https://www.beritasatu.com/keuangan/652087/jokowi-indonesia-bisa-lewati-middle-income-trap


*Jokowi: Indonesia Bisa Lewati Middle Income Trap*

*Jakarta, Beritasatu.com* - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan
Indonesia berpeluang besar melewati *middle income trap *atau terjebak
menjadi negara kelas menengah untuk periode yang lama. Apalagi saat ini,
Indonesia telah masuk menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas.

Jokowi memaparkan, pada 1 Juli 2020, Bank Dunia mengumumkan pendapatan
nasional bruto *(gross national income*/GNI) per kapita Indonesia naik dari
posisi sebelumnya 3.840 dolar Amerika menjadi 4.050 dolar Amerika. Dengan
demikian, Indonesia kini dikategorikan sebagai negara berpenghasilan
menengah atas (*upper middle income country*) dari sebelumnya negara
berpenghasilan menengah bawah (*lower middle income country*).

Saat menyampaikan sambutannya pada peresmian pembukaan konferensi Forum
Rektor Indonesia (FRI) tahun 2020 yang digelar secara virtual, Presiden
Jokowi menyampaikan capaian kenaikan status Indonesia tersebut patut
disyukuri oleh seluruh bangsa.





"Capaian ini patut kita syukuri bahwa kita berjalan ke arah yang benar,
bahwa kita harus terus melangkah maju menuju ke negara berpenghasilan
tinggi, dengan mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia," kata Presiden Jokowi dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa
Barat, Sabtu (4/7/2020).

*Baca juga: **Bank Dunia Naikkan Peringkat RI Jadi Negara Menengah Atas
<https://www.beritasatu.com/ekonomi/651327/bank-dunia-naikkan-peringkat-ri-jadi-negara-menengah-atashttps://www.beritasatu.com/ekonomi/651327/bank-dunia-naikkan-peringkat-ri-jadi-negara-menengah-atas>*

Meski demikian, lanjut Jokowi, untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi
bukan hal yang mudah. Hal tersebut terlihat dari banyaknya negara-negara
dunia ketiga yang sudah puluhan tahun bahkan mendekati satu abad hanya
berhenti sebagai negara berpenghasilan menengah, atau terjebak pada *middle
income trap.*

"Itulah yang tidak kita inginkan. Pertanyaannya, apakah kita mempunyai
peluang untuk keluar dari *middle income trap*? Saya jawab tegas, kita
punya potensi besar. Kita punya peluang besar untuk melewati* middle income
trap*. Kita punya peluang besar untuk menjadi negara berpenghasilan
tinggi," ujar Jokowi.

Kepala Negara mengungkapkan, untuk mencapai hal tersebut tentu dibutuhkan
prasyarat. Beberapa di antaranya yaitu infrastruktur yang efisien yang
mulai dibangun oleh pemerintah, dan cara kerja cepat yang kompetitif dan
berorientasi pada hasil. Untuk itu, perlu diupayakan peningkatan kualitas
sumber daya manusia (SDM) yang unggul, produktif, inovatif, dan kompetitif.

"Di sinilah posisi strategisnya pendidikan tinggi, yaitu mengembangkan ilmu
pengetahuan dan teknologi, mencetak generasi muda yang produktif dan
kompetitif yang selalu berjuang untuk kemanusiaan dan untuk kemajuan
Indonesia," terang Jokowi.

Mantan Gubernur DKI Jakarta menjelaskan tugas mulia pendidikan tinggi
tersebut tentu tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa-biasa saja.
Menurutnga, sudah sepatutnya dunia pendidikan tinggi mengembangkan cara dan
strategi baru yang *smart-short-cut* dan *out of the box*. Sehingga tidak
hanya disibukkan dengan urusan administrasi semata.

Jokowi menyadari permasalahan pendidikan tinggi sangat kompleks. Ribuan
anggota Forum Rektor Indonesia (FRI) juga memiliki kemampuan yang
bervariasi, dari yang sudah berkompetisi di tingkat dunia, hingga yang
masih berjuang dengan masalah kekurangan dosen, perpustakaan tidak layak,
dan kelas yang tidak memadai. Justru karena itulah, cara-cara yang luar
biasa harus terus dikembangkan.

"Pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga bagi kita. Krisis
telah memaksa kita untuk mengembangkan cara-cara baru. Membangun
norma-norma baru membangun standar kebaikan dan kepantasan yang baru,"
jelas Jokowi.

"Kuliah daring yang selama ini sangat lamban dijalankan sekarang sangat
berkembang. Kuliah daring telah menjadi *new normal* bahkan menjadi *next
normal*. Saya yakin akan tumbuh normalitas-normalitas baru yang lebih
inovatif dan lebih produktif," tambah Jokowi.

Kirim email ke