Kolom Hikmah
Usir Sombong, Stop Pandemi
Abdurachman - detikNews
Selasa, 07 Jul 2020 08:04 WIB
0 komentar
<https://news.detik.com/berita/d-5082432/usir-sombong-stop-pandemi?tag_from=wp_nhl_1#comm1>
SHAREURL telah disalin
<https://news.detik.com/berita/d-5082432/usir-sombong-stop-pandemi?tag_from=wp_nhl_1>
Prof Abdurrachman, Guru Besar UnairFoto: Dokumen pribadi
*Jakarta*-
Ketika Allah swt memerintahkan iblis untuk 'bersujud' kepada Nabi Adam
as., ia menolak,"Saya lebih baik daripadanya"(QS. 7:12). Iblis dari
golongan jin (QS. 18:50) yang ibadahnya sudah beratus tahun. Gara-gara
sombong (QS. 7:13) ia terhempas dari kemuliaan serta kesempurnaan
kedudukan di kalangan para malaikat.
Dunia semakin maju. Ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), termasuk
bidang medis semakin canggih. Manusia seolah mampu menangani segala
persoalan hidup dengan mudah, cepat dan selesai. Apakah benar?
SARS-CoV-2 adalah virus/ribonucleic acid/(RNA) yang berukuran antara
0,15 - 0,2 mikron. Ukuran yang terlalu kecil untuk mata telanjang, masih
juga terlalu kecil untuk mikroskop standar. Diperlukan mikroskop canggih
untuk mencapai ukuran virus ini.
Demi manangani virus yang begitu kecil manusia di seluruh dunia belum
mampu. Betapa pun mereka saling membantu, bekerjasama. Belum bisa.
Buktinya sampai saat ini dunia masih sepakat mengatakan situasi pandemi
global. Nyatanya korban masih berjatuhan. Itu di seluruh dunia.
Mereka yang menjadi korban bukan hanya masyarakat awam, bahkan para
tenaga medis pun berguguran. Para dokter juga para perawat. Layaknya
SARS-CoV-2 sengaja membuat situasi pertarungan yang memastikan dirinya
selalu menang. Pada titik ini sudahkah perasaan perkasa, serba tahu,
canggih di hadapanNya mampu dibuktikan? Tidak, sekali lagi tidak!
Lalu bagaimana? Usaha! Itu benar. Bukankah daya upaya seluruh penduduk
bumi sampai detik ini seolah sudah tertumpah-ruahkan, total? Mengapa si
penyebab Covid-19 seperti tak terusik. Mengayunkan langkah ke mana saja
sesuai maunya. Bergelayutan pada tubuh orang-orang yang berkenan
'menggendongnya".
Sudahkah semua kita "melapor" dalam doa kepadaNya. Apakah sudah
sungguhan, sepenuh hati hingga mencapai tingkat tawakkal?
Jika jawabnya iya berarti pandemi pasti berakhir, mengapa? Bukankah
hanya Dia Yang Maha Kuasa untuk mengijinkan siapa pun dan apa pun
makhluqNya untuk bisa menimbulkan efek? (QS. 2:255)
Bukankah setiap doa pasti dikabulkan (QS. 40:60) jika yang berdoa
benar-benar/yaqin/. Ialah doa dimintakan kepadaNya saja, didasarkan
kepada keimanan, keyakinan yang menghujam di dalam hati (QS. 2:186)
Perhatikan ketika iblis/la'natullaah 'alayhi,/berdoa, "Beri tangguhlah
saya sampai waktu mereka dibangkitkan" (QS. 7:14). Doa ini diijabah,
dikabulkan Allah swt. "Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi
tangguh" (QS. 7:15).
Demikian juga ketika Abu Jahal dan kawan-kawannya bergelayutan
pada/qishwah/(tutup) Ka'bah sambil berdoa,"Ya Allah, jika betul
(al-Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, maka hujanilah kami
dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih"
(QS. 8:32).
Doa mereka pun dikabulkan. Mereka diazab melalui peristiwa Badar lalu
dikubur di sana beberapa waktu setelah mereka majukan doa itu.
Bagi sejumlah besar kita yang mengaku beriman,/yaqin/bahwa Allah swt
pasti mengabulkan doa-doa kita, sudahkan semua kita melakukannya, penuh
iman?
Bukti penuh iman antara lain bersungguh-sungguh dengan doa itu. Ialah
melakukan kegiatan yang sejalan dengan doa itu yang antara lain;
mengindarkan diri dari permainan '/mark up'/harga/rapid test./
Sesuai informasi Laode Ida, salah satu anggota/Ombudsman/Republik
Indonesia, melalui wawancara TV One. Laode Ida menyampaikan, bahwa harga
dasar satu set alat/rapid test/70-an ribu rupiah sedangkan temuan di
lapangan biaya pemeriksaan berkisar antara 300 ribu rupiah sampai satu
jutaan dan itu memaksa. Padahal di beberapa tempat seperti pelabuhan,
bandara seharusnya menyiapkan/rapid test/secara gratis, karena
pemerintah sudah mengeluarkan biaya trilyunan antara lain untuk itu.
Wawancara dipandu oleh Gita Fita pada/slot/siaran berita siang./You
tube/-nya menjadi viral di media sosial/WhatsApp/(WA).
Upaya-upaya ini termsuk usaha memanfaatkan ketakutan dan kecemasan
masyarakat untuk keuntungan pribadi atau kelompok, lanjut Laode Ida.
Informasi senada dengan yang disampaikan Laode Ida, terekam dari diskusi
salah satu grup WA. "Kalau aku ya beli/rapid test/kalau posisiku sebagai
pimpinan program (pinpro). Dengan upah 10 ribu per tes, jika pemesanan
100.000 kan aku sudah dapat 1 milyar. Ini jawaban orang dalam ketika
kutanya mengapa/rapid test/langsung dibeli dalam jumlah besar, bukannya
mendengarkan para ahli bicara".
Perilaku demikian di masa negara sedang menghadapi pandemi bisa
dikategorikan sebagai tindakan khianat kepada masyarakat dan Bangsa.
Pasti perilaku ini termasuk perilaku bukan iman, perilaku ingkar atau kafir.
Kalau demikian, supaya kita memang benar-benar berdoa didasarkan kepada
iman yang sahih, mari kita tinggalkan perilaku di atas, serta perilaku
lain yang justru bukan bertujuan mengusir pandemi. Malah mengambil
untung di masa kesulitan,/na'uudzubillaah/.
Perilaku demikian bisa dikategorikan sombong jika siapa pun yang
melakukannya seolah merasa mampu 'melawan' siksa Tuhan. Aneh, melawan
Covid-19 saja tidak mampu, masa menantang Tuhan?
/Allahumma/, mampukan kami semua ber-/istighfar,/memohon ampunan Engkau,
agar sejak saat ini tidak melakukan apa pun yang berkatageori kafir
(menantang azab Tuhan, sombong). Kami memohon kepada Engkau duhai Allah
agar pandemi benar-benar berakhir, aamiin!
*Abdurachman*
Guru Besar FK Universitas Airlangga
/Past President of Indonesia Anatomists Association/(IAA)
/Past President APICA-6/
/Executive Board Member of APICA/
//
/*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel
menjadi tanggungjawab pengirim. --Terima kasih (Redaksi)--/
*(erd/erd)*