-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1854-selamatkan-pertanian



Jumat 12 Juni 2020, 05:00 WIB 

Selamatkan Pertanian 

Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Selamatkan Pertanian MI/Ebet Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group. 
PEMERINTAH telah memutuskan memberi kesempatan kepada sembilan sektor untuk 
memulai kembali kegiatan mereka. Kesembilan sektor tersebut dipilih karena 
risiko penyebaran covid-19 rendah, tetapi memberi dampak yang besar kepada 
pembukaan lapangan pekerjaan dan signifikan kepada perekonomian. Sembilan 
sektor itu ialah pertanian dan peternakan, perkebunan, perikanan, industri 
manufaktur, konstruksi, logistik, transportasi barang, pertambangan, dan 
perminyakan. Pilihan pemerintah secara bertahap membuka kegiatan masyarakat 
produktif dan aman covid-19 merupakan langkah yang tepat. Kita memang harus 
menemukan model yang tepat sebelum semua kegiatan diperbolehkan untuk bergerak 
lagi. Dengan langkah bertahap ada kesempatan untuk melakukan penyesuaian, 
perbaikan dengan menerapkan sistem monitoring dan evaluasi. Dashboard yang 
dimiliki Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 memang bisa memantau 
penyebaran virus di seluruh Indonesia setiap hari. Dari pengolahan data yang 
dilakukan setiap minggu, maka bisa diketahui perubahan status di setiap 
kabupaten/kota. Pekan ini misalnya, sistem ‘Bersatu Lawan Covid-19’ mencatat 
perubahan 10 status kabupaten/kota dari zona hijau menjadi zona kuning. Apabila 
perubahannya menuju oranye atau merah, kabupaten/kota akan kembali ditutup dan 
dilarang melakukan kegiatan masyarakatnya. Ini tentunya menjadi pemacu kepada 
Ketua Gugus Tugas di kabupaten/kota agar selalu mengingatkan warganya untuk 
disiplin menerapkan protokol keamanan. Kalau semua komponen yang ada di 
kabupaten/kota tidak mengindahkan protokol kesehatan, mereka semua akan kembali 
ke kehidupan yang penuh dengan pembatasan. Pemberian kesempatan kepada sembilan 
sektor untuk memulai kembali kegiatan mereka sangat baik untuk membangun 
harapan masyarakat dan sekaligus menyelamatkan negara ini, terutama pembukaan 
sektor pertanian baik itu pertanian, peternakan, perikanan, dan perkebunan 
sangat berkaitan dengan ketersediaan pangan nasional. Hasil kajian Institut 
Pertanian Bogor pantas membukakan kesadaran kita semua. Pandemi covid-19 
sekarang ini sangat memukul sektor pertanian. Kalau sektor ini tidak 
diselamatkan, yang dipertaruhkan adalah eksistensi negara ini. Mengapa? Hasil 
produk pertanian bisa turun sampai minus 10,4% karena pembatasan orang untuk 
melakukan kegiatan di sektor pertanian. Kalau sekarang kegiatan pertanian 
diperbolehkan untuk dilakukan kembali, dibutuhkan stimulus kepada para petani. 
Dengan stimulus itu pun, produksi pertanian tidak bisa terhindarkan akan tetap 
turun minus 2,86%. Bagaimana dengan jumlah lapangan pekerjaan? Jumlah orang 
yang bisa diserap di sektor pertanian kalau tidak dilakukan pemberian stimulus 
akan berkurang sampai 17,78%. Kalau pemerintah memberikan stimulus, pengurangan 
daya serap tenaga kerja bisa sedikit diperbaiki, tetapi tetap terjadi penurunan 
sebesar 7,75%. Yang paling dikhawatirkan ialah menurunnya daya beli petani 
sebab 60% penduduk Indonesia masih hidup dari sektor pertanian. Kalau daya beli 
mereka menurun tajam, kemampuan konsumsi akan ikut menurun dan ini akan 
berdampak kepada industri lain. Untuk itulah pemerintah harus memberikan 
stimulus kepada keluarga petani. Hal itu harus dilakukan dua cara sekaligus, 
yaitu pertama, memberikan bantuan langsung tunai kepada keluarga petani agar 
mereka masih memiliki daya beli. Kedua, memberi stimulus berupaya modal untuk 
input produksi pertanian mereka. Hasil analisis yang dilakukan peneliti IPB, 
apabila stimulus tidak diberikan, daya beli petani akan menurun sampai 10,55%. 
Kalau pemerintah bisa secara tepat memberi stimulus, bukan hanya penurunan daya 
beli bisa ditekan sampai 3,9%, tetapi bahkan pada akhir tahun ini daya beli 
petani masih bisa tumbuh sebesar 0,63%. Kita tidak pernah bosan mengingatkan 
pemerintah untuk fokus kepada sektor pertanian karena ini merupakan kekuatan 
sekaligus kelemahan kita. Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah, yang 
kalau bisa kita optimalkan bisa memberikan kesejahteraan kepada seluruh rakyat. 
Sayang, sektor pertanian setelah swasembada pangan 1984 sedikit dilupakan dan 
akibatnya kita terlalu tergantung pada impor. Sekarang jangan lupa, dunia 
dihadapkan kepada kemungkinan penurunan produksi pangan akibat pandemi 
covid-19. Semua negara fokus kepada pemenuhan kebutuhan negaranya sendiri. 
Kalau tidak mampu memenuhi kebutuhan sendiri, kita akan dihadapkan kekurang an 
pangan dan itu akan memberatkan rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangannya. 
Kelemahan yang kita miliki, krisis pangan bisa berimbas kepada krisis politik. 
Sejak zaman Orde Lama, pemerintahan bisa dipaksa diturunkan ketika tidak mampu 
memenuhi kebutuhan rakyat. Pemerintah Orde Baru bahkan berani membayar at all 
cost demi memenuhi kebutuhan pangan rakyat. Sekarang ini seharusnya menjadi 
momentum bagi kita untuk membangun kembali sektor pertanian. Kalau kita 
konsentrasi penuh kepada pembenahan sektor pertanian, ini bisa menjadi 
pendorong kebangkitan ekonomi pascapandemi covid-19. Kita memiliki pasar yang 
besar untuk dijadikan pijakan membangun pertanian. Bahkan dengan itulah kita 
bisa ikut memberi ‘makan’ kepada dunia.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1854-selamatkan-pertanian






Kirim email ke