Mati Berdiri <https://www.disway.id/r/964/mati-berdiri>
09 June 2020
https://www.disway.id/r/964/mati-berdiri
------------------------------------------------------------------------
Oleh : Dahlan Iskan
Putuslah sudah harapan saya yang sempat meroket itu: pembangunan kilang
besar --agar kita swasembada bahan bakar minyak.
Roket itu meluncur bukan tanpa alasan. Bacalah keterangan pers Dirut
Pertamina usai dengar pendapat di DPR. Awal tahun tadi.
Di forum itu terkesan begitu pastinya: sudah tinggal jalan. Ini akan
sangat bersejarah. Setelah 30 tahun Indonesia jalan ditempat: tidak bisa
membangun kilang besar.
Sebenarnya tidak semua punya perasaan meroket seperti saya. Banyak yang
pesimistis sejak awal. Pun tetap pesimistis meski keterangan Dirut
Pertamina begitu menggiurkannya.
Saya memang mencoba terus bersikap optimistis. Termasuk ketika dulu itu:
ketika saya tahu begitu sulit membangun kilang besar.
Saya tidak pernah mencela kegagalan membangun kilang besar --begitu
sulitnya. Pun sekarang ini --ketika harapan roket itu ternyata menukik.
Tentu saya pernah ikut rapat-rapat tingkat tinggi. Yang membahas rencana
membuat sejarah kilang seperti itu.
Saya pun tahu betapa SULIT --dengan huruf besar. Jangan salahkan
siapa-siapa.
Maka secara pribadi saya pun mengambil kesimpulan: harus ada terobosan
lain. Yang/out of the box/.
Sudah terlalu banyak energi untuk membicarakan pembuatan sejarah itu.
Sudah 30 tahun. Sudah sekian presiden.
Setiap presiden ingin membuat sejarah. Apalagi ini sejarah yang sangat
seksi: bisa mengatasi impor BBM --yang jadi sumber fitnah terbesar dan
terpanjang dalam sejarah.
Pikiran baru saya itu, waktu itu, mobil listrik. Tidak perlu lagi BBM.
Memang ide terlalu awal: sampai ada yang mempertanyakan soal tingkat
emisinya. Betapa lucunya pertanyaan itu.
Atau pertanyaan ini: di mana nanti/charging/-nya.
Sampai-sampai saya harus menemukan jawaban ini: kita itu bisa membangun
ribuan pompa bensin. Yang biayanya bisa Rp 20 miliar/station. Padahal
membangun stasiun/charging/itu hanya Rp 20 juta. Di mana sulitnya.
Tapi, ya sudahlah. Itu sudah lewat. Sudah lama sekali. Sudah 8 tahun.
Perkembangan mobil listrik di dunia sudah begitu majunya. Sudah sulit
dikejar.
Tapi pilihan solusinya kan tidak berubah: tanpa mobil listrik kita harus
membangun kilang besar. Untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM --dan
turunannya.
Satu kilang besar berkapasitas 300.000 barel/hari memerlukan investasi
Rp 70 triliun.
Bagaimana bisa balik modal? Siapa yang mau mengucurkan dana segajah
bengkak itu?
Hitungan balik-modalnya lebih panjang dari jalan Daendels - -dari Anyer
sampai ke Panarukan.
Pun waktu saya masih ikut rapat-rapat-tingkat-tinggi dulu itu. Yang
dicari ya 'tinggal' itu: bagaimana bisa balik modal.
Kalau pun ada yang mulai berminat minta fasilitasnya ampun-ampun. Apa
saja harus diberikan pada investor. Baik dari pemerintah maupun dari
Pertamina.
Kesimpulan saya lagi: fasilitas yang diminta itu sampai begitu tidak
masuk akalnya --akal sehat maupun akal nasionalisme.
Padahal kalau pun kita berhasil membangun kilang itu minyak mentahnya
toh masih juga harus impor.
Tetap saja mobil listrik.
Sekarang saya harus tetap optimistis - -optimistis level tiga. Saya akan
diam saja kalau pun diputuskan harus impor mobil listrik. Apa boleh
buat. Akar pun jadi.
Pun kalau harus perusahaan asing yang mendirikan pabrik mobil listrik di
Indonesia. Saya akan diam menerima.
Saya sudah siap mental untuk menerima/new normal/itu --ups,/new reality/itu.
/Move on/.
Toh harapan pada dua-kilang-besar-baru itu sudah pupus. Investor nan
gagah berani dari Oman saja sudah mundur dari proyek itu di Bontang. Dan
investor malaikat dari Saudi --Aramco-- juga sudah mundur dari proyek
kilang Cilacap.
Padahal tidak ada lagi isyu tanah. Pertamina sudah menyelesaikan
pengadaan tanah yang sulit itu. Yang setiap kilang setidaknya 250
hektare itu.
Saya tidak tahu fasilitas apa saja yang sudah disetujui saat
mereka/ok/membangun dua kilang itu. Tapi tidak perlu dibahas. Toh sudah
batal.
Ups... Masih ada cadangan optimisme.
Mengapa tidak membangun kilang kecil-kecil saja? Misalnya kelas 10.000
barel/hari? Sekaligus banyak? Di beberapa lokasi? Terutama lokasi di
dekat sumur minyak-mentah? Sekaligus memperbaiki rasio biaya logistik?
Tentu kita ingat lagi kilang kecil yang mati berdiri itu.
Sudahlah./Move on/.
Para pengusaha lokal pasti bisa melakukannya lagi. Mereka pasti mampu.
Seperti terbukti di Tuban --dekat lapangan minyak Cepu di Banyuurip itu.
Yang milik pengusaha nasional dari ITB itu. Yang kemudian mati di
lumbung itu.
Kilang itu milik TWU (Disway:Lumbung Itu Tidak Untuk Ayam
<https://www.disway.id/r/56/lumbung-itu-tidak-untuk-ayam>). Yang tidak
bisa lagi mendapat minyak-mentah --dari sumur minyak raksasa milik Exxon
dan Pertamina itu.
Sampai sekarang kilang itu masih berdiri tegak. Mati berdiri.
Mungkin perlu dicoba terobosan itu lagi. Dengan aturan baru. Misalnya,
minyak-mentah bagian pemerintah (dari bagi hasil) didedikasikan untuk
kilang kecil. Asal dibangun di dekat sumur minyak. Tidak perlu lagi
angkut-minyak-mentah-jarak-jauh seperti selama ini.
Tentu masih banyak masalah teknik. Yang tidak mungkin saya tulis di DI's
Way --pembaca bisa teriak 'saya tidak bisa bernafas'. Saking teknisnya.
Tentu banyak juga alasan untuk tidak menyetujui terobosan itu.
Hanya diperlukan satu alasan saja untuk setuju. Terlalu banyak alasan
untuk tidak setuju.(Dahlan Iskan)