Jokowi: Indonesia Bisa Lewati/Middle Income Trap/
Jokowi: Indonesia Bisa Lewati Middle Income Trap
Sejumlah pekerja memakai masker waktu pulang kerja di kawasan Jalan
Sudirman, Jakarta, Kamis, 4 Juni 2020. (Foto: Beritasatu Photo / Joanito
De Saojoao)
Lenny Tristia Tambun / FMBSabtu, 4 Juli 2020 | 13:00 WIB
*Jakarta, Beritasatu.com*- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan
Indonesia berpeluang besar melewati/middle income trap/atau terjebak
menjadi negara kelas menengah untuk periode yang lama. Apalagi saat ini,
Indonesia telah masuk menjadi negara berpenghasilan menengah ke atas.
Jokowi memaparkan, pada 1 Juli 2020, Bank Dunia mengumumkan pendapatan
nasional bruto/(gross national income//GNI) per kapita Indonesia naik
dari posisi sebelumnya 3.840 dolar Amerika menjadi 4.050 dolar Amerika.
Dengan demikian, Indonesia kini dikategorikan sebagai negara
berpenghasilan menengah atas (/upper middle income country/) dari
sebelumnya negara berpenghasilan menengah bawah (/lower middle income
country/).
Saat menyampaikan sambutannya pada peresmian pembukaan konferensi Forum
Rektor Indonesia (FRI) tahun 2020 yang digelar secara virtual, Presiden
Jokowi menyampaikan capaian kenaikan status Indonesia tersebut patut
disyukuri oleh seluruh bangsa.
"Capaian ini patut kita syukuri bahwa kita berjalan ke arah yang benar,
bahwa kita harus terus melangkah maju menuju ke negara berpenghasilan
tinggi, dengan mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia," kata Presiden Jokowi dari Istana Kepresidenan Bogor, Jawa
Barat, Sabtu (4/7/2020).
*Baca juga: Bank Dunia Naikkan Peringkat RI Jadi Negara Menengah Atas
<https://www.beritasatu.com/ekonomi/651327/bank-dunia-naikkan-peringkat-ri-jadi-negara-menengah-atashttps://www.beritasatu.com/ekonomi/651327/bank-dunia-naikkan-peringkat-ri-jadi-negara-menengah-atas>*
Meski demikian, lanjut Jokowi, untuk menjadi negara berpenghasilan
tinggi bukan hal yang mudah. Hal tersebut terlihat dari banyaknya
negara-negara dunia ketiga yang sudah puluhan tahun bahkan mendekati
satu abad hanya berhenti sebagai negara berpenghasilan menengah, atau
terjebak pada/middle income trap./
"Itulah yang tidak kita inginkan. Pertanyaannya, apakah kita mempunyai
peluang untuk keluar dari/middle income trap/? Saya jawab tegas, kita
punya potensi besar. Kita punya peluang besar untuk melewati/middle
income trap/. Kita punya peluang besar untuk menjadi negara
berpenghasilan tinggi," ujar Jokowi.
Kepala Negara mengungkapkan, untuk mencapai hal tersebut tentu
dibutuhkan prasyarat. Beberapa di antaranya yaitu infrastruktur yang
efisien yang mulai dibangun oleh pemerintah, dan cara kerja cepat yang
kompetitif dan berorientasi pada hasil. Untuk itu, perlu diupayakan
peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang unggul, produktif,
inovatif, dan kompetitif.
"Di sinilah posisi strategisnya pendidikan tinggi, yaitu mengembangkan
ilmu pengetahuan dan teknologi, mencetak generasi muda yang produktif
dan kompetitif yang selalu berjuang untuk kemanusiaan dan untuk kemajuan
Indonesia," terang Jokowi.
Mantan Gubernur DKI Jakarta menjelaskan tugas mulia pendidikan tinggi
tersebut tentu tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa-biasa saja.
Menurutnga, sudah sepatutnya dunia pendidikan tinggi mengembangkan cara
dan strategi baru yang/smart-short-cut/dan/out of the box/. Sehingga
tidak hanya disibukkan dengan urusan administrasi semata.
Jokowi menyadari permasalahan pendidikan tinggi sangat kompleks. Ribuan
anggota Forum Rektor Indonesia (FRI) juga memiliki kemampuan yang
bervariasi, dari yang sudah berkompetisi di tingkat dunia, hingga yang
masih berjuang dengan masalah kekurangan dosen, perpustakaan tidak
layak, dan kelas yang tidak memadai. Justru karena itulah, cara-cara
yang luar biasa harus terus dikembangkan.
"Pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga bagi kita. Krisis
telah memaksa kita untuk mengembangkan cara-cara baru. Membangun
norma-norma baru membangun standar kebaikan dan kepantasan yang baru,"
jelas Jokowi.
"Kuliah daring yang selama ini sangat lamban dijalankan sekarang sangat
berkembang. Kuliah daring telah menjadi/new normal/bahkan menjadi/next
normal/. Saya yakin akan tumbuh normalitas-normalitas baru yang lebih
inovatif dan lebih produktif," tambah Jokowi.
Sumber: BeritaSatu.com
Dapat Peringkat dari Bank Dunia, Rizal Ramli: Ini Jebakan, Bunga
Pinjaman akan Ikut Naik
Redaksi HAIRedaksi HAI <https://www.harianaceh.co.id/author/redaksi/>
04/07/2020 | 10:31 WIB
<https://www.harianaceh.co.id/2020/07/04/dapat-peringkat-dari-bank-dunia-rizal-ramli-ini-jebakan-bunga-pinjaman-akan-ikut-naik/>
0
<https://www.harianaceh.co.id/2020/07/04/dapat-peringkat-dari-bank-dunia-rizal-ramli-ini-jebakan-bunga-pinjaman-akan-ikut-naik/#comments>
Ekonom Senior, Rizal Ramli. FOTO/Net
Jakarta – Bank Dunia (World Bank) memberi peringkat baru kepada
Indonesia pada Kamis (2/6/2020). Peringkat baru itu lantaran Indonesia
diaggap sudah mampu naik kelas dari negara dengan pendapatan perkapita
bruto atau Gross National Income (GNI) per kapita sebesar US$ 3.840
menjadi US$ 4.1050 per tahun pada akhir 2019.
Berdasarkan data itu, Bank Dunia menilai Indonesia tidak lagi masuk
dalam daftar negara lower middle income atau negara miskin. Sejak 1 Juli
2020 Indonesia sudah masuk negara berpenghasilan menengah ke atas (upper
middle income) versi Bank Dunia.
Ekonom senior Rizal Ramli menilai pemberian peringkat itu adalah sebuah
jebakan terhadap pemerintah Indonesia.
“RI naik kelas, ini jebakan Bank Dunia,” ujar Mantan Menko Perekonomian
pada era Presiden Gus Dur itu. Seperti diketahui, Bank Dunia memberi
klasifikasi negara berdasarkan GNI per capita dalam 4 kategori.
Pertama negara dengan status low income country yakni dengan PDB per
kapita kurang dari US$ 1.035 per tahun.
Kedua adalah lower middle income yakni dengan PDB per kapita per tahun
antara US$ 1.036-US$ 4.045.
Ketiga, upper middle income yakni dengan US$ 4.046-US$ 12.535 per tahun.
Dan keempat atau tingkatan paling tinggi adalah high income country atau
negara-negara maju dengan PDB per kapita di atas US$ 12.535 per tahun.
Seperti dikutip dari tulisan Syamsul Ashar, dalam Kontan.co.id, dia
mengatakan bahwa Indonesia jangan senang dulu dengan pemberian peringkat
tersebut.
“Dengan status naik kelas dari Bank Dunia ini, layaknya sebuah anggota
klub, atau member pengguna jasa kartu kredit di perbankan kenaikan
status dari silver ke gold tidak gratis. Minimal ini akan mempengaruhi
iuran tahunan kepada lembaga internasional tersebut,” tulisnya.
Sebagai catatan, anggaran negara untuk membayar kontribusi kepada
lembaga internasional sepanjang tahun ini mencapai Rp 71,6 miliar.
Bayaran ini memang tak hanya kepada Bank Dunia, yang bentuknya berupa
pembayaran kontribusi, trust fund, dan dana-dana lain yang diserahkan ke
beberapa organisasi internasional.
Selain itu, tingkat bunga pinjaman dari Bank Dunia juga sangat mungkin
akan ikut naik kepada negara negara yang naik kelas tidak miskin lagi,
karena dianggap kemampuan ekonomi sudah meningkat.
Selanjutnya, dampak nyata yang akan diterima adalah hilangnya sejumlah
fasilitas perdagangan internasional yang sebelumnya bisa didapatkan oleh
negara miskin. Salah satunya adalah fasilitas generalized system of
preferences (GSP) dari Amerika Serikat atas beberapa jenis produk yang
mendapat keringanan bea masuk. (dmz)
Print Friendly, PDF & Email
<https://www.printfriendly.com/print?headerImageUrl=&headerTagline=&pfCustomCSS=&imageDisplayStyle=right&disableClickToDel=0.&disablePDF=0&disablePrint=0&disableEmail=1&imagesSize=full-size&url=https%3A%2F%2Fwww.harianaceh.co.id%2F2020%2F07%2F04%2Fdapat-peringkat-dari-bank-dunia-rizal-ramli-ini-jebakan-bunga-pinjaman-akan-ikut-naik%2F&source=wp>