Kantin “Kasih Sayang” Kota Rongcheng Perhatikan Masalah Makan Orang Lansia

2020-07-14 17:07:40 http://indonesian.cri.cn/20200714/d6132612-d51d-6497-25e0-8c66f9d71e32.html

“Sup daging sapi tomat, Ikan goreng, ayam rebus, daging babi dan goreng sayur asam...” Apakah anda penasaran pada sajian sedap tersebut? Makanan tersebut adalah “makanan orang lansia” hidangan “Kantin Kasih Sayang” di Desa Shengjia, Kota Rongcheng, Propinsi Shandong. Hidangan tersebut disajikan secara gratis untuk orang lanjut usia yang umurnya lebih dari 80 tahun di desa ini.

图片默认标题_fororder_kantin

Pada tanggal 4 Juli yang lalu,115 “Kantin Kasih Sayang” tingkat desa di kota Rongcheng sudah dibuka sekaligus. Para orang lansia sambil ngobrol sambil makan bersama di meja, suasananya ramai gembira.

图片默认标题_fororder_kantin2

Terhitung sampai sekarang, di 22 Komunitas Kota Rongcheng telah didirikan 291 “Kantin Kasih Sayang”, 137 di antaranya sudah mulai beroperasi, dengan melayani orang lansia 1766 orang per hari. Operasi normal “Kantin Kasih Sayang ” tersebut ditanggung jawab oleh para sukarelawan. Kunci operasinya ialah “reputasi + sukarela”. Para sukarelawan ditetapkan oleh Komite Rumah Tangga Desa, mereka memperoleh skor reputasi pribadi berdasarkan kali, waktu pelayanan sukarelawan. Apabila skornya mencapai standar tertentu, mereka dapat menikmati 180 lebih produk dukungan reputasi di bidang air listrik, pembebasan biaya naik bus serta pengurusan kredit secara preferensial.

图片默认标题_fororder_kantin4图片默认标题_fororder_kantin3

Dewasa ini tim pelayanan sukarela di kota Rongcheng sebanyak 1496, dengan total jumlah sukarelawan tercatat 155 ribu orang. Sukarelawan di pedesaan sudah mencapai 102 ribu orang, menduduki 35, 5 persen jumlah total penduduk kota ini. Setiap bulan di desa kota Rongcheng diadakan ribuan kegiatan pelayanan sosial seperti pemilahan sampah, peramahan lingkungan, pembersihan rutin, penguatan jalan, serta renovasi toilet pedesaan.



 Nasionalisme Vaksin Akan Ancam Upaya Penanggulangan Pandemi Global

http://indonesian.cri.cn/20200714/3c5575b8-7725-3e6d-ac43-4151de4deb6f.html
2020-07-14 17:11:41

Laporan yang diumumkan USA Today hari Minggu (12/07)menunjukkan, Amerika Serikat, Inggris dan sejumlah negara tidak menyusun dan melaksanakan strategi global mengenai penelitian dan distribusi vaksin, sedangkan mereka mengambil cara yang “memprioritaskan negara sendiri”. Artikel tersebut menekankan, nasionalisme dalam penelitian vaksin akan mengancam upaya penanggulangan pandemi Covid-19 global. Hanya dengan semua manusia aman, barulah keamanan sungguh-sungguh.

图片默认标题_fororder_vaksin

图片默认标题_fororder_vaksin2

Financial Times Inggris menunjukkan, negara-negara termasuk AS dan Inggris dewasa ini memperlihatkan tanda nasionalisme dalam penelitian vaksin. Perusahaan konsultasi risiko politik global Eurasia Group dalam laporannya yang dipublikasikan awal tahun ini memperkirakan, situasi ketegangan antara berbagai negara mengenai penelitian vaksin akan semakin sengit pada musim panas tahun ini, dan perempuan vaksin ini akan berlangsung sampai tahun 2021 bahkan 2022. Badan tersebut juga menyatakan, sejumlah pemerintah telah menduduki keunggulan dengan investasi berskala besar. Untuk mendapatkan hak penggunaan vaksin prioritas, Agensi Perkembangan Penelitian Biomedis AS (BARDA) telah menanam modal untuk banyak calon program vaksin di seluruh dunia.

Pada Mei tahun ini, AS juga menginvestasi 1 miliar dolar AS kepada program vaksin di perusahaan farmasi raksasa Inggris-Swedia, AstraZeneca, program ini dipimpin oleh ahli-ahli dari Universitas Oxford. Perusahaan ini merencanakan menghasilkan vaksin Covid-19 sejumlah 2 miliar dosis, dan diperkirakan akan menyediakan 400 juta dosis vaksin virus corona kepada AS dan Inggris sebelum Oktober tahun ini.

Seorang pejabat tinggi AS pada bulan Juni lalu menyatakan, tugas utama AS sekarang ialah menjamin semua warga AS yang perlu vaksin Covid-19 dapat divaksinasi. “Merawat warga AS dulu. Jika ada kelebihan, vaksin yang disisakan dapat disediakan kepada daerah lain di dunia.” Demikian ditutur pejabat AS tersebut.

Pemerintah Inggris juga mendorong perusahaan farmasi dalam negeri menjamin penyuplaian vaksin. Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock pernah menyatakan pada April lalu, “menjadi negara pertama yang sukses meneliti vaksin Covid-19 mempunyai banyak keunggulan, saya akan sepenuh mendukung hal ini.” Matt Hancock telah mengumumkan mengalokasikan dana senilai 425 juta GBP untuk mendukung dua penelitian di dalam wilayah. AstraZeneca yang bermarkas besar di Inggris telah menandatangani persetujuan dengan Universitas Oxford, dan merencanakan akan memproduksikan 100 juta lebih dosis vaksin untuk secara prioritas menjamin pasokan Inggris.

Laporan USA Today menunjukkan, seluruh dunia telah terjerumus dalam kompetisi penelitian vaksin, ini justru apa yang dikhawatirkan para ahli kesehatan umum.

Menurut laporan Financial Times Inggris, dalam masalah penelitian dan distribusi vaksin Covid-19, kalau berbagai negara bertolak dari kepentingan sendiri aja dan berjuang sendiri, melawan virus corona akan memakan lebih banyak waktu. Dilihat dari kemajuan penelitian, penelitian vaksin setidaknya perlu 12 sampai 18 bulan baru dapat diselesaikan. Menurut statistik, dewasa ini terdapat 100 lebih vaksin dalam tahap tes. Sesudah vaksin sukses diteliti, berbagai negara tetap perlu menginvestasi puluhan triliun dolar AS untuk mengadakan koordinasi yang rumit, baru dapat memproduksi dan mendistribusi vaksin dalam lingkup seluruh dunia.

Banyak ahli kesehatan umum menyatakan kekhawatirannya atas kekurangan mekanisme distribusi vaksin yang disetujui berbagai pihak.

Kirim email ke