Bung Chan,
Waktu zaman pendudukan Belanda, Solo-Yogya diblokkade Belanda.
Ayah punya perusahaan susu. Sapinya diberi rumput, beli dari orang
yang ngarit di desa. Juga diberi rendeng (daun kacang, banyak proteinnya),
daun turi. Orang jual daun turi dengan ranting2nya. Ya, kami bantu potong
daun turi dari ranting2. Ranting2 kami jemur. Dipakai sebagai kayu bakar
di dapur. Abunya kami kumpulkan, diberi air, diaduk. Cairan atasnya, yaitu
cairan Kalium carbonat, dipakai sebagai pengganti sabun, untuk cuci pakaian
dan botol susu, dan piring, panci dapur.
Tandpasta tidak ada. Jadi deplok bata sampai lembut sekali, dicampuri abu
sedikit untuk gosok gigi.
Di kebun punya beberapa pohon kelapa. Linggis dipasang terbalik dalam tanah,
dipakai untuk mengupas kelapa. Air kelapanya kami minum. Daging kelapanya
kami parut, lalu diperas. Diberi air sekali lagi, diperas. Ampasnya untuk
makanan
ayam. Santennya kami panasi perlahan lahan, keluar minyak jernih kekuningan..
Disaring dapat minyak kelapa asli yang gurih rasanya. Ampasnya, bloondoo, di
campur dengan gula, garam dan bumbu2, dibungkus daun pisang, dibakar api
kecil.
Wah, enak luar biasa.
Gedebog, batang pisang, kami diajari dokter sebelah rumah, untuk bikin
gaas, untuk
bungkus luka besar.
Air kencing kami kumpulkan di piespot waktu malam. Paginya tambahi air buat
siram
pohon mangga, juga dengan cairan kalau cuci daging ayam. Wah, buah
mangganya
besar2 dan manis. Kotoran sapi yang sudah jadi, kami pakai memupuk tanaman.
Kami
tanam kangkung sepanjang selokan.
Ya, kalau kepepet, ya, keluar akalan sambil tukar informasi dengan kenalan
dan tukar barang.
Salam,
KH

Op za 23 mei 2020 om 10:21 schreef ChanCT [email protected] [URECA_SGT] <
[email protected]>:

>
>
> *Rekomendasi Konsumsi Menu Mengandung Santan Menurut Ahli Gizi *
>
> Kompas.com - 23/05/2020, 12:12 WIB
>
>
> https://health.kompas.com/read/2020/05/23/121200768/rekomendasi-konsumsi-menu-mengandung-santan-menurut-ahli-gizi?utm_source=Whatsapp
> [image: Ilustrasi Opor ayam]
> Penulis Mahardini Nur Afifah | Editor Mahardini Nur Afifah
>
> KOMPAS.com - Sejumlah hidangan khas Nusantara banyak menggunakan santan
> sebagai bahan pembuatannya.
>
> Seperti menu lebaran populer opor ayam, rendang sapi, sambal goreng ati
> sapi, dan semur daging sapi.
>
> Beberapa minuman khas juga mengandung santan seperti kolak, cendol, dawet,
> sampai doger.
>
> Namun, santan kerap dianggap sebagai biang kolesterol tinggi sehingga
> perlu dibatasi konsumsinya. Benarkah?
>
> Baca juga: 3 Manfaat Santan bagi Kesehatan Tubuh
>
>
>
> *Santan dan kolesterol tinggi *
>
> Ahli gizi Dr. dr. Tan Shot Yen, M.hum., menjelaskan, santan mengandung
> kolesterol tinggi adalah mitos.
>
> Dokter Tan menjelaskan, seperti produk nabati lainnya, santan yang
> dihasilkan dari buah kelapa tidak mengandung kolesterol.
>
> "Susu yang dihasilkan hewan itu mengandung kolesterol, sekalipun low fat.
> Tapi produk nabati seperti santan, kacang, dan durian itu tidak mengandung
> kolesterol," jelas dia, saat dihubungi Kompas.com (22/5/2020).
>
> Menurut Tan, tumbuh-tumbuhan tidak bisa menghasilkan kolesterol karena
> tidak membutuhkan kolesterol untuk bertumbuh.
>
> Baca juga: Hati-hati, Kacang Mete Goreng Asin Tak Ramah Hipertensi
>
>
>
> *Santan dan lemak *
>
> [image: Semur daging dan kentang, sayur berkuah dengan cita rasa manis
> gurih.] Semur daging dan kentang, sayur berkuah dengan cita rasa manis
> gurih. (SHUTTERSTOCK/ARIYANI TEDJO)
>
>
>
> Kendati tidak mengandung kolesterol, namun santan mengandung lemak.
>
> Melansir Medical News Today, santan mengandung lemak jenuh dan tak jenuh
> tinggi, serta tinggi kandungan kalori.
>
> Dalam takaran satu cangkir, kalori santan sebesar 445 kkal dan lemaknya
> sebesar 48,21 gram.
>
> Akan tetapi, menurut Tan, kandungan lemak tinggi pada santan memiliki
> manfaat bagi tubuh apabila dikonsumsi tidak berlebihan.
>
> "Lemak pada santan tinggi, setuju. Tapi ada keistimewaannya, lemak santan
> memiliki asam lemak laureat yang bermanfaat bagi tubuh," jelas dia.
>
> Lebih lanjut dia menyampaikan, lemak pada santan saat dikonsumsi dapat
> berdampak pada pembentukan lemak darah, termasuk HDL (lemak baik).
>
> "Partikel lipoprotein berat jenis tinggi ini justru bisa melindungi
> jantung dan pembuluh darah," kata dia.
>
> Namun, dia mewanti-wanti agar konsumsi santan tidak berlebihan agar kadar
> kalori dan lemak tetap terjaga.
>
> Baca juga: Viral Teknik Masak 5 30 7, Ini Kata Ahli Gizi
>
>
>
> *Rekomendasi konsumsi menu mengandung santan *
>
> Dokter Tan menyarankan agar konsumsi menu mengandung santan atau hidangan
> lebaran cukup satu kali seminggu.
>
> "Seminggu sekali cukup. Semua yang terlalu sering atau kebanyakan tidak
> baik. Apalagi ada asam lemak jenuhnya," kata dia.
>
> Selain itu, Tan juga mengingatkan bahaya hidangan mengandung santan
> apabila dipanaskan berulang-ulang.
>
> Santan yang dihangatkan atau dipanaskan berulang-ulang, lemak jenuhnya
> jadi tinggi dan bisa teroksidasi menjadi radikal bebas.
>
> "Radikan bebas itu yang bahaya bagi tubuh manusia. Jadi masak atau
> konsumsi hidangan bersantan yang bisa dihabiskan sekaligus," kata dia.
>
> Artikel ini telah tayang di Kompas.com <http://kompas.com/> dengan judul
> "Rekomendasi Konsumsi Menu Mengandung Santan Menurut Ahli Gizi",
> https://health.kompas.com/read/2020/05/23/121200768/rekomendasi-konsumsi-menu-mengandung-santan-menurut-ahli-gizi?page=all#page2
> .
> Penulis : Mahardini Nur Afifah
> Editor : Mahardini Nur Afifah
>
>
> 
>

Kirim email ke