-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2073-politik-dinasti-terserah-rakyat



Selasa 28 Juli 2020, 05:00 WIB 

Politik Dinasti, Terserah Rakyat 

Administrator | Editorial 

  Politik Dinasti, Terserah Rakyat MI/Seno Ilustrasi. SETIAP kali pemilihan 
umum kepala daerah atau pilkada dihelat, pada saat itu pula politik kekerabatan 
dipertontonkan. Pun dengan Pilkada 2020 kali ini, politik dinasti yang 
sebenarnya merupakan cara paling tradisional untuk mendapatkan kekuasaan 
kembali mengemuka. Sejumlah anak pejabat dipastikan akan meramaikan kontestasi 
pada Desember nanti. Tak tanggung-tanggung, ada anak dan menantu Presiden Joko 
Widodo, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution. Gibran diusung PDIP 
sebagai calon Wali Kota Surakarta, Jawa Tengah, sedangkan Bobby akan berebut 
kursi Wali Kota Medan, Sumatra Utara. Masih banyak lagi kerabat pejabat yang 
memburu kekuasaan. Sebut saja keponakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, 
yakni Saraswati Djokohadikusumo, sebagai bakal calon Wakil Wali Kota Tangerang 
Selatan. Ada pula Siti Nur Azizah, putri Wapres Ma’ruf Amin, sebagai bakal 
kandidat Wali Kota Tangsel. Politik dinasti memang bukan hal baru. Ia bahkan 
sudah menjadi warna kekuasaan sejak ratusan tahun silam, mulai zaman kerajaan 
hingga era penjajahan. Ia bukanlah model yang baik buat demokrasi, tetapi 
dijadikan kendaraan oleh sebagian orang untuk menggapai kekuasaan. Berulang 
kali melalui forum ini kita menyuarakan wajah buruk politik dinasti. Yang 
pasti, politik dinasti menjungkirbalikkan prinsip kesetaraan kontestasi sebagai 
napas demokrasi. Yang pasti, ia menjadi penghalang untuk distribusi kekuasaan 
yang berkeadilan. Dan, lebih jauh lagi, politik dinasti berpotensi menjadi 
benih bagi berkembang biaknya korupsi Namun, ketika sebuah keluarga surplus 
syahwat untuk berkuasa, semua sisi negatif itu tiada artinya. Mereka asyik 
dengan kacamata kuda bahwa politik dinasti bukanlah sesuatu yang diharamkan di 
Republik ini. Putusan Mahkamah Konstitusi No 33/PUUXIII/ 2015 memang telah 
memberikan landasan legal formal bagi politik dinasti di Indonesia dengan 
alasan untuk mencegah terjadinya diskriminasi. Celakanya lagi, partai politik 
yang semestinya menjadi pejuang bagi terwujudnya demokrasi berkualitas justru 
tenggelam dalam pusaran kelam politik dinasti. Demi kepentingan tertentu, 
mereka mengakomodasi calon dari trah tertentu, tak peduli meski kualitasnya 
belum teruji. Mereka abai kendati sang calon baru dalam hitungan bulan menjadi 
kader lalu mendepak kader lain yang sudah puluhan tahun berjuang dari bawah. 
Begitulah, ibarat pepatah tumbu ketemu tutup, yang penting kepentingan partai 
politik klop dengan kepentingan calon dari kerabat pejabat. Kedua pihak sama- 
sama untung, tapi demokrasi rugi, rakyat juga rugi karena tak diberi pilihan 
yang bermutu. Berbeda dengan fenomena di negara-negara lain, utamanya Amerika 
Serikat yang selalu dijadikan pembenaran dari pendukung politik dinasti, 
politik kekerabatan di negeri ini pantang dibiarkan. Ia tak boleh terus-menerus 
men jadi penghalang bagi orang-orang yang ber darah merah, bukan berdarah biru, 
untuk mengikuti kontestasi. Untuk jangka panjang, penurunan ambang batas 
pencalonan kepala daerah yang saat ini sebesar 20% mutlak dilakukan. Ambang 
batas itu jelas terlalu tinggi sehingga membatasi jumlah calon yang 
berkompetisi. Syarat-syarat calon independen harus dipermudah pula. Untuk 
jangka pendek, saatnya rakyat sebagai penentu utama dalam pilkada dengan cerdas 
unjuk kuasa. Harus disadari bahwa politik dinasti adalah racun mematikan bagi 
demokrasi sehingga wajib dihindari. Tidak memilih kandidat yang jelas-jelas 
hendak melanggengkan politik dinasti ialah pilihan tepat, bahkan seandainya dia 
menjadi calon tunggal dan melawan kotak kosong. Kita tak mungkin lagi berharap 
ada aturan pelarangan politik dinasti. Berharap kepada partai politik pun jauh 
panggang dari api. Karena itu, daripada menggantungkan asa yang tak pasti, akan 
lebih baik jika rakyat unjuk kekuatan untuk melawan politik dinasti di Pilkada 
2020 ini. Politik dinasti, ya, terserah rakyat.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2073-politik-dinasti-terserah-rakyat







Kirim email ke