-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2062-kejujuran-orang-kecil



Rabu 15 Juli 2020, 05:00 WIB 

Kejujuran Orang Kecil 

Administrator | Editorial 

  Kejujuran Orang Kecil MI/Seno Ilustrasi. JUJUR dan kejujuran menjadi dua 
kata yang kembali menyeruak harihari ini. Dua sosok manusia sederhana 
memperlihatkan kepada kita bahwa ternyata watak jujur dan konsep kejujuran itu 
masih ada di tengah dunia masa kini yang cenderung berwatak culas. Negeri ini 
seperti ditampar oleh dua petugas di KRL commuter Jakarta-Bogor, Egi Sandi 
Saputra, 24, dan Mujenih, 34. Mereka tanpa ragu mengembalikan uang tunai Rp500 
juta yang ditemukan di dalam plastik hitam di bawah bangku gerbong kereta KRL 
commuter, Senin (6/7) lalu. Sudah tentu tidak ada niat mereka menampar seluruh 
negara karena sejatinya mereka hanya sedang menjalankan ‘tugas’ sebagai manusia 
beradab, yaitu berbuat jujur. Akan tetapi, seperti dunia pada umum nya, negeri 
ini pun terus mengalami kemerosotan kejujuran. Jujur menjadi semakin langka. 
Pada saat itu, tak mengagetkan bila satu kejujuran sederhana pun akan menjadi 
tamparan keras. Apalagi di Republik ini ketidakjujuran justru banyak dimulai 
dari figur, sosok, tokoh yang semestinya menjadi teladan. Mereka anutan, tetapi 
selama ini malah memelihara perilaku-perilaku yang jauh dari sifat jujur. Rajin 
korupsi, gemar melempar kebohongan, hobi mempermainkan hukum, dan banyak lagi. 
Sebagian virus ketidakjujuran itu tentu sudah meluas dan menyebar ke golongan 
lapisan bawah. Namun, beruntunglah kita masih memiliki stok orang-orang ‘kecil’ 
yang tekun merawat nilai kejujuran seperti Egi dan Mujenih. Mereka orang-orang 
yang konsisten menjaga kewarasan berpikir bahwa kejujuran ialah fondasi 
bangunan kemanusiaan, bukan golongan orang yang malah mencari untung dari 
menjual ketidakjujuran. Merekalah yang semestinya menjadi teladan buat 
orang-orang yang selama ini gagal menjadi teladan. Kejujuran harus dimuliakan. 
Karena itu, orang-orang jujur pun sudah selayaknya diberikan tempat yang mulia. 
Sebaliknya, orang-orang yang menegasikan kejujuran tak semestinya mendapat 
tempat. Inilah salah satu pekerjaan rumah terbesar bangsa ini, yakni menyemai 
spirit kejujuran. Seorang arif bijaksana pernah berkata sebuah komunitas atau 
bangsa tidak akan hancur oleh karena persoalan politik, ekonomi, hukum, 
pendidikan yang tidak berkualitas, tetapi oleh kebohongan dan ketidakjujuran 
yang terus menerus dilakukan. Artinya, bangsa ini sejatinya akan cepat menjadi 
besar bila semua elemennya memegang erat nilai kejujuran dan kemudian 
mengaplikasikannya dalam tindakan. Akan tetapi, kalau kejujuran semata 
dijadikan jargon dan berhenti sebatas ucapan, yang akan muncul hanyalah 
manipulasi berkedok kejujuran. Egi, Mujenih, dan orang-orang jujur lain harus 
menjadi role model ketika bangsa ini serius ingin memuliakan kejujuran. Sudah 
cukup negeri ini dibikin limbung oleh orang-orang tak jujur. Oleh mereka, uang 
rakyat dirampok, hukum pun mudah dimain-mainkan, lalu masih pantaskah kita 
meneladani mereka? Jujur tak boleh luntur, perjuangannya tak boleh kendur. Egi 
dan Mujenih telah mengingatkan kita semua, meski orang jujur memang semakin 
langka di negeri ini, kita tak boleh kehilangan konsistensi dan persistensi 
merawat kejujuran.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2062-kejujuran-orang-kecil





Kirim email ke