Kemenlu Tiongkok: Perilaku Mike Pompeo yang Gila-gilaan Ditolak
 Seluruh Dunia

http://indonesian.cri.cn/20200728/3537738f-a2af-dfcb-388b-762f5ca3bb35.html
2020-07-28 11:31:57

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin dalam jumpa pers rutin kemarin (27/7) menyatakan, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo secara total mengingkari hubungan Tiongkok-Amerika Serikat selama 40 tahun lalu, secara sewenang-wenang memfitnah Partai Komunis Tiongkok, dan mengkhotbahkan pembendungan terhadap Tiongkok. Argumentasi dan perilaku Pompeo tersebut dikritik dan dikecam oleh masyarakat yang mencintai perdamaian dan menjunjung keadilan di seluruh dunia, termasuk Amerika Serikat.

Dikabarkan, Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri Amerika Serikat, Richard Nathan Haass mengkritik pidato Pompeo di Perpustakaan Nixon belum lama lalu. Haass mengatakan, Pompeo tidak saja memutarbalikkan sejarah, tapi juga melontarkan kebijakan yang tidak bisa dilaksanakan dan tidak berkesinambungan mengenai hubungan AS-Tiongkok yang merupakan hubungan bilateral yang paling penting dewasa ini.

Ketika menjawab pertanyaan terkait, jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok itu menyatakan, zaman sekarang menolak konfrontasi ideologi, arus multipolarisasi tak dapat terbendung.

Jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang Wenbin menunjukkan, Pompeo memfitnah bahwa Partai Komunis Tiongkok selalu menjunjung tinggi hegemonisme. Fitnahan Pompeo itu bukan saja bodoh tapi juga berprasangka. Pompeo tidak tahu sebabnya mengapa Partai Komunis Tiongkok dapat berkembang menjadi sebuah partai raksasa dari partai yang terdiri dari puluhan anggota menjadi partai yang beranggotakan lebih dari 91 juta orang dan selalu memegang kekuasaan di negara dengan paling banyak jumlah populasinya. Jawabannya adalah Partai Komunis Tiongkok selalu menomorsatukan kepentingan rakyat, selalu hidup secara senasib sepenanggungan dengan rakyat.

Wang Wenbin menekankan, proses perkembangan hubungan Tiongkok-Amerika Serikat dalam setengah abad lalu menunjukkan bahwa hubungan Tiongkok-Amerika Serikat akan dapat berkembang secara stabil dan sehat apabila kedua belah pihak dapat memperlakukan satu sama lain secara sama derajat dan saling menghormati.

Dikatakannya: “Tiongkok tidak berniat mengubah Amerika Serikat, Amerika Serikat juga tidak dapat mengubah Tiongkok. Kami bersedia mengembangkan hubungan Tiongkok-Amerika Serikat secara koordinatif, kooperatif dan stabil. Tiongkok tidak akan menerima hegemonisme dan ketidakadilan apa saja. Rakyat Tiongkok pantang digencet, rakyat di seluruh dunia juga tidak mudah ditipu. Kami mendesak segelintir politikus menghentikan pembuatan hoax dan fitnahan terhadap Partai Komunis Tiongkok dan rakyat Tiongkok, menghentikan perkataan dan perilaku salah yang mensabotase hubungan kerja sama Tiongkok-Amerika Serikat.



 Pompeo Dihujani Kritik Media Barat: Ambisinya Makin Besar Tapi Waras
 Makin Berkurang

http://indonesian.cri.cn/20200728/b4cdfd53-7699-b408-4703-1e19114cab89.html
2020-07-28 14:59:41

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo minggu lalu secara terbuka menyampaikan pidato anti Tiongkok, dan menyebut kebijakan/engagement/dengan Tiongkok yang dijalani AS sudah gagal, dan berniat jahat untuk menjebakkan hubungan Tiongkok-AS dengan pikiran Perang Dingin Baru. Media dan sarjana Barat turut menyatakan kecaman atas Pompeo dan pengikutnya bahwa opini arus utama internasional menolak suara Perang Dingin Baru.

*Media Barat: Tindakan Sepihak AS akan Menyesatkan Situasi Dunia ke Arah yang Tak Menentu*

Hari Minggu lalu (26/7) CNBC AS dalam laporannya menunjukkan, baru-baru ini Mike Pompeo secara terbuka menyampaikan pidato anti Tiongkok, sementara kebijakan pemerintah Trump mengenai Tiongkok juga semakin agresif, sehingga nuansa Perang Dingin baru semakin terasa oleh masyarakat. Gara-gara provokasi sepihak AS, konfrontasi antara dua ekonomi terbesar di dunia ini terus memanas. Tindakan provokasi sepihak AS sudah membawa dunia ini ke arah yang tak menentu.

Los Angeles Times hari Minggu lalu mengatakan, pidato Mike Pompeo membawa perubahan negatif besar bagi hubungan AS-Tiongkok. Dalam kurun waktu puluhan tahun lalu, AS dan Tiongkok berusaha mengusahakan persamaan sementara mengesampingkan perselisihan demi kepentingan bersama, dan sempat melakukan kerja sama seputar masalah-masalah kunci seperti menstabilkan ekonomi global, menangani perubahan iklim dan pencegahan penyakit menular, namun sekarang, era manis nampaknya akan berakhir. Para sarjana yang meneliti hubungan Tiongkok-AS dan para pemangku kebijakan sepakat bahwa pemerintah Trump sengaja memicu sebuah Perang Dingin baru, tidak meninggalkan ruangan dialog, tindakan serupa itu sangatlah bahaya, dan mungkin mengakibatkan konfrontasi yang total, sikap munafiknya yang pura-pura “memperhatikan rakyat Tiongkok” semakin disadarkan oleh masyarakat internasional.

New York Times hari Sabtu lalu (25/7) telah memuat sebuah artikel yang bertajuk Pejabat Pemerintah Trump Sedang Mendorong Hubungan AS Tiongkok Menuju Arah Yang Tak Bisa Terbalik. Dikatakan dalam artikel tersebut bahwa pemerintah Trump sedang melancarkan sebuah malapetaka, pejabat-pejabat berniat untuk membikin sesuatu suasana berlawanan dan bersaing jangka panjang dengan Tiongkok dengan menggunakan serangkaian tindakan keras. Karena mereka sudah mengkhawatirkan kegagalannya dalam pilpres AS, dan mencoba menyulitkan lawannya untuk menangani konsekuensi buruk setelah terpecah belah hubungan Tiongkok AS. Artikel menunjukkan pula, Pompeo sempat merusak reputasi AS yang diusahakan dalam waktu beberapa abad yang lalu.

Tanggal 23 Juli lalu, The Washington Post dalam laporannya mengatakan, kebijakan AS sedang mendorong sahabat kami di Tiongkok ke nasionalisme anti AS. Dikatakan dalam artikel tersebut bahwa serangan tak berlasan AS menuju Tiongkok, misalnya membikin perkataan HOAX bahwa virus korona jenis baru berasal dari laboratorium Wuhan, membuat sejumlah tokoh patriot Tiongkok yang sebenarnya ingin memelihara persahabatan dengan AS menyadari bahwa, keprihatinan AS sama sekali bukan prinsip, melainkan kekuasaannya di panggung dunia. Artikel menyebut pula bahwa kebijakan AS kepada Tiongkok selalu didominasi oleh pejabat-pejabat yang kurang paham atas perkembangan Tiongkok, sementara menjadikan Tiongkok sebagai musuh AS tidak sesuai dengan kepentingan AS. Jika AS berharap berupaya bersama dengan Tiongkok demi kepentingan bersama, maka seharusnya mempertimbangkan kembali kebijakan dirinya dari aspek mendasar. Financial Times Inggris mengomentar pidato Pompeo lebih mirip sebuah pidato kampanye, dengan ambisinya semakin besar tapi kewarasannya semakin berkurang.

*Ahli Masalah Internasional Serukan AS Lepaskan Pikiran Perang Dingin*

Menurut laporan Kantor Berita Bloomberg, pendiri Perusahaan Bridgewater mengatakan kepada pers, perang perdagangan, perang teknologi dan perang geopolitik yang dilancarkan AS serta perselisihan ideologi di dalam negeri AS sedang mendorong dirinya ke jurang resesi.

Pompeo Dihujani Kritik Media Barat: Ambisinya Makin Besar Tapi Waras Makin Berkurang_fororder_pom

Peneliti senior Akademis Penelitian Perdamaian Internasional Carnegie melalui media sosialnya langsung mengatakan, malapetaka yang saya saksikan adalah tanggung jawab yang tak bisa dilemparkan pemerintah AS. Aksi yang diambil AS dengan menutup Konsulat Jenderal Tiongkok di Houston ternyata adalah upaya untuk menolong nasib politik Donald Trump. AS sedang membuat malapetaka, dirinya mengharapkan Tiongkok jangan tertipu. AS yang berkoar akan melancarkan perang dingin yang baru, tapi tidak mempunyai taktik yang tepat, biarkan bermimpi.

Mantan penasihat keamanan negara AS Steven Halid berpendapat, pemerintah AS perlu menyusun strategi berkelanjutan untuk bergaul dengan Tiongkok. Di bawah prasyarat tidak terpecah belah dunia, tidak melancarkan perang, membangun satu kerangka kerja sama.

Pompeo Dihujani Kritik Media Barat: Ambisinya Makin Besar Tapi Waras Makin Berkurang_fororder_pom2

Pada hari Sabtu lalu (25/7), ahli-ahli dari 48 negara termasuk AS, Inggris, Tiongkok, Rusia, India dan Kanada secara virtual mengadakan konferensi anti perang dingin baru. Pernyataan seusai konferensi  menyerukan AS melepaskan pikiran perang dingin dan tindakan merusak perdamaian dunia dan mendukung penggelaran dialog antara Tiongkok dan AS.

Salah satu sponsor Inisiatif Anti Perang Dingin Baru, John Ross memaparkan ancaman yang ditimbulkan AS terhadap perdamaian dan dunia dan tata tertib internasional, termasuk melancarkan perang Irak, Perang Libia, mengundurkan diri dari Perjanjian Rudal Jarak Tengah, mengadakan sanksi secara unilateral di luar kerangka PBB terhadap Iran dan Venezuela. Dia berpendapat, dalam waktu puluhan tahun lalu, AS adalah satu-satunya negara yang melancarkan perang agresi dengan skala besar, mendatangkan malapetaka kepada seluruh dunia. AS yang mengadakan sanksi secara unilateral di luar kerangka PBB telah mengganggu tata tertib internasional. Sementara itu, dia menekankan, perang dingin yang baru adalah ancaman kepada umat manusia, seluruh dunia harus menentang perang dingin baru, dan harus bersatu padu dan berupaya bersama dalam perlawanan wabah, anti perang, penanganan perubahan iklim, serta pemberantasan rasisme dalam bentuk apapun, guna mendorong perkembangan ekonomi dan sosial serta perdamaian dunia.


Kirim email ke