Vaksin Lebaran
Oleh Dahlan Iskan
Minggu, 24 Mei 2020 – 05:50 WIB
https://www.jpnn.com/news/vaksin-lebaran
Vaksin Lebaran - JPNN.com
Dahlan Iskan. Foto: Ricardo/JPNN.com
jpnn.com- Ada kabar sangat baik di Hari Raya Idulfitri hari ini. Yakni
kabar tentang vaksin baru Covid-19. Yang ditemukan Mayjen Chen Wei itu.
Namun kita bahas dulu kabar yang kurang baik. Tentang konflik masker di
pinggir jalan tiga hari lalu. Yang melibatkan seorang ulama terkenal
Jatim. Yang videonya beredar luas di medsos itu.
Salahkah ulama itu --karena tidak pakai masker?
Baca Juga:
* Tuduhan Konspirasi <https://www.jpnn.com/news/tuduhan-konspirasi>
Jawabnya: salah. Kalau itu di luar rumah.
Bagaimana kalau di dalam mobil seperti di video itu?
Jawabnya: salah. Kalau itu mobil umum.
Baca Juga:
* Wuhan Gembira <https://www.jpnn.com/news/wuhan-gembira>
Kalau mobil pribadi?
Saya tidak tahu: bunyi peraturan pemerintahnya seperti apa.
Namun kita semua punya akal sehat. Kalau akal sehat dipakai konflik
tidak perlu terjadi.
Baca Juga:
* Ventilator Tengkurap <https://www.jpnn.com/news/ventilator-tengkurap>
Menurut akal sehat saya: sepanjang mobil pribadi itu ”steril”, tidak
memakai masker di dalamnya tidak salah.
Yang saya maksud ”steril” adalah: yang di dalam mobil itu keluarga
sendiri, keluarga satu rumah. Yang seperti itu, tidak pakai masker
mestinya tidak apa-apa --meskipun kalau pakai masker lebih baik.
Akan terasa lucu kalau suami-istri-anak diwajibkan pakai masker saat
mereka lagi di dalam satu mobil. Padahal suami-istri itu, di rumah,
berpelukan --tanpa masker. Bahkan berhubungan badan --tanpa masker.
Paling-paling yang pakai masker suaminya --itu pun bukan di wajah.
Bagaimana kalau sopirnya orang lain?
Sopir itu wajib pakai masker. Juga wajib cuci tangan dengan sabun
sebelum masuk mobil. Pun semua pegangan pintu wajib disemprot disinfektan.
Dengan tindakan seperti itu, semestinya, aman dari penularan.
Mengapa soal pakai masker di dalam mobil ini sampai menimbulkan
pertengkaran di pinggir jalan? Sampai jadi tontonan yang memalukan
se-Indonesia? Seperti yang melibatkan ulama besar di Bangil, Jatim itu?
Saya lihat mobil yang ditumpangi ulama itu mobil pribadi. Sopirnya pakai
masker.
Sang ulama sendiri membawa masker, tetapi tidak dipakai di dalam mobil
itu. Alasannya, masker itu akan dipakai menjelang turun dari mobil.
Sang ulama juga menjelaskan ia tahu bahayanya virus ini. Ia juga merasa
wajib menjaga diri dan orang lain.
Ia punya cara, yang menurut ia tetap aman: di dalam mobil itu belum
perlu memakai masker. Namun ia pasti akan pakai masker kalau turun dari
mobil.
Saya pusing menyaksikan peristiwa seperti ini: yang berlebihan itu
petugasnya atau ulamanya.
Saya sendiri sering melakukan seperti yang dilakukan ulama itu. Kalau
lagi di dalam mobil --dan yang di dalam mobil itu hanya istri -- saya
tidak mengenakan masker.
Namun saya membawa masker. Bahkan beberapa. Juga membawa cairan
disinfektan. Masker itu akan saya pakai menjelang turun dari mobil.
Setingkat orang yang mempunyai mobil bagus, rasanya sudah banyak yang
menggunakan akal sehat seperti itu.
Saya khawatir konflik seperti itu hanya merugikan semua pihak. Terutama
kalau dikaitkan dengan rasa keadilan. Misalnya: yang seperti itu
dipersoalkan sampai bertengkar, tetapi yang mudik berjubel dibiarkan.
Dan banyak yang lain lagi.
Kalau saya jadi ulama itu saya akan mengalah saja: toh di Jatim ada
pameo ”sing waras ngalah”.
Saya akan langsung minta maaf ke petugas itu, lalu mengenakan masker.
Setelah jauh dari petugas, kalau mau, masker dilepaskan lagi. Nanti
pakai yang baru lagi kalau dekat pemeriksaan.
Toh budaya timur mengenal ”minta maaf meski tidak bersalah”. Yang
penting semua orang punya prinsip: masing-masing benar mampu menjaga
diri dari virus. Juga menjaga orang lain.
Yang juga penting: menjaga perdamaian.
Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir batin.
Oh, iya.
Hampir lupa. Tentang kabar baik tadi.
Seperti apa?
Kemarin media di Tiongkok menyiarkan video. Dari Kota Wuhan. Isinya
orang antre di pusat pengendalian virus dan penyakit menular di kota itu.
Video itu diberi latar belakang lagu ”Imagine” dari penyanyi legendaris
Inggris John Lennon. Mungkin karena misi lagu itu memang memimpikan
dunia tanpa agama.
Yang antre tersebut adalah relawan uji coba vaksin Covid-19. Uji cobanya
sudah selesai. Sukses.
Mereka sudah dua kali disuntik vaksin anti-Covid-19. Selama tiga bulan
terakhir. Tanggal 15 Mei lalu mereka dinyatakan sudah memiliki antibodi
Covid-19.
Hebat sekali.
Bagaimana dengan efek samping?
Tidak ditemukan efek samping apa pun --sampai hari kemarin. Mereka
dinyatakan sehat. Boleh pulang.
Mereka lantas mendapatkan sertifikat sebagai relawan. Yang di dalamnya
tertera meterai dari lembaga pengendalian virus dan penyakit menular di
Wuhan itu. Juga mendapat tanda tangan Mayjen Chen Wei, kepala lembaga itu.
Yang menyerahkan sertifikat adalah juga si bintang kejora sendiri:
Mayjen Chen Wei. Dia seorang wanita yang dikenal sebagai ilmuwan bidang
virus.
Ia sendiri menyatakan tetap harus hati-hati. Sebelum memproduksi itu.
Tipikal sikap ilmuwan.
Kita tinggal menunggu kapan produksinya. Lebih utama lagi: kapan sampai
Indonesia. Mumpung belum lebih banyak yang bertengkar di pinggir
jalan.*(***)*