1.:

Bilangan Surreal
Sabtu 23 Mei 2020, Pukul 10:23 WIB
LAPORAN: RMOL NETWORK -

https://rmoljabar.id/bilangan-surreal/

DALAM memanfaatkan waktu di masa karantina akibat pageblug corona, saya
mencoba mempelajari berbagai hal termasuk apa yang disebut oleh para
matematikawan sebagai Bilangan Surreal.

Bilangan

Pampangan matematikal di atas naskah ini memang sengaja saya gunakan
sebagai ilustrasi naskah “Bilangan Surreal” yang sedang Anda baca ini.
Namun  mohon Anda jangan minta penjelasan dari saya.

Terus-terang saya tidak mengerti makna tampilan bersuasana surrealistis
itu. Naskah ini sekedar berupaya mengungkap bahwa ternyata surrealisme
bukan hanya hadir di blantika kesenian saja namun juga di matematika.

Konon bilangan-surreal adalah gagasan matematikawan Inggris, John
Horton Conway yang terungkap pada tahun 1976.

Namun dua tahun sebelumnya novelis D.E Knuth melalui jalur kesusteraan
telah menggunakan istilah bilangan-surreal di dalam karya
novel-fantasi-matematikal berjudul “Surreal Numbers”.

Nothing

Menurut para matematikawan, asal-muasal bilangan surreal adalah dari
kawasan matematikal yang disebut sebagai game-theory.

Konon bilangan-surreal merupakan hasil rekayasa konstruksi Dedekind
untuk bilangan-real ke luar dari bilangan rasional menjadi mekanisme
penciptaan bilangan-bilangan out of nothing alias dari yang tidak ada
menjadi ada.

Diawali dari ketidak-adaan, secara bertahap beberapa bilangan diadakan
atau diada-adakan dalam makna partisi terhadap sekelompok bilangan
terbagi menjadi dua kelompok struktur.

Agar tidak terlalu ngawur, lebih aman saya copas sebuah uraian tentang
bilangan-surreal dalam bahasa Inggris sebagai berikut:

In the finite stages the construction will yield objects which play the
role of the finite dyadic fractions in the rational numbers. The
remaining finite rationals will appear together with the other real
numbers on day , but on this day also the first transfinite numbers and
the first infinitesimals will be created. Subsequently more and more
standard numbers will be added. What makes the construction interesting
is the fact that it is possible to provide, together with the inductive
definition of the objects, also inductive definitions of order,
equality and algebraic operations like addition and multiplication.
Equipped with these operations the domain of surreal numbers behaves
like a real-closed field (except for the fact that it is not a set but
a proper class).

Surrealisme

Namanya juga surreal yang bermakna di luar atau di atas atau di bawah
atau di samping realita, maka memang sulit mendefinisikan apa yang
disebut sebagai bilangan-surreal apalagi oleh seorang dungu-matematika
seperti saya ini.

Menjelaskan makna bilangan-surreal pada hakikatnya sama sulitnya atau
bahkan mubazirnya dengan menjelaskan makna aliran seni-rupa yang
disebut sebagai surrealisme.

Bahkan Salvador Dali sendiri tidak pernah merepotkan diri sendiri untuk
mendefinisikan makna mahakarya-mahakarya surrealisme kreasi dirinya
sendiri.

Jaya Suprana

Penulis adalah pembelajar peradaban dan kebudayaan.



2.:

Perbandingan Sri Mulyani Vs Rizal Ramli Dalam Lima Segi
Jumat 22 Mei 2020, Pukul 09:44 WIB
LAPORAN: RMOL NETWORK

https://rmoljabar.id/perbandingan-sri-mulyani-vs-rizal-ramli-dalam-lima-segi/

SMI (Sri Mulyani Indrawati) selama menjabat Menteri Keuangan/Ekonomi di
era SBY dan Jokowi, tidak pernah berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi
secara signifikan, sebaliknya malah sering terjadi pertumbuhan ekonomi
malah turun di eranya menjabat.

Rekam Jejak Makro-Ekonomi

Masuk Kabinet SBY pada akhir tahun 2005, saat itu pertumbuhan ekonomi
Indonesia di 5,7 persen. Pertumbuhan paling tinggi pada era Sri Mulyani
menjadi Menteri Keuangan SBY adalah 6,3 persen yang terjadi tahun 2007.

Saat Sri Mulyani meninggalkan Kabinet SBY pada 2010, pertumbuhan
ekonomi tahun sebelumnya (2009) sempat anjlok ke 4,6 persen. Artinya,
pada era SBY, bila diukur dari titik awal masuk labinet, Sri Mulyani
menaikkan pertumbuhan sebesar 0,6 persen (6,3 persen hingga 5,7
persen), tetapi menurunkan pertumbuhan ekonomi sebesar minus 1,1 persen
(4,6 persen hingga 5,7 persen).

Masuk Kabinet Jokowi pertengahan tahun 2016, saat itu pertumbuhan
ekonomi 5 persen. Pertumbuhan ekonomi paling tinggi terjadi pada tahun
2019 sebesar 5,2 persen, dan pertumbuhan terendah pada kuartal-I 2020
sebesar 2,9 persen.

Artinya pada era Jokowi, bila diukur titik awal masuk Kabinet, Sri
Mulyani menaikkan pertumbuhan sebesar 0,2 persen, tetapi menurunkan
pertumbuhan sebesar minus 2,1 persen.

Selama menjabat Menteri Keuangan di era Presiden SBY dan Jokowi,
pertambahan utang (dalam dan luar negeri) pemerintah sangat besar, dan
sebagian besar dalam bunga yang sangat tinggi (untuk surat utang).

Bila diakumulasikan, total surat utang pemerintah yang pernah
diterbitkan Sri Mulyani sejak masa SBY hingga Jokowi sudah lebih dari
Rp 1.500 triliun, belum ditambah dengan bunganya.

Selama Sri Mulyani menjabat di era Jokowi, transaksi berjalan selalu
defisit, berada di kisaran -2 persen dari PDB. Tax Ratio di era ini
(2016-2019) juga jatuh ke rata-rata 10 persen, bahkan tahun 2019
merupakan rekor tax ratio terburuk sepanjang sejarah: 9,8 persen

Kesimpulannya, selama menjabat, Sri Mulyani tidak berhasil melakukan
turn around dalam bidang makroekonomi.

RR (Rizal Ramli) selama menjadi tim ekonomi, termasuk Menteri
Ekonomi/Keuangan di era Gus Dur, Rizal Ramli berhasil menaikkan
pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Sebelum Kabinet Gus Dur
terbentuk, pada kuartal ke-3 tahun 1999 pertumbuhan ekonomi Indonesia
-1,7 persen.

Pertumbuhan ekonomi paling tinggi terjadi pada tahun 2000 sebesar 4,9
persen, hanya beberapa bulan sebelum Gus Dur jatuh di pertengahan tahun
2001. Artinya pada era Gus Dur, tim ekonomi berhasil menaikkan
pertumbuhan ekonomi sebesar 6,6 persen (4,9 persen hingga (-1,7
persen)).

Pemerintahan Gus Dur tidak pernah menambah utang, melainkan yang
terjadi adalah pengurangan utang luar negeri sebesar 8 miliar dolar AS.

Rizal Ramli ikut memimpin berbagai proses renegosiasi utang pemerintah
Indonesia dengan negara-negara dan lembaga kreditor. Indikator
ketahanan eksternal makroekonomi, yaitu transaksi berjalan (current
account), selama era Gus Dur mengalami surplus rata-rata 5 persen dari
PDB. Tax ratio pun selama era Gus Dur (1999-2001) rata- rata berada di
kisaran 12,7 persen.

Kesimpulannya, selama menjabat, Rizal Ramli sukses melakukan turn
around dalam bidang makroekonomi.

Rekam Jejak Korporat

SMI selama menjadi pejabat publik tidak pernah terjun langsung untuk
menyelamatkan korporasi, kecuali dalam kasus Bank Century yang
akhirnya malah menjadi skandal keuangan. Jadi sama sekali tidak ada
rekam jejak Sri Mulyani melakukan turn-around korporat.
 
Rizal Ramli sangat kaya akan penyelamatan, turn around, korporasi. Pada
saat menjadi Kepala Bulog, Rizal Ramli memperbaiki insitusi tersebut
hingga berhasil menghemat Rp 5  triliun.

Pada saat menjadi Menteri Keuangan/Ekonomi, Rizal Ramli berhasil
menyelamatkan PLN dari kebangkrutan; menyelamatkan IPTN/PTDI dari
kebangkrutan; menyelamatkan BII dari rush tanpa bail-out; memisahkan
cross-ownership Indosat-Telkomsel sehingga Negara mendapatkan Rp 5
triliun; dan menyelamatkan industri properti Indonesia dari
keterpurukan.

Pada saat Rizal Ramli menjabat Presiden Komisaris Semen Gresik di era
Presiden SBY, keuntungan penjualan grup dapat ditingkatkan berkali-kali
lipat. Pada saat menjabat Komisaris Utama BNI di era Presiden Jokowi,
Rizal Ramli membuat prestasi BNI hampir menyalip BCA.

Relasi Internasional

Sri Mulyani adalah orang Indonesia pertama yang menjabat Direktur
Pelaksana di Bank Dunia (2010-2016).

Sebelumnya Sri Mulyani juga pernah menjabat sebagai konsultan USAID
(2001) dan Direktur Eksekutif IMF (2002-2004).

Semasa menjabat di pemrintahan Indonesia, berbagai lembaga dan majalah
asing kerap memberikan penghargaan menteri terbaik kawasan kepada Sri
Mulyani.

Rizal Ramli pernah menjabat sebagai penasehat di UNDP (2008-2013)
bersama tiga ekonom peraih Nobel Ekonomi. Kerap diundang berbagai
negara seperti Vietnam (2002) dan negara-negara Arab Spring (2011)
untuk memberikan nasihat dalam membangun perekonomian.

Pengalaman Penelitian (Research Experience) 

Sri Mulyani setelah mendapatkan doktoral dari University of Illinois at
Urbana-Champaign (1992) dengan disertasi di bidang ekonomi perburuhan,
kembali mengajar di Universitas Indonesia dan bergabung dengan lembaga
penelitian LPEM-UI (1992-2001).

Rizal Ramli setelah mendapatkan doktoral dari Boston University (1991)
dengan disertasi di bidang ekonomi makro-moneter,  kembali ke Indonesia
dan mendirikan lembaga penelitian Econit Advisory Group, bersama
teman-temannya sesama ekonom.

Sebelumnya, pada tahun 1984 setelah mendapatkan Master dari Boston
University (1983), Rizal Ramli bersama para peneliti dari Harvard
University melakukan penelitian lapangan untuk membangun sistem kredit
BRI Unit Desa. Kesuksesan model kredit mikro BRI Unit Desa di akhir
tahun 1980-an inilah yang kemudian menjadi inspirasi dari Profesor
Muhamad Yunus dari Bangladesh untuk membangun Grameen Bank, sehingga
mendapat hadiah Nobel Perdamaian.

Skandal Keuangan 

Berbagai tudingan keterlibatan dalam skandal keuangan melekat pada Sri
Mulyani. Pertama adalah Skandal Bank Century yang merugikan Negara Rp
6,7 triliun.

Banyak pandangan yang menghubungkan antara keterlibatannya dalam
Skandal Century Sri Mulyani dan kepergiannya ke AS menjadi Direktur
Bank Dunia pada tahun 2010. Bila tidak pergi ke AS saat itu, Sri
Mulyani mungkin sudah menjadi Menteri Keuangan Indonesia pertama yang
masuk bui.

Kedua adalah Skandal Obral Aset Obligor BLBI (BDNI Syamsul Nursalim).
Berdasarkan fakta persidangan, pada tahun 2007 pernah Sri Mulyani
menjual asset BDNI hanya Rp 220 miliar, padahal harga seharusnya Rp 4,5
triliun/ Artinya ada kerugian negara Rp 4,2 triliun di dalam kasus ini.

Ketiga ada kasus penggelapan pajak Paulus Tumewu yang merugikan Negara
hingga Rp 400 miliar. Sri Mulyani pada tahun 2005 menulis surat yang
isinya memberikan keringanan kepada Paulus Tumewu sehingga hanya
membayar pajak Rp 7,9 miliar.

Keempat adalah dugaan skandal bunga surat utang (bond) yang ketinggian
dibanding negara tetangga Filipina dan Vietnam. Seharusnya sebagai
negara dengan credit rating lebih bagus dari Filipina dan Vietnam,
Indonesia bisa meminjam ke pasar dengan bunga sama atau lebih murah.

Selama Sri Mulyani menjabat Menkeu Jokowi, Indonesia membayar selisih
bunga 1,55 persen lebih tinggi dari Filipina dan Vietnam, akibatnya
Indonesia terpaksa rugi membayar kelebihan bunga sebesar Rp 118 triliun.

Tidak ada skandal keuangan yang melibatkan Rizal Ramli. Dalam
memecahkan kasus- kasus korupsi, lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) sering meminta nasehat ahli Rizal Ramli. 

Tulisan ini disusun oleh Tim Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR)



3.:

Revisi UU Minerba: Aset Rakyat Dijarah & Dominasi Taipan/Asing Berlanjut
Jumat 22 Mei 2020, Pukul 08:14 WIB
LAPORAN : RMOL NETWORK -

https://rmoljabar.id/revisi-uu-minerba-aset-rakyat-dijarah-dominasi-taipan-asing-berlanjut/

PEMERINTAH dan DPR telah sepakat membentuk UU Minerba baru pada 12 Mei
2020. UU oligarkis tersebut sangat jelas memihak kepentingan segelintir
pengusaha/konglomerat, termasuk negara/perusahaan asing, dibanding
kepentingan negara dan rakyat.

Walaupun hampir tidak memiliki kekuatan berarti, rakyat harus tetap
melawan!

Pengusaha batubara yang berada di balik revisi UU Minerba No 4/2009
antara lain para kontraktror PKP2B Generasi I.  Mereka adalah Tanito
Harum (kontrak berakhir: 1/2019), PT Arutmin Indonesia (11/2020),
Kaltim Prima Coal (12/2021), Multi Harapan Utama (4/2022), Adaro
Indonesia (10/2022), Kideco Jaya Agung (3/2022) dan Berau Coal
(9/2025). Mereka akan kembali mengangkangi aset rakyat tersebut minimal
20 tahun ke depan.

Berikut diuraikan siapa saja pemilik atau pemegang saham ke 7
perusahaan tersebut. Pertama, pemegang 100% saham Tanito Harum (luas
lahan tambang versi Ditjen Minerba sekitar 1.869 hektare. Versi lain:
36.000 hektare) adalah Kiki Barki dan Anita Barki. Kontrak PKP2B Tanito
harum berkahir 14 Januari 2019 dan telah diperpanjang dalam bentuk izin
selama 20 tahun dari Kementrian ESDM pada Januari 2019.

Perpanjangan tersebut melanggar UU Minerba No 4/2009. Karena itu KPK
meminta Presiden Jokowi membatalkan perpanjangan izin. Menteri ESDM,
Ignatius Jonan mengakui menerbitkan izin dengan melanggar UU No 4/2009.
Setelah mendapat copy surat KPK kepada Presiden Jokowi, Jonan mengaku
kepada DPR telah membatalkan izin tersebut (20/6/2019).

Kedua, pemegang saham Arutmin Indonesia (57.107 hektare) diperoleh dari
publikasi Laporan Tahunan Bumi Resources 2018 dan presentasi Ditjen
Minerba Februari 2020. Saham Arutmin 70% dikuasai Bumi Resources dan
30% dipegang Bhira Investment Limited, India.

Sedangkan pemegang saham Bumi Resources antara lain adalah: HSBC,
Inggris (22,67%), The NT TST Co. S/A Pathfinder Stratgic Credit LP
(3,98%), Damar Reka Energi (3,5%), UBS AG, Swiss (2,65%), Credit
Suisse, Swiss (2,49%), Credit Suisse Singapore (2,31%), Raiffeisen Bank
Singapore (1,93%), Citibank London (1,23%), Credit Suisse USA (1,23%),
dan lain-lain, serta Pemegang Saham Publik (64,7%).

Ketiga, sumber informasi pemegang saham Kaltim Prima Coal (84.938
hektare) sama seperti Arutmin Indonesia, berasal dari Laporan Tahunan
Bumi Resources dan Ditjen Minerba. Saham Kaltim Prima Coal 51% dipegang
Bumi Resources, 30% Bhira Investment Limited, India dan sisanya 19%
dipegang China Investment Corporation (CIC). Sedangkan pemegang saham
Bumi Resources sendiri adalah seperti disebutkan pada butir kedua di
atas.

Keempat, pemegang saham Multi Harapan Utama (MHU), lahan 39.972
hektare, Pakarti Putra Sang Fajar (60 %) Private Resources Ltd,
Australia (40%). Sedangkan saham Pakarti dimiliki dua perusahaan lain,
Bhaskara Alam dan Riznor Rezwara. MHU dihubungkan satu nama yaitu Reza
Pribadi, di mana Reza tercatat sebagai komisaris di MHU dan di Pakarti.
Di Riznor, Reza tertulis pemilik saham bersama Rizal Risjad. Pada MHU
Reza menjabat direktur.

Ternyata posisi serupa sebagai direktur/komisaris juga dijabat Reza di
Private Resources Pty Ltd, perusahaan yang berkantor di Perth,
Australia. Artinya, meskipun Prakarti terdaftar di Indonesia dan
Private Resources terdaftar di Australia, Reza merupakan pengurus pada
kedua prusahaan tersebut. Berarti pemilik kedua perusahaan tersebut,
dan juga MHU, dapat saja dikuasai orang yang sama. Reza adalah putra
pengusaha Henry Pribadi (Liem Oen Hauw), pemilik konglomerasi Napan
Group.

Kelima, pemegang saham Adaro Indonesia (31.380 hektare) adalah Adaro
Strategic Investments (43,91%), Garibaldi Thohir (6,18%), Edwin
Soeryadjaya (3,29%), Theodore P. Rachmat (2,54%), Arini Saraswaty
Subianto (0,25%) dan Publik (43,69%). Adaro Strategic Investment
sendiri dimiliki 5 orang pengusaha yaitu Theodore P. Rachmat (melalui
Triputra Investindo Arya), Benny Subianto (Persada Capital Investama),
Garibaldi Thohir (Trinugraha Thohir), serta Edwin Soeryadjaya dan
Sandiaga Uno (Saratoga Capital).

Keenam, pemegang saham Kideco Jaya Agung (47.500 hektare) adalah Indika
Energy (91%) dan Samtan Limited, Korea Selatan (9%). Indika Energy
sendiri dimiliki oleh Arsjad Rasjid, Wishnu Wardhana, dan Agus Lasmono.
Pemegang saham Indika Energy terdiri atas Indika Inti Investindo
(37,79%), Teladan Resources (30,65%), dan Publik (31,56%). Pemilik
mayoritas Indika Inti Investindo sebagai salah satu pemegang saham
pengendali Indika Energy adalah Agus Lasmono yang merupakan pendiri
Indika Group.

Ketujuh, pemegang saham atau pemilik Berau Coal (luas lahan 108.009
hektar!) adalah Grup Sinar Mas melalui Asia Coal Energy Ventures
Limited (ACE). ACE menyatakan telah menjadi pengendali di Berau Coal
secara tidak langsung karena memiliki 94,19% saham di Asia Resources
Minerals Plc (ARM) yang semula menjadi pemilik Berau (23/7/2015).

ACE yang disokong dana oleh Grup Sinarmas itu menguasai 84,7% saham di
Berau Coal melalui Vallar Investment UK Limited. ACE yang merupakan
perusahaan terikat hukum Pulau Virgin, menyelesaikan akuisisi ARM pada
15 Juli 2015. Berau Coal yang sebelumnya perusahaan terbuka, pada 16
November 2017 resmi keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI).

Total produksi ke tujuh kontraktor PKP2B di atas diperkirakan sekitar
210 juta ton/tahun. Jika diasumsikan laba kontraktor sekitar 10 dolar
AS per ton, maka keuntungan yang dapat diraih setiap tahun adalah
sekitar 2,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 30 triliun.

Dengan keuntungan yang demikian besar, jelas mereka dan “dapat berbuat
banyak” untuk memperoleh perpanjangan kontrak dalam bentuk izin, baik
melalui perubahan UU Minerba No 4/2009 dan RUU Omnibus Law Cipta Kerja.

Kebijakan Kontra Rakyat

Uraian di atas menunjukkan siapa sebenarnya pemegang saham kontraktor
PKP2B yang ternyata umumnya adalah konglomerat-konglomerat kaya dan
negara/perusahaan asing. Para pemegang saham tersebut sebagian masuk
dalam daftar 150 orang terkaya di Indonesia.

Sebagian dari mereka menjadi kaya dan terkaya karena menguasai kekayaan
tambang batubara milik negara yang menurut konstitusi seharusnya
dikelola BUMN.

KPK meminta pembatalan IUPK Tanito Harum pada 2019 karena melihat
secara gamblang pelanggaran Menteri ESDM, Ignatius Jonan terhadap UU
Minerba No 4/2009. Permintaan KPK tersebut telah dipenuhi Presiden
Jokowi.

Dengan demikian, mestinya Presiden Jokowi bersikap sama terhadap
kontraktor PKP2B lain, yaitu konsisten menjalan perintah UU Minerba No
4/2009 yang memang sejalan dengan amanat konstitusi. Sehingga hak
perpanjangan kepada 6 kontraktor PKP2B lain tidak boleh diberikan.

Ternyata langkah konstitusional di atas tidak dilanjutkan pemerintah.
Berkomplot dengan DPR, Pemerintahan Jokowi malah merevisi UU Minerba No
4/2009 secara konspiratif guna memenuhi hasrat anggota oligarki. Dengan
UU Minerba baru yang disahkan 12 Mei 2020, para pengusaha tambang
memperoleh jaminan perpanjangan operasi tambang.

Presiden Jokowi dan DPR yang baru saja dipilih rakyat tahun 2019 yang
lalu, lebih memilih bekerja dan mengabdi pada kepentingan segelintir
konglomerat dan negara/pengusaha asing! Artinya, pemerintah dan DPR
dapat dikatakan telah menjadi lembaga-lembaga yang sudah tidak berguna
bagi rakyat!

Pemegang saham sejumlah perusahaan PKP2B di atas terlihat berasal dari
China, India, Eropa dan Australia. Jika ditilik lebih lanjut, meskipun
sebagian besar perusahaan tersebut terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI), bukan berarti pemegang saham saham publik pada
perusahaan-perusahaan tersebut 100% orang Indonesia.

Ternyata, saham-saham perusahaan yang terdaftar di BEI, sekitar 50%
dikuasai oleh investor asing. Dengan begitu, lebih dari 50% saham
perusahaan tambang eks PKP2B adalah negara dan investor asing.

Dengan penguasaan saham lebih dari 50%, berarti negara dan investor
asinglah yang mendapat keuntungan terbesar dari konspirasi revisi UU
Minerba oleh Pemerintah-DPR-Pengusaha Tambang. Hal ini jelas sangat
meugikan negara dan rakyat dan dapat dianggap pelanggaran hukum yang
serius dan pengkhianatan terhadap konstitusi, serta mengusik rasa
keadilan!

Padahal, UU Minerba No 4/2009 dan konstitusi telah mengatur bahwa aset
milik negara, milik rakyat tersebut harus dikelola BUMN bagi
sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Karena diduga berkhianat terhadap konstitusi, sudah saatnya rakyat
meminta MPR memeroses pemakzulan Presiden Jokowi. Jika MPR bergeming,
rakyat perlu mengambil jalannya sendiri, sambil tetap meminta
pertolongan dari Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Marwan Batubara
Penulis adalah Peneliti pada Indonesian Resources Studies (IRESS)


4.:

Siapa Kebingungan, Saya Atau Menkeu SMI?
Sabtu 23 Mei 2020, Pukul 02:01 WIB
LAPORAN : RMOL NETWORK -

https://rmoljabar.id/70428-2/

PADA 20 April 2020 saya mengulas bahwa meski pemerintah mengklaim ada
anggaran Stimulus Covid-19 sebesar Rp405T, saya sebutkan bahwa kenaikan
bersih (net) belanja negara (APBN) tahun 2020 hanya Rp73,4T.

Saya tidak membantah, menyangkal atau menolak angka Stimulus itu; hanya
mengulasnya saja. Tapi anehnya ada yang sewot kebakaran jenggot.

Selisih kedua angka tersebut (angka kenaikan net belanja negara dengan
angka Stimulus) adalah hasil dari pergeseran atau realokasi anggaran
dan dari hitungan imajinasi atau pengandaian semata yaitu pos insentif
perpajakan yang Rp70T itu.

Tulisan yang berjudul “Stimulus atau Stimules” itupun merinci besarnya
perubahan defisit, keraguan saya terhadap prediksi Menkeu Sri Mulyani
atas pendapatan negara, dll.

Kabarnya tulisan atau analisa saya itu dikatakan Menkeu SMI di DPR
sebagai kebingungan Fuad Bawazier membaca anggaran tsb. Tapi SMI tidak
mengelak atau mengakui kebenaran angka angka yang saya uraikan dalam
tulisan atau analisa tsb khususnya kenaikan net belanja negara.

Padahal kenaikan net belanja negara Rp73,4T itu adalah kesimpulan dari
perhitungan akhir perubahan APBN 2020.

Dengan demikian, jika angka Rp73,4T itu diakui kebenarannya oleh SMI
maka logikanya semua perhitungan itu benar. Thus tidak ada kebingungan
penulisnya. Apalagi saya uraikan perhitungannya secara detil sehingga
membuka banyak mata publik tentang wajah perubahan anggaran tsb.

Dalam tulisan itu saya ungkap bahwa meski kenaikan belanja negara hanya
Rp73,4T tetapi defisit anggarannya naik dari Rp307,2T menjadi Rp852,9T
alias melonjak Rp545,7T. Tentu saja saya harus mencari selisih antara
Rp545,7T dengan Rp73,4T yaitu Rp472,3T itu dari mana?

Ternyata itu karena Menkeu SMI memperkirakan penerimaan negara akan
turun Rp472,3T yaitu dari semula Rp2,233.2T menjadi Rp1760,9T atau
hanya 78,8% dari targetnya.

Masih dalam tulisan itu, saya menyatakan bahwa prediksi Menkeu SMI atas
pendapatan negara itu akan meleset sebab angka penerimaan negara
khususnya pajak yang merupakan komponen utamanya dalam 3 bulan pertama
hanya 14,7% atau rata rata 4,9% per bulan.

Bila angka angka ini di rerata setahun berarti hanya akan tercapai
58,8%. Jadi saya katakan bahwa prediksi SMI atas pendapatan negara itu
tidak realistis, dan kembali akan salah lagi. Dengan sendirinya angka
defisit (baru) yang diajukan SMI sebesar Rp852,9T itu juga tidak
realistis dan akan diralat lagi. Karena seharusnya defisit APBN akan
lebih besar lagi.

Kecuali bila dilakukan pemotongan anggaran besar besaran untuk pos pos
belanja yang layak diduga bodong atau objek korupsi. Tapi nyatanya kan
tidak. Uraian tsb juga saya tegaskan ulang di ILC TV One 24 Maret 2020.

Terus terang saya tidak bisa memahami mengapa seorang Menkeu yang
katanya terbaik itu sampai tidak mampu membuat prediksi yang relatip
simpel. Dan terbukti sampai dengan akhir April (4 bulan) penerimaan
perpajakan hanya Rp434,3T. Sementara penerimaan khusus Ditjen Pajak
sampai dengan April hanya Rp376,7T atau minus 3% dari periode sama
tahun 2019.

Indikasi ini tentu mengkhawatirkan para kreditur pemerintah. Dan akan
menjadi objek revisi anggaran (APBN ) lagi.

Terbukti kini pemerintah akan merevisi lagi APBN 2020, yaitu dengan
melebarkan defisitnya dari 5,07% (angka defisit ex Perpu No.1/2020)
menjadi 6,27%. Artinya defisit APBN yang baru saja diubah dari Rp307,2T
menjadi Rp852,9T, akan diubah lagi menjadi Rp1.028,5T atau 6,27%.

Jadi dari APBN induk (awal), APBN Perubahan, APBN Perpu dan sekarang
akan secepatnya diubah lagi untuk menetapkan defisit 6,27%.

Memang kini menjadi hak pemerintah untuk mengubah ubah anggaran tapi
sebaiknya bervisi dan realistis agar tidak terlalu sering diubah yang
mencerminkan kebingungan pemerintah membaca kondisi perekonomian karena
Covid-19, apa yang akan dan seharusnya dilakukan, dan bagaimana
seharusnya menyusun APBN-nya.

Apakah APBN tiap satu- dua bulan akan diubah?

Masalahnya memang ada gangguan external yang berada diluar kontrol dan
jangkauan pemerintah tetapi anomali internal seharusnya segera dibenahi
agar pemerintah tidak nampak serabutan dan bingung.

Jika Menkeu bingung, pelaku ekonomi atau pasar akan lebih bingung lagi.
Alhamdullilah saya tidak bingung.

Fuad Bawazier

Penulis mantan Menteri Keuangan RI

















Kirim email ke