Setiap negara ada kondisinya sendiri yang berbeda-beda, kenyataan TIDAK ADA yang BISA meniru yang dijalankan pemerintah Tiongkok! Dimana pemerintah dibawah kekuasaan Partai tunggal, Partai Komunis Tiongkok bisa segera mengambil KEPUTUSAN drastis “TUTUP Kota Wuhan” di tgl. 23 Januari 2020! 2 hari sebelum Tahun Baru Imlek, 25 Januari, yang merupakan tradisi Tionghoa saling anjang-sono, kumpul keluarga dan merupakan liburan panjang yang digunakan untuk BERTAMASYA baik diberbagai objek tamasya didalam negeri maupun luarnegeri! Sulit bisa dibayangkan apa yang akan terjadi kalau kota Wuhan tidak cepat ditutup-rapat, karena ternyata sudah sekitar 2 juta warga Wuhan yang keluar ke berbagai propinsi dan bahkan juga ada yang keluarnegeri! Wabah Covid-19 tentu merebak lebih luas dan cepat dan lebih SULIT dihentikan dan dikendalikan!

Tentu dengan menutup rapat kota Wuhan yang berpenduduk lebih 11 juta orang itu BUKAN hal mudah! Disamping jelas harus menderita kerugian ekonomi yang sangat besar, juga dibutuhkan pengorganisasian yang sangat rapi untuk mengatur kekurangan ranjang di RS untuk menampung warga yang jelas sudah terjangkit, mengejar dan menditeksi setiap warga dekat berhubungan dengan pasien Covid-19 untuk juga DIISOLASI! Dan dengan demikian, diperlukan membangun RS-DARURAT dalam waktu singkat. Begitulah dunia menyaksikan bagaimana “KECEPATAN Tiongkok” dalam waktu singkat membangun RS-DARURAT dengan puluhan ribu ranjangnya, merubah Gedung-olahraga, Gedung aula Pemerintah-daerah, Sekolah-sekolah menjadi barak RS-darurat! Lalu, dalam 10 hari berhasil membangun 2 RS penyakit menular (RS Huo Shen Shan, 3 Februari siap digunakan sedang RS Lei Shen Shan, 6 Februari siap digunakan) dengan kapasitas 2600 ranjang! Dengan ketegasan pemerintah Tiongkok, yang jelas SAKIT harus tertampung di RS, yang terditeksi positif Covid-19 harus ditampung di RS-Darurat untuk dirawat, diobati agar tidak berkembang menjadi lebih parah dan serius dan merupakan langkah diisolasi agar TIDAK menularkan keorang lain, ...!

Lalu, bagaimana pemerintah lebih dahulu dengan kilat mendatangkan bantuan tim-medis dari Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok, yang kemudian disusul dengan berangsur-angsur mendatangkan SUKARELAWAN Dokter-Jururawat dari berbagai propinsi, … yang mencapai jumlah 40 ribu orang itu! Dan, … tentunya semua itu harus ada pengorganisasian rapi dimana mereka ditempatkan dan pengaturan makan sehari-hari! Begitu juga dengan konsumsi kebutuha hidup sehari-hari warga Wuhan sendiri yang masih terkurung dirumah masing-masing berjumlah hampir 10 juta itu, … dan semua pengaturan pada pokoknya bisa teratasi dengan cukup baik!

Dunia pun melihat bagaimana mayoritas mutlak rakyat Tiongkok bisa mentaati seruan “BERDIAM DIRUMAH”, menghentikan segala kegiatan rekreasi, kesenian, olahraga, membatalkan setiap acara ngumpul bersama banyak orang, termasuk makan bersama, … Kota Wuhan nampak menjadi kota mati, begitu sepi tiada orang dijalan selama lebih sebulan ini, … kepatuhan dan disiplin RAKYAT banyak “berdiam dirumah” selama lebih sebulan ini (70 hari), pendemi sudah baru bisa dinyatakan terkendalikan dan berangsur-angsur mulai pengaturan BEKERJA kembali, dan dengan demikian Perang Rakyat Melawan Covid-19 berhasil dimenangkan dengan gemilang!


Untuk mengetahui seberapa tegas, keras dan konsekwennya Badan Khusus Melawan Covid-19, bisa juga dilihat dari ketegasan mendisiplin belasan pejabat yang kena pinalti melanggar dan tidak menjalankan tugas dengan baik melawan Covid-19! Bahkan ada berita, telah memecat ratusan anggota PKT yang dianggap tidak berperan sebagai pelopor dibarisan depan memerangi Covid-19 kali ini.


Baik juga diajukan beberapa contoh yang diberitakan untuk diketahui: ada seorang pejabat-tinggi pensiunan kota Wuhan, positif terjangkit Covid-19 dianggap TIDAK disiplin menuruti perintah keharusan diisolasi masuk RS! Karena merasa sesuai tingkat kekaderannya, berhak mendapatkan fasilitas kamar seorang diri di RS! Tapi, dalam situasi darurat, bukan saja ranjang di RS TIDAK CUKUP, banyak pasien yang ditidurkan dilantai saja! Tanpa ranjang! Lalu pejabat pensiunan ini keluar RS dan pulang bersembunyi dirumah dengan tuntutan obat-obat yang diperlukan bisa dibawa pulang, … Pejabat tsb. Kemudian kena didisiplin masuk RS juga, tapi tetap dianggap MELANGGAR sikap pejabat komunis yang harus mendahulukan kepentingan rakyat! Dipinalti dengan turunkan setingkat uang pensiun yang bisa didapat!


Ada lagi seorang pejabat kota Wuhan, dicopot hanya karena saat Tahun Baru Imlek, tgl. 25 Januari lari pulang kampung menghadiri pesta Ulang Tahun ayahnya, padahal tgl. 23 Kota Wuhan sudah di TUTUP, setiap warga tidak boleh keluar!


Seorang pejabat Palang-Merah Wuhan juga kena sanksi dicopot dari jabatannya, hanya karena kelalaian dan keterlambatan meneruskan sumbangan perlengkapan medis yang sudah diterima ke RS yang membutuhkan!

Jadi, melihat sistem masyarakat yang dijalankan Tiongkok dan adanya kepemimpinan tunggal PKT itulah itulah yang memungkinkan pemerintah Tiongkok menjalankan secara radikal TUTUP kota-wilayah wabah pendemi, dan dengan demikian lebih cepat mencekik mati dan menghentikan Covid-19 merebak lebih luas, … yang SULIT bahkan TIDAK MUNGKIN dilaksanakan dinegara lain. Dan itu pula sebab makin berlarut pandemi Covid-19 merebak bahkan angka kematian jauh lebih tinggi, lebih*20 X lipat *dari Tiongkok, …! Amerika saja sekarang, 29 Mei 2020, sudah menyundul lebih dari *100 RIBU* rakyatnya berkorban jiwa akibat ketidak mampuan Trump mengatasi pandemi yang merebak, … yang jalankan lebih mengutamakan kepentingan ekonomi dan suara pemilih pilpres yad. Ketimbang keselamatan jiwa rakyatnya itu!

Salam,

ChanCT



Mei 28, 2020OlehRadar Tegal <https://radartegal.com/author/radartegalonline>
DAHLAN ISKAN <https://radartegal.com/topic/dahlan-iskan>


 Diperpanjang atau tidak?

Radar Tegal <https://radartegal.com/author/radartegalonline>-Disway <https://radartegal.com/dahlan-iskan>-
https://radartegal.com/dahlan-iskan/diperpanjang-atau-tidak.html

*Oleh: Dahlan Iskan*

*MASYARAKAT*terbelah. Di semua negara. Ada yang belah bambu. Ada yang belah ketupat.

Yang menginginkan PSBB diperpanjang umumnya tenaga kesehatan dan ilmuwan.

Orang mampu juga ingin PSBB diperpanjang. Diperpanjang satu tahun pun mereka tetap TTH –tabungan tidak habis.

Yang menginginkan tidak diperpanjang adalah yang ekonominya pas-pasan. Yang tidak punya uang –kalau hari itu tidak bekerja.

Di negara maju persoalan yang terakhir itu bisa diatasi dengan mudah: pemerintah memberi mereka uang. Yang di Amerika Rp 15 juta/bulan.

Para pengusaha juga pro diakhiri. Dengan PSBB usaha mereka macet.

Alasan tenaga medis jelas: rumah sakit akan kelelahan. Mereka tidak akan mampu menangani meledaknya penderita baru Covid-19.

Apakah PSBB selama ini berhasil?

Berhasil. Kalau targetnya hanya membuat penularan tidak gila-gilaan. Buktinya belum pernah ada penambahan penderita baru yang sampai ribuan orang/hari.

Tidak sampai seperti di Amerika –30.000 orang sehari. Selama lebih satu bulan. Sekarang pun –yang sudah dianggap reda– masih sekitar 15.000/hari.

PSBB berhasil.

Kalau penambahan itu tetap sekitar 900 orang/hari. Dengan angka itu tenaga medis pun masih bisa dimampu-mampukan.

Rupanya pemerintah cukup puas dengan angka pertambahan seperti itu. Itulah sebabnya pelonggaran-pelonggaran dilakukan. Mal-mal dibuka.

Tentu tenaga kesehatan yang waswas. Apalagi tingkat ketaatan masyarakat terhadap PSBB masih seperti itu –berjubelnya.

Sebenarnya berapa persenkah tingkat ketaatan masyarakat terhadap PSBB?

Belum ada lembaga riset yang mengumumkannya.

Saya sendiri memperkirakan 70 persen. Angka itu boleh ditawar. Anda pasti punya angka sendiri.

Sebenarnya ketaatan 70 persen itu cukup bagus. Tapi sisa 30 persen itu juga masih sangat banyak. Yang membuat seolah PSBB setengah-setengah.

Saya sendiri juga tidak taat 100 persen. Mungkin 93 persen. Saya masih ke secuil kebun di luar kota. Sesekali. Juga tidak pakai masker selama dalam perjalanan mobil itu.

Saya juga masih rutin ke pabrik. Seminggu tiga kali. Dengan selalu mengenakan masker dan jaga jarak.

Pabrik itu –PT Ensterna Indonesia– harus selesai: sebulan lagi. Investasinya hampir Rp 200 miliar. Yang akan sangat diperlukan oleh negara –untuk mendukung ekspor.

Itulah pabrik irradiasi –fasilitas untuk mematikan virus, bakteri, dan segala macam kuman. Banyak negara maju mensyaratkan bebas bakteri/virus/kuman untuk barang yang mereka impor.

Buah tropik yang kita ekspor pun akan lebih awet bila dilewatkan mesin irradiasi itu –tanpa menggunakan kimia.

Pabrik seperti itu cita-cita lama saya. Agar ekspor kita lebih bisa digalakkan. Dan agar penggunaan kimia bisa berkurang –misalnya untuk popok bayi. Selama ini kimia banyak digunakan karena fasilitas seperti ini tidak ada. Padahal di Tiongkok –yang gila ekspor itu– setiap kota pasti memilikinya. Di satu kota Shanghai saja ada 50-an fasilitas irradiasi.

Kembali ke PSBB.

Ups…

Ketaatan saya rasanya hanya 87 persen. Sudah lebih tinggi dari rata-rata 70 persen tadi. Saya total makan di rumah –kebetulan istri hobi masak. Cukur rambut pun oleh anak wedok –sekalian agak digundul.

Jadi, diperpanjang atau tidak?

Di Tiongkok memang sudah nyaris tidak ada lagi penderita baru. Beberapa hari terakhir ini. Tapi panti pijat, nightclub, dan bioskop masih wajib tutup. Selebihnya sudah bebas.

Di banyak negara juga sudah dilonggarkan. Meski penderita baru masih cukup banyak. Di Rusia memang masih tinggi –tapi jumlah yang meninggal tidak banyak.

Tinggal Brazil yang masih mengkhawatirkan. Seperti di Amerika, sikap presidennyalah yang dianggap sebagai gara-gara.

Diperpanjang atau tidak?

Untungnya, penularan virus ini hanya lewat percikan air liur atau ingus. Bukan virus yang beterbangan di udara.

Kalau pun PSBB tidak diperpanjang kedisiplinan memang harus naik –disiplin masker, jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun.

Memang akan ada opini negatif, setengah guyon: kalau PSBB tidak diperpanjang berarti KUKMK –karep-karepmu: urip karepmu, mati karepmu. Terserah Anda, mau hidup atau mau mati.

Seperti pesawat auto pilot. Lebih parah dari itu.

Tapi, biarpun canda, KUKMK mengandung unsur pendidikan: Anda akan tetap selamat kalau hati-hati.

Bagaimana kalau penderita barunya nanti meledak tak terkendali?

Rumah sakit akan kelelahan.

Sekaligus kita menyadari bahwa manajemen kita kurang bagus.

Memang sayang sekali: kita tidak punya pun sekedar grup WA –atau yang sejenisnya– yang anggotanya khusus penderita diabetes.

Mungkin karena jumlahnya terlalu banyak. Tapi kan bisa dikelompokkan lebih kecil. Berdasar tingkat keseriusannya maupun berdasar wilayah.

Bisa saja grup WA itu dibagi tiga: grup WA diabetes yang sudah cuci darah, grup yang sudah tahap suntik insulin, dan grup yang sudah makan obat.

Mungkin, siapa tahu, ada kepala daerah yang mau melangkah ke sana.

Kalau per kabupaten terlalu luas, bisa dibagi per kecamatan.

Di saat tidak ada lagi PSBB grup WA seperti itu akan efektif.

Demikian juga grup WA penderita tekanan darah tinggi. Yang kalau jumlahnya terlalu banyak juga bisa dibagi. Terutama untuk yang punya komplikasi dengan penyakit lain.

Kelompok tersebut bisa ditangani secara khusus. Justru sebelum mereka tertular Covid-19. Daripada mereka memenuhi rumah sakit.

Memang diperlukan manajemen yang sungguh-sungguh serius. Tapi saya yakin banyak kepala daerah kita yang mampu. Bupati Banyuwangi, Bupati Kulon Progo, Belitung, dan banyak lagi sudah membuktikan mampu. Tinggal menambah ke bidang ini.

Teknologi sudah ada. Termasuk untuk mengontrol kedisiplinan mereka.

Kalau perlu adakan apps khusus untuk mereka. Tiap hari mereka wajib mengisi apa saja yang mereka makan. Juga yang mereka minum.

Penyakit-penyakit tadi sangat erat dengan apa yang mereka konsumsi.

Bagi yang bisa disiplin bantuan akan diteruskan. Bagi yang makan-minumnya sembrono diperingatkan.

Sudah lama saya setuju dengan fatwa Profesor Kenichi Ohmae: tidak ada negara kaya dan negara miskin; yang ada adalah negara dengan manajemen baik dan negara dengan manajemen yang kurang baik.

”Nabi” nya ilmu manajemen itu ingin mengatakan: semiskin apa pun negara itu akan menjadi kaya kalau manajemennya baik. Contohnya banyak, termasuk Jepang dan Singapura.

Sebaliknya negara kaya pun akan jadi miskin kalau manajemennya tidak baik.

Saya tidak tahu negara mana contohnya.*(*)*

Kirim email ke