Tiba-Tiba Pemilu <https://www.disway.id/r/965/tiba-tiba-pemilu>
10 June 2020
https://www.disway.id/r/965/tiba-tiba-pemilu
------------------------------------------------------------------------
Oleh : Dahlan Iskan
Tiba-tiba akan ada pemilihan umum di Singapura. Juli bulan depan.
Alasannya: di masa sulit ini --akibat pandemi virus seperti ini-- perlu
jaminan kestabilan politik. Terutama bagi para investor.
Alasan itu bisa sungguh-sungguh. Bisa juga dicari-cari. Yang jelas di
tengah wabah seperti ini siapa yang mau mikir politik. Rasanya rakyat
masa bodo dengan politik. Rakyat lagi punya kesibukan sendiri: menjaga
diri masing-masing.
Kalau pemerintah mengadakan pemilu di masa seperti ini pasti ada
tujuannya: agar tidak ada lawan yang muncul.
Pun kalau ada oposisi akan sulit memasarkan diri. Kan pergerakan manusia
lagi dibatasi.
Partai penguasa Singapura pintar memanfaatkan keadaan ini. Kekuasaan
harus diperpanjang --sepanjang-panjangnya. Kan ”baru” 60 tahun. Bisa
tambah 10 tahun lagi. Atau berapa pun.
Pandemi Covid-19 membuat pemerintah Singapura sangat pede --di bidang
politik. Ancaman dari dua adik perdana menteri boleh dikata tenggelam
oleh pandemi. Tiga bersaudara keturunan Lee Kuan Yew itu memang belum
rukun. Tapi Covid-19 mendinginkan perang keluarga ini.
Dua hari lalu Perdana Menteri 3G Singapura, Lee Hsien Loong, tampil di
TV. Anak sulung Lee Kuan Yew itu menguraikan perlunya stabilitas politik
itu. Ia bilang betapa sulitnya ekonomi akibat pandemi ini. Berarti usaha
untuk membangkitkannya juga harus sangat khusus.
Maka perlu dikaji apa saja yang diperlukan untuk membangkitkan ekonomi
Singapura itu. Salah satunya: mengharap investasi yang lebih besar. Maka
iklim investasi harus baik.
Hampir dapat dipastikan partai penguasa ini akan menang telak lagi.
/Roadmap/menuju Pemilu dadakan itu harus sudah dimulai dua-tiga hari
lagi. Pekerjaan pertama: partai menugaskan Presiden Singapura untuk
membubarkan parlemen. Agar pemilu bisa segera digelar.
Tentu tidak akan ada kampanye. Dengan alasan pandemi. Tapi pemerintah
tetap bisa kampanye secara terselubung. Melalui keterangan-keterangan
pemerintah seperti yang sudah terjadi itu.
Cara pemungutan suara pun sudah diatur. Jam nyoblos dibagi-bagi.
Orang-orang tua harus nyoblos di pagi hari. Jumlah TPS juga akan
ditambah. Agar prinsip jaga jarak bisa terpenuhi --tidak terjadi antrean.
Yang perlu dicatat: Lee Hsien Loong tetap pada pendiriannya. Hasil
pemilu ini akan membuat ia meletakkan jabatan. Ia akan menyerahkan
kepemimpinan ke 4G: Heng Swee Keat. Yang sekarang menjabat Wakil PM.
Sudah setahun lamanya nama itu dimasukkan/test the water/. Sejak setahun
lalu orang Singapura tahu: itulah calon pemimpin baru mereka. Bukan dari
keluarga Lee lagi.
Ternyata tes itu seperti tidak ada gunanya. Pandemi Covid-19 membuat
rakyat tidak punya waktu mempersoalkan calon itu. Rakyat sudah sangat
lelah memikirkan nasibnya sendiri.
Lee Hsien Loong --yang menjadi perdana menteri sejak 2004-- tentu akan
punya jabatan baru: mungkin menteri senior.
Sayangnya masa jabatan sepanjang 16 tahun itu harus berakhir di masa
pandemi. Bahkan sebelum wabah pun sudah ditandai dengan sengketa terbuka
dengan kedua adiknya.
Rakyat Singapura juga tidak sempat menilai: apakah pemerintahannya gagal
atau berhasil menangani pandemi.
Dari segi jumlah yang mati boleh dibilang berhasil. Tapi dari jumlah
yang tertular mestinya memalukan.
Kok Singapura kalah hebat dengan Indonesia. Penduduknya hanya 5 juta.
Yang terkena Covid-19 mencapai 36.000 lebih. Padahal Indonesia yang
berpenduduk 250 juta saja penderitanya kurang dari 25.000.
Tingginya penderita Covid-19 di Singapura itu sekaligus menyingkap
borok: di negara berpenduduk 5 juta itu punya tenaga kerja asingnya 1,2
juta. Yang 350.000 di antaranya buruh kasar. Dari Bangladesh, India,
atau Myanmar. Mereka inilah yang terbanyak tertular. Akibat kondisi
asrama buruh yang tidak sehat.
Tentu Singapura tidak perlu cari pinjaman. Cadangan devisanya mencapai
satu triliun dolar --10 kali lipat cadangan devisa kita.
Cadangan itulah yang dipakai untuk mengatasi wabah Covid-19. Cukup
dengan hanya mengambil 10 persennya.
Bagi Singapura, New Normal adalah New Leader. (Dahlan Iskan)