Menanti Sinovac <https://www.disway.id/r/1010/menanti-sinovac>
22 July 2020
https://www.disway.id/r/1010/menanti-sinovac
------------------------------------------------------------------------
Oleh : Dahlan Iskan
/ABC News/
Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok
itu tiba di Bandung Senin kemarin?
Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan
yang mau disuntik dengan vaksin baru itu.
Itulah orang yang disebut dengan relawan uji coba klinis tahap tiga.
Khusus untuk uji coba tahap tiga ini jumlah relawannya harus banyak.
Boleh dikata: sebanyak mungkin. Kalau bisa sampai 3.000 orang.
Setidaknya 300 orang.
Kian banyak dari angka 300 kian baik. Agar bisa mendapatkan hasil
evaluasi yang terbaik. Berdasarkan evaluasi uji coba tahap tiga itulah
badan-badan dunia akan memberi ijin edar. Yakni badan yang terkait
dengan obat/vaksin baru.
Setelah izin keluar barulah vaksin itu boleh dipakai secara umum.
Istilahnya pun belum disebut 'resmi boleh dipakai' melainkan 'uji coba
tahap empat'. Tapi di uji coba tahap empat itu sasarannya bukan relawan
lagi. Siapa pun boleh disuntik dengan vaksin baru itu. Sambil terus
dimonitor oleh badan-badan perizinan obat/vaksin-baru dunia.
Itulah sebabnya penemuan obat baru itu mahal sekali. Untuk uji coba
tahap 4 ini saja, biayanya bisa mencapai Rp 200 miliar. Itu kalau di
negara-negara Barat. Padahal di sana tidak ada Pilkada. Karena itu untuk
mencari relawan tidak mudah. Mereka sangat takut pada efek samping obat
baru itu. Di sana relawan jenis ini mirip relawan Pilkada/Pilpres kita:
harus dibayar.
Di samping harus ada gizi, mereka juga harus menandatangani banyak
dokumen: misalnya tidak akan menuntut apa pun kalau ternyata ada masalah
dengan obat/vaksin itu. Mereka juga harus lebih dulu menjalani
pemeriksaan kesehatan. Lengkap. Pun setelah sebulan disuntik.
Pemeriksaan setelah penyuntikan itu bisa sampai dua kali. Berarti dua
bulan.
Kalau pun uji coba tahap 3 ini berhasil, berarti paling cepat Oktober
izin pakai dari badan-badan dunia akan keluar. Katakanlah: November. Di
bulan November tepat setahun Presiden Jokowi menjabat, vaksin itu sudah
bisa diproduksi masal.
Itu sudah sungguh-sangat-amat-luar-biasa cepat.
Hanya 10 bulan setelah Covid-19 menyerang Wuhan, Tiongkok, vaksin sudah
ditemukan –dan sudah bisa dipakai secara umum. Normalnya, di dunia
barat, vaksin atau pun obat baru seperti itu baru bisa meluncur ke pasar
paling cepat lima tahun.
Rasanya ini rekor sepanjang masa. Pun tidak mungkin terjadi kalau bukan
Tiongkok. Bukan saja perizinannya cepat tapi mencari relawan di sana
tidak perlu tim sukses. Terutama untuk relawan tahap satu. Yang
fokusnya pada dampak efek samping. Betapa bahayanya. Di tahap ini perlu
waktu dan penelitian yang sangat cukup untuk mengetahui aman tidaknya
obat baru.
Itu masih diteruskan dengan uji coba tahap dua: untuk mengetahui tingkat
keberhasilan. Dengan jumlah relawan sampai 60 orang. Semua itu sudah
sukses dilakukan di Tiongkok. Tinggal uji coba tahap tiga. Yang
sasarannya tidak boleh hanya di satu negara. Itulah sebabnya biayanya
mahal sekali. Kalau di dunia barat.
Dengan uji coba di banyak negara maka efektivitas obat/vaksin baru bisa
diketahui secara luas. Pun terhadap berbagai jenis manusia. Yang gen dan
darahnya berbeda-beda. Saya bersyukur Indonesia dipilih menjadi salah
satu dari banyak negara lain untuk uji coba tahap tiga itu. Itu sebagai
pertanda bahwa kita akan boleh memproduksi sendiri nantinya.
Bagaimana dengan Amerika dan India?
Di sana banyak Pilkada.
Di kita pun mungkin ada juga akan protes: kok kita dijadikan kelinci
percobaan.
Apakah mencari relawan di Indonesia tidak sulit? Apakah akan menuntut
sama dengan relawan pilkada?
Harusnya mudah. Dan tidak harus membayar. Saya mau tidak usah dibayar.
Tapi umur saya mungkin tidak cocok lagi.
Relawan tahap tiga ini harus dari berbagai macam manusia: anak, remaja,
muda, setengah umur dan orang tua –asal jangan tua sekali. Masing-masing
dengan jenis kelamin yang berbeda-beda: laki, perempuan dan yang half-half.
Asal daerah mereka juga harus beda-beda: kota, desa, dan yang seperti
lagunya Rhoma Irama itu: ada Jawa, Sunda, Tionghoa, Batak, Bugis dan
lain-lainnya.
Nama vaksin itu: belum ada. Hanya disebut 'Vaksin Sinovac' --vaksin
buatan perusahaan Tiongkok bernama PT Sinovac. Di Indonesia uji coba itu
dilakukan oleh PT Biofarma, sebuah BUMN yang laboratorium besarnya di
Bandung.
Biofarma punya pengalaman panjang di bidang ini. Terutama ketika ahli
Indonesia menemukan vaksin flu burung –rasanya dari ahli di Universitas
Airlangga? Biofarmalah yang melahirkannya.
Biofarma memang punya peternakan ayam khusus –telurnya dipakai
penelitian. Pun punya peternakan tikus dan kelinci.
Universitas Padjadjaran, Bandung, tentu sangat beruntung dekat dengan
Biofarma. Ahli-ahli dari Unpad bisa terjun langsung dalam proses uji
coba tahap 3 ini. Terutama dalam menggalang relawan.
Dulu kita pernah menanti hujan di bulan November-nya Christin Panjaitan.
Kini kita menanti November karena vaksin Sinovac.(Dahlan Iskan)