Lalu, ... siapa dan bangsa mana yang lebih PANTAS dijadikan
kelinci-percobaan saat memasuki uji-coba tahap-III??? Merasa Bangsa
Indonesia adalah bangsa Arya yang lebih BERHARGA dan berkemampuan
menemukan vaksin sendiri, ... jadi, tidak seharusnya menjadi kelinci
percobaan???
Setelah Vaksin Sinovac melewatai uji-coba tahap-II, dengan disuntikkan
pada lebih 3000 sukarelawan dari berbagai usia dan kondisi kesehatan di
Tiongkok, yang dimulai awal Maret barulah di akhir Juni dinyatakan
BERHASIL, dan bisa memasuki uji-coba tahap-III pada bangsa lain (bukan
Tionghoa, manusia yang berbeda DNA nya)! Setelah dinyatakan lolos dari
uji-coba tahap-III ini baru bisa diproduksi dan dipasarkan didunia, ...
Indonesia dipilih untuk uji-coba tahap-III ini, karena sampai sekarang
BELUM BERHASIL mengendalikan wabah Covid-19 yang terus merebak, ... Lalu
terdesak memulihkan produksi, kehidupan masyarakat berada disimpang
jalan mau MATI kena Covid-19 atau MATI KELAPARAN!!! Bukankah dengan
keberhasilan vaksin Sinovac melewati uji-coba tahap-II menjadi
alternatif cukup baik dalam mengatasi pertaruhan nyawa yang sedang
dihadapi rakyat Indonesia mengatasi Covid-19 yang mematikan itu! Dan,
.... setelah dinyatakan lolos uji-coba tahap-III ini, Indonesia
diperbolehkan memproduksi sendiri vaksin tsb. Bukankah dengan demikian
menguntungkan rakyat Indonesia sendiri, ... BERHASIL mengatasi Covid-19
lebih cepat, dan mengurangi angka kematian!
Kemarin ini bung Jo juga sudah memberi pencerahan yang sangat
JIIITUUUUUUU, ...:
On Thursday, July 23, 2020, 10:11:15 AM PDT, 'B.H. Jo' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
Pendapat ttg "kelinci percobaan vaksin" dari *Muhаmmаd Nаѕіr Djаmіl dan
**Haris Ruѕlу Mоtі dan PARA pendukungnya *adalah pendapat yg cupat,
tidak ber-kemanusiaan dan nasionalistis yg sempit.. *Maunya cuma
menikmati keuntungan saja tanpa mau memberi sumbangan.* Seperti Trump
(yg rasialis dan nasionalistis yg sempit) yg mau membeli pabrik farmasi
dari Jerman (yg akan membuat vaksin) supaya kalau bisa menghasilkan
vaksin cuma akan digunakan utk orang2 Amerika.
Apalagi uji klinis *phase III *yg akan dilakukan di Indonesia adalah
boleh *dibilang aman ("safe") *utk calon2 penerima vaksin *(setelah
lulus di uji keamanannya di phase I dan II di Tiongkok). Tujuan utama
dari Phase III adalah utk mengetahui apakah calon vaksin ini efektif
terhadap Covid-19. *
*
*
*Catatan:**kasus2 Covid-19 di Tkk tidak banyak jadi harus dilakukan di
negara2 yg banyak kasus2 nya.** Dan phase III memerlukan orang2 jauh
lebih banyak dari phase I dan II utk bisa **menghasilkan hasil statistik
yg berguna (significant)**. Kalau tidak bisa dilakukan di Indonesia,
bukan masalah koq, banyak negara2 lain yg mau/ingin ikut utk mengukuti
uji klinis phase III, yg bisa berguna utk rakyatnya/kemanusiaan dan juga
mendapat pengalaman medik yg berguna.*
*
*
*Orang2 yg telah melakukan phase IIdan apalagi yg telah melakukan phase
I utk pengujian keamanan, boleh dibilang telah melakukan tindakan yg
mulia utk menolong orang lain atau manusia lain.*
Seperti orang2 yg menyumbangkan darah atau organ-nya (misal: ginjal dll)
utk menolong orang lain adalah tindakan yg mulia. Dan orang2 yg
memberikan bantuan medik (doctor without border) dinegara lain (misal:
Ebola yg lebih mematikan drpd Covid-19). Orang2 yg memberi bantuan
bencana alam dgn suka-rela dlll. Rakyat Indonesia harus dianjurkan
melakukan tindakan2 yg mulia oleh para pemimpinnya (seperti Jokowi yg
telah mengikuti uji klinis utk Covid-19)) dan bukan dianjurkan tindakan
yg seperti telah dianjurkan oleh **Muhаmmаd Nаѕіr Djаmіl dan **Haris
Ruѕlу Mоtі dan PARA pendukungnya. **
**
**
**BH Jo**
**
**
Sunny ambon [email protected] [nasional-list] 於 2020/7/24 上午 01:59
寫道:
/Mengapa diuji coba pada rakyat di Indonesia? Apakah para petinggi
rezim neo-Mojopahit mendapat hadiah di bawah meja?/
https://www.harianaceh.co.id/2020/07/23/uji-coba-vaksin-rakyat-dijadikan-kelinci-percobaan/
*Uji coba Vaksin, Rakyat Dijadikan Kelinci Percobaan?*
*Djumriah Lina Johan* <https://www.harianaceh.co.id/author/lina/>
23/07/2020 | 17:50 WIB
<https://www.harianaceh.co.id/2020/07/23/uji-coba-vaksin-rakyat-dijadikan-kelinci-percobaan/>
UNIVERSITAS Padjadjaran (Unpad) bersama BUMN Bio Farma akan melakukan
uji klinis calon vaksin COVID-19 yang disuntikkan kepada 1.620 orang.
Penelitian akan dilakukan pada awal Agustus 2020 setelah mendapatkan
izin penelitian dari Komite Etik Penelitian Universitas Padjadjaran.
Dokter Eddy Fadliana, selaku Manajer Lapangan Tim Penelitian Uji
Klinis Tahap 3 Calon Vaksin COVID-19 dari Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran, mengatakan meski dinyatakan aman untuk
manusia, pada uji klinis fase pertama dan kedua yang telah dilakukan
di China, ada efek samping yang akan ditimbulkan ketika vaksin
tersebut disuntikkan kepada manusia.
Kita berpatokan pada penelitian. Dari penelitian yang dipublikasikan,
ada reaksi lokal berupa nyeri di tempat suntikan 20 sampai 25 persen
(dari jumlah orang yang menjadi relawan uji klinis fase satu dan
dua),” kata Eddy saat konferensi pers di Rumah Sakit Pendidikan (RSP)
Unpad Jalan Prof Eyckman, Kota Bandung, Rabu (22/7/2020).
Lebih lanjut, Eddy menambahkan, pada uji klinis fase satu dan fase
dua, beberapa relawan yang telah disuntik calon vaksin COVID-19 yang
dikembangkan oleh Sinovac Biotech Ltd (Sinovac), mengalami radang
paru-paru, diare, dan penyakit lainnya.
Perlu diketahui, sebanyak 2.400 sampel calon vaksin COVID-19 dari
Sinovac Biotech Ltd, China, tiba di Indonesia. Bakal vaksin itu akan
diuji klinis di laboratorium milik PT Bio Farma (Persero) dan
fasilitas penelitian lain di dalam negeri. Kedatangan ribuan kandidat
vaksin tersebut diharapkan membuat peluang produksi vaksin virus
corona (COVID-19) di Indonesia bisa dilakukan pada awal tahun depan.
Kedatangan sampel vaksin dari China untuk diuji coba di pada rakyat
Indonesia mengkonfirmasi beberapa hal:
Pertama, hilangnya nurani penguasa dalam upaya menjaga kesehatan dan
keselamatan rakyat. Sebagaimana fakta di atas, uji klinis satu dan dua
menunjukan adanya efek samping. Sehingga tak seharusnya pemerintah
mengizinkan uji coba fase ketiga di negeri ini. Karena dengan adanya
izin dari penguasa berarti pemerintah telah merelakan tergadainya
keselamatan dan kesehatan bahkan nyawa rakyat sebagai kelinci percobaan.
edua, nilai ekonomi di balik uji klinis fase tiga di Indonesia.
Sejatinya pemilihan rakyat Indonesia sebagai kelinci percobaan tidak
lain hanya bermakna satu hal, yakni keuntungan materi. Besarnya untung
yang akan diraup oleh pemerintah menjadi satu-satunya alasan penguasa
negeri ini menutup mata akan efek samping maupun akibat dari uji coba
tersebut. Tak ada setitik pun rasa kepedulian akan nyawa rakyat. Hanya
ada niatan meraih keuntungan ekonomi.
Ketiga, belenggu ekonomi Kapitalis di balik uji coba vaksin COVID-19.
Kapitalisme memandang COVID-19 tidak hanya sekadar wabah namun virus
yang dapat mendulang keuntungan. Yakni, dengan memproduksi vaksin
secara massal. Tentu bisnis menguntungkan ini membutuhkan penelitian
demi penelitian serta uji klinis berfase-fase.
Selain mengeluarkan modal yang tidak sedikit. Bisnis ini juga
membutuhkan nyawa sebagai taruhan, yaitu ketika masa-masa uji coba
vaksin dan obat-obatan. Walhasil, hilangnya nurani penguasa maupun
pengusaha dengan mengorbankan nyawa rakyat tidak lain demi keuntungan
yang berakar dari rusaknya pemikiran akibat pengadopsian sistem
ekonomi Kapitalis. Kesehatan dikapitalisasi demi meraup keuntungan
sebesar-besarnya.
Hal ini sangat kontras dengan sistem Islam. Islam sebagai agama yang
bersumber dari Allah SWT tidak akan pernah sedetik pun menjadikan
nyawa rakyat sebagai taruhan. Islam dengan jaminan kesehatannya yang
khas akan memberikan pelayanan terbaik kepada umat baik Muslim maupun
non-Muslim.
Sehingga kala wabah terjadi, penguasa negeri kaum Muslimin akan
mendorong para ilmuwan, dokter, dan ahli kesehatan lainnya untuk
berusaha menemukan obat maupun vaksin yang dapat menyembuhkan rakyat.
Serta dapat mengeluarkan negeri dari kungkungan virus. Tentu uji coba
yang dilakukan tidak dengan mengorbankan kesehatan, keselamatan, dan
nyawa rakyat. Sebab, Rasululullah saw bersabda, “/Hilangnya dunia,
lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa
hak./” (HR. Nasai, Tirmidzi)
Dalil tersebut menguatkan bagaimana Islam menjaga dan menjamin hak
hidup setiap warga negara. Sehingga para ilmuwan dan ahli kesehatan
harus berupaya semaksimal mungkin dengan menggunakan bahan-bahan
terbaik didukung fasilitas terbaik untuk menghasilkan vaksin dan obat
tanpa harus uji klinis yang menyebabkan efek samping kepada manusia.
Hal ini tentu bukan sekadar konsep khayalan semata. Sebab, Ibnu Sina,
seorang ilmuwan, dokter, serta cendekiawan Muslim mampu membuktikan
kepada dunia pada masa teknologi belum semaju sekarang. Bagaimana
gambaran struktur mata manusia tanpa harus melakukan pembedahan. Semua
itu ia lakukan atas dasar penggalian dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan
bahkan hingga kini, kitab-kitab karya Ibnu Sina dijadikan rujukan
dalam dunia kedokteran dan kesehatan.
Dengan demikian, bukan hal yang mustahil menciptakan obat dan vaksin
tanpa harus menjadikan rakyat sebagai kelinci percobaan. Inilah
bedanya peradaban Islam yang gemilang dengan peradaban Barat yang
penuh tipu muslihat. Maka, tidakkah kita menginginkan hidup kembali di
bawah naungan Islam rahmatan lil ‘alamin?
/**). Penulis adalah Praktisi Pendidikan dan Pemerhati Sosial Ekonomi
Islam/