-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://news.detik.com/kolom/d-5037556/kita-semua-rasis?tag_from=wp_cb_kolom_list



Sentilan Iqbal Aji Daryono

Kita Semua Rasis

Iqbal Aji Daryono - detikNews

Selasa, 02 Jun 2020 17:10 WIB
0 komentar

SHARE URL telah disalin
Kolomnis - Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)

Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta -


Ketika seorang pria berkulit gelap bernama Obama terpilih sebagai Presiden 
Amerika, saya mengira itu adalah kembang api yang merayakan runtuhnya rasisme 
di negeri itu. Tapi kemudian Trump meraih dukungan mayoritas suara dengan bekal 
retorika-retorika rasis. Saya kaget, Anda juga. Dan sekarang seolah semuanya 
kembali ditegaskan, karena muncul kerusuhan besar akibat peristiwa beraroma 
rasis di Minnesota.

Kemudian kita di sini turut mengecam sikap-sikap rasis itu, seiring dengan 
ejekan kita yang tanpa henti kepada Paman Trump. Tapi sembari mengucapkan 
berderet-deret kata kecaman, kita lupa bahwa kita sendiri pun tak pernah steril 
dari cara berpikir yang rasis, dalam segenap perikehidupan sosial kita.

Barangkali Anda juga sadar akan hal itu. Di ranah sosial kita tidak berani dan 
memang tidak pantas mengungkapkannya. Tapi di dalam pikiran dan di bawah sadar, 
aduh, seberapa hebat kita hingga bisa sungguh-sungguh lepas darinya?

***

Mari berangkat dari arti rasis dulu, biar tak ada miskomunikasi. Dalam Kamus 
Besar Bahasa Indonesia, tidak ada lema rasis, adanya rasialis. Tapi izinkan 
saya memilih menggunakan kata rasis dan rasisme, sebab saya setuju dengan 
pemaknaan bahwa rasialisme adalah rasisme yang dilembagakan (misalnya politik 
apartheid di Afrika Selatan pra-Mandela dan politik segregasi di Amerika 
Serikat era Jim Crow).

Awalnya, rasisme hanya terkait hal-hal biologis yang melekat pada diri manusia, 
seperti postur tubuh dan warna kulit. Namun kemudian lingkupnya meluas, menjadi 
segala prasangka yang menyerang suatu kelompok berdasarkan faktor keturunan, 
etnisitas, juga golongan.

Persis di sini, kita akan segera menyadari bahwa bisa jadi kita tidak beda-beda 
amat dengan empat polisi di Minnesota yang jadi pemicu kerusuhan itu.

Saya kasih contoh paling klasik yang saya yakin Anda semua sudah pernah 
mendengarnya, yaitu tentang stereotip etnis. Pernah suatu kali saya ngobrol 
blak-blakan, jujur-jujuran, dengan seorang kawan beretnis Sunda. Saya bertanya 
kepada dia, bagaimana pandangan tradisional keluarganya atas orang Jawa seperti 
saya.

Saya mengakui, dalam pandangan orang Jawa lawasan, ada saran keras agar tidak 
menikah dengan orang Sunda. Orang Sunda materialistis, kata orang-orang Jawa 
lawas. Dan bagi orang Sunda, jawab kawan saya itu tadi, orang Jawa itu udik. 
Kampungan. Semacam uncivilized, gitu.

Tentu saja dengan nalar rasional, kita yang punya sedikit pergaulan akan paham 
bahwa segala stereotip semacam itu sangat tidak adil. Toh nyatanya saya punya 
banyak teman Sunda yang bersahaja dan tidak matre, sebagaimana di sisi lain ada 
banyak orang Jawa yang keren dan kosmopolit semacam saya (ehem!). Tapi, dalam 
bisik-bisik di ruang-ruang privat, label-label semacam itu tetap saja terus 
terdengar.

Belum lama berselang, bahkan di kota yang konon penuh kedamaian bernama 
Yogyakarta pun muncul keributan beraroma stereotip. Waktu itu ada warga 
beramai-ramai menolak mahasiswa Papua untuk indekos di tempat mereka. Aksi 
penolakan itu berangkat dari beberapa pengalaman negatif, yang kemudian 
digeneralisasi, tanpa mempertimbangkan bahwa ada banyak pula mahasiswa Papua 
yang sungguh tidak pantas dimasukkan ke dalam lingkup generalisasi itu.

Maka, sampailah kita ke kata kunci tersebut: generalisasi. Akar dari 
sikap-sikap stereotipikal dan rasis ya generalisasi itu, kan? Yakni ketika kita 
melihat pola perilaku atau karakter beberapa orang, kemudian karakter atau 
perilaku itu serta-merta kita sematkan kepada identitas orang-orang tersebut. 
Bisa ke etnisitas mereka, warna kulit mereka, daerah asal mereka, agama mereka, 
dan sebagainya.

Pertanyaannya, seberapa representatifkah kita dalam mengambil kesimpulan atas 
label-label karakter itu, juga seberapa adilkah bagi orang yang beridentitas 
sama tapi punya karakter yang berbeda?

Kita bisa mengambil contoh paling purba atas rasisme yang berlaku di Indonesia, 
yaitu yang menimpa etnis Tionghoa. Ini kasus rasisme yang punya sejarah 
terpanjang di Nusantara. Dirayakan sejak zaman Diponegoro, bahkan berakar sejak 
zaman VOC mula-mula ketika para juragan Tionghoa diberi hak-hak khusus semisal 
sebagai pemungut pajak atau pedagang candu.

Pernah suatu kali, di saat panas-panasnya pilpres, seorang kawan yang sangat 
berpendidikan mengirimkan satu video kepada saya. Isinya adegan ketika seorang 
beretnis Tionghoa bersikap arogan kepada seorang pedagang kecil. Lalu dengan 
sangat yakin, kawan saya itu berkata, "Nih, jelas banget seperti ini, kenapa 
kamu masih menyangkal kalau mereka memang arogan?"

Mereka? Mereka siapa? Pelaku arogansi di video itu cuma satu, tapi dengan 
mantap kawan saya menyebut "mereka". Apakah guru bahasa Indonesianya waktu SMP 
gagal menjelaskan perbedaan kata ganti orang ketiga tunggal dan orang ketiga 
jamak?

Tentu saja saya menjawab meski cuma sambil lalu. Saya bilang, saya punya banyak 
teman Tionghoa yang baik hati, dermawan, tidak arogan, bahkan seringkali saya 
sendiri lebih arogan dibanding kawan-kawan saya tadi. Lalu di mana posisi 
kawan-kawan Tionghoa saya itu?

Namun nyatanya, kawan saya yang mengirim video itu tetap teguh pada kesan yang 
tertanam dalam persepsinya. Alasannya sederhana: sebab yang berkarakter arogan 
itu banyak. Ya, "banyak". Ini jadi kata kunci berikutnya setelah "generalisasi".

Pertanyaannya, bagaimana kita menghitung bahwa yang banyak itu benar-benar 
banyak? Sudahkah kita melakukan survei dengan metode akurat, minimal lebih 
akurat ketimbang survei calon pemenang Pilkada yang dijalankan oleh lembaga 
survei yang dibayar oleh si "terprediksi menang"?

Dari situ, saya akhirnya menemukan jawabannya. Ini semua mirip belaka dengan 
cara kerja amplifikasi informasi di era digital. Taruh kata ada tokoh X. Si X 
ini punya kompleksitas karakter dalam dirinya, sebagaimana layaknya seorang 
manusia. Namun, karena suatu peristiwa, ada salah satu karakternya yang muncul 
di media sosial lalu tersebar viral.

Apa hasilnya? Hasilnya jelas sekali, yaitu karakter yang viral itu menjadi 
citra dominan dari Si X di mata publik. Sementara, karakter-karakter lainnya 
menjadi seolah tiada guna.

Semuanya karena viral. Dan yang viral-viral itu sejak zaman analog selalu lebih 
mudah diisi oleh kabar negatif. Bad news is good news, bukan? Berita orang 
bersedekah sejuta akan kalah viral dibanding kabar tentang orang yang sama saat 
dia mencuri duit seratus ribu. Begitu pula, sejuta orang dari etnis Y yang 
ramah akan diabaikan, sebab ada sepuluh ribu warga etnis Y yang berangasan. 
Begitu, kan?

Walhasil, kita lebih mudah menangkap informasi buruk tentang orang-orang di 
luar kelompok kita sendiri, alih-alih kabar baik tentang mereka. Segala 
informasi buruk itu membawa efek psikologis yang kuat dalam kesan yang tertanam 
di bawah sadar kita, membentuk kecurigaan-kecurigaan instingtif kita. Lalu 
diam-diam kita terus memendam sifat rasis dalam diri kita, meski kita sangat 
enggan mengakuinya.

***

"Tuh kan, orang-orang itu lagi yang bikin ulah," omel seorang kawan di 
Facebook. Dia baru saja menyimak video viral yang menampilkan adegan seorang 
berjubah ribut di jalan.

"Orang-orang yang mana?" saya bertanya. "Bukannya dia sendirian, ya?"

"Ya itulah. Masak nggak tahu. Dari dulu yang ribut kan mereka lagi mereka lagi."

Tiba-tiba saya ingin membeli jubah, memakainya, lalu keliling jalanan untuk 
memamerkan akhlak saya yang terpuji tiada tara.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)
rasis
rasisme
minnesota







Kirim email ke