Pengentasan Kemiskinan secara Ekologis Berhasil Bantu Lebih dari 3
 Juta Warga Miskin

2020-06-01 16:10:12 http://indonesian.cri.cn/20200601/235f6b08-9baa-a2ca-54a6-8daaee17c5b5.html

图片默认标题_fororder_tuopin1

Musim ulat sutera telah tiba.

Hari ini, seorang petani miskin di Desa Mewo, Kabupaten Longlin, Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi yang bernama Tao Shengcheng menjual kepompong ulat suteranya di pasar kabupatennya. Sebelumnya, kehidupan keluarga Tao Shengcheng yang beranggota 7 orang itu hanya mengandalkan pendapatannya dan istrinya yang bekerja dengan meninggalkan kampung halaman, akan tetapi, kehidupan mereka masih tetap sangat miskin bahkan terpaksa meminjam uang untuk biaya sekolah 3 anaknya. Sekarang ini, Desa Mewo berupaya mengembangkan industri ekologis, ia kembali ke kampungnya dan menanam pohon murbei seluas 12 ribu meter persegi.

Di Desa Mewo, lingkungan ekologis yang kondusif dan industri ulat sutera yang berkembang kini telah membentuk siklus yang baik.

Selain memelihara ulat sutera, Tao Shengcheng juga menanam pohon kamelia dan bekerja sebagai penjaga hutan. Semua pekerjaan itu dilakukan pada musim yang berbeda, dan pendapatannya dapat mencapai sekitar 70 ribu Yuan RMB per tahun.

图片默认标题_fororder_tuopin2

Tao Shengcheng adalah salah satu warga dari 3 juta warga miskin yang memperoleh keuntungan dari kebijakan pengentasan kemiskinan secara ekologis di Tiongkok.

Penanggulangan kemiskinan secara ekologis adalah model pengentasan kemiskinan yang memadukan pelestarian lingkungan ekologis dan penanggulangan kemiskinan. Beberapa tahun belakangan ini, Badan Administrasi Kehutanan dan Padang Rumput Nasional Tiongkok berserta badan-badan terkait lainnya akan bersama-sama melaksanakan 3 proyek penanggulangan kemiskinan, antara lain, kompensasi ekologis, penghijauan tanah negara dan industri ekologis. Menurut statistik terbaru, melalui upaya selama 4 tahun, target utama penanggulangan kemiskinan secara ekologis pada pokoknya telah diselesaikan.

Kirim email ke