Kebohongan yang Disebarkan Australia serta Fakta Aslinya
2020-07-14 17:37:34
http://indonesian.cri.cn/20200714/1274ce97-d0b8-17dc-8a7e-7c00f4a71860.html
Selama ini, sejumlah politikus dan media Australia membikin berbagai
macam kebohongan terkait Tiongkok dengan berkisar pada pandemi COVID-19,
akan tetapi mereka malah menuduh Tiongkok menyebarkan berita palsu.
Berbagai kebohongan yang dibikin politikus dan media AS demi menimpakan
kesalahan pada Tiongkok, sudah terbukti palsu oleh media dan tokoh-tokoh
terkait. Namun politikus Australia jarang menyebut hal ini, jarang ada
laporan dari media Australia. Diskusi tentang penyebaran berita palsu
oleh AS hampir tidak pernah terjadi di Australia.
Tiongkok adalah penderita berita palsu, bukan penyebar kebohongan.
Penyebaran kebohongan berhenti dengan adanya fakta. Mari kita berbicara
berdasarkan fakta.
Kebohongan pertama: virus corona berasal dari Tiongkok. Pada 3 April
yang lalu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan ketika
menerima wawancara Radio 2GB, bahwa virus berasal dari Tiongkok, dan
disebarkan kepada seluruh dunia.
Faktanya:Tiongkok adalah negara pertama yang melaporkan penularan wabah
virus corona, tapi itu bukan berarti Tiongkok adalah sumber virus,
sampai sekarang sumber virus corona masih belum terkonfirmasi. Pelacakan
sumber virus adalah masalah ilmiah yang serius, hendaknya dilakukan
secara ilmiah dan diteliti oleh ilmuan dan pakar kedokterran.
* Dalam sejarah, tempat yang terlebih dulu melaporkan adanya kasus
penyakit menular biasanya bukan sumber virus. Misalnya kasus
penularan virus AIDS pertama-tama dilaporkan di AS, tapi tempat
berasalnya mungkin bukan di Amerika. Semakin banyak bukti
menandakan, flu Spanyol sebenarnya bukan berasal dari Spanyol.
* Semakin banyak negara menemukan kasus virus corona yang tidak
beriwayat perjalanan ke Tiongkok dan waktunya lebih awal daripada
kasus pertama yang dilaporkan di Tiongkok. Situs web International
Journal of Antimicrobial Agents menyatakan, jauh pada akhir Desember
tahun lalu, virus corona sudah tersebar di Prancis, kasus terkait
tidak berhubungan dengan Tiongkok. Hasil riset rombongan penelitian
dari Rumah Sakit Sacco, Milan Italia menemukan, virus yang terpapar
oleh pasien Italia tidak berhubungan dengan Tiongkok. Direktur Riset
Kesehatan Global Universitas Harvard Ashish Jha berpendapat, dua
penduduk di Kabupaten San. Clara AS meninggal dunia akibat virus
corona masing-masing pada awal dan pertengahan Februari tahun ini,
tapi mereka tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri, tidak
pernah berkunjung ke Tiongkok. Hal ini menandai bahwa jauh pada
pertengahan Januari, bahkan pada waktu yang lebih awal, virus ini
sudah tersebar di komunitas negara bagian California. Pakar ilmu
genetika dari Universitas Cambrige Inggris Peter Forster menyatakan,
berdasarkan data genom, tidak ada bukti yang mengindikasikan bahwa
Wuhan adalah sumber virus corona. Sementara itu tim peneliti dari
Universitas Barcerona Spanyol mendeteksi virus corona dari sampel
air limbah pada Maret tahun lalu.
* Konferensi Kesehatan Dunia Ke-73 secara bulat meluluskan resolusi
mengantisipasi pandemi COVID-19 pada 19 Mei yang lalu. Tiongkok
menghadiri konferensi kali ini dan mengajukan resolusi terkait,
Tiongkok senantiasa bersikap terbuka terhadap kerja sama penelitian
ilmiah terhadap pencarian sumber virus corona. Menurut resolusi
tersebut, lingkup penelitian sumber virus ditetapkan secara ketat
pada pencarian sumber binatang, perantara atau inang dan jalur
penyebaran, tujuanya agar masyarakat internasional lebih baik
mengantisipasi pandemi.
* Tiongkok mendukung diadakannya penelitian dan investigasi oleh para
ilmuwan dan pakar medis dalam lingkungan global, dengan berpegang
pada prinsip profesional, adil dan konstruktif, dan dipimpin oleh
WHO, untuk memperdalam pengetahuan ilmiah pada virus sejenis ini,
guna lebih baik mengantisipasi penyakit menular serius pada masa
mendatang, menyempurnakan sistem kesehatan umum global dan kemampuan
penanganannya.
Kebohongan Kedua: virus corona mungkin berasal dari “pasar produk basah”
kota Wuhan. Perdana Menteri Australia Scott Morrison dan Menteri
Kesehatan Australia berkali-kali menyatakan, virus corona mungkin
berasal dari “pasar binatang liar”.
Faktanya: di Tiongkok tidak ada “pasar binatang liar”. Apa yang sering
dikatakan oleh rakyat ialah pasar produk pertanian dan pasar binatang
burung hidup dan hasil laut. Produk-produk yang dijual di pasar semacam
ini kebanyakan adalah ikan segar, buah-buahan dan sayur-sayuran. Pasar
semacam ini bukan hanya ada di Tiongkok, tapi juga terdapat di sejumlah
negara lainnya, dan berkaitan erat dengan kehidupan rakyat setempat. Di
tatanan hukum internasional tidak ada pembatasan yang melarang pembukaan
dan operasi pasar serupa.
Kebohongan ketiga: setelah kota Wuhan lockdown, Tiongkok tetap tidak
melarang rute penerbangan internasional dari Wuhan, sehingga virus
tersebar ke seluruh dunia. Pada 16 April lalu, Menteri Dalam Negeri
Australia Dutton kepada pers mengatakan, ini menunjukkan PKT perlunya
memperlihatkan transparansi. Dalam artikelnya di Harian Financial Review
Australia, Mantan Menteri Luar Negeri Australia Alexander Downer
mengatakan, Tiongkok berupaya mencegah penularan virus di dalam negeri,
tapi tidak menghiraukan virus menular ke seluruh dunia.
Kenyataan: Tiongkok mengambil tindakan pengendalian yang sangat ketat
supaya virus corona tidak tersebar dari Wuhan ke kota lain. Data
statistik menunjukkan bahwa jumlah kasus yang tersebar dari Tiongkok
sangat minim.
Tiongkok telah menutup jalur meninggalkan Wuhan pada 23 Januari lalu,
antara 24 Januari-8 April, tidak ada layanan dinas penerbangan maupun
kereta api yang berangkat dari Wuhan.
Pemerintah Tiongkok mengambil tindakan pengendalian yang paling
sempurna, paling ketat dan paling tuntas, dengan efektif memutuskan
rantai penularan virus. Majalah Sains memuji tindakan-tindakan tersebut
telah mengurangi lebih dari 700 ribu kasus terinfeksi.
Perdana Menteri Australia Scott John Morrison 20 Maret lalu menyatakan,
di antara kasus positif di Australia, sekitar 80 persen adalah kasus
impor, di antaranya kebanyakan dari AS.
Menurut data Departemen Kesehatan Australia, proporsi kasus impor dari
Asia Timur Laut sangat kecil. Data dari beberapa provinsi Kanada
menunjukkan, virus tersebar oleh wisatawan AS ke Kanada. Institute Riset
Perancis menemukan, asal usulnya virus corona di Perancis kurang jelas.
Kasus impor di Rusia satu pun tidak ada yang berasal dari Tiongkok.
Kasus impor di Singapura yang tersebar dari Tiongkok tidak sampai
sepersepuluh jumlah kasus yang tersebar dari negara lain. Institut
Penelitian Penyakit Menular Nasional Jepang menyatakan, wabah yang
terjadi di Jepang pasca Maret bukan berasal dari Tiongkok.
Kebohongan keempat: media Australia mengatakan, mempunyai informasi
rahasia mengenai virus corona berasal dari Institut Virologi Wuhan. Pada
2 Mei lalu, harian Australia Daily Telegraph mengungkapkan apa yang
disebut dokumen rahasia Five Eyes Alliance, dan mengatakan virus corona
berasal dari Institut Virologi Wuhan.
Kenyataan: semua bukti menunjukkan, virus corona berasal dari alam bukan
buatan manusia.
27 orang ahli medis yang terkenal di dunia dari 8 negara dalam
pernyataan bersama dimuat di The Lancet pada 19 Februari lalumengatakan,
para peneliti sains dari berbagai penjuru dunia telah menganalisa urutan
genom virus corona dan telah mengeluarkan hasil yang menunjukkan virus
seperti virus lain berasal dari binatang liar.
Lima ilmuwa terkenal dari AS, Australia, Inggris dalam artikel yang
dimuat di majalah Natural Medicine menunjukkan, tidak ada bukti apapun
yang menunjukkan virus corona berasal dari laboratorium atau didesain.
Jubir WHO tanggal 21 April lalu dalam jumpa pers mengatakan, semua bukti
menunjukkan, virus corona berasal dari binatang, bukan buatan laboratorium.
Wakil Kepala Biro Intelijen Jerman pernah menanyakan kepada badan
intelijen negara anggota Koalisi Lima Mata untuk menyertai bukti bahwa
virus corona dari laboratorium Tiongkok, tapi badan intelijen lima
negara itu semuanya menyatakan tidak pernah mengeluarkan laporan serupa.
Pemerintah dan pejabat Australia mengajukan pertanyaan kepada dokumen
yang dikeluarkan Koalisi Lima Mata, berpendapat apa yang disebut
informasi hanya desas desus dari media. Ada sumber informasi Australia
yang berpendapat, apa yang disebut dokumen rahasia sengaja dibocorkan
oleh kedubes AS untuk Australia kepada Daily Telegraph Australia.
Kebohongan Ke-5: rancangan resolusi yang diluluskan Majelis Kesehatan
Dunia adalah hasil upaya pihak Australia.
Tanggal 22 April lalu, Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne dalam
artikel yang dimuat di surat kabar Australian menyebut, pihaknya akan
bersama dengan negara-negara yang mempunyai nilai yang sama mensponsori
pemeriksaan internasional independen tanpa dominasi WHO.
Kenyataan: rancangan resolusi yang dilulus Majelis Kesehatan Dunia sama
sekali tidak berkaitan dengan pemeriksaan internasional independen yang
disponsori Australia seputar pandemi.
* Tiongkok mendukung pelaksanaan evaluasi menyeluruh atas
pekerjaan penanganan pandemi global setelah pandemi pada
pokoknya dikendalikan. Pekerjaan tersebut memerlukan sikap
profesional yang ilmiah, dan hendaknya didominasi oleh WHO,
berpegang pada prinsip obyektif dan adil. Hal ini merupakan
pendirian jelas yang selalu dijunjungi Tiongkok.
* Majelis Kesehatan Dunia ke-73 tanggal 19 Mei lalu meluluskan
resolusi penanganan pandemi covid-19. Mengenai masalah evaluasi
atas pekerjaan WHO, resolusi telah mengusulkan evaluasi tersebut
seharusnya dilakukan setelah konsultasi antara Dirjen WHO dan
berbagai anggota negara WHO, bertujuan untuk memeriksa
pengalaman WHO dalam menangani pandemi, dan mengajukan usulan
kerja masa depan. Resolusi menuntut proses evaluasi berlangsung
secara bertahap, adil, independen dan komprehensif. Resolusi
terkait sesuai dengan pendirian konsisten Tiongkok, dan
memperlihatkan kesepahaman luas berbagai negara. Tiongkok telah
aktif mengambil bagian dalam konsultasi rancangan resolusi
tersebut dan adalah salah satu negara sponsor rancangan resolusi.
* Apa yang disebut pemeriksaan internasional independen oleh
Australia 100% adalah intrik politik yang menggunakan pandemi.
Para politikus AS bersikap penolakan atas partisipasi WHO saat
mengajukan apa yang disebut pemeriksaan internasional
independen, dan berniat sangat jelas untuk melakukan investigasi
“presumption of guilty” menuju Tiongkok.
Kebohongan Ke-6: Perusahaan Tiongkok memborong material APD medis di
Australia. Media-media Australia seperti surat kabar The Sydney Morning
Herald dan Australian radio 2GB dengan sengaja memfitnah aksi
kemanusiaan pembelian material APD oleh perusahaan Tiongkok dan pedagang
Tionghoa sebagai “skandal” yang didukung pemerintah Tiongkok, dan
menyebut aksi pembelian pihak Tiongkok pada Februari lalu mengakibatkan
kelangkaan material penanggulangan wabah di Australia pada Maret lalu
setelah wabah memburuk.
Kenyataan: Saat perusahaan Tiongkok melakukan pembelian material APD,
wabah masih belum mulai menyebar di Australia, dan sama sekali tak
pernah mengakibatkan kekurangan material penanggulangan wabah di negeri itu.
* Akhir Januari atau awal Februari lalu, Tiongkok berada dalam
masa krusial penanggulangan wabah covid-19, memerlukan material
medis dalam jumlah besar, masyarakat dan perusahaan Australia
sempat memberi bantuan kepada Tiongkok, perusahaan modal
Tiongkok juga melakukan pembelian di Australia demi membantu
tanah air mengatasi kesulitan. Hal tersebut tidak berbeda dengan
perusahaan Australia yang melakukan pembelian material medis di
Tiongkok pada April lalu , sama- sama adalah aksi kemanusiaan.
* Pada hal, perusahaan modal Tiongkok pada Maret lalu sudah tidak
lagi membeli material medis di Australia. Sejumlah media
Australia berniat jahat mengaitkan donasi amal yang dilakukan
masyarakat dan perusahaan Australia kepada Tiongkok sebelumnya
dengan kelangkaan material medis di Australia pada masa
kemudian, mengibaratkan aksi pembelian material oleh perusahaan
modal Tiongkok dengan menggunakan/present indefinite,/dalam
rangka membuat ilusi bahwa Tiongkok sedang menggunakan
perusahaan modal Tiongkok untuk merebut material medis Australia.
* Setelah wabah merajalela di seluruh dunia, Tiongkok berupaya
mengatasi kesulitan domestik yang tetap memerlukan material
medis dalam jumlah besar, semaksimal mungkin memberi dukungan
dan donasi kepada negara-negara lain. Pemerintah Tiongkok sudah
memberi bantuan material seperti masker N95, baju pelindung,
reagen pendeteksian nukleat dan respirator kepada 150 lebih
negara dan organisasi internasional, sementara juga menyediakan
kemudahan kepada berbagai negara demi membeli material dan alat
medis di Tiongkok.
Kebohongan ke-7: Tiongkok melakukan “infiltrasi” di Australia dan
memberikan imbasnya. Sejak lama sebagian tokoh dan media Australia terus
menelurkan apa yang disebut “teori infiltrasi Tiongkok”. pada 26 Juni
lalu, badan intelijen dan kepolisian Australia menggeledah keresidenan
dan kantor seorang anggota Parlemen di New Southwales, dengan alasan
menginvestigasi pengaruh Tiongkok terhadap politik Australia.
Duduk Perkara: Tiongkok selalu tidak mengintervensi urusan dalam negeri
negara lain. Australia terbukti berkali-kali melakukan kegiatan
mata-mata di Tiongkok dalam beberapa tahun belakangan ini.
Australia dalam jangka panjang terus menyebut Tiongkok melakukan
infiltrasi, tapi tak pernah menyertai satu bukti apa pun.
Badan intelijen dan keamanan Australia sering mengirim personel spionase
ke pedalaman dan Hong Kong Tiongkok untuk melakukan kegiatan pengumpulan
informasi dan mata-mata lainnya.
Pada tahun 1980-an, badan intelijen Australia terbukti memasang banyak
alas penyadap dalam bangunan Kedutaan Besar Tiongkok untuk Australia,
sehingga Tiongkok terpaksa membangun kembali kedutaan besarnya di negeri
itu.
Kebohongan ke-8: Sebanyak 1 juta warga etnis Uyghur ditahan oleh
otoritas. Menlu Austrlia mengklaim Tiongkok melakukan penahanan terhadap
1 juta warga etnis Uyghur dengan berdasarkan “dokumen rahasia” yang
diungkapkan New York Times.
Duduk Perkara: Di Xinjiang tidak ada “kamp edukasi”, dan penahanan 1
juta warga etnis Uyghur juga adalah kebohongan dan berita palsu.
Xinjiang mendirikan pusat pendidikan dan keterampilan vokasional untuk
mengantisipasi terorisme dan ekstremisme. Hal ini tidak berbeda dengan
metode yang diterapkan di banyak negara lain. Kini semua peserta pusat
pendidikan sudah tamat.
Dari 2015 hingga sekarang, Tiongkok telah merilis 7 buku putih mengenai
pemberantasan terorisme dan ekstremisme di Xinjiang.
Apa yang disebut penahanan 1 juta warga etnis Uyghur adalah kebohongan
yang ditelurkan dengan berdasarkan dua hasil penelitian yang sangat
dicurigai.
Kebohongan ke-9: Tiongkok melancarkan serangan cyber terhadap Australia.
Pada 19 Juni lalu, Perdana Menteri Australia menyatakan, fasilitas kunci
negerinya, termasuk sektor pemerintah, pendidikan, kesehatan,
perdagangan, industri dan pelayanan tengah mengalami serangan cyber
masif dari negara tertentu. Laporan media negeri itu mengklaim bahwa
Tiongkok adalah tersangka terbesar serangan tersebut.
Duduk perkara: Tiongkok selalu adalah pembela keamanan cyber, sekaligus
korban terbesar serangan cyber.
Tiongkok selalu menentang dan memberantas serangan cyber dalam segala
bentuk. Sama dengan Australia, rumah sakit dan lembaga penelitian
Tiongkok juga mengalami serangan cyber dari luar wilayah selama masa
perlawanan pandemi COVID-19.