Diplomasi Virtual Kepala Negara Tiongkok Tingkatkan Keyakinan Dunia

http://indonesian.cri.cn/20200715/c02eee99-b712-e11f-1149-41ac95dc30d8.html
2020-07-15 15:32:42

图片默认标题_fororder_焦点图 2020年6月22日晚,习近平主席在北京以视频方式会见欧洲理事会主席米歇尔和欧盟委员会主席冯德莱恩。

Tahun 2020, dunia terus diusik oleh pandemi COVID-19 yang semakin mengancam, telah mengalami perubahan mendalam dan menghadapi aneka unsur yang tidak pasti dan tidak stabil.

Di era yang penuh perubahan drastis saat ini, Tiongkok semakin memperkukuh perannya sebagai “stabilisator”. Pada paro pertama tahun 2020, Presiden Xi Jinping menghadiri tiga konferensi internasional secara virtual dan menyampaikan pidato. Sementara itu, ia membalas sebanyak 20 surat kepada tokoh-tokoh di dalam dan luar negeri, melakukan kontak telepon sebanyak 60 kali dengan negarawan asing dan para pemimpin organisasi internasional seputar masalah penanganan pandemi COVID-19. Dengan kegiatan-kegiatan “daring” yang sibuk itu, Presiden Xi telah memperlihatkan kewajiban dan tanggung jawab Tiongkok sebagai negara besar di era baru.

Dari pembagian pengalaman terkait perlawanan pandemi COVID-19, hingga menganjurkan dunia bersolidaritas dalam pembangkitan kembali ekonomi dan pembentukan komunitas senasib sepenanggungan manusia, serta serangkaian kegiatan diplomatik virtual lainnya, Presiden Xi Jinping memimpin Tiongkok berkembang menjadi kekuatan penting dalam perlawanan pandemi COVID-19 secara global dan kekuatan induk dalam menjaga perkembangan stabil dunia.

图片默认标题_fororder_海报配图3

图片默认标题_fororder_海报配图2

图片默认标题_fororder_海报配图1

图片默认标题_fororder_马来西亚

图片默认标题_fororder_海报配图5

图片默认标题_fororder_海报配图4

Dalam KTT Luar Biasa G-20 pada 26 Maret malam, Xi Jinping mengumumkan Tiongkok akan “berbagi pengalaman perlawanan wabah virus corona serta melakukan kerja sama dalam litbang obat-obatan dan vaksin virus corona dengan berbagai negara”, “menjajaki mekanisme koordinasi darurat kesehatan publik regional”, dan “meningkatkan penyuplaian bahan baku, barang kebutuhan kehidupan sehari-hari dan barang medis untuk perlawanan pandemi kepada pasar internasional”.

Sikap “terbuka, transparan dan bertanggung jawab” dalam pembagian informasi dengan mancanegara adalah sikap Tiongkok yang selalu diutamakan Presiden Xi Jinping dalam proses menghadapi pandemi COVID-19 yang merupakan insiden kesehatan publik global terbesar yang terjadi sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Di hadapan ancaman pandemi global, Tiongkok tidak hanya berupaya menjaga keselamatan jiwa rakyatnya sendiri, tapi juga berusaha maksimal mungkin berbagi pengalaman perlawanan dan pengobatan dengan seluruh dunia. Tiongkok menyediakan bantuan dan dukungan semampunya kepada semua negara yang membutuhkan.

Pada 17 Maret, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengirim surat kepada Xi Jinping, menyatakan kekagumannya kepada Tiongkok yang telah mencurahkan tenaga luar biasa dalam mengatasi dampak wabah virus corona. Berkat ketetapan hati pemerintah dan kontribusi rakyat Tiongkok, wabah virus corona jenis baru ditanggulangi secara menyeluruh dan cepat di Tiongkok.

Visi global, sikap Tiongkok dan aksi Tiongkok, ikut memberikan keyakinan dan kekuatan bagi kerja sama perlawanan pandemi secara global.

Virus tidak mengenal batas negara. Di hadapan wabah virus corona, tiada negara yang terluput dan kebal. Hanya dengan solidaritaslah kita baru dapat mengatasi pandemi dan memulihkan kembali ekonomi dan sosial.

Presiden Tiongkok Xi Jinping menyampaikan pidato yang berjudul “Bergandengan Tangan Melawan Pandemi” dalam KTT LB G-20, menyampaikan pidato berjudul “Bersolidaritas Mengalahkan Pandemi dan Membentuk Komunitas Kesehatan Umat Manusia” dalam pertemuan virtual Majelis Kesehatan Dunia ke-73, dan menyampaikan pidato “Bersolidaritas Melawan Pandemi dan Bersama Mengatasi Kesulitan” dalam KTT Khusus Tiongkok-Afrika terkait Perlawanan Wabah Virus Corona. Dari tiga pidato tersebut, terasa nuansa tebal yang berhaluan solidaritas dan kerja sama antar negara.

“Kita hendaknya selalu memprioritaskan rakyat dan memprioritaskan keselamatan jiwa rakyat. Mengoordinasi sumber daya dan meningkatkan kerja sama, berupaya semaksimal mungkin untuk melindungi keselamatan jiwa dan kesehatan rakyat,” demikian disampaikan Presiden Xi Jinping dalam KTT Khusus Tiongkok-Afrika.

Pandemi COVID-19 telah membawa imbas menyeluruh terhadap produksi dan permintaan seluruh dunia. Presiden Xi Jinping berkali-kali mengimbau masyarakat internasional melakukan kerja sama pragmatis untuk mencegah ekonomi dunia terjerumus dalam resesi.

Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua, Tiongkok akan terus melaksanakan kebijakan fiskal proaktif dan kebijakan keuangan yang mantap, dengan teguh memperluas keterbukaan dan akses pasar, terus memperbaiki iklim bisnis, meningkatkan impor dan investasi di luar negeri, dalam rangka memberikan sumbangan terhadap kestabilan ekonomi dunia.

“Tiongkok dan Uni Eropa yang merupakan dua ekonomi besar di dunia, hendaknya memainkan peranan sebagai ‘dua motor penggerak’ dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi dunia. Kedua pihak hendaknya meningkatkan koordinasi kebijakan ekonomi makro dan menjaga kelancaran rantai pasokan dan rantai industri global,” demikian dikatakan Xi Jinping dalam pertemuan virtualnya dengan Ketua Dewan Eropa Charles Michel serta Ketua Komisi Uni Eropa Ursula von der Leyen pada 22 Juni malam. Perkataan Xi Jinping tersebut sempat menginjeksikan keyakinan bagi perekonomian dunia yang terancam menurun pada saat ini.

Tak peduli bagaimana perubahan situasi internasional, Tiongkok akan berdiri di pihak multilateralisme, dan mempertahankan nilai pemerintahan global dengan "konsultasi bersama, pembangunan bersama dan menikmati manfaat bersama" sebagai inti sarinya.

Untuk meningkatkan kerja sama perlawanan wabah virus corona secara global, Presiden Xi Jinping dalam upacara pembukaan pertemuan virtual Majelis Kesehatan Dunia ke-73 mengumumkan lima langkah Tiongkok untuk mendukung upaya perlawanan pandemi COVID-19. Langkah-langkah tersebut merujuk pada kesulitan dan titik berat penanggulangan pandemi secara global untuk sementara waktu pada masa depan, sekaligus memperlihatkan kewajiban dan sikap  tanggung jawab Tiongkok terhadap usaha kesehatan dunia.

Umat manusia pada akhirnya pasti akan dapat mengatasi pandemi COVID-19, namun ini tidak berarti insiden kesehatan publik mendadak tidak akan terulang di masa mendatang.

“Tiongkok menghargai Uni Eropa yang mempertahankan multilateralisme, berpartisipasi dalam kerja sama perlawanan pandemi secara global dan meningkatkan pasokan terhadap WHO dan lembaga internasional lainnya. Tiongkok bersedia meningkatkan koordinasi dan kerja sama dengan Uni Eropa seputar masalah internasional maupun regional, meningkatkan dialog seputar pembenahan kesehatan publik global, dan mendorong pembentukan komunitas kesehatan manusia,” demikian kata Xi Jinping yang bervisi keseluruhan dan berpandangan masa depan.

Pada paro pertama tahun 2020, Xi Jinping melakukan banyak kegiatan diplomatik internasional, di mana ia selalu menegaskan pembentukan “komunitas senasib sepenanggungan manusia”, dan mendapat apresiasi luas masyarakat internasional.

Pada 26 Maret, Xi Jinping dalam suratnya kepada Dirjen WHO, Tedros menekankan, wabah virus corona jenis baru sekali lagi menyatakan bahwa umat manusia adalah komunitas senasib sepenanggungan. Masyarakat internasional seharusnya bergotong royong dan saling membantu. Tiongkok bersedia berupaya bersama WHO dan mancanegara untuk memberikan kontribusinya demi keamanan kesehatan publik global.

“Tiongkok selalu berpegang teguh pada pedoman komunitas senasib sepenanggungan umat manusia”, ini adalah pendirian yang senantiasa disampaikan Xi Jinping dalam interaksinya dengan negarawan dan para pemimpin organisasi internasional. Selama enam bulan yang lalu, Tiongkok aktif berpartisipasi dalam kerja sama internasional dalam perlawanan pandemi COVID-19, memberikan bantuan semampunya kepada negara-negara terkait dan organisasi-organisasi internasional, dengan tindakan nyata menafsirkan pedoman komunitas senasib sepenanggungan manusia.

“Kesepahaman bersama lebih besar ketimbang perselisihan”, “memperluas kepentingan bersama melalui kerja sama”, “bersama menghadapi tantangan global” serta “bersama-sama mendukung pemulihan kembali ekonomi dan sosial secara ilmiah”, itulah kewajiban dan tanggung jawab Tiongkok sebagai negara besar yang disampaikan Presiden Xi Jinping dalam pertemuannya dengan para pemimpin Uni Eropa.

Tahun 2020 sudah pasti merupakan sebuah tahun yang luar biasa. Melalui serangkaian kegiatan diplomatik secara virtual, Presiden Xi Jinping telah memberikan keyakinan Tiongkok dan kekuatan Tiongkok kepada dunia yang terancam ketidakstabilan dan ketidakpastian.



 Kemenlu Tiongkok Desak AS Hentikan Intervensi di LTS

http://indonesian.cri.cn/20200715/3cce7e5d-c6c8-a4c0-5568-a36b9279d7c8.html
2020-07-15 13:00:29

Mengenai pernyataan yang dikeluarkan AS bersangkutan dengan masalah kedaulatan Laut Tiongkok Selatan(LTS), jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian hari Selasa kemarin (14/7) menunjukkan, AS tidak menghiraukan asal usul sejarah dan kenyataan obyektif masalah LTS, melanggar komitmen terbuka pemerintah AS yang tidak berpendirian pada masalah kedaulatan LTS, melanggar dan membelokkan hukum internasional, sengaja memancing sengketa laut teritorial, merusak perdamaian dan stabilitas regional, ini adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Tiongkok menyatakan  ketidakpuasan dan pertentangan yang keras terhadap tindakan salah AS, mendesak AS segera menghentikan tindakannya membuat masalah dalam masalah LTS, agar tak semakin jauh menempuh jalan yang salah.

Pada tanggal 13 Juli lalu, Departemen Luar Negeri AS dalam pernyataannya mengatakan, klaim Tiongkok pada masalah LTS tidak mempunyai dasar hukum internasional, mendesak negara terkait untuk menentang klaim maritim Tiongkok, dan Ajudikasi Perkara Arbitrasi LTS mempunyai daya ikat hukum terhadap Tiongkok dan Filipina.

Zhao Lijian membantah, AS dalam pernyataannya mengatakan bahwa Tiongkok secara resmi mengumumkan garis putus-putus LTS pada tahun 2009, ini sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan. Kedaulatan dan kepentingan Tiongkok di LTS terbentuk dalam proses sejarah dalam waktu yang panjang. Yurisdiksi yang dilaksanakan Tiongkok di kepulauan dan perairan di LTS telah berlangsung selama seribu tahun lebih. Pada tahun 1948, pemerintah Tiongkok telah secara resmi mengumumkan garis putus-putus LTS, dan tidak diragukan negara manapun dalam waktu panjang. Kedaulatan wilayah dan kepentingan laut Tiongkok di LTS mempunyai dasar sejarah dan hukum yang memadai, sesuai dengan hukum internasional terkait dan praktek internasional. Tiongkok akan terus dengan teguh memelihara kedaulatan dan keamanannya sendiri, dengan teguh memelihara hubungan kerja sama dengan negara-negara di kawasan ini, dan dengan teguh memelihara perdamaian dan stabilitas di LTS.

Zhao Lijian menekankan, Tiongkok tidak pernah mengusahakan pembangunan Kerajaan Laut di LTS, selalu dengan setara memperlakukan negara-negara di sekitar LTS, dan menahan diri secara maksimal di bidang pemeliharaan kedaulatan dan kepentingan LTS. Sebaliknya, AS menolak untuk berpartisipasi dalam “Konvensi PBB tentang Hukum  Laut”, berkali-kali mengundurkan diri dari perjanjian dalam komunitas internasional, menggunakan hukum internasional hanya jika sesuai dengan dirinya, dan langsung melepaskannya jika tidak sesuai dengan dirinya, sering mengirim kapal perang dan pesawat tempur dengan skala besar dan melakukan militerisasi di LTS, melakukan logika kekuasaan yang kuat dan kegiatan hegemonis, AS adalah perusak dan pembuat masalah dalam perdamaian dan stabilitas kawasan ini. Komunitas internasional telah dengan jelas melihat hal ini. Sementara itu, Zhao Lijian menunjukkan, pendirian Tiongkok pada perkara arbitrasi LTS dan ajudikasi selalu konsekuen, jelas dan teguh. Perkara arbitrasi melanggar prinsip peradilan di bawah kesepakatan negara, dan mempunyai kesalahan yang nyata pada masalah kenyataan dan penyesuaian hukum, banyak negara telah mencurigainya. AS ingin menggunakan perkara ini untuk melayani tujuan politiknya, memanfaatkan hukum internasional dengan sembarangan, Tiongkok sama sekali tidak menerimanya.

Menurut Deklarasi Aksi Berbagai Pihak di LTS yang dicapai Tiongkok dengan negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2002, Tiongkok selalu mengupayakan solusi masalah wilayah dan hak yurisdiksi dengan negara terkait melalui perundingan dan konsultasi, berupaya bersama dengan negara anggota ASEAN untuk memelihara perdamaian dan stabilitas LTS. Pada saat ini, melalui upaya bersama Tiongkok dan negara ASEAN, situasi LTS pada umumnya stabil, Tiongkok dan negara ASEAN tidak saja menaati Deklarasi Aksi Berbagai Pihak di LTS, tapi juga mempercepat penyusunan Kode Etik LTS yang lebih mempunyai daya ikat, bersama memelihara perdamaian dan stabilitas serta kebebasan pelayaran di LTS, konsultasi terkait telah mencapai perkembangan positif. AS sebagai negara di luar wilayah ini, demi kepentingan pribadinya, mengacaukan LTS, sengaja berprovokasi di LTS, dan ingin memecahkan hubungan antara Tiongkok dengan negara-negara di kawasan ini, mengganggu dan merusak upaya Tiongkok dan negara ASEAN untuk memelihara perdamaian dan stabilitas LTS.

Kirim email ke