Artikel <https://www.antaranews.com/slug/artikel>
Memupuk rasa aman COVID-19 di pulau terluar Lampung
Oleh Ruth Intan Sozometa KanafiSabtu, 11 Juli 2020 02:27 WIB
https://www.antaranews.com/berita/1604102/memupuk-rasa-aman-covid-19-di-pulau-terluar-lampung
Memupuk rasa aman COVID-19 di pulau terluar Lampung
Penduduk Pulau Pisang tengah melakukan aktivitas keseharian sebagai
nelayan. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)
Bandarlampung (ANTARA) - COVID-19 sebagai pandemi global tidak hanya
menggegerkan kota-kota besar di seluruh dunia, tetapi juga mulai
menyentuh pulau-pulau terluar di Provinsi Lampung salah satunya Pulau
Pisang di Kecamatan Pasar Tengah, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Pulau Pisang yang memiliki luas sebesar 148,82 hektare, serta tercatat
memiliki 1.400 kepala keluarga, dengan waktu tempuh satu jam perjalanan
laut menggunakan jukung (kapal kayu nelayan) dari dermaga Kuala Stabas
Krui, menjadikan pulau yang menjadi destinasi wisata bahari andalan
Kabupaten Pesisir Barat sebagai salah satu pulau terluar di Provinsi
Lampung.
Deburan ombak dan air laut Samudera Hindia yang bergelombang tinggi
menghantam kapal kayu ukuran kecil yang di sebut jukung oleh masyarakat
setempat dan menjadi teman keseharian masyarakat saat melakukan
perjalanan menuju Pulau Pisang.
Meski dengan beragam tantangan dan rintangan, masyarakat Pulau Pisang
tidak begitu merisaukan COVID-19 secara berlebih layaknya masyarakat di
perkotaan.
Rasa aman tersebut tercipta atas adanya kerja keras nan cekatan dari
tenaga kesehatan dan sepuluh orang relawan kesehatan yang melakukan
tindakan preventif secara sigap.
Sejak awal COVID-19 memasuki Provinsi Lampung, dan informasi mengenai
perkembangan kasus COVID-19 mulai meluas di tengah masyarakat, tidak
terkecuali bagi masyarakat Pulau Pisang yang baru saja menikmati aliran
listrik pada bulan April 2019.
Informasi yang masif mengenai perkembangan COVID-19 melalui berbagai
media informasi cetak maupun elektronik sempat membuat masyarakat Pulau
Pisang kebingungan dan mencoba mencari informasi lebih dalam, dari
tenaga kesehatan di Puskesmas Pulau Pisang salah satunya kepada relawan
tenaga kesehatan.
"Masyarakat sempat risau saat awal kasus COVID-19 ada di Provinsi
Lampung, namun kami bersama tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Pulau
Pisang mulai bergerak sigap dengan melakukan sosialisasi kepada
masyarakat dengan mengelilingi pulau," ujar salah seorang relawan tenaga
kesehatan Nusantara Sehat, Muhammad Rio Gumay, di Pesisir Barat.
*Baca juga:Kawasan pulau terluar Pulau Pisang didorong terapkan sanitasi
sehat
<https://www.antaranews.com/berita/1602206/kawasan-pulau-terluar-pulau-pisang-didorong-terapkan-sanitasi-sehat>
Baca juga:Relawan kesehatan Lampung edukasi protokol kesehatan di pulau
terluar
<https://www.antaranews.com/berita/1597346/relawan-kesehatan-lampung-edukasi-protokol-kesehatan-di-pulau-terluar>*
Seorang tenaga kesehatan tengah memeriksa wisatawan yang datang ke Pulau
Pisang. (ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)
*Mengedukasi masyarakat*
Menurut Rio salah seorang relawan kesehatan yang tergabung dalam program
pengabdian dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang akrab
dikenal sebagai program Nusantara Sehat asal Kota Palembang, beragam
langkah dilakukan dalam melakukan edukasi kepada masyarakat, seperti
membagikan selebaran, melakukan edukasi secara langsung bagi masyarakat
yang datang ke Puskesmas.
Mereka juga melakukan sosialisasi dengan menggunakan pengeras suara
mengendarai motor roda tiga berkeliling pulau menyebarkan tata cara
protokol kesehatan, melarang bepergian keluar rumah atau pulau untuk
sementara waktu.
"Kami relawan bersama tenaga kesehatan setiap hari melakukan sosialisasi
keliling pulau yang terdiri atas enam pekon (kampung) dengan menaiki
motor roda tiga, dan setelah itu kami melakukan pemantauan keluar
masuknya masyarakat, sebab ada sejumlah masyarakat yang merantau ke luar
pulau kembali ke pulau," ucapnya lagi.
Menurut pria yang akrab disapa Rio oleh warga pulau, banyaknya jumlah
penduduk lansia dibandingkan dengan penduduk usia produktif di Pulau
Pisang mengakibatkan sejumlah masyarakat cepat menerima semua kebiasaan
baru seperti menggunakan masker, menyediakan fasilitas cuci tangan,
hingga tetap berada di dalam pulau hingga situasi aman telah ditentukan
oleh pemerintah setempat.
"Masyarakat sempat risau karena usia lansia cukup banyak mendiami pulau,
sedangkan banyak anak cucu mereka yang pulang kampung ke pulau karena
pemberlakuan darurat bencana non alam akibat pandemi COVID-19, sehingga
kami melakukan pencatatan dan pengawasan kepada masyarakat pulau
perantauan yang pulang kampung," ucap pria berusia 27 tahun ini.
Rio menceritakan dalam melakukan tugas pengawasan masyarakat serta
melakukan penempelan stiker di rumah warga, sejumlah petugas kesehatan
di pulau hanya menggunakan Alat Pelindung Diri yang tidak terlalu
lengkap, akibat belum sampainya distribusi hingga ke Pulau Pisang.
"Petugas kesehatan selain mencatat, mengawasi, juga melakukan pemasangan
stiker di setiap rumah yang bertuliskan "Di larang untuk datang dahulu",
pemasangan stiker dilakukan satu per satu di setiap rumah terutama yang
memiliki anggota keluarga yang pulang kampung, namun kami hanya
menggunakan masker dan sarung tangan akibat distribusi APD yang belum
sampai," katanya.
*Baca juga:Menjaga surat suara tak melayang di Pulau Pisang
<https://www.antaranews.com/berita/822339/menjaga-surat-suara-tak-melayang-di-pulau-pisang>
Baca juga:Semerbak Harum Aroma Cengkih Menyeruak di Pulau Pisang
<https://www.antaranews.com/berita/818963/semerbak-harum-aroma-cengkih-menyeruak-di-pulau-pisang>*
*Jangan mudik*
Bagi masyarakat desa Pulau Pisang, pandemi COVID-19 merupakan suatu
kejadian yang sangatlah serius karena dapat menjangkit orang tua ataupun
nenek kesayangan mereka, sehingga semua protokol kesehatan diterapkan
dengan ketat meski, harus menggunakan peralatan sederhana yang tersedia
akibat kendala transportasi.
"Pelajar, mahasiswa, pekerja, sanak saudara hingga wisatawan dilarang
untuk datang sementara waktu karena COVID-19," ujar Pun seorang lelaki
paruh baya sembari mengingat kejadian lampau.
Menurut Pun, warga pulau yang telah mendapatkan informasi mengenai
resiko COVID-19 dan pentingnya penerapan protokol kesehatan dari tenaga
kesehatan pulau, menumbuhkan inisiatif warga untuk menghubungi sanak
keluarga yang dalam perantauan untuk menunda pulang kembali ke Pulau Pisang.
Dengan adanya kesadaran tersebut arus mudik masyarakat perantau kembali
ke Pulau Pisang dapat di minimalisir.
"Kita semua sudah menghubungi sanak saudara agar tidak kembali ke pulau
karena COVID-19, kalau ada yang pulang kami minta untuk di rumah saja
kasihan andung (nenek) dan datuk (kakek), sudah tua nanti sakit," ujarnya.
Menurut Pun, semua masyarakat desa sadar menggunakan masker, dan sudah
menyediakan tempat cuci tangan di rumah masing-masing, dan tidak lagi
risau karena COVID-19, sebab ada tenaga kesehatan serta relawan
kesehatan yang siap mengedukasi dan membantu.
"Tian helau (mereka baik) hatinya, jadi kami tidak risau lagi dengan
COVID-19," katanya sembari bercengkrama di atas jukung.
Hal senada juga dikatakan salah seorang bidan desa, Gita.
Menurut bidan desa berperawakan tinggi dan ramping ini, masyarakat desa
banyak yang patuh menaati aturan yang disampaikan pemerintah, hingga
sempat melakukan penolakan bagi wisatawan yang nekat berwisata ke pulau
tanpa masker dan di tengah pemberlakuan aturan "di rumah saja".
"Sempat ada penolakan wisatawan yang nekat berwisata saat penerapan
aturan di rumah saja oleh pemerintah dan penutupan objek wisata,
wisatawan tersebut langsung dibawa oleh masyarakat ke puskesmas untuk
diperiksa dan dicatat, bahkan ada yang diminta dengan sopan untuk
kembali ke Krui karena masyarakat desa sangat menjaga keluarga mereka,"
ujarnya.
Menurut Gita, peran tenaga kesehatan lokal serta relawan kesehatan yang
tergabung dalam program Nusantara Sehat milik Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia sangatlah membantu memupuk rasa aman masyarakat
akibat adanya pandemi COVID-19.*
*Baca juga:Ketenaran Egy Maulana belum sampai Pulau Pisang
<https://www.antaranews.com/berita/701444/ketenaran-egy-maulana-belum-sampai-pulau-pisang>*
Oleh Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS