-- 
j.gedearka <[email protected]>


https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1894-biarkan-anak-anak-sekolah




Rabu 29 Juli 2020, 05:00 WIB 

Biarkan Anak-Anak Sekolah 

Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group | Editorial 

  Biarkan Anak-Anak Sekolah MI/Ebet Usman Kansong Dewan Redaksi Media Group. 
ANAK-ANAK berisiko rendah terjangkit virus korona jenis baru yang kita kenal 
sebagai covid-19. Studi menunjukkan mereka yang berusia di bawah 18 tahun punya 
risiko sepertiga sampai setengah terjangkit covid-19. Mereka yang berusia di 
bawah 10 tahun, seperti yang terjadi di Inggris, seribu kali lebih rendah 
mengalami kematian ketika terjangkit covid-19 jika dibandingan dengan mereka 
yang berusia 70-79 tahun. Di Amerika tingkat kematian anak terjangkit covid 
0,04%. Anak-anak dikatakan pembawa atau carrier covid- 19, tetapi bukti-bukti 
baru menyebutkan mereka tidak menularkan covid-19 kepada orang lain. Di Swe 
dia, jumlah staf di tempat penitipan anak dan sekolah dasar yang tidak tutup 
selama pandemi covid-19 lebih sedikit yang terpapar jika dibandingkan dengan 
pekerjaan lain. Studi terbaru terhadap 1.500 siswa remaja dan 500 guru di 
Jerman pada Mei 2020 menyebutkan hanya 0,6% yang memiliki antibodi terhadap 
virus, kurang dari separuh ratarata nasional yang ditemukan dalam studi lain. 
Betul di Israel covid-19 menjangkiti 150 siswa, tetapi dengan pencegahan, 
risiko seperti itu bisa dikurangi. Dalam jangka pendek, penutupan sekolah 
membawa lebih banyak mudarat daripada manfaat. Berbagai negara mengganti 
belajar di sekolah dengan belajar daring. Namun, belajar daring dianggap tidak 
seefektif belajar tatap muka di sekolah. Anak-anak yang berasal dari keluarga 
tidak mampu tidak memiliki akses internet. Anak-anak kekurangan gizi mengalami 
gangguan mental, bahkan mengalami kekerasan. Orangtua di Afrika dan Asia 
Selatan memaksa anakanak berhenti sekolah untuk kemudian meminta mereka bekerja 
atau menikah. Pun dalam jangka panjang, penutupan sekolah menghadirkan mudarat 
lebih besar daripada manfaat. Pendidikan merupakan jalan keluar dari 
kemiskinan. Anak-anak yang tidak bersekolah semakin miskin kelak. World Bank 
memperkirakan penutupan sekolah selama lima bulan memotong penghasilan bagi 
anak-anak sebesar U$10 triliun, setara dengan 7% GDP tahunan. Majalah The 
Economist edisi 18 Juli 2020 menyajikan tajuk berjudul Let Them Learn. The 
Economist merekomendasi sekolah dibuka sesegera mungkin begitu kondisi aman. 
Rekomendasi itu didasarkan pada data tingkat kerentanan anak yang rendah 
terhadap covid-19 serta fakta membiarkan penutupan sekolah lebih banyak mudarat 
daripada manfaatnya. Ketua Satgas Covid-19, Doni Monardo, dua hari lalu 
mengatakan Kemendikbud telah mengambil langkah-langkah mempersiapkan pembukaan 
sekolah di luar zona hijau secara terbatas. Pemerintah semestinya sudah melihat 
data dan fakta sebelum mengambil keputusan itu. Ikatan Dokter Anak Indonesia 
memproyeksikan dari 60 juta anak Indonesia sepa ruhnya bisa terpapar covid-19 
bila sekolah dibuka. Namun, melihat studi terbaru bahwa anak lebih kebal 
terpapar covid-19 dan tidak menularkannya, jumlah anak yang tertular covid-19 
semestinya tidak sebesar yang diproyeksikan IDAI. Per 12 Juli 2020, di 
Indonesia jumlah anak yang terjangkit covid-19 sejumlah 5.813 atau 7,6% dengan 
tingkat kematian 0,9%. Sekarang ini kiranya tingkat kesembuhan anak bertambah 
bersamaan dengan semakin tingginya tingkat kesembuhan total. Orangtua di 
Indonesia mengeluhkan pembelajaran jarak jauh, terutama terkait dengan akses 
internet, seolah belajar da ring satu-satunya metode belajar jarak jauh. 
Orangtua juga mengeluhkan kerepotan mengajari anak-anak mereka di rumah. Belum 
ada kabar di Indonesia orangtua memaksa anak berhenti sekolah dan kemudian 
menyuruh mereka bekerja atau kawin. Namun, untuk membuka sekolah, kita tak 
harus menunggu ada orangtua memaksa anaknya berhenti sekolah dan menyuruh kerja 
atau kawin. Sejumlah negara seperti Prancis, Denmark, Tiongkok, dan Selandia 
Baru, sudah membuka sekolah dengan tetap mengambil langkah-langkah mengurangi 
risiko penyebaran covid-19. Negara-negara itu mengizinkan guru-guru yang rentan 
terkena covid-19 tinggal di rumah. Mereka mengurangi ukuran kelas sehingga 
anakanak tidak harus sepekan penuh bersekolah. Mereka mengatur jadwal masuk 
kelas untuk menghindari kerumunan di koridor dan gerbang sekolah. Mereka juga 
mengatur jadwal istirahat untuk mengurangi kerumunan di kantin atau ruang 
makan. Mereka mewajibkan anak-anak memakai masker dan menjaga jarak fisik. Kita 
mesti belajar dari Prancis, Denmark, Tiongkok, dan Selandia Baru bila kita 
memutuskan membuka sekolah. Bila kita tak mau belajar dari negara-negara 
tersebut, lebih baik pembukaan sekolah ditunda sampai vaksinnya ditemukan. Itu 
artinya kita mesti menanggung mudarat lebih lama dan lebih dalam dari penutupan 
sekolah berkepanjangan.

Sumber: 
https://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1894-biarkan-anak-anak-sekolah






Kirim email ke