Sidang DPR <https://www.disway.id/r/949/sidang-dpr>
27 May 2020
https://www.disway.id/r/949/sidang-dpr#.Xs3U-vQsjg0.whatsapp
------------------------------------------------------------------------
Oleh : Dahlan Iskan
/Presiden Tiongkok Xi Jinping menghadiri pembukaan Kongres Rakyat
Nasional China di Beijing, 22 Mei 2020 kemarin (AP Photo)/
Begitu banyak perkembangan penting hari ini.
Nasib Sabrina Meng diputuskan hari ini. Oleh pengadilan di Vancouver,
Kanada.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu --yang dua hari lalu mulai
diadili dengan tuduhan korupsi-- meningkatkan perlawanan hari ini.
Di Beijing --hari ini juga-- sidang pleno DPR ditutup dengan sejarah:
lahirnya dua undang-undang penting. Yang satu adalah UU pengaturan
masyarakat sipil --yang sudah tertunda puluhan tahun. Satunya lagi UU
keamanan Hongkong --yang menyebabkan demo besar-besaran di pulau itu
sejak tiga hari lalu.
Yang juga penting hari ini: kuli bangunan di Kampung Manggis Jambi itu,
M. Nuh, kian sulit dicari. Yakni setelah video wawancaranya dengan
seorang netizen menjadi viral.
Kita seperti mendapat hadiah lebaran yang paling segar tahun ini:
dagelan kuli bangunan itu. Baru kali ini Cak Lontong kalah lucu. Lebih
baik lihat saja videonya ini:
Sidang pleno tahunan DPR di Beijing itu mestinya sudah berlangsung dua
bulan lalu. Covid-19 membuatnya tertunda minggu ini.
Agendanya tetap: mengesankan dua UU tadi --yang dua-duanya sangat mendasar.
Dalam UU Sipil itu diatur soal kepemilikan tanah, rumah, soal waris,
hak-hak pribadi, perjanjian kontrak, soal cerai, dan soal gugatan pribadi.
Itu sangat menarik --justru karena Tiongkok adalah negara komunis.
Ternyata mereka lagi menyiapkan diri untuk menjadi negara komunis yang
modern --yang kita belum tahu akan seperti apa.
Saya tentu akan terus mencari tahu. Juga akan mengkajinya. Apa saja
perubahan di sana nanti setelah UU Sipil tersebut disahkan. Kalau saja
tidak ada Covid-19 hampir pasti saya sudah di sana.
Yang jelas saat ini Tiongkok sudah sama sekali tidak berpegang pada Das
Kapital-nya Karl Marx --kitab sucinya orang komunis yang ditulis oleh
pendiri komunisme itu.
Komunisme itu awalnya hanya bertumpu pada satu kaki: buruh. Yang harus
berjuang melawan majikan. Proletar melawan borjuis.
Ketika sampai ke Tiongkok, komunisme harus direvisi. Tidak banyak buruh
pabrik di Tiongkok. Yang lebih banyak: petani. Yang tidak kalah
miskinnya dengan buruh.
Maka komunis Tiongkok bertumpu pada dua kaki: buruh dan tani. Seperti
yang kemudian diikuti oleh Partai Komunis Indonesia --almarhum.
Tapi 30 tahun menganut komunisme membuat rakyat di Tiongkok tetap
sengsara. Sampailah pada era kepemimpinan Deng Xiaoping, 1975. Tahun
lalu saya sempat ke museum kesengsaraan Deng Xiaoping di Nanchang. Saya
juga sudah ke kampung kelahirannya di pedalaman Sichuan --antara kota
Chengdu dan Chongqing.
Deng Xiaoping-lah yang membawa komunisme ke arah pragmatisme. Sejak
tahun 1980-an itu praktis berakhirlah era komunisme lama.
Saya beruntung menyaksikan sendiri perubahan era itu di Tiongkok. Banyak
kali saya ke sana di era 1980-an itu. Yakni ketika Tiongkok masih jauh
lebih miskin dari Indonesia.
Di era Deng Xiaoping inilah unsur pengusaha diterima dalam sistem
komunisme. Aneh bin ajaib. Komunisme didirikan untuk melawan pengusaha.
Tapi di Tiongkok pengusaha dimasukkan dalam soko guru komunisme.
Maka di zaman Jiang Zemin --pengganti Deng Xiaoping-- resmilah:
komunisme dua kaki diubah. Menjadi komunisme tiga kaki. Dari hanya buruh
dan tani menjadi: buruh, tani, dan pengusaha.
Sepuluh tahun kemudian, di era Hu Jintao --pengganti Jiang Zemin-- kaki
tiga itu ditambah menjadi empat: buruh, tani, pengusaha, dan ilmuwan.
Para ilmuwan bidang ideologi dan politik mestinya bingung: bisakah
komunisme berkaki empat seperti itu masih disebut komunis?
Ataukah sudah harus ditemukan kategori baru? Apapun namanya --asal bukan
komunisme?
Memang masih ada beberapa patung Karl Marx saya temukan di sana.
Misalnya di salah satu lobby hotel di kota Hangzhou. Tapi ajarannya
sudah disesatkan jauh sekali.
Boleh dikata Tiongkok itu, di jalan komunisme itu, tersesat di jalan
yang benar --kalau tujuannya memakmurkan rakyat.
Xi Jinping --pengganti Hu Jintao-- dengan melahirkan UU Sipil hari ini--
seperti akan membawa Tiongkok ke era yang berikutnya lagi.
Termasuk soal Hongkong dan Taiwan. Yang tidak akan dibiarkan lagi terus
rusuh seperti sepanjang tahun lalu.
Intinya, hari ini, akan disahkan UU baru: untuk mencegah gerakan
separatis, campur tangan asing, dan subversi.
Dalam hal Hongkong dan Taiwan Tiongkok kelihatannya tidak memberi
toleransi lagi. Biar pun Amerika dan Barat akan menentangnya.
Hongkong pasti ribut lagi.
Taiwan menyusul pula.
Sedang Huawei bisa saja berharap datangnya berita gembira dari Kanada.
Sabrina Meng (Meng Wanzhou), putri pendiri Huawei, terlihat sangat
riang. Lihatlah foto Meng dengan tim hukumnya di depan pengadilan di
Kanada kemarin itu.
Lihatlah ekspresi wajah mereka. Pertanda apa? (Dahlan Iskan)