tidak berpengaruh terhadap tingkah laku mereka. Para peserta uji coba 
kemungkinan akan mengalami efek samping ringan seperti sakit lengan dan sakit 
kepala setelah disuntik vaksin.

"Jika penularan tetap tinggi, kami mungkin mendapatkan data yang cukup dalam 
beberapa bulan guna mengetahui apakah vaksin ini bekerja, tetapi jika tingkat 
penularan turun, ini dapat menghabiskan waktu sampai enam bulan," kata Oxford 
University lewat pernyataan tertulis.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendaftarkan delapan kandidat vaksin yang saat 
ini masih diuji coba ke pada manusia dalam laporannya pada 15 Mei 2020..

Selain AstraZeneca, perusahaan bioteknologi dan farmasi yang turut membuat 
vaksin di antaranya Moderna Inc, Inovio, mitra Pfizer Inc dan BioNTech serta 
CanSino dan Sinovac, perusahaan asal China.

1 Dolar AS = 14.907,55 Rupiah

Sumber: Reuters

Baca juga: PM Inggris Johnson akan akhiri ketergantungan impor alat medis China
Baca juga: Pekerja kesehatan Inggris mulai uji coba hydroxychloroquine
Baca juga: Sistem pelacakan COVID-19 akan tetap siap kendati ada gangguan teknis
 

Penerjemah: Genta Tenri Mawangi
Editor: Azis Kurmala
COPYRIGHT © ANTARA 2020




Kirim email ke