-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/read/detail/320225-bahas-bumn-dengan-presiden-adian-tulis-opini-soroti-erick-thohir



Jumat 12 Juni 2020, 21:44 WIB 

Bahas BUMN dengan Presiden,Adian Tulis Opini Soroti Erick Thohir 

Henri Siagian | Ekonomi 

  Bahas BUMN dengan Presiden, Adian Tulis Opini Soroti Erick Thohir Antara 
Politisi PDIP Adian Napitupulu PRESIDEN Joko Widodo memanggil politisi PDIP 
Adian Napitupulu ke Istana Negara, Jakarta, untuk berdiskusi empat mata lebih 
dari satu jam. Menurut Adian, pertemuan pada Jumat (12/6) itu mendiskusikan 
beragam hal. Mulai dari situasi nasional hingga Badan Usaha Milik Negara 
(BUMN). "Diskusi soal situasi nasional pasca-pandemi, juga soal PHK yang 
terjadi di BUMN," kata Adian. Baca juga: Erick Thohir: Jangan Ada PHK di 
Perusahaan BUMN Adian hadir di Istana Negara pukul 13.40 WIB dan berdiskusi 
empat mata dengan Presiden selama kurang lebih 1 jam 10 menit. Adian 
menyampaikan dalam pertemuan itu dirinya juga mengusulkan kepada Presiden agar 
skema aliran dana Pemulihan Ekonomi Nasional yang diberikan kepada perusahaan 
BUMN tidak menyalahi peraturan pemerintah. "Supaya skema aliran dana PEN ke 
BUMN tidak menyalahi PP 23/2020, bentuknya bukan utang atau talangan tapi PMN," 
ujar anggota DPR RI dari Fraksi PDIP itu. Baca juga: Rayakan HUT BUMN Secara 
Virtual, Ini Pesan Erick Thohir Menurut Adian, Presiden mencatat seluruh 
informasi yang diterimanya dan diskusi berlangsung hangat. Adian yang juga 
Sekjen dari jaringan aktivis PENA 98 menambahkan, Presiden direncanakan hadir 
meresmikan Rumah Sakit PENA 98 di Gunung Sindur, Jawa Barat, bulan ini. Baca 
juga: Adian Napitupulu Kena Serangan Jantung, Sudah Pakai 5 Ring Pada pukul 
14.11 WIB, situs RMOL.id mengunggah opini Adian Napitupulu berjudul BUMN Dan 
UMKM Dalam Cerita Dan Angka, Siapa Pahlawan Sesungguhnya? Dalam tulisan itu, 
Adian mengkritik sejumlah kebijakan Menteri BUMN Erick Thohir. Seperti, Erick 
Thohir yang mengeluhkan banyak BUMN diisi pensiunan. Akan tetapi, Erick Thohir 
malah mengangkat sejumlah sosok di atas 60 tahun sebagai direksi maupun 
komisaris BUMN. Selain itu, terkait pemberian dana talangan ke BUMN sebesar 
Rp152 triliun. Hanya saja, beberapa BUMN yang dapat dana talangan adalah BUMN 
yang sudah go public, salah satunya Garuda Indonesia sebesar Rp8,5 triliun. Di 
Garuda pemerintah punya saham sebesar 60%, sisanya dimiliki pihak swasta salah 
satunya 25,6% dimiliki Chairul Tanjung. Baca juga: Adian Sayangkan Sikap Garuda 
Tidak Profesional Berikut adalah tulisan lengkap Adian Napitupulu yang disitat 
dari situs RMOL.id. BUMN Dan UMKM Dalam Cerita Dan Angka, Siapa Pahlawan 
Sesungguhnya? MANA yang lebih banyak, utang BUMN atau utang luar negeri 
Malaysia? Jangan kaget ya, total utang BUMN sekitar Rp 5.600 triliun sementara 
total utang luar negeri Malaysia ada di kisaran Rp 3.500 triliun. Prok-prok. 
Ayo tepuk tangan karena BUMN ternyata juara, unggul Rp 2.100 triliun 
mengalahkan Malaysia. Mungkin ada yang coba ngeles dengan membedakan asal 
utang, tapi utang mau dari tetangga, dari mertua atau dari Bank, utang ya tetap 
saja utang. Kenapa utang BUMN sedemikian besar? Ada yang bilang karena korupsi, 
ada yang katakan karena tidak efisien, tidak produktif dan lain lain. Tanggal 5 
Desember 2019, di media, Erick Thohir sempat "mengeluh" bahwa BUMN banyak diisi 
pensiunan. Konon di media, menurut Erick itu tidak sesuai dengan visi misi 
Presiden. Erick juga jelaskan bahwa 58 persen penduduk Indonesia diisi angkatan 
muda (menurut PP 45/2015 usia pensiun itu 56 tahun) Mungkin saja ini menjadi 
sebab tidak produktifnya BUMN. Lalu apa yang kemudian dilakukan Erick terkait 
para pensiunan di BUMN? Apakah dia akan mengganti para pensiunan itu dengan 
generasi yang lebih muda? Eng ing eeeeng. 19 hari berikutnya, tepatnya 24 
Desember 2019 Erick Thohir mengangkat Zulkifli Zaini yang berusia 64 tahun 
menjadi Dirut PLN. Berikutnya 17 Febuari 2020 Erick Thohir mengangkat Abdul 
Ghani di usia 61 tahun menjadi Dirut PTPN 3. Selanjutnya 29 Mei 2020 Erick 
Thohir mengangkat Krisna Wijaya yang berusia 65 tahun menjadi Komut Danareksa. 
Jreeeng, BUMN kembali di isi para Pensiunan dan yang muda kembali 
tersingkirkan. Memang lidah tak bertulang. Beberapa waktu lalu pemerintah sudah 
setuju memberi dana talangan lagi ke BUMN sebesar Rp 152 triliun. Lucunya 
beberapa BUMN yang dapat dana talangan itu adalah BUMN yang sudah go publik, 
salah satunya Garuda Indonesia sebesar Rp 8,5 triliun. Di Garuda pemerintah 
punya saham sebesar 60 persen sisanya dimiliki pihak swasta salah satunya 25,6 
persen dimiliki Chairul Tanjung. Di sini ada yang aneh dan membingungkan. 
Logika perusahaan Go Publik ketika butuh dana segar setidaknya ada dua pilihan, 
pertama, mencari pinjaman. Kedua, menambah/menerbitkan saham baru. Nah lucunya 
status Rp 8,5 triliun yang didapat Garuda ini tidak jelas diberikan sebagai 
apa. Apakah sebagai pinjaman atau penambahan modal (saham) negara. Dalam PP 
23/2020, tidak dikenal istilah pinjaman negara. Yang ada hanyalah PMN, 
Penempatan Dana (tidak bisa di luar perbankan), investasi atau penjaminan 
ketika negara memberikan uang pada Garuda dari anggaran PEN (Pemulihan Ekonomi 
Nasional), maka tidak ada pilihan pemberian tersebut harus dalam bentuk PMN 
atau investasi, tidak bisa yang lain, kecuali pemerintah nekad menabrak PP yang 
dibuatnya sendiri, dan itu adalah pelanggaran hukum yang tentunya sedang 
ditunggu para penggemar Impeachment. Menteri itu untuk memecahkan masalah bukan 
membuat masalah. Kalau pemberian uang itu masuk pada kategori PMN atau 
investasi, maka konsekuensi hukum yang timbul adalah persentase saham pemilik 
saham yang lain bisa tergerus atau delusi. Sebagai contoh, jika pemerintah 
memberi PMN Rp 8,5 triliun, maka bisa jadi 25,6 persen saham milik Chairul 
Tanjung berkurang tinggal 8 persen, 5 persen atau mungkin di bawah itu. Boleh 
jadi karena manisnya rayuan atau wabah corona pemerintah agak kurang fokus dan 
kurang jeli menegaskan status dana talangan itu. Yang penting bagi pemerintah 
adalah mencegah Garuda bangkrut agar tidak terjadi PHK besar besaran. Mencegah 
PHK besar besaran di Garuda Maka Erick Thohir tanggal 3 April 2020 memanggil 
Dirut Garuda. Saat itu Erick Thohir minta agar Garuda tidak melakukan PHK. Pada 
bulan yang sama, Presiden Jokowi juga meminta Pengusaha (termasuk BUMN) tidak 
lakukan PHK. Kira kira 27 hari kemudian yaitu tanggal 30 April, Dirut Garuda 
mengajukan syarat, PHK bisa dicegah asalkan ada relaksasi financial. Mungkin 
berniat menjawab keinginan Garuda, maka 18 hari kemudian, tepatnya tanggal 19 
Mei 2020 Menteri Keuangan menjanjikan dana talangan untuk Garuda sebesar Rp 8,5 
triliun jauh lebih menguntungkan dibanding relaksasi financial. Gedubrakkk. 
Setelah diminta jangan ada PHK oleh Presiden Jokowi dan Erick Thohir, lalu dana 
talangan Rp 8,5 triliun direncanakan oleh Sri Mulyani, kenapa yang terjadi 
justru PHK dan perumahan serta penderitaan massal di Garuda. Tanggal 17 Mei 
2020 sekitar 400 Pramugari dirumahkan, 1 Juni 2020 sekitar 181 Pilot di PHK dan 
2 Juni 800 karyawan Garuda dirumahkan. Bahkan berdasarkan surat 
JKTDZ/SE/70010/2020 sejak April hingga hari ini Garuda bahkan menunda dan 
memotong besaran 10 persen hingga 50 persen dari gaji sekitaran 25.000 
karyawannya. Lho lho. Lalu rencana dana talangan Rp 8,5 triliun itu 
sesungguhnya untuk menyelamatkan siapa?Menyelamatkan Garuda, menyelamatkan 
karyawan atau jangan-jangan menyelamatkan 40-an persen saham yang dimiliki 
swasta. Yang lebih membingungkan, dari rangkaian derita karyawan Garuda ini, 
terjadi karena menteri tidak menjalankan permintaan presiden? Atau dirut tidak 
menjalankan permintaan menterinya? Sulit menjawab ini, tapi terlepas siapa yang 
membangkang pada siapa, yang pasti sudah banyak karyawan Garuda yang di-PHK, 
dirumahkan dan menderita karena gaji dipotong dan ditunda. Apakah PHK hanya 
dilakukan Garuda? Tidak ! Selain 181 pilot Garuda, PHK terhadap 359 pekerja 
juga terjadi di PT Aerofood (anak Perusahaan Garuda), 490 pekerja di PT INKA 
dan aroma PHK massal juga tercium akan segera susul menyusul terjadi di 
berbagai BUMN lainnya. Mandiri misalnya sudah lempar wacana hanya 
mempertahankan 20 persen kantor cabang dan menutup sekitar 2.000 kantor cabang. 
Andai tiap kantor cabang ada 5 karyawan saja berarti yang terancam PHK bisa 
jadi sampai 10.000 orang. Pengurangan BUMN dari 141 menjadi 107 lalu menjadi 
80-an BUMN, penutupan anak dan cucu BUMN yang sebentar lagi dilakukan juga 
semuanya sangat potensial berbua
h PHK. Presiden Jokowi menegaskan berkali kali untuk berusaha agar tidak 
terjadi PHK karena sebab apapun tapi BUMN justru berancang ancang perampingan 
dengan konsekuensi PHK massal di masa pandemik. Kembali pada rencana dana 
talangan Rp 152 triliun. Dana itu digunakan untuk apa sesungguhnya? Kalau untuk 
tetap membuat BUMN bertahan hidup kenapa ketika sudah ada rencana dana lalu 
terjadi PHK sekian banyak? Kalau ada dana talangan harusnya yang sekarat bisa 
di buat kembali sehat, yang sudah sempoyongan bisa kembali berdiri tegak. Ini 
yang terjadi justru sebaliknya, dana talangan cair tapi sekian banyak anak cucu 
justru ditutup. Membingungkan dan sulit mencari jawabannya, atau jangan jangan 
apa yang disampaikan oleh salah satu anggota DPR Komisi XI, Kamrrusamad, 
mungkin saja benar yaitu untuk memuluskan pencapresan 2024. Kalau dibilang 
untuk pencapresan nanti bisa debatable, tapi serangkaian video dari pembagian 
sembako sampai deklarasi di hotel tentunya agak sulit untuk dibantah. Apalagi 
konon rumornya, ada yang membuat deklarasi untuk mendukung seorang menteri jadi 
capres 2024 lalu tidak lama kemudian diangkat jadi komisaris salah satu BUMN. 
Hmmm teori baru nih, cara cepat jadi komisaris. Sebelum masuk pada sedikit 
cerita dan angka terkait UMKM maka ada baiknya juga situasi Covid-19 menjadi 
momentum yang bagus untuk Presiden melihat lebih jernih kinerja para menterinya 
dan bisa menggunakan hak konstitusionalnya untuk melakukan evaluasi kabinet. 
Setelah cerita dan angka tentang BUMN, Sekarang mari kita bandingkan dengan 
UMKM. Tahun 1998 ketika terjadi krisis ekonomi banyak perusahaan besar yang 
tutup, bank bangkrut, pabrik gulung tikar. PHK merebak di mana mana. Ketika 
situasi semakin buruk dan mencekam, para pengusaha besar itu berlomba cari aman 
dengan pergi keluar negeri. Siapa pelaku ekonomi yang tersisa dan bertahan di 
Indonesia saat itu? Jawabannya adalah UMKM, mulai dari pedagang kaki lima, 
warteg, warung kelontong, penjual sayur keliling, pedagang bubur ayam dan 
sektor usaha mikro dan kecil lainnya. Ya. Mereka yang tersisa, yang setia 
menjaga agar roda ekonomi negara tetap berputar. Ketika situasi kembali 
membaik, banyak pengusaha besar itu pulang lagi ke Indonesia dan berdiri di 
depan seolah pahlawan, kembali berkoar, atur sana atur sini. Situasi ekonomi 
serupa sedang terjadi hari ini, pabrik, kantor, bank, mall, bioskop, tempat 
hiburan semua tutup. Ekonomi melemah, PHK menurut kadin sudah tembus 6 juta 
orang, defisit mencapai Rp 1.039 triliun. Serupa tapi tak sama dengan tahun 
1998 karena krisis terjadi dari sebab yang berbeda. Untuk ke sekian kalinya 
UMKM kembali membuktikan keperkasaan, ketangguhan dan kepahlawanannya. Sudah 
hampir 4 bulan situasi Darurat Corona diberlakukan, BUMN menjerit, pengusaha 
besar menjerit, tapi UMKM walau terseok terus berjalan tanpa lobi lobi, UMKM 
membuat roda ekonomi terus berputar di bawah, transaksi jual beli tetap 
terjadi, perputaran uang terus tidak berhenti di tangan para pelaku UMKM. Saat 
truk peti kemas hilang dari jalan, di gang gang dengan sepeda atau motor pelaku 
UMKM tetap mengirim tahu, tempe, kue rumahan, jamu, sayur, telur, dan bahan 
kebutuhan pokok tetap beredar dari tangan ke tangan, dari warung di rumah 
kontrakan, dari kampung ke kampung. Tangguh luar biasa! Percaya atau tidak, mau 
tertawa meremehkan atau tidak, terserah, tapi data menunjukan bahwa usaha mikro 
di Indonesia mempekerjakan tidak kurang dari 107 juta orang, usaha kecil 5,7 
juta orang dan usaha menengah 3,7 juta orang. Mereka para pelaku UMKM 
berkeringat, bekerja tanpa ribut ribut, tanpa tim sosmed untuk populerkan citra 
diri. Mereka bekerja dalam kesunyian dan keheningan tanpa puja puji tapi nyata 
menyelamatkan negara ini. Bagaimana dengan para pengusaha besar itu? Para 
pengusaha besar bisa jadi termasuk BUMN yang kerap melobby kemudahan, 
fasilitas, pengurangan pajak, pinjaman berskala besar dengan bunga rendah, dana 
talangan dan kemudahan kemudahan lainnya itu ternyata dalam data hanya 
mempekerjakan 3,58 juta pekerja atau sekitar 3 persen dari total pekerja se 
Indonesia. Sangat sedikit tidak berbanding seimbang dengan semua tuntutan dan 
permintaan ini itu mereka. Huffff. Andaikata Program Padat Karya yang di 
canangkan Presiden Jokowi di implementasikan dengan membagikan Rp 152 Trilyun 
itu untuk modal kerja masing masing Usaha Mikro melalui KUR Mikro dan kecil 
sebesar Rp 25 juta saja, maka setidaknya akan ada 6 juta usaha Mikro dan Kecil 
yang bergeliat dan lepas dari sesak nafasnya. Andai tiap usaha mikro dan kecil 
itu mempekerjakan 3 orang saja maka paling tidak ada 18 juta lapangan kerja 
untuk 18 juta orang. Itu kalau Rp 152 triliun, nah kebayang gak kalau 50 
persen, dari dana PEN yaitu Rp 320 triliun jadi KUR Mikro yang di salurkan 
langsung, sekali lagi langsung ke UMKM tanpa mampir kanan kiri, maka paling 
tidak ada 12.800.000 UMKM akan bangkit lalu akan ada setidaknya 38.400.000 
lapangan kerja kembali terbuka, 38.400.000 orang kembali mendapatkan pekerjaan. 
Sebagai catatan tambahan, Menurut Direktur Utama Pusat Investasi Pemerintah, 
hingga saat ini Kredit Macet/Bermasalah atau NPL (Non Performing Loan) dari 
Kredit Ultra Mikro ternyata hanya 0 persen. Mungkin ada yang bisa carikan data 
pembanding berapa besaran NPL dari pengusaha pengusaha besar? Sebagai penutup, 
Mungkin ada yang bertanya, "apa maksud tulisan ini?" Apakah Adian sudah tidak 
dukung Jokowi? Hmmmm saya ini cuma skrup kecil dari mesin kampanye besar. Saya 
sudah ikut hore hore mendukung Jokowi sejak Jokowi menuju ibukota untuk menjadi 
gubernur, lalu Pilpres 2014 dan Pilpres 2019, dan sampai sekarang saya tetap 
mendukung Jokowi dan belum terpikir untuk meninggalkannya apalagi dalam situasi 
sulit saat ini Lalu kenapa saya menulis ini? Ya karena saya mau mengambil peran 
menjaga Jokowi dengan cara yang berbeda, bukan dengan memujinya setinggi langit 
tapi mengingatkannya terus menerus dengan beragam cara, walaupun mungkin cara 
saya membuat banyak orang di sekeliling Jokowi merasa gerah dan mungkin 
memusuhi saya dengan berbagai cara termasuk mungkin menggunakan Buzzer. rmol.id 
Adian Napitupulu Sekjen PENA 98, yang juga anggota Komisi VII DPR (Ant/X-15)

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/read/detail/320225-bahas-bumn-dengan-presiden-adian-tulis-opini-soroti-erick-thohir







Kirim email ke