Mike Pompeo, Penghasut Sentimen Perang Dingin dan Perusak Perdamaian Dunia

2020-07-27 17:37:22 http://indonesian.cri.cn/20200727/f793e594-7eef-f8f3-83bd-37121c0ca9cd.html

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo belum lama lalu menyampaikan pidatonya di Richard Nixon Library, California. Ia membesar-besarkan “ancaman Tiongkok” dan mengkritik kebijakan AS terhadap Tiongkok 50 tahun yang lalu telah mengalami kegagalan. Ia mengimbau AS dan sekutunya untuk mengambil kebijakan yang lebih agresif dan radikal untuk mengubah Tiongkok. Begitulah Menlu terburuk dalam sejarah AS itu berulang kali membakar sentimen Perang Dingin, dan dengan tingkah lakunya tersebut, Mike Pompeo yang namanya sangat buruk sudah benar-benar menjadi ancaman besar bagi perdamaian dunia.

Selama dua tahun lebih sejak memangku jabatan sebagai Menlu AS, Mike Pompeo selalu diidentifikasikan dengan pikiran Perang Dingin yang menjadi salah satu ciri khas tipikal sosok pria tersebut. Ia berulang kali menghasut McCarthyisme di dalam negeri dan pikiran dingin di panggung dunia, dengan maksud memprovokasi konfrontasi melawan Tiongkok. Kali ini, Mike Pompeo sengaja memilih kampung halaman Nixon sebagai tempat menyampaikan pidato anti Tiongkok, dengan maksud mencontoh mantan Menlu AS, John Foster Dulles yang terkenal sebagai sosok yang memusuhi Tiongkok pada masa Perang Dingin. Akan tetapi, di dunia dewasa ini, arus kerja sama dan perdamaian terus bergulir tak terhalang dengan diiringi arus keterbukaan dan integrasi serta pembaruan dan inovasi. Ekstrem sayap kanan Mike Pompeo yang masih berpegang teguh pada pikiran dingin pasti akan tergilas oleh arus sejarah.

Masyarakat mengetahui, kali ini Mike Pompeo menyampaikan pidatonya tidak hanya secara teliti memilih lokasi, tapi juga berkali-kali mengutip perkataan mantan Presiden AS, Richard Milhous Nixon untuk membujuk sekutu AS melawan Tiongkok. Namun yang di luar dugaan ialah, gerak-geriknya yang seperti pelawak itu justru telah mengungkapkan ketidaktahuannya tentang sejarah. Harian The Washington Post tanggal 26 Juli memuat sebuah artikel yang ditulis oleh Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri AS, Richard Haass yang menunjukkan, Presiden Richard Nixon dan Menlu Henry Kissinger melaksanakan kebijakan berkontak atau bermanis muka dengan Tiongkok pada waktu itu dengan bertolak dari pertimbangan menyeimbangi kekuatan Uni Soviet, dan bukan untuk mengintervensi urusan dalam negeri Tiongkok. Dari pidatonya yang bernada keras terlihat Mike Pompeo “tidak mengenal sejarah, tidak mengenal Tiongkok, bahkan tidak mengenal AS”. Haass menunjukkan, ketimbang hubungan bilateral mana pun, hubungan AS-Tiongkok adalah hubungan yang menentukan arah perkembangan zaman ini. Mike Pompeo hingga saat ini belum memiliki kebijakan berkesinambungan apa pun yang dapat dilaksanakan, namun malah mengungkapkan “kesalahpahamannya terhadap sejarah”.

Bagi seorang diplomat senior AS yang salah menafsir sejarah, ia memandang dunia ini secara miring, dan kemudian Tiongkok yang berbeda sistem politik dan peradabannya dengan AS langsung dijadikan sebagai “kambing hitam” atas hampir semua masalah serius yang terjadi di AS. Pompeo dalam pidatonya menyatakan keraguan terhadap semua pertukaran dan kerja sama normal antara AS dan Tiongkok, menganggap Tiongkok meraup segala keuntungan dari AS, dan menjadikannya sebagai fondasi provokasi terhadap Tiongkok.

Akan tetapi, apakah itu fakta sejati? Mutlak bukan. Ambillah penanaman modal asing di Tiongkok sebagai contoh. Di satu pihak, perusahaan asing termasuk perusahaan AS menanam modal dan membangun pabrik di Tiongkok untuk menikmati segala sumber daya dan unsur yang melimpah dengan harga yang rendah. Di pihak lain, produk “Made in China” yang bermutu tinggi dan berharga rendah sangat menurunkan angka inflasi global, sehingga membawa manfaat kepada para konsumen, terlebih membawa keuntungan kepada para investor dari dua arah. Nyata sekali, Tiongkok bukanlah “ancaman bagi pola hidup warga AS” yang dikoarkan Mike Pompeo, namun justru merupakan penjamin pola hidup serupa.

Sejarah bergabungnya Tiongkok dengan dunia dalam puluhan tahun lalu membuktikan bahwa Tiongkok mengusahakan perdamaian dan bukan hegemoni. Tiongkok adalah peluang, bukan ancaman. Tiongkok merupakan mitra, bukan rival. Di dunia yang multipolar ini, kepentingan Tiongkok dan kepentingan mancanegara sudah saling berbaur dan terikat dalam, mustahil berbalik ke masa perang dingin di mana dua kubu saling bermusuhan. Saat ini, Tiongkok dan Eropa tengah berupaya membangun kemitraan komprehensif dan strategis yang berpengaruh dan memiliki jangkauan yang jauh. Kanselir Jerman Angela Merkel selaku ketua bergilir Uni Eropa menekankan, memelihara kerja sama dengan Tiongkok mempunyai “kepentingan strategis yang signifikan” bagi Uni Eropa. Sebagai kontras, pemerintah AS sekarang menggiatkan unilateralisme dan terus menggerogoti kepentingan sekutu, sehingga kepercayaan Uni Eropa terhadap AS sudah anjlok tajam, dan mustahil mengorbankan kepentingannya sendiri dan bergabung dalam “aliansi kecil anti Tiongkok” yang diciptakan AS.

Sebatas hubungan AS-Tiongkok, hubungan kedua negara sebelumnya terpelihara stabil secara keseluruhan dalam jangka panjang, dan pengalamannya ialah kedua pihak berusaha mengontrol perselisihan dan memperluas kerja sama. Dari kerja sama pragmatis kedua negara di bidang antiterorisme dan bidang keamanan pasca peristiwa “9.11” pada 2001 hingga peningkatan koordinasi kebijakan antara Tiongkok dan AS sejak krisis moneter global merebak pada 2008, kedua belah pihak telah melakukan kerja sama yang luas dalam banyak urusan, sehingga telah memainkan peranan penting bagi terpeliharanya perdamaian dunia. Sejak wabah virus corona jenis baru merebak, Tiongkok dengan cepat mengontrol wabah dalam negeri dan memberikan bantuan semampunya kepada masyarakat internasional termasuk AS. Hal ini telah menunjukkan tanggung jawab Tiongkok sebagai negara besar. Masyarakat menyadari bahwa pada hari ketika Mike Pompeo melontarkan pidato konyolnya, jumlah total kasus positif virus corona di AS sudah melebihi 4 juta orang. Untuk menghadapi wabah virus corona, Gubernur Negara Bagian California, Gavin Newsom mengumumkan akan memperpanjang kontraknya dengan perusahaan BYD Tiongkok untuk kembali membeli 420 juta masker selain 500 juta lembar masker yang dibeli sebelumnya.

Ternyata Mike Pompeo berintrik menimbulkan konfrontasi untuk memisahkan Tiongkok dari dunia, namun intriknya yang jahat itu tidak sesuai dengan kepentingan vital rakyat berbagai negara, termasuk masyarakat AS, dan telah mengundang kecaman luas opini umum internasional. Bloomberg News dengan mengutip pandangan sejumlah pengkritik melaporkan bahwa pemerintah AS mengabaikan manfaat dua arah yang dibawa kerja sama kedua negara dalam waktu 50 tahun yang lalu. NBC AS dalam sebuah artikelnya mengatakan, Pompeo ingin mengambil sikap yang agresif dan ekstrem terhadap Tiongkok, dengan sengaja membuat perlawanan ideologi, dan menentang komunisme. “Ketidakbersatuan dan ketidakstabilan ini tidak akan membawa manfaat kepada siapa pun, malah akan memantik nuansa politik yang mencemaskan”. Ada cendekiawan dari Universitas Columbia menunjukkan, bagi dunia saat ini, perang dingin yang ingin dilancarkan AS terhadap Tiongkok akan menjadi ancaman yang lebih serius daripada virus corona.

Pada 25 Juli, konferensi terbuka yang bertema “perang dingin baru yang ditujukan kepada Tiongkok bertolak belakang dengan kepentingan manusia” disiarkan secara virtual dan secara langsung di banyak platform  media sosial. Konferensi memublikasikan deklarasi bersama dalam 14 bahasa yang berisi “menolak perang dingin baru”. Hal ini terjadi karena seluruh dunia tahu benar bahwa dunia ini sudah berjalan keluar dari perang dingin yang telah mengakibatkan permusuhan dan isolasi yang sampai sekarang masih sangat menakutkan. Mike Pompeo yang ingin bergerak mundur melawan arus sejarah pasti akan dikucilkan rakyat seluruh dunia.



 Pakar Mancanegara Tentang Perang Dingin AS terhadap Tiongkok

http://indonesian.cri.cn/20200727/45bfbf1c-15a2-44a1-460a-5f2aec84e521.html
2020-07-27 11:58:44

Xinhua: Konferensi Internasional Anti Perang Dingin Baru digelar secara virtual pada hari Sabtu kemarin(25/7). Para ahli peserta konferensi menyatakan, perilaku dan perkataan pemerintah AS terhadap Tiongkok semakin ekstrem, berbagai cara perang dingin baru terhadap Tiongkok akan membahayakan perdamaian dunia, hal ini tidak sesuai dengan kepentingan bersama umat manusia.

Menurut penyelenggara konferensi, para tokoh dari 49 negara termasuk Tiongkok, Inggris, Rusia, India dan Kanada berpartisipasi dalam konferensi dan kurang lebih 700 orang menyaksikan siaran langsung konferensi tersebut. Pernyataan yang dikeluarkan konferensi mengimbau AS untuk melepaskan pikiran perang dingin dan tindakan lainnya yang merusak perdamaian dunia, mendukung dialog antara Tiongkok dan AS, serta mengadakan kerja sama seputar masalah-masalah global termasuk perlawanan wabah, penanganan perubahan iklim dan perwujudan perkembangan ekonomi.

Jenny Clegg sebagai ahli masalah internasional dari Universitas Lancashire Tengah menyatakan, hubungan Tiongkok-AS adalah hubungan bilateral yang penting, memburuknya hubungan antara kedua negara akan menimbulkan ancaman besar bagi perdamaian dunia.

Peneliti senior Institut Keuangan Chongyang Universitas Renmin Tiongkok John Ross memaparkan ancaman yang diakibatkan AS terhadap perdamaian dunia dan tata tertib internasional, termasuk dilancarkannya perang Irak, Perang Libya, pengunduran diri dari Traktat Rudal Nuklir Jangka Menengah, serta sanksi unilateral kepada Iran dan Venezuela di luar kerangka PBB. Dia berpendapat, jika AS mengancam Tiongkok dengan perang akibatnya tak akan dapat dibayangkan.

Aktivis anti perang AS Medea Benjamin mengatakan, pangkalan militer AS tersebar di seluruh dunia, tapi dirinya mengatakan bahwa jika Tiongkok semakin agresif, maka sikap AS terhadap Tiongkok akan sangat mengkhawatirkan. AS harus mengetahui bahwa Tiongkok bukanlah musuh, dan kedua negara perlu bekerja sama.

Kolumnis AS Margaret Kimberley mengatakan, pemerintah AS telah berturut-turut membuat kesalahan dalam masalah yang berkaitan dengan Tiongkok, tidak hanya mengecam Tiongkok tanpa alasan dalam masalah Xinjiang dan pencegahan wabah, namun juga menuntut Tiongkok untuk menutup konsulat jenderalnya di Houston, hal ini telah melanggar hukum internasional.

Kirim email ke