Wang Yi: Inggris Hendaknya Hormati Hak dan Kepentingan Sah Tiongkok di
 Hong Kong

2020-06-09 11:59:39 http://indonesian.cri.cn/20200609/f225c1b7-19bd-2645-46f7-6bf9a3a2dc25.html

Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi kemarin (9/6) mengadakan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab.

Wang Yi mengatakan, urusan Hong Kong sama sekali termasuk urusan dalam negeri Tiongkok, tak boleh diintervensi oleh kekuatan ekstern apapun. Pemeliharaan keamanan nasional di Hong Kong bersangkutan dengan kepentingan inti Tiongkok, adalah masalah berprinsip penting yang harus dipegang teguh Tiongkok. Urusan keamanan nasional termasuk isu pemerintah pusat, inilah peraturan umum berbagai negara, tak kecuali Tiongkok. Pemerintah pusat memberikan mandat kepada Daerah Administrasi Khusus Hong Kong untuk menyusun hukum keamanan nasional berdasarkan Pasal ke-23 UU Pokok, hal ini tidak akan mengubah status keamanan nasional yang sifatnya masih dalam batas kekuasaan pemerintah pusat. Menghadapi kerusakan dan ancaman yang dialami keamanan nasional Hong Kong, KRN dengan tegas menyusun undang-undang keamanan nasional untuk diberlakukan di Hong Kong, hal ini bermanfaat untuk mengatasi celah nyata di hukum keamanan nasional Hong Kong, adalah sangat masuk akal dan pasti akan dilaksanakan.

Wang Yi menekankan, penegakan hukum keamanan nasional Hong Kong bertujuan lebih baik melaksanakan Satu Negara Dua Sistem. Pasal pertama yang dicantumkan dalam keputusan sidang KRN Tiongkok menguraikan bahwa Tiongkok dengan tak tergoyahkan melaksanakan pedoman otonomi tingkat tinggi yaitu Satu Negara Dua Sistem dan Pemerintahan Hong Kong oleh Warga Hong Kong.  Inilah komitmen yang dibuat badan kekuasaan tertinggi Tiongkok terhadap Satu Negara Dua Sistem melalui legislasi KRN. Kami mutlak tidak menerima tuduhan tak beralasan bahwa penyusunan UU Keamanan Nasional akan mengubah Satu Negara Dua Sistem.

Wang Yi mengatakan, penyusunan undang-undang keamanan nasional Hong Kong bertujuan menghukum tindakan Hong Kong Merdeka dan elemen kekerasan yang merugikan keamanan nasional. Berbagai hak dan kepentingan dan kebebsan yang dimiliki warga kota Hong Kong akan terjamin lebih baik. Sistem kapitalis yang dilaksanakan di Hong Kong tidak akan berubah. Penikmatan hak dan kepentingan otonomi tingkat tinggi berdasarkan UU Pokok tidak akan berubah, cara kehidupan warga Hong Kong tidak akan berubah. Penyusunan undang-undang keamanan nasional hanya akan menyempurnakan sistem hukum Hong Kong, menstabilkan ketertiban sosial serta memperbaiki lingkungan bisnis.

Wang Yi mengatakan, mengenang kembali sejarah hubungan Tiongkok-Inggris, Tiongkok belum pernah mengintervensi urusan dalam negeri Inggris, juga tidak pernah mencampur tangan terhadap urusan dalam negeri Inggris. Sama halnya, Tiongkok berharap Inggris menghormati Konstitusi RRT dan UU Pokok yang disusun berdasarkan Konstitusi, menghormati hak dan kepentingan sah Tiongkok untuk melindungi keamanan negara di atas wilayah dirinya, menghormati pengelolaan yang dilaksanakan pemerintah pusat di Hong Kong berdasarkan pedoman Satu Negara Dua Sistem, Inggris hendaknya bersikap hati-hati terkait soal ini.

Raab menyatakan, Inggris berupaya mengembangkan hubungan bilateral kuat dengan Tiongkok, dan yakin bahwa kerjasama kedua negara akan mendatangkan peluang lebih luas pasca wabah. Di bawah kerangka hubungan Inggris-Tiongkok yang mantap, kedua pihak dapat bertukar pendapat secara terus terang mengenai masalah apapun. Inggris bersedia memikirkan kembali isi pertukaran hari ini, dan terus mengadakan konsultasi dengan Tiongkok dengan bertolak dari sikap saling menghormati.



 Bank Dunia: Ekonomi Global di Ambang Resesi Paling Serius Sejak Perang
 Dunia II

http://indonesian.cri.cn/20200609/621546a7-a8c0-e885-6c90-aa0f84c89981.html
2020-06-09 11:08:56

/World Economic Outlook/yang dikeluarkan Bank Dunia hari Senin kemarin (8/6) menunjukkan bahwa, terdampak oleh pandemi covid-19, ekonomi global telah mengalami kerugian besar, dan diperkirakan ekonomi global tahun ini akan merosot 5,2%, yang dianggap sebagai resesi paling serius sejak Perang Dunia II, di mana entitas ekonomi dengan PDB per kapitanya mengalami penurunan akan mencapai rekor tertinggi sejak tahun 1870.

Bank Dunia berpendapat bahwa karena permintaan dan penyuplaian domestik serta perdagangan dan keuangan mengalami gangguan serius, aktivitas ekonomi ekonomi maju akan menurun sekitar 7%  pada tahun 2020.

Berdasarkan pernyataan yang dikeluarkan Komite Pengevaluasian Periode Bisnis Badan Penelitian Ekonomi Nasional (NBER) Amerika Serikat hari Senin kemarin (8/6), ekonomi AS Februari lalu sudah terjebak ke dalam kelesuan perdana sejak krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2008, dan resmi mengakhiri periode pertumbuhan ekonomi historis yang berlangsung selama 128 bulan lalu.

Kemarin pula, data yang diumumkan kabinet Jepang menunjukkan, PDB pada triwulan pertama mengalami kemerosotan sekitar 2,2% dibandingkan masa sama tahun lalu.

Satu hari sebelumnya, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong dalam pidato siaran televisi mengatakan, terpengaruhi oleh pemukulan pandemi covid-19, PDB Singapura tahun 2020 akan merosot sekitar 4%-7%, dan ini merupakan kemerosotan paling tajam dalam sejarah.

Laporan Bank Dunia masih memperkirakan negara pasar baru bangkit dan masyarakat ekonomi berkembang akan merosot sekitar 2,5%. Pendapatan per kapita akan menurun 3,6%, hal tersebut akan mengakibatkan beberapa juta populasi kembali ke kemiskinan absolut dalam tahun ini. Negara-negara yang paling serius dilanda pandemi, terutama mereka yang dengan serius mengandalkan perdagangan global, pariwisata, ekspor komoditi dan pendanaan luar negeri itu akan tertimpa paling parah. Laporan Bank Dunia menyebut bahwa tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun fiskal 2020-2021 akan menurun hingga minus 3,2%.

Wakil Gubernur Bank Dunia Ceyla Pazarbasioglu menyatakan, misi prioritas dewasa ini adalah menangani status darurat kesehatan dan ekonomi global, selain itu masyarakat internasional seharusnya bersatu padu demi sekuat tenaga memulihkan ekonomi dalam rangka mencegah lebih banyak populasi terjebak kembali ke dalam kemiskinan dan pengangguran.


Kirim email ke