-- 
j.gedearka <[email protected]>



https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2019-pendisiplinan-new-normal


Rabu 27 Mei 2020, 05:00 WIB

Pendisiplinan New Normal

Administrator | Editorial
 

KENORMALAN baru atau new normal sama se kali belum menjadi kemenangan melawan 
korona. Seperti yang dikatakan Presiden Joko Widodo, new normal ialah upaya 
produktif, tetapi tetap aman dari covid-19.

Kita mafhum jika rencana pemberlakuan new normal merupakan upaya untuk 
menyelamatkan perekonomian. Sejak pemba tasan sosial berskala besar (PSBB) 
diberlakukan, hingga perte ngahan Mei, sudah 7 juta pekerja di-PHK. Karena itu, 
pemberlakuan new normal menjadi harapan meredakan badai, sementara riset 
tentang obat dan vaksi terus berjalan.

Indonesia pun tidak sendiri dalam menuju new normal. Beberapa negara Eropa dan 
juga beberapa negara bagian di Amerika Serikat te lah lebih dulu menjalankan 
new normal, se dangkan Inggris sebentar lagi juga akan me nyusul.

Meski begitu, harus diakui bahwa pemerintah memasuki perang itu dengan kondisi 
yang berbeda bila dibandingkan dengan Inggris dan Amerika Serikat.

Seperti dengan mudah dilihat di kurva worldometers, grafi k kasus baru di Tanah 
Air belumlah seperti di kedua negara itu yang cenderung melandai. Kurva kasus 
di Indonesia masih naik-turun dengan penambahan 415 kasus kemarin.

Jika pemerintah menerapkan new normal dalam waktu dekat, yakni saat kurva belum 
jelas melandai, pertaruhan kita dalam babak baru perang melawan korona ini 
sesungguhnya amat besar. Pertaruhan ini kita gantungkan pada kedisiplinan orang 
per orang.

Kemarin Presiden meninjau kesiapan new normal dengan mengunjungi stasiun MRT 
Bundaran HI dan Summarecon Mall, Bekasi, Jawa Barat.

Bekasi dikatakan akan menjadi percontohan karena kurva R0 (R naught) sudah di 
bawah 1. Ini mengartikan angka reproduksi kasus dari seorang penderita.

Selain di Bekasi, Presiden mengisyaratkan sejumlah provinsi lain dengan kurva 
R0 di bawah 1 juga akan menerapkan new normal pada tahap awal ini.

Untuk menegakkan kedisiplinan, Presiden menginstruksikan Panglima TNI dan 
Kapolri mengerahkan personel.

Sebanyak 340 ribu personel TNI/Polri akan mengamankan 1.800 titik di empat 
provinsi dan 25 kabupaten/kota.

Empat provinsi itu ialah DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatra Barat, dan Gorontalo, 
sedangkan ke-25 kabupaten di antaranya di sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, 
Depok, dan Bekasi.

Pengerahan aparat macam ini juga dilakukan di Filipina. Namun, tetap saja 
metode ini tidak memberikan rasa kepercayaan selain menunjukkan adanya 
kecenderungan menggunakan pendekatan militeristik.

Perbandingan jumlah penduduk yang jauh di atas aparat membuat metode macam itu 
bukanlah strategi perang yang bisa bertahan lama.

Bagaimanapun tegasnya aparat, kita sudah berulang kali melihat efek kejut makin 
tidak mempan di masyarakat kita.

Sebaliknya, pendekatan persuasif, termasuk secara komunitas, kultur, dan 
agamais, terlebih dilengkapi dengan ketersediaan fasilitas higienis yang baik, 
lebih sering efektif.

Belum lagi jika dilihat dari segi biaya, bisa jadi cara-cara ini lebih murah 
ketimbang pengerahan aparat.

Selain itu, tentunya pemerintah harus sudah bersiap dengan skenario-skenario 
cadangan jika new normal tidak berhasil atau bahkan me mang belum siap.

Presiden harus berani memundurkan rencana ataupun memberhentikan new normal 
tanpa harus menunggu tingkat penularan kembali melonjak.

Pengorbanan seluruh lapisan masyarakat selama tiga bulan ini semestinya jangan 
menjadi kesia-siaan akibat ketidaksiapan new normal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Kirim email ke