-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1845-kita-semua-berkulit-hitam


Rabu 03 Juni 2020, 05:00 WIB 

Kita Semua Berkulit Hitam Usman Kansong, 

Dewan Redaksi Media Group | Editorial   Kita Semua Berkulit Hitam MI/Ebet 
Usman Kansong, Dewan Redaksi Media Group. 

PADA pertengahan abad ke-19, tersebutlah seorang dokter bernama Samuel Morton. 
Morton yang tinggal di Philadelpia, Amerika Serikat itu, punya hobi mengoleksi 
tengkorak kepala manusia yang diperolehnya dari medan perang dan bangunan bawah 
tanah. Dia lalu mengisi rongga otak di tengkorak kepala manusia itu dengan 
bubuk lada. Dari situ dia mengetahui volume otak manusia. Morton berasumsi 
makin besar volume otak manusia, makin pintarlah dia. Dari hobinya itu Morton 
membagi manusia ke dalam lima ras sesuai dengan volume otak atau 
intelegensinya. Yang paling pintar manusia berkulit putih atau ras Kaukasia. Di 
bawahnya orang Asia Timur atau ras Mongoloid. Berikutnya orang Asia Tenggara. 
Di bawah orang Asia Tenggara ialah orang Amerika asli atau Indian. Yang paling 
terbelakang orang kulit hitam atau Etiopia. Teori Morton sangat berpengaruh 
ketika itu, baik di lapang an sains maupun praktis. Di bidang sains A de 
Gobineau dalam Essay on the Inequality of the Human Races (1853), misalnya, 
mengatakan, dari tiga ras utama, yakni raskulit putih, ras kulit kuning, dan 
ras kulit hitam, ras kulit putihlah yang tertinggi dan satu-satunya ras yang 
mampu mencapai kemajuan. Dalam tataran praktis, pemerintah kolonial Belanda 
pada 1800-an, misalnya, menempatkan ras kulit putih dalam posisi superior, 
disusul ras Asia Timur, lalu orang Indonesia di posisi terbawah. Morton kini 
dianggap sebagai the father of scientific racism, bapak rasisme ilmiah. 
Padahal, pemikirannya bahwa ras kulit putih superior dihasilkan dari hobinya 
mengoleksi tengkorak kepala dan mengisi rongganya dengan bubuk lada, bukan dari 
penelitian ilmiah. Morton sesungguhnya, katakanlah, sekadar mengilmiahkan 
hobinya, mengilmiahkan rasisme, dan membuat rasisme seolah ilmiah. Penelitian 
mutakhir dengan menggunakan teknik pengurutan DNA justru menunjukkan nenek 
moyang manusia berasal dari Afrika. Kita menyebut Afrika benua hitam karena 
penduduknya berkulit hitam. Kita semua pada dasarnya berkulit hitam. Penelitian 
juga memperlihatkan orang Inggris dan Eropa awalnya berkulit hitam. Sejarah 
mengatakan kaum imigran pertama ke Amerika berasal dari Inggris dan Eropa. 
Orang Amerika pada dasarnya berkulit hitam. “Jika asal muasal menentukan ras, 
kita semua orang Afrika; kita semua berkulit hitam. Tak peduli betapa 
menariknya kulit putih seseorang, atau berkelasnya aksen seseorang berbahasa 
Inggris, faktanya tetap, seluruh umat manusia berasal dari tanah Afrika. Di 
situlah tempat kelahiran spesies kita,” tulis Abhijit Naskar dalam buku We are 
All Black. “Konsep ras tak punya basis genetik atau ilmiah,” kata Craig Venter. 
Venter, perintis metode pengurutan DNA, mengatakan itu ketika mengumumkan hasil 
penelitian tentang asal muasal manusia dalam satu upacara di Gedung Putih, 
Amerika Serikat, Juni 2000. Bila tidak punya dasar ilmiah, konsep ras 
sepertinya lebih merupakan label atau cap. “There’s no scientifi c basis for 
race— It’s made-up label,” tulis National Geographics dalam laporan soal isu 
ras di edisi April 2018. Pemikiran rasisme Morton tampaknya sekadar pelabelan, 
tidak ilmiah sama sekali. Amerika sedang dilanda huru-hara yang berpangkal pada 
rasisme. George Floyd yang berkulit hitam tewas di tangan polisi. Kematian 
Floyd memicu unjuk rasa besar-besaran di Amerika. Protes atas kematian Floyd 
juga terjadi di negara lain, seperti Selandia Baru dan Rusia. Unjuk rasa dan 
protes di mana-mana, yang dilakukan orang dari berbagai warna kulit merupakan 
bentuk solidaritas bahwa ‘kita semua berkulit hitam’. Diskriminasi atas orang 
berkulit hitam di Amerika sejak masa perbudakan dulu hingga masa pagebluk 
covid-19 kini tidak terlepas dari cara berpikir kita yang mengekor pada 
pemikiran Morton yang seolah ilmiah, seakan saintifik, itu. Sains banyak 
menuntun cara kita berpikir dan berbuat. Di situlah celakanya bila hobi dikira 
teori. Diskriminasi terhadap mereka yang berkulit hitam terjadi di banyak 
tempat, bukan cuma di Amerika. Di Indonesia, pada Agustus 2019, orang Papua 
yang berkulit hitam direndahkan dengan sebutan ‘monyet’. Unjuk rasa yang 
berakhir dengan huru-hara terjadi di sejumlah tempat di Indonesia. Berhentilah 
memandang rendah orang berkulit hitam. Kita semua pada dasarnya berkulit hitam. 
Memandang rendah orang berkulit hitam berarti memandang rendah diri kita 
sendiri, memandang rendah seluruh umat manusia.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1845-kita-semua-berkulit-hitam







Kirim email ke