The Washington Post:
Kegagalan AS Menanganani Pandemi Covid-19 Adalah “Krisis yang
Mengejutkan Dunia”
2020-07-21 14:40:19
图片默认标题_fororder_hsd
Mundur diri dari WHO, memaksa pemulihan aktivitas pembelajaran SD dan
Sekolah Menengah, tidak mengurangi perkumpulan kolektif, bahkan
menantang ahli kesehatan publik dll. Sejak memasuki bulan Juli,
serangkaian tindakan yang dilakukan pemerintah AS telah memperumit
situasi kekacauan penanggulangan wabah dalam negeri AS, juga memberi
dampak negatif kepada pencegahan dan pengendalian pandemi global.
图片默认标题_fororder_ame
Hari senin kemarin (20/7), The Washington Post telah mengeluarkan
laporan yang bertajuk “Krisis yang Mengejutkan Dunia: Reaksi AS terhadap
Virus Korona Jenis Baru”. Dikatakan dalam artikel tersebut bahwa
sejumlah besar negara sudah mengendalikan wabah melalui upaya
penanggulangan wabah covid-19 dalam beberapa bulan lalu, akan tetapi
bagi AS, penyebaran virus sudah tak terkendali lagi, penampilan berbagai
negara bagian AS ternyata terpecah belah di hadapan wabah, penuh dengan
kebencian politik dan perpecahan. Pemerintah AS telah memperlihatkan
kegagalan yang mengejutkan di bidang perlawanan wabah.
图片默认标题_fororder_ame2
Artikel tersebut sempat memberi komentar bahwa penanganan lalai AS
terhadap virus korona jenis baru diakibatkan beberapa penyebab.
Kegagalan pemerintah AS di bidang perlawanan wabah telah mengungkapkan
kurangnya kepemimpinan yang koheren di negerinya, polarisasi politik
seperti menggali kuburannya sendiri, absensi investasi atas usaha
kesehatan publik serta ketidakadilan sosial dan ekonomi dan
ketidaksetaraan bangsa yang berlangsung sejak lama itu, telah
mengakibatkan jutaan warga AS terinfeksi, dan di antaranya ratusan ribu
warga meninggal dunia.
Ahli kesehatan publik menyatakan, kesalahan terbesar pemerintah AS dalam
penanganan wabah adalah terburu-buru menghidupkan kembali ekonomi saat
virus korona jenis baru telah menyebar drastis di negerinya. Jauh pada
awal April, ahli penyakit menular sudah memperingatkan bahwa jalan satu
satunya bagi penghidupan kembali secara aman adalah “menekan rata kurva
kasus positif”, namun dewasa ini kurva ini tampaknya sedang menekan AS.
图片默认标题_fororder_ame4
“Seandainya ada pedoman kuat dari pemimpin daerah, negara bagian atau
negara, mungkin kami berkemampuan untuk menurunkan kurva sampai nol”,
tutur Francis Collins, Direktur USA National Institute of Health, “tapi
sekarang kurva masih tetap mengalami kenaikan dan saya masih belum
melihatnya sampai ke titik tertinggi.”
Dilaporkan The Washington Post, sebelum wabah covid-19 terjadi,
lembaga-lembaga kesehatan publik di sejumlah daerah AS sudah mengalami
pukulan berat akibat kekurangan tenaga kerja dan pengurangan anggaran
belanja.
Asosiasi Pejabat Kesehatan Nasional AS mengatakan, sejak tahun 2008,
sudah tercatat sekitar 60 ribu tenaga kesehatan di-PHK, yaitu hampir
seperempat dari jumlah total tenaga kerja asosiasinya. Anggaran belanja
CDC AS sejak tahun 2003 sudah dikurangi 30%.
Dilaporkan pula dari American Broadcasting Company (ABC) hari Senin
kemarin bahwa Gedung Putih berencana untuk mencabut sejumlah besar
anggaran belanja penanganan wabah, termasuk CDC dan USA National
Institute of Health.
Ahli menyatakan, AS sedang mendekati sebuah persimpangan, sistem
kesehatan publiknya kemungkinan akan ambruk akibat beban yang terlalu berat.
Media AS mengatakan, pandemi kali ini sudah terlibat ke dalam gejolak
politisasi politik AS.
Donald Trump kerap kali meremehkan ancaman virus dan menyebut “99% kasus
positif covid-19 sama sekali tidak fatal”, bahkan dia baru memakai
masker di depan publik hingga 11 Juli lalu. Dia malah menyatakan
dukungan kepada demonstran yang memprotes penutupan pabrik soal
pencegahan wabah oleh gubernur partai Demokratik AS.
Surat kabar AS berkomentar bahwa dalam pimpinan pemerintah Trump,
sejumlah besar orang AS berpendapat bahwa para ilmuwan dan media arus
utama telah membesar-besarkan keseriusan wabah, bahkan membuat berita
seputar pandemi. Pertikaian para ahli dan ilmuwan sudah berkembang
menjadi teori konsipirasi, dan sempat menjadi bagian dalam prosedur politik.
Situs web The Daily Beast AS pada 16 Juli lalu melaporkan bahwa, sebuah
dokumen yang belum diungkapkan menganjurkan bahwa setidaknya tercatat
belasan negara bagian AS seharusnya mengambil tindakan pencegahan dan
pengendalian wabah yang lebih ketat, misalnya membatasi perkumpulan
massa di bawah 10 orang, dan menutup bar dan gym, serta mewajibkan warga
untuk selalu memakai masker.
图片默认标题
Dokumen tersebut dikeluarkan pada tanggal 14 Juli lalu, dan sempat
dipersiapkan untuk “gugus khusus virus korona jenis baru Gedung Putih”.
Dikatakan oleh dokumen tersebut bahwa tercatat 18 negara bagian AS sudah
dicantumkan ke dalam “zona merah”, yaitu daerah yang tercatat memiliki
lebih dari 100 kasus konfirmasi dalam setiap 100 ribu orang; dokumen
tersebut masih mengumumkan nama 11 negara bagian dengan tingkat positif
lebih dari 10% dalam pendeteksian asam nukleat, yang juga dicantumkan ke
“zona merah”.
Diungkapkan oleh situs web The Daily Beast bahwa dokumen tersebut sudah
dibagikan secara intern oleh pemerintah federal AS dan tidak dibuka
untuk umum. Direktur Institut Kesehatan Global Universitas Harward
Ashish Jha 16 Juli lalu mengatakan, beberapa butir anjuran sangat baik,
namun mengapa harus menyembunyikan informasi tersebut kepada warga AS?
Ia berpendapat, seharusnya memperbarui informasi dan memublikasikannya
kepada umum setiap hari dengan tepat waktu.