Teori Menggelegar Jenazah COVID-19 Sebaiknya Dibakar
Tim detikcom - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 05:49 WIB
10 komentar
<https://news.detik.com/berita/d-5105863/teori-menggelegar-jenazah-covid-19-sebaiknya-dibakar#comm1>
SHAREURL telah disalin
<https://news.detik.com/berita/d-5105863/teori-menggelegar-jenazah-covid-19-sebaiknya-dibakar>
Mendagri Tito Karnavian angkat bicara soal lockdown yang akhir-akhir
ramai dibicarakan. Apalagi setelah beberapa daerah menerapkan local
lockdown. Menurut Tito, bagaimana seharusnya kepala daerah bersikap dan
mengambil kebijakan?Mendagri Tito Karnavian (20detik)
*Jakarta*-
Menteri Dalam Negeri (Mendagri)Tito Karnavian
<https://www.detik.com/tag/tito-karnavian>mengemukakan teori perihal
cara terbaik menanganijenazah kasus COVID-19
<https://www.detik.com/tag/jenazah-corona>. Teori yang dikemukakan Tito
ini menggelegar di publik, sampai-sampai Kementerian Dalam Negeri
memberikan penjelasan lanjutan.
Sebagaimana diketahui, penanganan jenazah COVID-19 berbeda dengan
jenazah biasa. Penanganan dengan prosedur khusus harus diterapkan demi
menjaga kesehatan banyak orang yang masih hidup. Bila tidak ditangani
sesuai prosedur, dikhawatirkanvirus Corona
<https://www.detik.com/tag/virus-corona>jenis baru yang ada di jenazah
bisa menular ke manusia yang masih hidup. Tito berpandangan, virus akan
mati bila jenazah dikremasi.
"Yang terbaik, mohon maaf, saya muslim tapi ini teori yang
terbaikdibakar <https://www.detik.com/tag/jenazah-covid_19-dibakar>,
karena virusnya akan mati juga," kata Tito dalam sebuah webinar.
*Baca juga:*Tito Karnavian: Secara Teori Jenazah Covid-19 Paling Baik
Dibakar
<https://news.detik.com/detiktv/d-5104978/tito-karnavian-secara-teori-jenazah-covid-19-paling-baik-dibakar>
Tito menyampaikan hal tersebut dalam webinar nasional Asosiasi FKUB
Nasional yang diikuti secara virtual melalui aplikasi Zoom, Selasa
(21/7/) lalu. Video webinar itu dibagikan oleh Kapuspen Kemendagri,
Bahtiar, di grup wartawan Kemendagri pada Rabu (22/7) kemarin.
Lanjut soal teori jenazah COVID-19, tentu jenazah COVID-19 tidak harus
dibakar. Jenazah COVID-19 bisa dikuburkan di tanah tanpa risiko
penularan COVID-19. Caranya, yakni dengan prosedur yang benar.
*Baca juga:*Kemendagri Jelaskan Ucapan Tito Karnavian soal 'Teori
Jenazah COVID Dibakar'
<https://news.detik.com/berita/d-5104941/kemendagri-jelaskan-ucapan-tito-karnavian-soal-teori-jenazah-covid-dibakar>
"Kalau seandainya dimakamkan sesuai dengan cara-cara agama, beberapa
agama tertentu ya dia harus dibungkus rapat, rapi, harus rapat, tidak
boleh ada celah virusnya keluar, karena virusnya itu akan bertahan. Dan
upayakan di kuburan di pemakaman yang tidak ada air mengalir, yang
kering. Panas," ujar Tito.
Kepala Pusat Penerangan Dalam Negeri (Kapuspen Kemendagri) Bahtiar
kemudian langsung meredam potensi kesalahpahaman soal teori penanganan
jenazah COVID-19 ini.
"Yang dikatakan Pak Menteri, secara teori baiknya jenazah COVID dibakar
agar virusnya juga mati. Namun, bagi yang muslim dan agama lain, ini
tidak sesuai akidah, maka penatalaksanaannya dibungkus tanpa celah agar
virus tidak keluar (menyebar), kemudian dimakamkan," kata Kapuspen
Kemendagri Bahtiar dalam keterangan tertulis, Kamis (23/7).
*Baca juga:*Ini Pernyataan Utuh Mendagri Tito Karnavian soal 'Teori
Jenazah COVID Dibakar'
<https://news.detik.com/berita/d-5105118/ini-pernyataan-utuh-mendagri-tito-karnavian-soal-teori-jenazah-covid-dibakar>
Ternyata, yang disampaikan Bahtiar juga tidak berbeda dengan pernyataan
Tito, bahwa sebaiknya jenazah COVID-19 dibakar agar virusnya juga mati,
namun demikian jenazah dikuburpun juga bisa tetap aman dari penyebaran
COVID-19 asalkan prosedurnya benar. Lalu apa lagi yang perlu dijelaskan?
Simak kalimat lengkap dari Tito yang memuat teori menggelegar jenazah
COVID-19:
/Tito Karnavian:/
/...nah, kemudian yang lain saya kira ada cara-cara memang penanganan
untuk pembatasan atau mencegah penularan ini. Yang pertama, yang paling
ekstrem, cepat, tapi kalau itu bisa dilalui, itu lebih mudah yaitu
dengan melakukan karantina wilayah atau dalam bahasa Inggrisnya sering
disebut dengan lockdown. Tapi banyak yang mungkin belum memahami,
seperti di Papua saya melihat konsep lockdown itu tidak diterapkan
dengan pas, yang dimaksud dengan karantina wilayah atau lockdown itu.
Satu orang dari luar nggak boleh masuk ke daerah itu. Dua, orang dari
daerah itu nggak boleh keluar. Ketiga, setiap orang di dalam area itu
harus tinggal di rumah masing-masing. Tujuannya apa? Filosofinya adalah
supaya setiap orang tidak bersentuhan sehingga tidak terjadi penularan.
Yang tidak tertular tetap aman, yang tidak tertular dia mengalami
pertarungan dalam tubuhnya, antibodinya kekebalan tubuhnya akan
memproduksi antibodi spesifik mengenai COVID, dan terjadi pertempuran.
Kalau COVID-nya mati maka antibodinya akan keluar dia akan menjadi
kebal. Pada waktu hari tertentu dia akan menurun, karena lawannya nggak
ada. Tapi memori antibodi itu sudah ada pada sistem kekebalan tubuh yang
ada pada pankreas. Nah kalau nanti dia nanti apakah bisa tertular lagi
positif? bisa. Ketemu yang positif dia kena lagi positif, tapi 24 jam
karena sistem kekebalan tubuh sudah kenal, Oh ini COVID, saya sudah
kenal nih. Musuh saya yang dulu. Udah bentuk pasukannya, antibodinya
akan keluar 24 jam menghancurkan COVID-nya. Atau kalau kekebalan
tubuhnya antibodinya kalah dia sakit, obati, bawa ke rumah sakit
semaksimal mungkin, kasih vitamin c dll, berjemur. Vitamin d, kena sinar
matahari, makanan yang sehat, sambil olahraga-olahraga. Di Pulau Galang
saya datang, saya kaget karena lebih kurang 150-an yang positif dirawat
di Rumah Sakit Pulau Galang, itu semua sembuh, saya tanya kepada dokter
kolonel angkatan darat, kasih apa dok? nggak ada Pak, saya kasih vitamin
C dosis tinggi, kasih vitamin E, saya kasih madu, setelah itu saya suruh
olahraga mereka minimal 15 pagi, 15 menit siang karena terpapar sinar
matahari. Sembuh? sembuh luar biasa. Nah kalau yang sakit dia dibawa ke
rumah sakit tapi hati-hati betul./
/Saya mohon maaf, Napak-bapak Pendeta, saya sudah sampaikan kepada pak
wakil gubernur, tolonglah, Pak, sampaikan kepada pak gubernur juga,
tolong juga di daerah-daerah lain juga, itu di Jayapura di Rumah Sakit
Dok II, istri saya datang ke sana. Mau apa? Karena memberikan bantuan.
Dia kaget karena rumah... penyakit yang pasien COVID-19 itu dimasukkan
tempat yang sama dengan pasien-pasien lain. Padahal prinsipnya
pasien-pasien yang ginjal, jantung, paru-paru, lever, yang punya
penyakit-penyakit bawaan ini mereka tidak boleh tersentuh oleh COVID-19.
Ini nggak, pasiennya yang dibawa, pasien COVID-19 yang ditaruh di situ.
Bisa dibayangkan dokternya sama, perawatnya sama, tempat makannya sama,
piringnya sama, ganti-ganti saja. Setelah itu perawatan medis, MRI-nya,
teleskopnya sama itu dipegang yang positif nempel ke yang penyakitan
yang lain, yang negatif. Bisa tertular, mereka akan bisa menjadi fatal
sekali. 81 tenaga medis di Rumah Sakit Dok II terkena itu perawat dan
dokternya, bagaimana kalau dengan pasien yang lain. Rumah sakit COVID-19
harus dipisah sendiri, saya sudah sampaikan ke Pak Wagub, rumah sakit
sendiri. Saya mohon maaf bahwa saya akan ke Timika, saya akan bicara
dengan Freeport. Tolong bantu buatkan rumah sakit khusus COVID di Papua,
di Jayapura. Jadi semua orang yang kena COVID ke sana. Seperti kita
Pulau Galang, Wisma Atlet./
/Tidak ada yang dirujuknya ke RSCM, ntar gabung kepada yang punya
penyakit bawaan, bahaya ini. Saya kita harapkan rumah sakit sendiri,
jangan digabung dengan rumah sakit lain yang ada pasien-pasien lain yang
mempunyai penyakit bawaan, justru berbahaya. Dikasih bahaya, ya bahaya.
Nah, kemudian saya mohon juga kepada, saya ulangi, kalau kita
skenarionya lockdown tadi, berapa lama? Minimal 14 hari, makanya saya
bilang cepat, 14 hari karena masa inkubasinya 14 hari. Hari pertama
sampai hari keenam begitu dia masuk, tubuh kita mulai bereaksi, di hari
ketujuh membentuk antibodi, hari ketujuh antibodinya mulai melakukan
perlawanan. Bisa kalah. Maka rapid test yang kita siapkan itu berisi
bagian atau rekayasa dari COVID-19 untuk mengenali antibodi. Jadi kalau
seandainya orang yang memiliki antibodi akan terdeteksi di situ reaktif
artinya di dalam tubuh orang yang dites reaktif itu terdapat antibodi
kalau ada antibodi COVID-19 berarti ada COVID-19 nya. Kira-kira begitu.
Nah kalau ada yang nonreaktif kelemahan rapid test, dia tidak bisa
mendeteksi orang yang sudah terkena virus dari hari pertama sampai hari
keenam karena antibodinya belum keluar. Maka kalau ada yang nonreaktif
belum tentu dia itu negatif, bisa saja dia positif tapi belum hari
ketujuh sehingga tidak terdeteksi oleh alat rapid test atau dia sudah
pernah positif dan kemudian menjadi negatif sehingga rapid test
melihatnya menjadi negatif, nonreaktif. Nah ini alat yang baik adalah
pemeriksaan lab, swab, air liur yang di hidung maupun di mulut. Itu
namanya PCR, itu dilihat, diperiksa, mengenali virusnya. Dan kita
beruntung kita awalnya punya 3, sekarang sudah 230-an lebih./
/Saya cek di Jayapura sudah ada 6 kalau tidak salah, ini bagus. Tapi
saya pengin ada tambahan lagi, di Nabire, besok saya di Freeport saya
akan minta. Nabire, kemudian di Sentani dan Keerom. Nah kemudian apakah
kalau memang lockdown atau apakah karantina wilayah ini efektif, minimal
2 minggu kalau bisa 3 minggu kalau mau aman lagi satu bulan, tapi ini
kenapa nggak dilakukan? Tergantung geografinya, kalau geografinya itu
mendukung bisa dilakukan lokalisasi wilayah, itu salah satu faktor,
salah satu faktor untuk bisa dilakukan lockdown, contoh misalnya, mohon
maaf, Bali. Bali itu ada batas alam cukup nutup bandara, menutup
pelabuhan, baik dari Lombok maupun dari Banyuwangi, itu sudah terkunci
Bali, setelah itu semua orang. Nah itu./
/Bangka Belitung bisa, kemudian di Batam bisa, Morotai bisa, Lombok
bisa, di Kepulauan Yapen bisa, tapi kalau daerah seperti Jakarta,
Surabaya apakah bisa dilakukan lockdown? Saya bilang tidak bisa, saya
sampaikan kepada Gubernur DKI, Pak Anies, nggak bisa, bagaimana caranya
mau nutup Jakarta? Jakarta itu dengan kota satelit sekitarnya itu sudah
menjadi satu, dia hanya di peta saja ada batas, batas alamnya nggak ada,
dengan Depok, Tangerang, Bekasi, nggak ada./
/Ini sebelah sini orang ber-KTP DKI, sebelah rumahnya ber-KTP Depok,
ber-KTP Bekasi, ber-KTP Tangerang, Tangerang Selatan, Ciputat. Sehingga
menutup jalan raya bisa, menutup jalan tol bisa, menutup kereta bisa,
kalau menutup yang di tetangga ini perlu puluhan ribu orang./
/Surabaya juga sama problemnya sama di situ ada Gresik, Sidoarjo, sudah
menjadi satu. Sidorajo sudah menjadi satu dengan tetangganya, Gresik
sudah menjadi satu dengan tetangganya, sulit, yang kedua kalau kita
melakukan lockdown karena setiap orang harus tinggal di dalam rumah,
maka kita harus kuat anggaran untuk memberikan bantuan mendata siapa
yang kuat siapa sebulan bertahan di rumah ya lanjut silakan, kalian
cukup makan sebulan silakan oke./
/Yang nggak cukup makan, didata mereka diberikan bantuan... (suara nggak
jelas) ...supaya apa? Supaya tadi yang nggak tertular, aman yang dia
sudah positif, tertular bila tubuhnya baik dia akan sembuh sehat, yang
nggak sehat dibawa ke rumah sakit, yang nggak sembuh dia wafat, kalau
udah wafat ya mereka dikuburkan. Yang terbaik, mohon maaf, saya muslim
tapi ini teori, yang terbaik dibakar karena virusnya akan mati juga./
/Kalau seandainya dimakamkan sesuai dengan cara-cara agama, beberapa
agama tertentu ya dia harus dibungkus rapat, rapi, harus rapat. Tidak
boleh ada celah virusnya keluar, karena virusnya itu akan bertahan. Dan
upayakan di kuburan, di pemakaman yang tidak ada air mengalir, kering.
Panas. Nah sehingga virusnya ikut dia./
Sejumlah petugas medis mengangkat peti jenazah pasien positif COVID-19
saat simulasi pemakaman di Lhokseumawe, Aceh, Jumat (17/4/2020).
Simulasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan melatih kesiapan
sarana dan tenaga medis yang sewaktu waktu dibutuhkan dalam membantu
menangani pemakaman jenazah pasien positif COVID-19. ANTARA
FOTO/Rahmad/pras.Sejumlah petugas medis mengangkat peti jenazah pasien
positif COVID-19 saat simulasi pemakaman di Lhokseumawe, Aceh, Jumat
(17/4/2020). Simulasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan dan melatih
kesiapan sarana dan tenaga medis yang sewaktu waktu dibutuhkan dalam
membantu menangani pemakaman jenazah pasien positif COVID-19. ANTARA
FOTO/Rahmad/pras. Foto: ANTARA FOTO/RAHMAD