Politikus AS Menjadi Ancaman Terbesar bagi Perdamaian Dunia

2020-07-17 12:39:16 http://indonesian.cri.cn/20200717/3432377e-b3ae-2057-747f-8a1ec0bd68ff.html

图片默认标题_fororder_杯弓蛇影2020071701

Seperti Menlu AS Mike Pompeo dan Penasihat Perdagangan Gedung Putih Peter Navarro serta politikus anti-Tiongkok lainnya, penasihat keamanan nasional AS Robert O’bren baru-baru ini juga menyebut partai berkuasa Tiongkok sebagai “ancaman terbesar bagi AS dan negara sekutunya”, berupaya mencoreng dan menyerang sistem politik Tiongkok.

Sudah jelas bahwa   prasangka ideologi dan argumentasi yang ngotot itu hanyalah tindakan pemerintah AS untuk menimpakan kontradiksi di dalam negerinya serta mengupayakan kepentingan politiknya sendiri.

Politikus AS sering mengatakan bahwa Tiongkok adalah “ancaman” dan “tantangan”, tujuan dasarnya adalah memelihara status AS sebagai pemenang dan penguasa satu-satunya di dunia ini dengan mengekang pembangunan negara lain, karena AS tidak bisa menerima perubahan situasi dunia serta kemajuan Tiongkok.

Menurut politikus AS, di satu sisi mereka berpendapat, perkembangan Tiongkok berkat keterbukaan pasar AS terhadap Tiongkok, artinya Tiongkok harus berterima kasih kepada AS. Di sisi lain,  kemajuan Tiongkok tidak sesuai dengan keinginan AS, khususnya di bidang ideologi, sehingga AS perlu bersikap keras terhadap Tiongkok, demi memelihara kedudukan hegemonisnya di dunia.

Meninjau kembali sejarah, kerja sama dan pertukaran antara Tiongkok dan AS adalah saling ketergantungan. Bagi AS, produk buatan Tiongkok telah mendatangkan kesejahteraan penting kepada warga AS, sedangkan pasar domestik Tiongkok yang besar juga mendatangkan laba tinggi kepada perusahaan AS. Opini yang mengatakan bahwa AS mengalami kerugian hanyalah sebuah kebohongan yang direkayasa para politikus Washington.

Tiongkok tidak bermaksud menantang atau menggantikan AS, juga tidak mungkin menjadi sebuah negara seperti AS. Pembangunan Tiongkok bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Tiongkok dan mewujudkan kejayaan Bangsa Tionghoa sekaligus memberikan kontribusi kepada perdamaian dunia.

Saat ini, hubungan Tiongkok-AS berada pada masa paling sulit sepanjang sejarah. Mantan Menteri Luar Negeri AS Henry Alfred Kissinger menunjukkan, tak akan ada pemenang final dari konflik jangka panjang Tiongkok-AS, apabila tidak bisa menemukan solusinya, akibatnya akan lebih parah daripada dua kali perang dunia yang pernah menghancurkan peradaban Eropa.

Washington hendaknya membangun persepsi yang lebih objektif tentang Tiongkok dan merumuskan kebijakan yang lebih rasional dan pragmatis terhadap Tiongkok, dengan demikian, AS baru dapat keluar dari kesulitan dan memperoleh kemajuan baru. Sudah waktunya politikus AS kembali ke akal sehat.



 ASEAN Menjadi Mitra Perdagangan Pertama Tiongkok, Seperti Apa Kisahnya?

2020-07-16 15:22:44 http://indonesian.cri.cn/20200716/5895204e-fcee-4cc2-c3fa-f2ec97daf969.html

图片默认标题_fororder_asean2

Selama pandemi COVID-19 terus merebak di seluruh dunia, kemitraan perdagangan ASEAN-Tiongkok terus meningkat, pada paruh pertama tahun 2020, ASEAN menjadi mitra perdagangan pertama Tiongkok. Sebagai informasi, ASEAN menjadi mitra perdagangan kedua Tiongkok setelah mengganti posisi AS pada tahun 2019.

Data yang diumumkan Pabean Tiongkok menunjukkan, pada paruh pertama tahun ini, nilai ekspor impor Tiongkok-ASEAN tercatat 2,09 triliun Yuan RMB, proporsi ASEAN dalam nilai total perdagangan luar negeri Tiongkok mencapai 14,7 persen. Sementara itu, ekspor impor Tiongkok-Uni Eropa tercatat 1,99 triliun Yuan, menurun 1,8 persen, ekspor impor Tiongkok-AS sebesar 1,64 triliun Yuan, menurun 6,6 persen.

图片默认标题_fororder_asean图片默认标题_fororder_asean3

Pada kenyataannya, setelah diumumkannya data ekspor dan impor pada dua bulan pertama tahun ini, publik sudah mencatat, ASEAN untuk pertama kali menjadi mitra perdagangan pertama Tiongkok, proporsi nilai ekspor impor bilateral dalam volume total perdagangan luar negeri Tiongkok pada dua bulan pertama menduduki 14,4 persen. Proporsi ini masih terus bertambah setelah data pertengahan tahun diumumkan.

Mengapa ASEAN menjadi mitra perdagangan pertama Tiongkok? Menurut analisa Juru Bicara Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok Li Kuiwen, hal ini tercapai sejalan dengan membaiknya situasi pencegahan wabah di kawasan ini. Selama tahun-tahun belakangan ini, kerjasama ASEAN-Tiongkok semakin mendalam, sinergi rantai industri semakin erat, perdagangan bilateral terus meningkat.

Dewasa ini, wabah COVID-19 masih merebak di dunia, situasi pencegahan wabah di Amerika tetap serius. Akan tetapi, berkat tindakan koordinasi regional, pencegahan wabah di ASEAN telah mencapai hasil bernas.

Misalnya, ASEAN dan Tiongkok, Jepang, Korea Selatan membuka konferensi luar biasa pejabat tinggi kesehatan secara virtual jauh pada 3 Februari yang lalu. Konferensi Khusus Menlu Tiongkok-ASEAN terkait Penanganan Pandemi COVID-19 digelar pada 20 Februari. Setelah itu Konferensi Khusus Pemimpin ASEAN+3 pun berhasil digelar pada 14 April, di mana berbagai pihak mengeluarkan pernyataan bersama, para pemimpin ASEAN menyusun jadwal pekerjaan mengenai pencegahan wabah dan operasi ekonomi. Setelah itu, telah diadakan rangkaian konferensi tingkat menteri untuk pelaksanaan resolusi terkait.

Masalah kemacetan logistik dan berhentinya operasi perusahaan akibat wabah COVID-19 sudah diselesaikan melalui konsultasi politik lapisan tinggi. Dapat dikatakan, daya aksi politik menjadi pendukung dasar pemulihan ekonomi Tiongkok dan ASEAN.

Bisnis utama Perseroan terbatas Transportasi Peti Kemasi SITC di kota Shanghai berpusat di kawasan ASIA. Presiden SITC cabang Nanning Wei Renguo mengatakan: “Meskipun pada bulan Maret ketika wabah virus relatif merajalela, SITC membuka lagi lin pelayaran menuju ke negara-negara ASEAN. ” Pesanan yang diterima SITC terkait pelayaran ke ASEAN pada triwulan pertama meningkat 30 persen.

Di latar belakang data pertengahan tahun ini, terdapat usaha bersama Tiongkok-ASEAN selama puluhan tahun khususnya pada belasan tahun belakangan ini. Sejak didirikannya kemitraan dialog pada tahun 1991, khususnya penggalangan hubungan kemitraan strategis pada tahun 2003, isi kerja sama terus dimakmurkan, level kerja sama terus ditingkatkan, kerja sama semakin erat.

Misalnya, dalam data statistik perdagangan pada paro pertama tahun ini, ekspor impor di sektor elektronik meningkat dengan tajam. Sebagai bagian rantai industri manufaktur elektronik global, Tiongkok bekerja sama dengan erat dengan negara-negara ASEAN termasuk Vietnam, Malaysia dan Singapura. Pada paro pertama tahun ini, Tiongkok impor sirkuit terpadu (IC) senilai 220 miliar Yuan dari ASEAN dengan meningkat 20 persen lebih.

Sementara itu, hubungan yang erat antara Tiongkok dan ASEAN juga mendorong meningkatnya volume perdagangan. Pada Oktober 2019, Persetujuan Peningkatan Zona Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN berlaku secara menyeluruh di semua anggota peserta persetujuan.

Menurut data Kementerian Perdagangan, telah dicabut pajak bagi 7 ribu macam produk, lebih dari 90 persen barang dagang mewujudkan non pajak dalam kerangka Zona Perdagangan Bebas Tiongkok-ASEAN. Ketika Zona Perdagangan Bebas dimulai pembangunannya pada tahun 2002, volume perdagangan antara kedua pihak hanya tercatat 54,8 milyar dolar AS, tapi menerobos 600 milyar dolar AS pada tahun 2019.

Saat ini, kerja sama antara kedua pihak sedang diperluas dari bidang perdagangan tradisional ke bidang moneter lintas batas, ekonomi digital, telekomunikasi 5G dan navigasi satelit.

Menengok kembali masa lampau, baik krisis moneter Asia tahun 1997 maupun krisis moneter global tahun 2008, Tiongkok dan ASEAN mempunyai kerja sama yang lebih kuat pasca setiap krisis. Wabah virus corona tahun 2020 juga membuat Tiongkok dan ASEAN lebih mengenal pentingnya pembangunan komunitas senasib sepenanggungan manusia.

Menurut pengaturan sebelumnya, Persetujuan RECEP yang melibatkan Tiongkok, ASEAN, Jepang dan Korsel akan ditandatangani pada tahun 2020, ini akan mendatangkan prospek lebih cerah kepada kerja sama antara Tiongkok dan ASEAN di bidang ekonomi dan perdagangan.


Kirim email ke