Media Harus Memikul Tanggung Jawab Sosial
2020-07-21 17:17:46
http://indonesian.cri.cn/20200721/773de96e-c64f-fb2c-62b8-dba151288c87.html
Tiongkok dan India semuanya adalah negara yang medianya berkembang maju.
Peristiwa konflik yang terjadi di perbatasan Tiongkok dan India
baru-baru ini memperlihatkan kembali peran negatif yang dimainkan
sejumlah media. Sebagian orang membunyikan keras penentangan dan blokade
terhadap Tiongkok dan produk Tiongkok di media India, sejumlah media
bahkan menghasut otoritas melancarkan aksi militer yang berisiko
terhadap Tiongkok. Propaganda media India ini akhirnya menjadi daya
penggerak yang membalikkan hubungan Tiongkok-India.
Teman-teman India sering menyatakan bahwa India adalah negara
demokratis, bermedia bebas, konten yang dipublikasikannya tidak
dikontrol oleh pemerintah. Betul, Tiongkok mengakui keindependenan media
India. Mereka juga tidak menyangkal media cetak, televisi dan radio
Tiongkok dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok. Namun, terhadap
peristiwa yang terjadi di perbatasan kedua negara belakangan ini, mereka
dapat menjamin bahwa tiada satu media pun di Tiongkok yang pernah
mengeluarkan pendapat yang tidak bertanggung jawab. Karena mereka tahu
bahwa pembaca media adalah masyarakat, peliputan media akan langsung
mengakibatkan aksi masyarakat. Inilah sebabnya mengapa Tiongkok selalu
mengambil sikap hati-hati dalam peliputan hal ini.
Tiongkok dan India semuanya adalah negara yang penduduknya melampaui 1
miliar orang, kedua negara semuanya menghadapi masalah perkembangan
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan kehidupan rakyat. Jika terjadi perang
antara Tiongkok dan India, tak peduli siapa yang menang, impian kedua
negara untuk menuju kemakmuran dan kemajuan mungkin akan gagal. Akan
tetapi kegagalan Tiongkok dan India akan memberi manfaat kepada sejumlah
orang, ini justru sebabnya mereka menghasut India untuk melancarkan
serangan terhadap Tiongkok.
Yang disesalkan ialah, peliputan sejumlah media dalam masalah hubungan
Tiongkok dan India adalah salah dan tidak bertanggung jawab. Tiongkok
dan India semuanya adalah negara emerging, masa depan yang dihadapi
kedua negara bukanlah perjuangan, melainkan bergandengan tangan dan
kerja sama. Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Perdana Menteri India
Narendra Modi pernah berkali-kali menekankan bahwa dunia ini cukup
besar, dapat memuat Tiongkok dan India berkembang bersama. Mengenai
masalah perbatasan, Tiongkok dan India sepenuhnya mempunyai
kebijaksanaan untuk menyelesaikan masalah ini dengan layak. Namun,
mengambil langkah perundingan perdamaian dan bukannya pemaksaan adalah
prasyarat dalam menyelesaikan masalah perbatasan tersebut. Sedangkan
media dapat memainkan peranan sebagai pendorong dalam hidup berdampingan
secara damai dan menciptakan suasana yang baik bagi kerja sama kedua negara.
Bagaimana Agar Naga dan Gajah Dapat Menari Bersama?
http://indonesian.cri.cn/20200721/2296646a-48d8-59fe-2f30-851ad7708f7f.html
2020-07-21 15:42:28
Tiongkok dan India adalah dua negara yang penduduknya terbanyak di Asia.
Hubungan antara kedua negara tidak saja berkaitan dengan dapat tidaknya
abad Asia terwujud, tapi juga berkaitan dengan masa depan dunia. Selain
perselisihan di perbatasan, di antara kedua negara masih terdapat
masalah Tibet dan masalah hubungan segi tiga antara Tiongkok, India dan
Pakistan.
Apa yang menghalangi perkembangan hubungan Tiongkok-India? Terhadap hal
ini, para analis memiliki pandangan yang berbeda-beda. Namun menurut
penulis, kurangnya saling kepercayaan adalah penyebab sebenarnya yang
menjadikan hubungan Tiongkok dan India tersandung-sandung. Sebagai
negara malang yang pernah dijajah, Tiongkok berpendapat, India
seharusnya berdiri di sebelah Tiongkok, bersama mengupayakan
pembangkitan kembali bangsa negara-negara berkembang dan terwujudnya
abad Asia. Masalah-masalah yang terdapat antara kedua negara bisa
diselesaikan melalui perundingan atas dasar sama derajat dan konsultasi.
Akan tetapi, pihak India mencurigai Tiongkok mengusahakan terwujudnya
hegemonis, memandang pembebasan Tibet secara damai oleh Tiongkok sebagai
pendudukan, memandang kerja sama antar Tiongkok dengan negara-negara
Asia Selatan sebagai pengepungan terhadap India, dan memandang
pembangunan koridor ekonomi Tiongkok-India sebagai agresi terhadap tanah
Kashmir India. Saling kecurigaan antara kedua negara pada
masalah-masalah tersebut pasti akan menghalangi kerja sama dalam urusan
yang lebih luas.
Hubungan Tiongkok-India selalu dilukiskan sebagai konflik antara Naga
dan Gajah. Hal yang perlu dijelaskan, Naga diterjemahkan sebagai dragon
adalah tidak betul. Naga dalam kebudayaan Tiongkok adalah simbol yang
suci dan memiliki harapan, tapi Dragon adalah simbol jahat. Maka,
ilmuwan-ilmuwan Tiongkok sudah lama menentang penerjemahan naga sebagai
dragon.
Juga tidak menyetujui penggunaan istilah “Dragon and Elephant Dance”
atau “Naga dan Gajah Menari Bersama” untuk menjelaskan hubungan
Tiongkok-India. Oleh karena itu, ada sarjana berpendapat, Tiongkok-India
bukanlah naga dan gajah, melainkan dua gajah besar yang saling
mengandalkan, atau dua pohon besar yang sama-sama menghadapi kesulitan,
ini baru dapat menjelaskan hubungan asli antara kedua pihak.
Kebangkitan Tiongkok tidak berprasyarat dengan menekan negara lain.
Tentang hubungan Tiongkok-India, Tiongkok senantiasa memandang India
sebagai anggota penting dalam kelompok negara berkembang, mitra ekonomi
baru dalam negara-negara BRICS, dan mitra yang dapat mendukung bersama
kebangkitan Asia di masa depan. Justru berdasarkan gagasan itulah,
Tiongkok senantiasa aktif menjalankan kerja sama ekonomi dan perdagangan
dengan India, serta mementingkan koordinasi dengan India dalam berbagai
arena internasional. Pada masalah perbatasan yang paling sensitif,
apabila tidak ada prasangka, kita dapat mengakui bahwa sebenarnya
Tiongkok selalu mengambil sikap menahan diri. Tindakan Tiongkok hanya
untuk mencegah kebijakan salah India yang terus “maju ke depan”,
sedangkan Tiongkok tidak mengambil tindakan serupa. Pandangan Tiongkok
pada konflik perbatasan ialah, masalah yang tersisa dari sejarah
hendaknya diselesaikan melalui perundingan perdamaian. Sebelum masalah
itu diselesaikan, hendaknya memelihara ketenteraman di arena garis
pengontrolan aktual di perbatasan. Sedangkan mengenai penetapan terhadap
garis kontrol aktual, hendaknya mengambil cara konsultasi bersahabat.
Mengenai pandangan asalkan tentaranya pernah berpatroli di tempat itu,
maka tempat itu termasuk wilayah negaranya sendiri adalah hal yang
ketinggalan zaman.
Ditinjau dari konflik perbatasan Tiongkok-India kali ini, sikap
berkepala dingin yang diambil media Tiongkok jelas bertentangan dengan
hiruk pikuk media India. Yang patut ditegaskan ialah, baik pihak
penguasa Tiongkok maupun masyarakat sipil belum pernah memandang India
sebagai lawan, juga tidak pernah berpikir untuk melontarkan perang
dengan India.