Mengapa Politisi AS Tak Segan-segan Hantam Media?
2020-06-17 12:57:05 http://indonesian.cri.cn/20200617/3b4f6195-6d3a-1e75-379b-53f4b497d82c.html
Media AS baru-baru ini memberitakan, sebuah dokumen intern diumumkan oleh CDC AS. Dokumen tersebut mengutip kecaman Twitter Gedung Putih terhadap Suara Amerika atau Voice of America yang membantu propaganda Tiongkok dan menginstruksikan lembaga media CDC untuk menolak semua permintaan peliputan yang berhubungan dengan Suara Amerika. Setelahnya, Direktur dan Wakil Direktur Suara AS mengumumkan peletakan jabatan mereka dan menyebut bahwa atasan berhak mencopot jabatan mereka. Hal Ini secara umum dianggap bahwa pemerintah AS sekali lagi melakukan aksi pembalasan terhadap lidahnya sendiri setelah secara terbuka mengecam Suara Amerika yang membela Tiongkok pada bulan April lalu.
Rupanya, sejumlah politisi AS kini merasa panas. Untuk menutupi kelemahannya dalam penanggulangan wabah dan menimpakan tanggung-jawab kepada Tiongkok, mereka sudah sampai tahap gila-gilaan tanpa menghiraukan siapapun. Seperti yang telah diketahui oleh khalayak umum, sebagai media yang dibiayai pemerintah AS, Suara Amerika sangat giat menyerang dan mencoreng Tiongkok, boleh dikatakan merupakan anak kandung pemerintah AS. Apa gerangan yang membuat keretakan hubungan ayah dan anak itu?
Penyebabnya ialah, pada awal bulan April, Suara Amerika dalam sebuah berita memberikan pengakuan terhadap langkah Lockdown Kota Wuhan Tiongkok sebagai teladan keberhasilan pencegahan dan pengontrolan wabah. Gedung Putih marah besar dan menuduh Suara Amerika membantu propaganda Tiongkok dengan uang para para pembayar pajak Amerika. Kata-kata itu mengundang kemarahan Gedung Putih, hal ini tak saja mengungkapkan wajah asli Suara Amerika, namun juga dengan jelas menunjukkan kemunafikan dan standar ganda “kebebasan beropini” pemerintah AS.
Padahal, tidak saja Suara Amerika. Selama wabah, banyak media yang mengalami serangan pemerintah AS. Dari NBC, CNN, New York Times sampai Fox News, begitu mereka mengemukakan pemberitaan yang objektif pasti akan diserang pemimpin AS.
Tidak hanya itu, politisi AS juga mencoba membatasi hak pemeriksaan media sosmed melalui perintah eksekutif dan sepenuhnya menjadikannya sebagai alat untuk menggaet kepentingan politiknya. Twitter baru-baru ini mengumumkan menutup 17 akun yang disebutnya berhubungan dengan pemerintah Tiongkok, dan menyerang mereka dengan menuduh menyebarkan opini yang menguntungkan geopolitik Tiongkok.
Yang ironic adalah, sebuah laporan survei suatu lembaga peneitilan Australia menunjukkan, sejak akhir bulan Maret lalu, sejumlah orang yang terorganisir menyebarkan konspirasi di Twitter dengan memanfaatkan akun robot menyatakan bahwa virus corona-19 merupakan senjata biologis yang dibuat sengaja oleh Institut Virologi Wuhan, sedangkan sejumlah kelompok yang menyampaikan berita bohong itu berhubungan dengan para pendukung Partai Demokratik dan kekuatan sayap kanan AS. Akan tetapi, Twitter sejauh ini belum memberikan tanggapan. Di satu pihak, yang ditutup adalah sejumlah akun yang secara objektif menceritakan prestasi Tiongkok dalam penanggulangan wabah, di pihak lain, Twitter akun robot dengan terang-terangan menciptakan kebohongan. Hal ini mengundang kesangsian publik. Apakah para politisi AS kembali maling teriak maling?
Sayang sekali, upaya sejumlah politisi AS hanya sia-sia belaka. Mereka dengan sekuat tenaga campur tangan, menutupi pendapat profesional dan informasi yang benar, dengan seribu satu akal menimpakan kesalahan kepada orang lain dan mengalihkan perhatian umum, mencoba menggaet kepentingan politik sendiri dengan dalih penghidupan kembali ekonomi, tapi penanggulangan wabah dilalaikan dengan begitu saja. Berkenaan dengan hal itu, wartawan AS Michelle Goldberg dalam artikelnya mengkritik bahwa seiring dengan merebaknya virus, peremehan pemerintah terhadap pengetahuan profesional dan sikap loyalitas yang membuta babi terhadap kemampuan teknologi itu tengah menjadi ancaman yang lebih langsung terhadap kesehatan publik AS.
