Ekonomi Tiongkok yang Stabil Untungkan Ekonomi Dunia

http://indonesian.cri.cn/20200529/f3f83d53-b9d6-1570-7d88-f91f5ac298b5.html
2020-05-29 10:50:19

图片默认标题_fororder_image_202005291050

Sidang tahunan Kongres Rakyat Nasional (KRN) Tiongkok ditutup di Beijing pada hari Kamis kemarin (28/5). Dalam konferensi pers yang berdurasi hampir dua jam seusai sidang tersebut, Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang menjawab 11 pertanyaan wartawan terkait perkembangan ekonomi, keterbukaan dan kerja sama. Dari jawabannya terlihat kebulatan hati Tiongkok untuk mewujudkan target sepanjang tahun 2020 serta kepedulian pemerintah pusat terhadap perbaikan kesejahteraan rakyat dan kewajibannya untuk berkontribusi bagi pemulihan ekonomi dunia.

Dalam konferensi pers, Li Keqiang menjabarkan sepaket kebijakan yang akan dilaksanakan pemerintah pusat untuk menjamin peluang kerja, memperbaiki hajat hidup rakyat serta membantu bagian induk pasar mengatasi kesulitan dan menggairahkan daya hidup pasar. Kebijakan dan tindakan baru itu akan digulirkan dengan intensitas yang layak pada waktu yang sesuai. Apalagi paket kebijakan itu masih menyisakan ruang untuk diadakannya modifikasi atau penyesuaian kembali. Hal ini sepenuhnya mencerminkan kecerdasan dan kebijaksanaan pimpinan tertinggi Tiongkok untuk mengimplementasi kebijakan secara tepat sasaran dan tepat waktu, sehingga telah memperkuat keyakinan masyarakat terhadap masa depan perekonomian Tiongkok yang bakal terus berkembang mantap.  Hal ini juga memperlihatkan tekad dan keberanian pemerintah Tiongkok untuk memberantas kemiskinan absolut di Tiongkok. Jawaban-jawaban dari Perdana Menteri Li Keqiang tersebut telah mencerminkan kepedulian pemangku kebijakan kepada rakyat jelata.

Selama beberapa tahun terakhir, Tiongkok berturut-turut memberikan kontribusi sebesar 30 persen kepada pertumbuhan dunia. Terpeliharanya kestabilan ekonomi Tiongkok di tengah pandemi COVID-19 dengan sendirinya sudah memberikan sumbangan bagi perekonomian dunia. Dalam konferensi pers kemarin, Perdana Menteri Li Keqiang menekankan bahwa pintu Tiongkok tidak akan tertutup, malah akan terus terbuka kepada dunia luar. Tiongkok akan terus memperluas kerja sama dengan dunia dan secara inisiatif menggulirkan lebih banyak kebijakan terkait keterbukaan. Hal ini untuk mencerminkan tanggung jawab dan kewajiban Tiongkok dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan dan keterbukaannya sendiri.

Dalam konferensi pers kemarin, Li Keqiang menunjukkan, saat ini masyarakat internasional sedang menghadapi dua tantangan yang berat, yakni memerangi wabah virus corona dan mengembangkan ekonomi, kedua-duanya membutuhkan seluruh dunia untuk bersatu padu agar “manusia dapat berhasil lolos dari terpaan ombak dahsyat tersebut”. Ia menegaskan kembali bahwa dalam hubungan ekonomi Tiongkok-AS, kedua-duanya sudah saling mengikat dengan erat. Memaksakan pelepasan atau/disengagement/tidak akan membawa maslahat kepada pihak mana pun, bahkan dunia pun akan ikut mengalami kerugian. Li Keqiang menyatakan, Tiongkok akan terus mendorong penandatanganan Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau RCEP pada tahun ini, aktif mendorong pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas Tiongkok-Jepang-Korsel, dan bersikap terbuka terhadap potensi untuk bergabung dalam Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP). Dari uraian tersebut terlihat sikap positif Tiongkok untuk melakukan kerja sama dengan mancanegara serta tekadnya untuk memelihara kestabilan rantai industri dan rantai pasokan serta mendorong liberalisasi investasi dan fasilitasi perdagangan. Hal ini tidak hanya menguntungkan bagi pembukaan kembali aktivitas ekonomi dan sosial secara global, juga akan membantu ekonomi dunia berangsur-angsur keluar dari kesulitan.

Mengusahakan kerja sama dan menang bersama serta hal-hal “yang menguntungkan semua pihak”. Itulah apa yang tercermin dari jawaban Perdana Menteri Li Keqiang dalam konferensi pers kemarin.



 Masyarakat Internasional Dukung Legislasi Keputusan KRN Seputar UU
 Keamanan Nasional di Hong Kong

2020-05-29 16:40:10

Kongres Rakyat Nasional (KRN), lembaga legislatif tertinggi Tiongkok, dalam sidangnya pada 28 Mei 2020 telah meluluskan Keputusan KRN tentang Penyempurnaan Sistem Hukum Keamanan Nasional dan Mekanisme Pelaksanaannya di Daerah Administrasi Khusus Hong Kong. Pemimpin-pemimpin luar negeri dan organisasi internasional berturut-turut menyatakan dukungan terhadap keputusan tersebut.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov hari Selasa (26/05) lalu menyatakan, masalah Hong Kong adalah urusan dalam negeri Tiongkok, pihak AS yang mengancam akan mengenakan sanksi atas Tiongkok sehubungan dengan keputusan tersebut telah mengungkapkan rasa keunggulan diri dan kesombongan mereka, tidak bermanfaat bagi AS untuk berdialog secara efektif dengan Tiongkok dalam masalah lainnya. Lavrov menyatakan, tindakan AS yang hendak membuat skandal dalam masalah legislasi keputusan KRN seputar Pemeliharaan Keamanan Nasional di Hong Kong sebenarnya merugikan reputasi dan tujuan AS sendiri untuk memenuhi kepentingannya sendiri.

Penasihat Presiden Prancis untuk urusan luar negeri dalam pembicaraan teleponnya dengan Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi menyatakan, Prancis menghormati kedaulatan Tiongkok, memahami kesensitifan masalah Hong Kong, dan tidak akan campur tangan dalam urusan Hong Kong. Prancis berharap, masalah ini dapat diselesaikan secara layak di bawah kerangka Satu Negara Dua Sistem.

Wakil Perdana Menteri Kamboja Hor Nam Hong hari Rabu lalu (27/05) menyatakan, keputusan yang diambil KRN seputar Pemeliharaan Keamanan Nasional di Hong Kong sangat penting bagi penjaminan keamanan, stabilitas serta kemakmuran Hong Kong. Kamboja sepenuhnya mendukung legislasi KRN seputar Pemeliharaan Keamanan Nasional di Hong Kong. Menurut Hor Nam Hong, kekuatan yang menentang Tiongkok dan menghasut kerusuhan Hong Kong secara terbuka mempromosikan “Hong Kong Merdeka”. Pemerintah mana pun tidak akan mengizinkan kegiatan separatis seperti ini. Kekerasan tidak hanya mengganggu kehidupan normal warga Hong Kong, tapi juga merugikan status Hong Kong sebagai pusat perkembangan ekonomi dan moneter.

Pernyataan yang dikeluarkan Kementerian Luar Negeri Laos menyatakan, keputusan yang diambil KRN seputar Pemeliharaan Keamanan Nasional di Hong Kong sesuai dengan ketentuan UUD Tiongkok, adalah hak yang sah bagi Tiongkok untuk memelihara keamanan dan kepentingan nasionalnya. Pemerintah Laos senantiasa berpegang teguh pada kebijakan Satu Tiongkok, Hong Kong adalah daerah administrasi khusus Tiongkok di bawah Satu Negara Dua Sistem.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Abbas Mousavi dalam pernyataannya menyatakan, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain dan menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah adalah prinsip tegas dan senantiasa dijunjung Iran. Mousavi menekankan, berdasarkan prinsip tersebut, Iran harus menekankan kembali untuk menghormati Prinsip Satu Tiongkok, mengecam tekanan luar yang mencampuri urusan dalam negeri Tiongkok, mengecam perilaku yang merugikan kedaulatan dan keutuhan wilayah Tiongkok, menekankan mendukung Tiongkok untuk memelihara ketertiban dengan peningkatan hukum, demi menjamin kestabilan, kemakmuran serta keamanan Hong Kong.

Menteri Luar Negeri Pilipina Teodoro Lochen tanggal 23 Mei lalu di akun media sosialnya menulis, dirinya harus menyatakan bahwa sesudah Hong Kong pulang ke pangkuan Tiongkok, ekonomi Hong Kong baru menjadi salah satu tempat yang paling memiliki vitalitas. Bangunan baru dan jalan baru terus bermunculan. Warga Hong Kong tidak diperlakukan seperti sampah, dan polisi akhirnya tidak korupsi lagi.

Wakil Ketua Uni Afrika serta ahli-ahli asing juga berpendapat, keputusan yang diambil KRN seputar Pemeliharaan Keamanan Nasional di Hong Kong sesuai dengan UUD Tiongkok, tak boleh diragukan. Wakil Ketua Uni Afrika menyatakan, hal ini bersangkutan dengan masalah keamanan nasional dan masalah kedaulatan Tiongkok, hukum internasional mengakui dan mendukung tindakan Tiongkok tersebut.

Kirim email ke