-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2023-melawan-covid-19-dengan-nilai-pancasila


Senin 01 Juni 2020, 05:00 WIB 

Melawan Covid-19 dengan Nilai Pancasila 

Administrator | Editorial   PERINGATAN hari lahir Pancasila pada hari ini 
berlangsung dalam suasana pandemi covid-19. Pancasila sebagai dasar filsafat 
dan pandangan hidup bangsa mestinya menjadi landasan kukuh kita sebagai bangsa 
keluar dari ancaman virus korona yang mematikan. Tepat hari ini, 75 tahun yang 
lampau, Soekarno berpidato dalam rapat pertama Badan Penyelidik Usaha-Usaha 
Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Pidato Bung Karno itu kemudian resmi 
dinyatakan sebagai hari lahir Pancasila oleh Presiden Joko Widodo melalui 
Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016. Dalam pidatonya, Bung Karno mengatakan 
Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong royong. Dalam 
pandangan Soekarno, gotong royong ialah paham yang dinamis, lebih dinamis 
daripada kekeluargaan. “Gotong royong adalah pembanting tulang bersama, 
pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat 
kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua.” Nilai-nilai gotong 
royong yang dikobarkan Bung Karno itulah yang saat ini sangat dirasakan di 
tengah masyarakat. Ada perasaan senasib, sepenanggungan, dan kekeluargaan di 
kalangan masyarakat dalam upaya mempertahankan kehidupan bersama. Perasaan 
senasib itu diungkapkan lewat perbuatan nyata dengan membantu sesama. Sejak 
pandemi covid-19 dinyatakan sebagai bencana nasional pada 13 April, berbagai 
upaya telah dilakukan pemerintah sampai diberlakukan pembatasan sosial berskala 
besar. Intinya ialah bekerja dari rumah, belajar dari rumah, dan beribadah di 
rumah. Masyarakat patut diberi apresiasi karena mematuhi seluruh kebijakan 
terkait dengan penanganan pandemi covid-19. Pada saat hari raya keagamaan, 
misalnya, masyarakat tetap beribadah di rumah. Kepatuhan masyarakat iu berbuah 
hasil, proses tidak pernah mengkhianati hasil. Sebanyak 102 kabupaten/kota yang 
tersebar di 18 provinsi dinyatakan masuk zona hijau. Zona hijau berarti tidak 
ditemukan kasus penularan covid-19. Pemerintah pusat membolehkan daerah-daerah 
itu untuk mulai membuka produktivitas sosial. Pembukaan produktivitas sosial di 
zona hijau harus dilakukan secara bertahap dengan tetap memperhatikan secara 
saksama protokol kesehatan, antara lain sering cuci tangan, menjaga jarak, dan 
memakai masker. Eloknya, sebelum membuka produktvitas sosial, pemerintah daerah 
mulai melakukan sosialisasi atas tatanan kenormalan baru. Ada tahapan 
prakondisi dengan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Benar bahwa jumlah 
kabupaten/kota yang masuk zona hijau itu baru mencapai 19,8% dari total 514 
kabupaten/kota di Indonesia. Pelajaran penting yang dipetik dari daerah zona 
hijau ialah tidak ada tawar-menawar soal kedisiplinan. Kedisiplinan warga itu 
diangkat menjadi berita utama harian ini, kemarin. Harus tegas dikatakan bahwa 
keberhasilan dari penerapan produktivitas masyarakat aman covid-19 sangat 
bergantung pada kedisiplinan masyarakat. Karena itu, kesadaran kolektif dalam 
mematuhi protokol kesehatan dengan menggunakan masker, mencuci tangan, dan 
menjaga jarak perlu diperhatikan. Lokomotif menggelorakan dan menggerakkan 
disiplin kolektif masyarakat ada pada kepala daerah dan seluruh pemimpin 
informal di daerah. Karena itu, perlu ada kolaborsi para pemimpin itu untuk 
terus-menerus mengingatkan masyarakat soal kedisiplinan. Tidaklah berlebihan 
untuk mengatakan kedisiplinan itu sebagai bagian dari pengalaman Pancasila. 
Karena itulah, peringatan hari lahir Pancasila harus menjadi momentum demi 
memperkuat komitmen bangsa Indonesia untuk sungguh-sungguh mengimplementasikan 
Pancasila sebagai falsafah dan pendirian hidup bangsa. Termasuk komitmen 
meningkatkan kedisiplinan nasional melawan covid-19. Selain meningkatkan 
kedisiplinan, peringatan hari lahir Pancasila mestinya dijadikan pula sebagai 
momentum mengibarkan semangat gotong royong. Itulah semangat kooperatif dan 
kolaboratif, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, bukan yang satu untung 
dan yang lain buntung.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2023-melawan-covid-19-dengan-nilai-pancasila




Kirim email ke