https://www.harianaceh.co.id/2020/06/13/kesehatan-masyarakat-dipertaruhkan-sejumlah-kalangan-ragukan-new-normal/


*Kesehatan Masyarakat Dipertaruhkan, Sejumlah Kalangan Ragukan New Normal*

 *Redaksi HAI* <https://www.harianaceh.co.id/author/redaksi/>

 13/06/2020 | 09:00 WIB
<https://www.harianaceh.co.id/2020/06/13/kesehatan-masyarakat-dipertaruhkan-sejumlah-kalangan-ragukan-new-normal/>

*Penulis:** Khusnawaroh***

PEMERINTAH pusat saat ini tengah mewacanakan penetapan new normal atau
hidup normal baru di tengah pandemi virus corona (COVID-19). Namun,
kebijakan ini diragukan oleh sejumlah pihak baik dari kalangan pengamat
ekonomi, pemerhati kesehatan, maupun pengamat sosial.

Pemberlakukan kebijakan new normal di saat sekarang ini dianggap belum
dapat memperbaiki kondisi ekonomi, bahkan kesehatan masyarakat jadi
taruhannya. Kebijakan *new normal* dianggap belum menjadi solusi, apalagi
virus corona terus menular. Oleh karena itu, pemerintah disarankan menunda
pemberlakuan kebijakan new norma


Seperti halnya berita yang dilansir *zonasultra.com <http://zonasultra.com>*.
tentang kebijakan new normal atau hidup normal baru di tengah pandemi virus
corona yang telah diungkapkan pemerintah pusat saat ini sangatlah tidak
tepat, disebabkan situasi penyebaran COVID-19 yang masih mengalami kenaikan
secara komulatif. Seperti pandangan kesehatan pun meragukan hal itu.

Pemerhati Kesehatan Sulawesi Tenggara dr. Yusuf Hamra menjelaskan, sangat
penting bagi pemerintah harus memperhatikan kurva dan grafik pertambahan
kasus positif baru di Indonesia sebelum benar-benar menerapkan wacana *new
normal* tersebut. Karena apabila pertambahan tersebut melesat akan
menimbulkan masalah baru yang mana keinginan menurunkan jumlah kasus malah
sebaliknya kasus baru semakin banyak.

Mencontoh beberapa negara yang berhasil menerapkan lockdown dan aktivitas
masyarakat sudah pulih kembali rata-rata sebelumnya mereka telah menerapkan
lockdown menyeluruh dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan, seperti
Vietnam lockdown sejak April dan saat ini sudah melaksanakan *new normal*.
Sementara di Indonesia, kata Yusuf jauh berbeda. (*Zonasultra, Senin 1 Juni
2020*)



Hal senada pun diragukan oleh  Pengamat Sosial Universitas Halu Oleo Darmin
Tuwu menjelaskan, kebijakan pemerintah untuk menerapkan *new normal* di
tengah pademi corona saat ini belum tepat.  Pasalnya kondisi masyarakat
saat ini masih belum stabil atau pulih sejak wabah COVID-19 masuk di 34
provinsi di Indonesia.

Menurutnya, kebijakan *new normal* merupakan desakan pemerintah saja untuk
segera melakukan pemulihan ekonomi setelah tiga bulan bergelut dengan wabah
corona, akan tetapi kesehatan masyarakat belum pulih secara normal dan
apabila itu dipaksakan dapat menimbulkan masalah baru.

“Memang pilihannya berat, tapi alangkah baiknya tahan dulu bersabar dulu
sampai benar-benar virus ini bisa dikendalikan. Sampai saat ini kan
pemerintah belum bisa melakukan itu, kita masih berperang melawan corona
tiba-tiba kita diminta berdamai,” katanya. (*Zonasultra, Senin 1 Juni 2020*)

Kirim email ke