*Untuk memperkuat kedudukan rezim semi feodal neo-Mojopahit
dibutuhkan dinasti kekuasaan secara turun temurun, kata ahli ilmu
Abakadabra.*

On Tue, Jul 28, 2020 at 6:35 PM 'j.gedearka' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:

>
>
>
>
> --
> j.gedearka <[email protected]>
>
>
> https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2073-politik-dinasti-terserah-rakyat
>
> Selasa 28 Juli 2020, 05:00 WIB
>
> Politik Dinasti, Terserah Rakyat
>
> Administrator | Editorial
>
>   Politik Dinasti, Terserah Rakyat MI/Seno Ilustrasi. SETIAP kali
> pemilihan umum kepala daerah atau pilkada dihelat, pada saat itu pula
> politik kekerabatan dipertontonkan. Pun dengan Pilkada 2020 kali ini,
> politik dinasti yang sebenarnya merupakan cara paling tradisional untuk
> mendapatkan kekuasaan kembali mengemuka. Sejumlah anak pejabat dipastikan
> akan meramaikan kontestasi pada Desember nanti. Tak tanggung-tanggung, ada
> anak dan menantu Presiden Joko Widodo, yaitu Gibran Rakabuming Raka dan
> Bobby Nasution. Gibran diusung PDIP sebagai calon Wali Kota Surakarta, Jawa
> Tengah, sedangkan Bobby akan berebut kursi Wali Kota Medan, Sumatra Utara..
> Masih banyak lagi kerabat pejabat yang memburu kekuasaan. Sebut saja
> keponakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, yakni Saraswati
> Djokohadikusumo, sebagai bakal calon Wakil Wali Kota Tangerang Selatan. Ada
> pula Siti Nur Azizah, putri Wapres Ma’ruf Amin, sebagai bakal kandidat Wali
> Kota Tangsel. Politik dinasti memang bukan hal baru. Ia bahkan sudah
> menjadi warna kekuasaan sejak ratusan tahun silam, mulai zaman kerajaan
> hingga era penjajahan. Ia bukanlah model yang baik buat demokrasi, tetapi
> dijadikan kendaraan oleh sebagian orang untuk menggapai kekuasaan. Berulang
> kali melalui forum ini kita menyuarakan wajah buruk politik dinasti. Yang
> pasti, politik dinasti menjungkirbalikkan prinsip kesetaraan kontestasi
> sebagai napas demokrasi. Yang pasti, ia menjadi penghalang untuk distribusi
> kekuasaan yang berkeadilan. Dan, lebih jauh lagi, politik dinasti
> berpotensi menjadi benih bagi berkembang biaknya korupsi Namun, ketika
> sebuah keluarga surplus syahwat untuk berkuasa, semua sisi negatif itu
> tiada artinya. Mereka asyik dengan kacamata kuda bahwa politik dinasti
> bukanlah sesuatu yang diharamkan di Republik ini.. Putusan Mahkamah
> Konstitusi No 33/PUUXIII/ 2015 memang telah memberikan landasan legal
> formal bagi politik dinasti di Indonesia dengan alasan untuk mencegah
> terjadinya diskriminasi. Celakanya lagi, partai politik yang semestinya
> menjadi pejuang bagi terwujudnya demokrasi berkualitas justru tenggelam
> dalam pusaran kelam politik dinasti. Demi kepentingan tertentu, mereka
> mengakomodasi calon dari trah tertentu, tak peduli meski kualitasnya belum
> teruji. Mereka abai kendati sang calon baru dalam hitungan bulan menjadi
> kader lalu mendepak kader lain yang sudah puluhan tahun berjuang dari
> bawah. Begitulah, ibarat pepatah tumbu ketemu tutup, yang penting
> kepentingan partai politik klop dengan kepentingan calon dari kerabat
> pejabat. Kedua pihak sama- sama untung, tapi demokrasi rugi, rakyat juga
> rugi karena tak diberi pilihan yang bermutu. Berbeda dengan fenomena di
> negara-negara lain, utamanya Amerika Serikat yang selalu dijadikan
> pembenaran dari pendukung politik dinasti, politik kekerabatan di negeri
> ini pantang dibiarkan. Ia tak boleh terus-menerus men jadi penghalang bagi
> orang-orang yang ber darah merah, bukan berdarah biru, untuk mengikuti
> kontestasi. Untuk jangka panjang, penurunan ambang batas pencalonan kepala
> daerah yang saat ini sebesar 20% mutlak dilakukan. Ambang batas itu jelas
> terlalu tinggi sehingga membatasi jumlah calon yang berkompetisi.
> Syarat-syarat calon independen harus dipermudah pula. Untuk jangka pendek,
> saatnya rakyat sebagai penentu utama dalam pilkada dengan cerdas unjuk
> kuasa. Harus disadari bahwa politik dinasti adalah racun mematikan bagi
> demokrasi sehingga wajib dihindari. Tidak memilih kandidat yang jelas-jelas
> hendak melanggengkan politik dinasti ialah pilihan tepat, bahkan seandainya
> dia menjadi calon tunggal dan melawan kotak kosong. Kita tak mungkin lagi
> berharap ada aturan pelarangan politik dinasti. Berharap kepada partai
> politik pun jauh panggang dari api. Karena itu, daripada menggantungkan asa
> yang tak pasti, akan lebih baik jika rakyat unjuk kekuatan untuk melawan
> politik dinasti di Pilkada 2020 ini. Politik dinasti, ya, terserah rakyat..
>
> Sumber:
> https://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/2073-politik-dinasti-terserah-rakyat
>
> 
>

Kirim email ke