-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1858-komunisme


Rabu 17 Juni 2020, 05:00 WIB 

Komunisme 

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Komunisme MI/Ebet Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group. PARTAI Komunis 
Indonesia melakukan pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda pada 
1926-1927. Pemberontakan itu berlangsung di sejumlah daerah di Indonesia, yakni 
Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatra Barat. 
Sejarah mencatatnya sebagai pemberontakan pertama yang dilakukan para perintis 
kemerdekaan. Pemberontakan PKI itu kiranya menjadi pemberontakan pertama yang 
mengatasnamakan kemerdekaan Indonesia. Betul sebelumnya kita mengenal para 
pahlawan seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Patimura, Tjut Nyak Dien, yang 
memberontak terhadap Belanda, tetapi semua pemberontakan itu mengatasnamakan 
lokalitas atau kedaerahan. Pemberontakan PKI itu gagal. Pemerintah Hindia 
Belanda menumpasnya. Namun, sebagai yang pertama yang mengatasnamakan 
Indonesia, pemberontakan ini kiranya ‘menginspirasi’ berbagai upaya perintisan 
kemerdekaan Indonesia. Itulah sebabnya dikatakan pemberontakan PKI 1926-1927 
punya arti besar dalam sejarah Indonesia modern. Apalagi, dalam peristiwa itu 
kaum komunis dan agama bekerja sama melawan penguasa Hindia Belanda. Berbeda 
dengan pemberontakan PKI 1926-1927 ketika kaum komunis bahu-membahu dengan kaum 
agama, pemberontakan PKI di Madiun pada 1948 justru menjadikan kalangan agama 
sebagai sasaran, selain tentara, pejabat pemerintah, dan masyarakat. 
Pemberontakan PKI 1948 itu juga gagal. TNI dan rakyat menumpasnya. PKI 
dikatakan berada di balik kudeta 30 September 1965. Kudeta itu gagal. 
Pangkostrad Mayjen Soeharto bergerak cepat menumpasnya. Para tokohnya diburu 
dan ditangkapi, beberapa di antaranya kelak dijatuhi hukuman mati. Anggota dan 
simpatisannya juga ditangkapi bahkan dibasmi. Rakyat menuntut PKI dibubarkan. 
MPRS menerbitkan ketetapan pembubaran PKI. Di tingkat dunia, komunisme sebagai 
ideologi mengalami kegagalan dengan bubarnya Uni Soviet pada 1991. 
Negara-negara yang masih mempertahankan ideologi komunisme bisa dihitung dengan 
jari. Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba, hanyalah segelintir negara 
berideologikan komunisme. Itu pun, dalam kasus Tiongkok dan Vietnam, ideologi 
politik komunisme tidak murni lagi, bercampur dengan ideologi ekonomi 
kapitalisme. Komunisme bisa dikatakan proyek gagal, produk afkir, baik di Tanah 
Air maupun mancanegara. Siapa pula yang sudi mereproduksi ideologi gagal? Siapa 
pula yang mau bernostalgia mereproyeksi ideologi afkir? Akan tetapi, kita amat 
khawatir ada yang diam-diam ingin menghidupkan kembali komunisme. Kita bahkan 
berkeyakinan ideologi komunisme senantiasa mengendap-endap mengintai kita dan 
tiba-tiba menyusup ketika kita lengah. Kita menyebutnya bahaya laten komunisme, 
proyek laten komunisme. Tidak mengherankan ketika Ketetapan MPRS Tahun 1966 
tentang pelarangan komunisme tidak ada dalam konsideran Rancangan Undang-Undang 
Haluan Ideologi Pancasila banyak yang bereaksi keras. Banyak yang 
mengkhawatirkan absennya Tap MPRS Tahun 1966 itu bakal membuka peluang bagi 
kebangkitan kembali ideologi komunisme. Kita sukses mencegah bahaya laten 
komunisme bangkit kembali melalui RUU HIP. Parpol-parpol setuju dan mendorong 
Tap MPRS pelarangan komunisme dicantumkan sebagai konsideran dalam RUU HIP itu. 
Organisasi keagamaan setali tiga uang. Pemerintah bahkan memutuskan menunda 
pembahasannya. Siapa yang ingin membangkitkan ideologi komunisme yang afkir itu 
dengan tidak mencantumkan TAP MPRS Tahun 1966 di konsideran RUU HIP, kita tak 
tahu. Namanya juga bahaya laten, yang mendatangkan bahaya juga laten, tak 
tampak, tak berwujud, serupa hantu. Ideologi komunisme sering disebut setan, 
hantu, dan genderuwo. Dia hanya bermain-main dalam bayangan ketakutan kita. 
Komunisme dianggap manjur digunakan sebagai alat menakutnakuti, termasuk 
menakut-nakuti rakyat untuk tidak memilih seorang kandidat presiden. Rakyat 
ditakut-takuti sang kandidat akan membangkitkan ideologi komunis bila terpilih 
kelak. Pada Pemilu Presiden 2014, Jokowi dikatakan komunis, anak keturunan ayah 
PKI, supaya rakyat takut memilihnya. Komunisme bahkan dianggap dosa turunan. 
Bila orangtua komunis, anak, cucu sampai cicit, otomatis komunis. Pada Pemilu 
2019, beredar foto mirip Jokowi dewasa berada di dekat podium tempat tokoh PKI 
DN Aidit sedang berpidato. Foto itu diambil ketika DN Aidit berpidato di 
hadapan massa PKI pada 1955. Jokowi lahir 1961. Bayangkan, bahkan orang belum 
lahir pun bisa dikatakan PKI. Begitulah, komunisme direproduksi, dibangkitkan 
kembali, kiranya lebih demi tujuan politis, pada momen politik tertentu seperti 
pilpres. Namun, serupa proyek-proyek sebelumnya, proyek politik komunisme juga 
gagal. Toh, rakyat tidak percaya sang kandidat komunis dan sebagian besar 
memilihnya menjadi presiden dua periode.

Sumber: https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1858-komunisme






Kirim email ke