Ramuan Herbal Antarkan Keluarga Petani Miskin Tempuh Kehidupan Bahagia

http://indonesian.cri.cn/20200728/31c652d1-241f-991e-581b-c1ddd6bcb65d.html
2020-07-28 16:37:30

Ramuan Herbal Antarkan Keluarga Petani Miskin Tempuh Kehidupan Bahagia_fororder_金银花

“Inilah tanah garapan milik keluarga saya yang disewa kepada koperasi. Saya dipekerjakan koperasi untuk menanam herbal di tanah ini. Gajinya lumayan, bisa sebanyak 80 yuan tiap hari,” demikian tutur petani bernama Mao Liuchen yang berusia 69 tahun kepada wartawan.

Pak Mao menjelaskan, koperasi tempat dia bekerja terletak di kabupaten Shangcai, Provinsi Henan. Koperasi ini adalah sebuah perusahaan yang terutama mengembangbiakkan tumbuhan obat sejenis/sculellaria Barbara/yang bisa dipanen empat kali setahun, dengan jeda penuaiannya berselang 45 hari. Hasilnya per unit 0,07 hektar sebesar 400 hingga 500 kilo.

Begitu memasuki pekarangan koperasi tersebut tercium aroma wangi ramuan obat-obatan herbal yang semerbak di mana-mana. Melangkah ke dalamnya terlihat jemuran obat-obatan yang siap diolah lebih lanjut. Di tanah yang jauh terlihat kaum pekerja yang sibuk memelihara tumbuh-tumbuhan obat yang tumbuh subur.

Pada tahun-tahun belakangan ini, pemerintah setempat mengeluarkan kebijakan stimulus yang mendukung industri pengolahan ramuan obat tradisional, dan menjadikannya industri pilar untuk mewujudkan target pengentasan kemiskinan setempat.

“Koperasi ini didirikan pada 2008 dan berkembang pesat dengan bantuan pemerintah. Sekarang tanah yang dikelolanya seluas 13,3 hektar, termasuk tanah garapan yang disewa dari keluarga miskin seluas 2,7 hektar. Kaum petani dari keluarga miskin dipekerjakan koperasi untuk bersiang yakni mencabuti rumput liar di ladang. Pendapatan hariannya juga lumayan. Koperasi ini berasas tujuan membantu keluarga petani, khususnya keluarga miskin di sekitarnya untuk menambah penghasilannya dan menempuh kehidupan yang sejahtera,” demikian diterangkan Mao Siguo, pemimpin koperasi tersebut.

Menurut keterangan pejabat lokal, kini areal tanaman herbal obat-obatan di kecamatan Chongli, kabupaten Shangcai seluas 267 hektar. Sekarang industri pengolahan ramuan obat-obatan telah berkembang menjadi industri pilar setempat. Kini pihaknya tengah berupaya memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah ramuan agar karyawannya dapat memperoleh lebih banyak keuntungan.

Kabupaten Shangcai merupakan kabupaten pertanian yang terletak di bagian tenggara Provinsi Henan. Kini di seluruh kabupaten tersebut sudah dibangun 250 pangkalan pengentasan kemiskinan, yang terutama terlibat dalam pengolahan ramuan obat-obatan, serta kentang, jamur dan sayuran lainnya. Sebanyak 5000 petani dari keluarga miskin dipekerjakan di pangkalan pengentasan kemiskinan, dengan pendapatan per kapitanya sebanyak 10 ribu yuan secara tahunan.




http://indonesian.cri.cn/20200728/888d3701-d7f3-fa8d-f44e-886b5271f19f.html
2020-07-28 10:41:37

PBB: Wabah Covid-19 Mungkin Akibatkan Anak Yang Lemah dan Kurus sebanyak 6,7 Juta_fororder_fei3

Yayasan Kanak PBB (UNICEF) hari Senin kemarin (27/7) mengatakan, berhubungan dengan dampak sosial dan ekonomi yang diakibatkan pandemi covid-19, anak-anak dengan usianya di bawah lima tahun (balita) yang mengalami gejala lemah dan kurus mungkin akan mencapai 6,7 juta orang, bahkan terancam kondisi malnutrisi.

PBB: Wabah Covid-19 Mungkin Akibatkan Anak Yang Lemah dan Kurus sebanyak 6,7 Juta_fororder_fei5

Data UNICEF menunjukkan, sebelum wabah covid-19 merebak, pada tahun 2019,anak-anak yang mengalami gejala lemah dan kurus sebanyak 470 juta orang. Jika tidak selekasnya mengambil tindakan, angka ini mungkin akan mencapai 53,7 juta orang.

PBB: Wabah Covid-19 Mungkin Akibatkan Anak Yang Lemah dan Kurus sebanyak 6,7 Juta_fororder_fei4

PBB: Wabah Covid-19 Mungkin Akibatkan Anak Yang Lemah dan Kurus sebanyak 6,7 Juta_fororder_fei

Hasil penelitian menunjukkan, separo anak-anak itu tinggal di Asia Selatan, sisanya yang kurang lebih 30 persen tinggal di bagian sebelah selatan Sahara, Afrika. Anak-anak balita yang tinggal di negara yang pendapatnya di level menengah dan rendah mungkin akan meningkat sampai 14,3 persen, dan mengakibatkan jumlah kematian anak-anak bertambah lebih dari 10 ribu orang.

Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta H Fore mengatakan, wabah mengakibatkan meningkatnya kemiskinan dan kekurangan bahan pangan di sejumlah daerah, pelayanan nutrisi yang pokok dan rantai pasokan terputus, harga bahan pangan meningkat dengan tajam, sehingga kualitas makanan dan minuman untuk anak-anak menurun dan indeks malnutrisi terus meningkat.


Kirim email ke